Slideshow
Tags & Categories

Posts Tagged ‘perempuan’

(Saya ingin anak laki-laki, bukan anak perempuan. Titik)

Ramadhan kali ini sepertinya aku mendapatkan berkah yang banyak. Bergelimpangan doa, rahmat dan rejeki dari Tuhan. Aku merasa begitu karena aku habis saja mengambil suatu keputusan yang sangat hebat dalam hidup ini. Diusiaku yang menanjak ke 30 tahun ini, aku memilih menikah dengan menikahi seorang laki-laki. Laki-laki yang menjadi teman hidupku itu seorang pekerja seni. Read the rest of this entry »

Saya ingin anak laki-laki, saya tidak ingin anak perempuan, titik.

Jarum jam dinding berdetak kencang, saat fajar mulai menyinsing. Suara-suara bebek yang terdengar nyaring rasanya tidak terdengar subuh kali ini. Aku berfikir sepertinya mereka sedang berjamaah shalat subuh dengan merapatkan barisan. Aku yakin pula para bebek ini setengah ngantuk karena subuh ini terlalu dingin untuk dilaluinya hanya untuk mengambil air wudhu.

Jelas saja, kolam yang menjadi tempat bermainnya, mengalirkan air dingin yang terendap tak mengalir. Oh ya, aku hampir lupa, para bebek ini milik tetanggaku diujung gang rumahku. Jumlahnya sekitar 200 ekor. Biasanya suaranya sangat berisik sekali apalagi ketika subuh menjelang. Kadang au berfikir, bagaimana tetanggaku yang rumahnya berdampingan dengan peternakan bebek tersebut. Apakah mereka merasa risuh ataukah sudah terbiasa? Read the rest of this entry »

Sepertinya tanda-tanda delay akan berlangsung. Tak lama setelah berperasaan begini, benar saja, petugas bandara memberitahuku bahwa delay akan berlangsung selama satu jam kedepan.

Sudah tiga tahun ini aku bolak-balik Jakarta-Bengkulu. Yah, dua bagian dari hidupku telah kuserahkan pada kota metropolitan tersebut. Kuhirup dalam-dalam hisapan rokok terakhirku. Aku rasa pertemuan singkat ini akan sangat berkesan. Sudah kusiapkan lingerie baru, tentu saja dengan bra dan celana dalam yang super hot untuk malam ini. Kubayangkan aku sedang menghisap tangannya dalam-dalam, dan dia membawaku ke sebuah villa di Puncak Bogor dan kami menghabiskan malam bersama.

Robert, seorang laki-laki idamanku. Kami bertemu setiap akhir minggu di Jakarta. Biasanya dia akan membuatkanku sebuah surpise yang sangat fantastis. Mulai dari dinner di pinggir Ancol hingga ciuman mesra di Pulau Seribu. Sudah tiga tahun hubungan ini kujalani. Aku pula mulai menikmati rutinitas yang sangat menggiurkan ini.

“maaf mba, boleh saya pinjam koreknya?”

“oya silahkan pak”

Lamunanku tentang Robert tiba-tiba pudar. Duduk disampingku seorang laki-laki separuh baya yang sepertinya bukan penduduk Bengkulu.

“mau kemana mba?”

Aku tergagap. “Ke Jakarta pak. Urusan kantor”

Dia tersenyum melihatku. Kulihat caranya menghirup rokok ditangannya dalam-dalam. Aku jadi ingat mendiang ayah. Ayah selalu menghisap rokoknya dalam-dalam dan menikmati setiap tarikan rokok yang pada akhirnya pula menghantarkannya pada sebuah kematian.

Ayah seorang pecinta rokok sejati. Katanya sejak dari umur 10 tahun ayah telah belajar rokok. Pada zaman dahulu menurut ayah, masih menggunakan rokok lintingan. Maklum saja, rumah nenekku dahulu bersebelahan dengan pabrik rokok Grendel di Malang sana. Kakekku juga pernah bekerja disana sebagai seorang sopir. Berpuluh-puluh tahun kakek bekerja disana antar jemput karyawan pabrik. Shiftnya tak tentu, tergantung karyawan tersebut berada di divisi mana. Tak heran hidup kakek selalu dijalanan. Tak heran pula kakek selalu tak tau jika ayah selalu mencuri rokok linting yang disimpan ayah dirumah.

Nenek pula tak begitu peduli. Nenekku seorang pelukis, bisa dianggap seorang yang belum profesional. Karena pada waktu itu, lukisan masih menjadi barang yang langka. Nenek hanya melukis dan digunakan untuk konsumsi pribadi saja.

Nenekku berparas cantik. Tak mengherankan bila akhirnya ada seorang pengusaha tampan yang akhirnya jatuh cinta pada guratan tangan lukisan nenek dan melarikan nenek dari kakek. Aku lupa bagaimana peristiwanya. Tapi yang sering kudengar, waktu nenek melukis di emperan pasar, laki-laki itu sedang lewat merasakan sensasi yang luar biasa. Akhirnya mereka jatuh cinta. Katanya usia mereka terpaut 15 tahun begitu.  Nenek akhirnya memutuskan meninggalkan kakek.

Usut punya usut, ternyata nenek dan kakek bukanlah pasangan yang diinginkan. Mereka dipaksa menikah karena waktu itu, anak perempuan sudah harus menikah pada usia 15 tahun. Pantasan saja, umur nenek, kakek dan almarhum ayah tidak terpaut jauh. Aku pula tak tau dimana rimba nenek saat ini.

Sejak saat ditinggalkan nenek, kakek tetap seperti biasanya menjalani rutinitas yang biasa sebagai sopir. Kakek bertekad menyekolahkan ayahku hingga tinggi. Katanya agar ayah tidak sama seperti kakek kehidupannya. Tapi akhirnya ayah memutuskan menjadi seorang pelukis, sama seperti nenek. Itulah hal yang membuat akhirnya kakek sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia.

“lo kok bengong mba?”

“eh, eh, iya maaf anda mirip ayah saya”, ungkapku gelagapan.

“lo ayah mba kemana?”

“ayah sudah meninggal lima tahun lalu pak”

“waduh, maaf ya mba, saya ikut bela sungkawa”, ungkapnya sopan.

“mengapa bapak suka merokok pak”, kuberanikan diri bertanya pada laki-laki ini.

“kenapa bertanya begitu nak?”

“gak apa-apa pak, saya hanya ingat ayah saya. Katanya rokok itu seperti cahaya pagi yang menyinari dan membuat tubuh bersemangat untuk memulai hari”

“hahahhahahaha…..”

Laki-laki tersebut tertawa lepas, dan membiarkanku hanyut dalam keterperangahanku atas sikapnya yang membuatku bingung. Aku hanya berfikir bahwa laki-laki ini juga pasti bersikap sama seperti ayahku, tetap menghisap rokok dalam-dalam, sambil menikmati rokok laki-laki ini pasti akan mulai bercerita kepadaku tentang keindahan rokok.

“begini nak. Rokok itu memang sudah bagian dari hidup. Rokok bagaikan warna pelangi seusai hujan turun. Warna-warni, sedap dipandang mata dan memberikan sebuah kenyamanan hidup. Rugi sekali jika rokok dihilangkan dari hidup ini nak”, bebernya panjang lebar kepadaku.

Sudah kutebak dia akan berkata begitu, dan akan membanggakan asap tersebut sambil menikmati rokok tersebut dalam-dalam. Aku tersedak dan tersesak saja. Sudah satu tahun ini aku mengidap paru-paru basah. Tentu saja, karena seumur hidupku aku harus menahan asap polutannya. Ikut menikmati asapnya, dan merasakan nikotinnya. Tentu saja pula, tak ada yang tau, bahwa akhirnya aku merasakan pula akibatnya.

Ya ayah dan Robert, dua penggila rokok. Laki-laki ini pula menambah daftar panjangnya.

“penumpang Boeing 737 dengan nomor penerbangan 12345 tujuan Jakarta……”

Akhirnya, lepas pula aku dari laki-laki ini. Dia tersnyum lebar sambil menghisap dalam dalam rokoknya dan mengepulkan asapnya tinggi-tinggi.

 

“Kenapa gak pake jilbab saja?”, seorang laki-laki bertanya padaku.

“lebih cantik kalo pake jilbab, lebih terasa anggun dan lebih agamis”, ujar seorang laki-laki padaku.

“berjilbablah, nanti kiamat”, canda seorang teman padaku.

“penampilan berjilbab lebih baik dan orang memandangnya lebih baik”, nasihat seorang teman kepadaku.

“sekarang aku merasa lebih baik dengan jilbab, ayo kapan menyusul?”, curhan seorang teman kepadaku.

Ada Apa dengan Jilbab?

Dewasa ini, jilbab menjadi trend fashion masa kini yang tak kalah saingnya dengan trend musim lainnya. Ada yang bergaya Pakistan, Arab, serta trend-trend lain yang silih berganti naik daun. Dengan berbagai corak dan warna-warna yang sangat menarik hati.

Jilbabisasi sejatinya mulai sejak abad 21-an. Perempuan Melayu yang dulunya suka menggunakan selendang dan berbaju kurung, sekarang telah mengganti penutup kepalanya dengan menggunakan jilbab. Syndrome jilbab memang sudah merasuki para perempuan di Indonesia, bahkan di negara-negara Asia lainnya yang pula berumpun Melayu.

Tuntutan zaman akan penggunaan jilbab menjadi sebegitu merebaknya ditambah dengan trend fashion yang semakin marak. Industri fashion muslim saat ini juga tak kalahnya menjadi sebuah industri besar lainnya. Tentu pula dengan pendidikan kepada konsumen menjadi konsumen yang konsumtif.

Hal ini tidak dapat dipungkiri, bahwa perkembangan dunia fashion tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan peradaban saat ini. Jilbab, sebuah penutup kepala dianggap sebagai alat yang lebih beradab dan lebih manusiawi untuk menutupi tubuh perempuan.

Jilbab pula dianggap sebagai lambang untuk menilai akhlak dan moral seorang perempuan. Menjadi alat penilai untuk kebaikan diri dan sebuah manifestasi peradaban baru kedepan. Namun, dibalik itu semua, ada sedikit catatan yang sangat mengganggu pikiran penulis.

Pertama, jilbab sungguh-sungguh mewacanakan aurat ketubuhan perempuan yang dianggap sebagai dosa (dalam agama tertentu) dan pembuat dosa. Pengukuhan ini diperkuat dengan pengakuan bahwa jilbab adalah sebuah lambang kebaikan untuk menutupi sebuah kejahatan.

Hal ini adalah sebuah ladang investasi bagi ideologi patriarki, yang menciptakan benih-benih kekerasan terhadap perempuan berbasis gender. Jilbab secara tidak langsung mengukuhkan bahwa tubuh perempuanlah yang bersalah atas kasus-kasus terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Tubuh perempuan juga masih dianggap sebuah bentuk tabu dan sumber masalah.

Kedua, jilbabisasi pula secara tidak langsung telah mendeskriditkan perempuan yang tidak menggunakan jilbab. Asumsi perempuan jilbab sebagai perempuan yang agamis dan berakhlak mulia, memproduksi makna bahwa perempuan yang belum menggunakan jilbab merupakan perempuan yang belum agamis. Perempuan yang masih belum berada dalam keadaan dijalan yang benar.

Ketiga, jilbab menjadi identitas bagi seorang perempuan dalam agama tertentu. Keyakinan terhadap sebuah agama tertentu menurut kacamata penulis merupakan hak seseorang, termasuk identitas diri seseorang. Maka secara tidak langsung pula jilbab memberikan konstribusi besar dalam indonesiaisasi (baca : penghapusan nilai-nilai perbedaan).

Keempat, jilbab mewariskan nilai-nilai baru mengenai konsep aurat dalam budaya lokal. Pemaknaan aurat menjadi sangat lain, karena dikonotasikan sebagai bentuk lain (the other) dan harus tertutup. Padahal pemaknaan aurat disetiap daerah seharusnya bersifat sangat lokal dan subjektif sekali. Namun, pada akhirnya, jilbab meruntuhkan pula kerifan lokal mengenai pengakuan aurat perempuan dan laki-laki.

Beberapa catatan diatas merupakan hasil perenungan yang tiada henti dari penulis. Bahwa saya tidak dapat mengatakan siapa saya tanpa ada identitas. Identitas boleh saja semuanya wajib menggunakan KTP, tapi tidak mengapakan bila didalamnya tertulis nama yang berbeda dan agama yang berbeda pula. Saya rasa, sungguh aneh bila kita semua sama.

Bengkulu, 21 juli 2011, 23 :58

Bagaimana aku dapat mengenalnya, jika aku tak diizinkan untuk salah.

Si ungu selalu mengatakan bahwa aku biasa saja. Pemikiranku biasa saja, dan aku mungkin dapat dibilang hebat jika di luar dunia sana. Aku tersenyum saja. Bukankah itu lebih baik? Karena aku belum mampu menuliskan hal-hal yang dilakukan Kartini ataupun Gadis Arivia.

Ya, bagaimana aku bisa bilang jika aku hebat. Sedangkan aku tak mampu menulis dengan baik. Meraut di peruncing saja aku tak mampu. Bahkan aku mempelajarinya selama satu tahun. Sungguh waktu yang sangat lama. Lalu, si hitam. Dia juga mengatakan aku bodoh. Karena aku sering kali goyah.

Read the rest of this entry »

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics