Slideshow
Tags & Categories

Posts Tagged ‘jilbab’

“Kenapa gak pake jilbab saja?”, seorang laki-laki bertanya padaku.

“lebih cantik kalo pake jilbab, lebih terasa anggun dan lebih agamis”, ujar seorang laki-laki padaku.

“berjilbablah, nanti kiamat”, canda seorang teman padaku.

“penampilan berjilbab lebih baik dan orang memandangnya lebih baik”, nasihat seorang teman kepadaku.

“sekarang aku merasa lebih baik dengan jilbab, ayo kapan menyusul?”, curhan seorang teman kepadaku.

Ada Apa dengan Jilbab?

Dewasa ini, jilbab menjadi trend fashion masa kini yang tak kalah saingnya dengan trend musim lainnya. Ada yang bergaya Pakistan, Arab, serta trend-trend lain yang silih berganti naik daun. Dengan berbagai corak dan warna-warna yang sangat menarik hati.

Jilbabisasi sejatinya mulai sejak abad 21-an. Perempuan Melayu yang dulunya suka menggunakan selendang dan berbaju kurung, sekarang telah mengganti penutup kepalanya dengan menggunakan jilbab. Syndrome jilbab memang sudah merasuki para perempuan di Indonesia, bahkan di negara-negara Asia lainnya yang pula berumpun Melayu.

Tuntutan zaman akan penggunaan jilbab menjadi sebegitu merebaknya ditambah dengan trend fashion yang semakin marak. Industri fashion muslim saat ini juga tak kalahnya menjadi sebuah industri besar lainnya. Tentu pula dengan pendidikan kepada konsumen menjadi konsumen yang konsumtif.

Hal ini tidak dapat dipungkiri, bahwa perkembangan dunia fashion tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan peradaban saat ini. Jilbab, sebuah penutup kepala dianggap sebagai alat yang lebih beradab dan lebih manusiawi untuk menutupi tubuh perempuan.

Jilbab pula dianggap sebagai lambang untuk menilai akhlak dan moral seorang perempuan. Menjadi alat penilai untuk kebaikan diri dan sebuah manifestasi peradaban baru kedepan. Namun, dibalik itu semua, ada sedikit catatan yang sangat mengganggu pikiran penulis.

Pertama, jilbab sungguh-sungguh mewacanakan aurat ketubuhan perempuan yang dianggap sebagai dosa (dalam agama tertentu) dan pembuat dosa. Pengukuhan ini diperkuat dengan pengakuan bahwa jilbab adalah sebuah lambang kebaikan untuk menutupi sebuah kejahatan.

Hal ini adalah sebuah ladang investasi bagi ideologi patriarki, yang menciptakan benih-benih kekerasan terhadap perempuan berbasis gender. Jilbab secara tidak langsung mengukuhkan bahwa tubuh perempuanlah yang bersalah atas kasus-kasus terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Tubuh perempuan juga masih dianggap sebuah bentuk tabu dan sumber masalah.

Kedua, jilbabisasi pula secara tidak langsung telah mendeskriditkan perempuan yang tidak menggunakan jilbab. Asumsi perempuan jilbab sebagai perempuan yang agamis dan berakhlak mulia, memproduksi makna bahwa perempuan yang belum menggunakan jilbab merupakan perempuan yang belum agamis. Perempuan yang masih belum berada dalam keadaan dijalan yang benar.

Ketiga, jilbab menjadi identitas bagi seorang perempuan dalam agama tertentu. Keyakinan terhadap sebuah agama tertentu menurut kacamata penulis merupakan hak seseorang, termasuk identitas diri seseorang. Maka secara tidak langsung pula jilbab memberikan konstribusi besar dalam indonesiaisasi (baca : penghapusan nilai-nilai perbedaan).

Keempat, jilbab mewariskan nilai-nilai baru mengenai konsep aurat dalam budaya lokal. Pemaknaan aurat menjadi sangat lain, karena dikonotasikan sebagai bentuk lain (the other) dan harus tertutup. Padahal pemaknaan aurat disetiap daerah seharusnya bersifat sangat lokal dan subjektif sekali. Namun, pada akhirnya, jilbab meruntuhkan pula kerifan lokal mengenai pengakuan aurat perempuan dan laki-laki.

Beberapa catatan diatas merupakan hasil perenungan yang tiada henti dari penulis. Bahwa saya tidak dapat mengatakan siapa saya tanpa ada identitas. Identitas boleh saja semuanya wajib menggunakan KTP, tapi tidak mengapakan bila didalamnya tertulis nama yang berbeda dan agama yang berbeda pula. Saya rasa, sungguh aneh bila kita semua sama.

Bengkulu, 21 juli 2011, 23 :58

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics