Slideshow
Tags & Categories

Posts Tagged ‘rumah’

Pernahkah kau melihat matahari selebar tampa? Rasanya pernah, ketika sore menjelang kala itu dan aku menantikanmu pulang.

Pernahkah kau menginginkan seuntai rambut panjang menjuntai dibahumu? Rasanya pernah, ketika matahari tentu saja selebar tampa. Tak setiap kali, tak setiap rasa. Kita menginginkan suatu hal yang tak ingin kulakukan. Tapi aku menantikannya.

Ya, Matahari.. Izinkan aku mulai bercerita dalam kelam malam ini. Ketika tubuhku mulai letih, dan kau tak ada disini. Bulanpun tak menemaniku. Hanya seuntai rambut panjang dan harapan-harapan yang tak akan pernah mati.

Ya, izinkan saja matahari. Aku tau kau tetap berada pada tempatmu. Aku saja yang sedang berkeliling dan belum ingin pulang. Aku saja yang tetap mencari kegelapan malam, dan terangnya bintang-bintang dalam pantulan bulan.

Ya, biarkan saja matahari. Aku tak ingin cepat usai, biarkan kali ini aku menikmati malam yang tiada henti. Merasuki relung-relung terdalam yang menjebak rasa. Menjuntaikan rasa yang tak terkira. Menikmati hati yang tengah bergelut pada malam yang tak terkira.

Ya, biarkan saja matahari. Aku ingin memulai dengan yang kurasa. Dengan perasaan suka cita yang tak henti. Menyerobot relung-relung yang terasa teramat dalam. Bagaikan sastra yang bertemu pada malam, lalu bergelut dalam keramaian dan kesunyian. Dua dekade yang mampu menyatukan rasa.

Ya, biarkan saja matahari. Biarkan aku menuntaskan rasaku, pada titik terdalam. Agar rasa ini muncul seperti adanya. Ketika pagi menyertai, kita akan merasakan sebuah cinta yang tak terkira.

Ya, matahari. Aku akan tetap pulang. Pada rumah yang aku impikan. Pada rumah yang dia pula impikan. Pada rasa yang menyatu. Pada rumah yang nantinya kami pahat bersama, dengan buliran embun yang tak pernah padam.

Pada rasa itu, aku akan pulang. Pada rumah. Ya rumah, satu kata yang tak akan pernah berhenti pada satu titik saja. Ketika pagi dan malam akan kita mulai. Aku menginginkannya.

Merindukannya.

Bengkulu, 22 September 2011

 

Akhir tahun ketika masanya habis, dan kujumpai juga perasaan menjadi perempuan yang sesungguhnya. Ketika aku merasakan tempat yang lain bersama tubuhku utuh.

Aku tak menyangka rumah kecil ini akan melupakanku pada semua hal yang membebaniku. Memberiku arti lain, dan menjadikan aku seorang perempuan. Ketika kataku lugas memanja, ketika tubuhku tegas bersuara dan ketika pertentangan-pertentangan hadir di semua sisi. Inilah hidup. Sudah kusimpan semuanya, rapat. Tak ada satupun cara yang mampu membuka. Ketika aku mengingatpun, aku hanya biasa saja. Kusimpan di palung dan dalam air yang deras. Dan aku tak ingin bersuara lagi ketika melihatnya. Seperti ungkapan Delgo, masa lalu itu memang ada, tapi inilah hari esok. Akupun melupakannya dengan biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa. Read the rest of this entry »

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics