Slideshow
Tags & Categories

Posts Tagged ‘J50K’

Robert meninggalkanku saat aku masih terlelap. Robert harus bekerja hari ini. Diatas tempat tidur aku melihat satu buket bunga mawar merah segar yang masih wangi. Sepotong roti bakar dan secangkir susu coklat hangat. Aku bingung darimana Robert memesan buket bunga sepagi ini. Memang Robert tak diduga-duga dan membuatku tak mampu tak tersenyum.

Aku tak ingin kemana-mana hari ini. Rasanya letih sekali. Ingin sekali ‘me time’ seharian saja menikmati bath up dan menulis di teras kamar. Aku merasa nyaman dikamar ini, Robert memesan kamar presiden suit room yang mempunyai view kepadatan Jakarta. Teras kamar ini cukup nyaman. Hanya ada dua kursi dan satu meja kecil bergaya Eropa. Aku memindahkan semua sarapan pagiku di meja teras. Kuhirup teh hijau dan sepotong roti bakar yang ada. Rasanya nikmat sekali pagi ini. Kubiarkan cahaya matahari pagi menerpa tubuhku dan kubiarkan pula angin menyapa rambut ikalku.

Aku menuliskan pengalaman beberapa hari ini ke diaryku. Kubuka file diaryku berniat membuat catatan lagi. Namun mataku tergelitik melihat judul tulisanku ‘Sandi’. Kubuka file tersebut.

‘biru tetap saja biru. Berkali-kali kita bercerita, maka tak akan merubah biru’. Kalimat pertama yang kutulis mengenai Sandi. Kubaca tulisan-tulisanku mengenai Sandi. Aku serasa mau tertawa. Cerita pertama kali tanganku dipegang Sandi. Cerita kami bolos sekolah bersama, cerita kami bertemu dibelakang mushola diam-diam. Semuanya tentang Sandi. Mungkin ‘kami’.

Rasanya bersama Sandi seperti bersama diriku sendiri. Ya, Sandi adalah cinta pertamaku. Cinta pada pandangan pertama, pada rasa pertama dan pada kisah yang pertama. Tak ada banyak yang tau, bagaimana rumitnya pula hubungan kami berdua. Bagaimana rasa itu bisa muncul seketika dan akhirnya aku menentukan pilihan dialah yang akan menjadi cinta pertamaku.

Kuingat dulu, waktu kami berada disebuah bukit. Kulihat dia membuka catatannya  dan menuliskan sebuah puisi. Judulnya ‘senja yang membiru’. Aku rasanya tak mampu berkata apa-apa membaca bait-bait puisi yang dibuat oleh Sandi. Sungguh indah setiap baitnya. Melukiskan bagaimana alam menciptakan kebahagian bagi kita manusia. Hamparan hutan hijau, hamparan birunya langit dan angin yang memberi kita ruang untuk bebas bergerak.

Tak akan pernah terlupa puisi tersebut. Tak akan pernah terlupa suatu sore disudut jurang bersama Sandi. Saat Sandi tersenyum dan mengatakan dengan menatap jauh kedepan bahwa akulah inspirasinya.

‘ya, senja yang membiru hanya untukmu. Suatu inspirasi hidup’

Glek. Rasanya kala itu aku melayang jauh. Memerah mukaku kala itu tersipu. Sandi pura-pura tak melihatnya, mukanya juga memerah tak tahan menahan rasa. Ingin sekali kujeritkan rasanya bahwa aku menyukainya, tapi tak mungkin. Tak ada pembicaraan mengenai hubungan rumit kami.  Tak ada hingga akhir masa SMA berakhir.

Tak tahan rasanya ingin mengatakan bahwa aku menyukainya dibeberapa suasana beberapa kali. Tapi tak akan dan tak mungkin. Terlalu naif rasanya aku harus mengungkapkan perasaanku sebelum usia 17 tahunku menjelang. Aku berfikir ini perasaan bahagia biasa saja. Aku juga merasakan bahwa ini hanya persaan sesaat. Aku benci sekali harus jujur kali ini.

Sandi. Tak akan habisnya. Tulisannya, bola mata indahnya, kulit coklatnya, senyum simpulnya. Tak mampu kulukiskan dengan baik. Tak bisa kuungkapkan dengan cinta pula. Kerumitan hubungan dengannya bukan berarti mengakhiri cintaku padanya. Cintaku menjadi-jadi.

Aku diajarkannya mengenal diriku sendiri. Aku diajarkannya mencintai rasaku sendiri. Menjadi diriku pula sendiri. Pernah suatu kali, aku datang ke sekolah dengan mata sembab, karena ayah memarahiku semalaman. Seperti biasa, antara teater dan diriku. Aku keukeh menginginkan teater.

Mataku bengkak, tak mampu menyembunyikan apa yang kurasakan. Kesedihan rasanya tak mampu dibendung. Menusuk rasa yang paling dalam. Sandi mendekatiku dan mengajakku menepi disudut jurang didekat sekolah. Aku tak mampu berbohong namun juga tak mungkin mengatakan yang sesungguhnya. Aku tak mampu mengatakannya. Aku terlalu mencintai ayah. Seperti mencintai ibu, begitu rumit hubungan kami.

Sandi memberiku sepucuk mawar merah didepan kelas. Semua teman-temanku berseru dan membuat wajahku memerah padam. Aku bingung mau mengatakan apa. Tetap tak ada kata cinta yang terucap dari mulut kami. Membisu saja. Tapi kami merasakannya.

‘bagaimana kau melewatinya?’

‘tak tau San, hanya ibu yang mampu mendengarkanku’

Aku menangis terisak saja. Sandi diam saja, tak juga mampu bergeming. Tak ada rasa yang akan tersembunyi ketika bersamanya. Saat aku menangis, saat aku tertawa, saat aku tergelak, aku marah, hanyalah Sandi. Kali itu kulihat Sandi kebingungan dan dengan tangan bergetar memegang tanganku. Menariknya dan merangkulku. Mengusap air mataku dan membiarkan aku memangis sesenggukan hingga aku letih.

Ya. Sandi laki-laki pertama yang membuat aku jatuh cinta. Laki-laki pertama yang membuat aku mampu merasakan bahwa aku ini ada dan berada. Tiga tahun duduk dibangku sekolah menengah atas membuatku tak mati rasa. Sandi seringkali menghampiriku atau sekedar memberiku sepotong coklat batang untuk cemilan siangku. Sandi sangat mengerti, mulutku tak mampu berhenti mengunyah. Aku juga tak mampu belajar dengan baik jika tak ada coklat. Sandi seringkali menyelinapkan coklat di laci mejaku dan diam-diam memberitahu wali kelasku tentang kebiasaan anehku ini.

Tentu saja sandi melakukan perbuatan tidak baik, dia berkolusi dengan bibinya yang notabene wali kelasku, untuk membiarkanku sesekali mengunyah di kelas. Kadang aku malu sekali, tapi kadang aku menikmatinya. Aku bisa tidak tidur jika belum menyikat gigiku seperti itu pula dengan coklat. Aku tak mampu belajar matematika dengan baik jika tak mengunyah coklat. Terakhir kali, Sandi selalu istimewa. Selalu saja istimewa. Tak bisa kubayangkan, bagaimana Sandi menyisihkan uang jajannya hanya untuk memberiku sepotong coklat tiap minggunya.

Aku tersenyum simpul saja mengingat semua itu. Tak akan terlupa. Entah dimana Sandi sekarang. Apakah dia masih menungguku. Apakah dia masih saja menatapku dari jauh. Atau sekedar mengingatku dikala malam. Aku pula merasa bersalah, bingung dan tak tau harus mengatakan apa. Kala itu aku duduk dibangku kuliah. Tak akan kulupa bagaimana Sandi mulai mengatakan akan meninggalkanku untuk fokus melanjutkan pendidkannya. Dia memilih menjadi seorang ahli hukum dan melanjutkan sekolah di Belanda.

‘curang, aku yang ingin sekali sekolah kesana’, jeritku memukul tanggannya.

Sandi mendapat full beasiswa, dan ternyata Sandi melanjutkan masternya di Belanda. Awalnya email, skype dan semua alat telekomunikasi bersifat maya adalah jalan untuk kami berkomunikasi. Namun, pada akhirnya kesibukan nyata membuat kami benar-benar melupakan kebiasaan Saturday night setiap minggunya. Aku menyibukkan diri dengan seabrek aktivitas kuliah, teater, menulis diary hingga menghadiri pameran-pameran atau mengikuti training-training.

Buku-buku mengenai seni dan sastra khususnya teater selalu dikirim oleh Sandi sebagai hadiah untukku jika aku berulang tahun. Hingga saat ini, aku yakin, Sandi masih menyisihkan uang jajannya, bahkan uang saku dari beasiswanya untuk membelikanku buku-buku. Tak lupa pula beberapa coklat batangan yang dikirimnya untukku setiap bulannya. Hingga akhirnya aku terlupa kapan terakhir kalinya Sandi mengirimkan coklat untukku.

Aku merindukannya kali ini. Aku merindukannya dikala mengingat. Tak boleh lagi. Kutepis saja. Sandi berhak mempunyai hidup yang lebih layak. Berhak mendapatkan penghidupan yang baik, tentu juga dengan orang-orang yang dikasihinya.

Ah, Sandi. Cinta pertamaku. Tak akan terlupa. Terlalu datar mengingatnya. Terlalu datar. Lebih tepat aku merasakan semua cinta untuknya. Hingga tak ada kata berpisah. Tak ada kata cinta, yang ada hanya rasa yang tersimpan untuk masa lalu. Jika dia masih menungguku hingga waktunya tiba. Aku pula menunggunya. Walau aku menyakitimu, seperti ibu pula. Aku tak pernah meninggalkanmu. Aku hanya ingin bermain dan tersesat. Ingin kuteriak, bawa aku kembali.

Aku menangis tersedu-sedu. Tak ada Sandi. Hanya buket mawar Robert saja. Tak ingin kuungkap siapa Robert. Hari ini aku hanya ingin Sandi saja. Walau hanya menginga melalui tulisan. Aku menuliskan tentang hari ini di diaryku. Tentang Sandi lagi. (J50K 1178)

Robert bukanlah cinta pertamaku. Tapi aku selalu mengatakannya bahwa dia adalah cinta pertamaku. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan sebenarnya pada Robert setiap kali jadwal kami bertemu. Tapi ketika bertemu kami hanya mampu menghabiskan waktu untuk melepaskan rindu saja. Kadang aku juga tidak sempat menceritakan bagaimana aku sedang bersedih dan bagaimana aku harus melewati hari yang melelahkan. Pertemuan dengan Robert begitu singkatnya.

Robert adalah kakak tingkatku waktu sekolah di bangku SMA. Waktu itu aku duduk dibangku kelas satu dan Robert telah duduk dibangku kelas tiga. Tidak ada perasaan apapun waktu itu. Robert termasuk siswa berprestasi. Dia mantan ketua Osis dan salah satu senior PMR disekolahku. Selain itu, seabrek deretan prestasi juga dia sandang. Dari juara umum, juara olimpiade hingga juara pidato.

Tentunya juga banyak perempuan yang tergila-gila padanya. Dari teman-temanku hingga kakak tingkatku yang sangat menggilai Robert. Secara fisik Robert juga tak kalah bersinarnya seprti prestasinya. Tinggi semampai, berkulit sawo matang sehat, hidung bangir dan lesung pipit yang sangat menawan. Aku tak pernah pernah menyangka sekarang aku ada bersamanya.

Kupandangi Robert yang masih tertidur pulas. Seperti biasa aku tak mampu tidur jika subuh menjelang. Walaupun tubuhku secapek apapun. Kuingat lagi pada masa sekolah dulu. Aku benar-benar tak ada perasaan apapun pada waktu bertemunya. Aku lebih menyukai Sandi. Ya Sandi, seorang laki-laki sederhana yang kutemui pada saat kami sedang bersama-sama berada dalam perkemahan sabtu minggu yang diadakan sekolahku.

Sandi jauh dari Robert. Sandi hanya siswa pintar yang tidak terlalu menonjol. Dia pintar sekali menulis. Banyak sekali tulisannya sering nongkrong dibeberapa koran lokal maupun majalah remaja.

Robert selalu digilai banyak perempuan. Kadang aku berpikir mereka menjadi begitu aneh. Teman-temanku seringkali habis akal jika melihat Robert. Robert bak selebritas yang tak henti hentinya dibicarakan, dielu-elukan hingga didewakan. Pernah suatu kali teman satu kelasku, si Rara yang sangat menaksir Robert rela menyisihkan sebagian uang jajannya hanya karena ingin memberikan selembar kaos branded kepada Robert. Kala itu Rara tau bahwa Robert akan berulang tahun dua bulan lagi.

Karena tabungannya belum mencukupi untuk memberikan hadiah kepada Robert, alhasil Rara harus membohongi ibunya. Rara beralasan meminta uang untuk membeli beberapa lembar kerja siswa (LKS), yang diwajibkan oleh gurunya. Rara bilang pada ibunya jika tidak membeli LKS, nilai ujiannya akan terancam. Ibu Rara mempercayai apa yang dikatakan oleh Rara, dan alhasil Rara mampu membeli selembar kaos branded yang diidamkannya untuk diberi kepada Robert.

Ulah Rara ini, tidak sampai disitu saja. Rara nekat memberikan kado ulang tahun tersbeut menggunakan surpise party. Tentu saja Rara melibatkanku untuk merancang konsep surpise party. Aku menolak habis-habisan, karena sungguh ini hal yang paling lebay yang akan kulakukan. Apalagi untuk si Robert. Aku tak terlalu menyukainya sebenarnya. Bagaimana aku bisa menyukainya, aku hanya mengganggap Robert memiliki kepintaran yang biasa saja. Tidak spesifik. Bagiku semua siswa mampu meraih juara umum, mampu memenangkan piala olympiade. Bisa pula menjadi tampan. Tapi hal tersebut bisa keluar jika kita mempunyai pribadi yang sangat peduli pada orang lain. Bagi Robert hanya peduli pada dirinya sendiri, ketampanannya, kepintarannya hingga selebritasnya.

‘aku ada latihan teater Ra. Maaf gak bisa bantu, bantu deh, bantu doa ya?’, ungkapku sambil bercanda.

‘Leaaaaaaaaaaaa, kamu wajib berpartisipasi. Ini adalah moment yang paling penting dalam hidupku. Robert itu cinta pertama tau.’

‘tapi aku gak bisa Ra, aku harus fokus latihan untuk pementasan akhir minggu’, ungkapku kekeuh.

‘aku bilang sama ayahmu lo kalo kamu selalu main teater’, ancam Rara.

Yah, akhirnya aku ikut membantu Rara. Tak akan bisa aku melukai hati ayah. Walaupun aku tak pernah tau apa alasan ayah melarangku bermain teater. Rara merencanakan surpise party untuk Robert ditengah malam. Datang kerumah Robert dan memberikannya sebuah kue kecil untuk Robert plus kado hasil jerih payahnya menabung.

Perjuangan Rara, juga membuatku berjuang mendapatkan izin ayah dan ibu untuk menginap dirumah Rara pada jam sekolah. Ayah dan ibu pada awalnya tidka mengizinkan, tapi karena Rara memohon dengan alasan belajar bersama, akhirnya ayah dan ibu mengizinkanku untuk menginap dirumah Rara.

Tak pernah kulupa, kala itu ayah Rara ikut pula berpartisipasi dalam rencana Rara. Tentunya tanpa sepengetahuan ibu Rara. Ibu Rara seorang ibu yang super protektif. Jadi tidak ada celah Rara untuk dapat menikmati masa pacaran dalam remaja. Ibu Rara hanya memperbolehkan Rara memulai pacaran pada Rara ketika Rara sudah tamat sekolah. Pada awalnya Rara berkomitmen begitu, tapi Robert menghancurkan semuanya. Rara menjatuhkan cinta pada pertamanya pada Robert.

Aku sering meledek Rara dengan sebuah kesialan telah menjatuhkan cinta pertama pada Robert. Pada ketampanan yang menipu ungkapku. Semakin kuledek, Rara malah semakin menjadi-jadi. Kata Rara, ini adalah sebuah perjuangan besar dan moment indah dalam hidup.

Ayah Rara mengantarkan kami kerumah Robert. Aku selama seminggu harus kepusingan menanyakan alamat rumah Robert. Tentu saja aku tak ingin ada yang tau aku sedang mencari rumah Robert. Bisa rusak reputasiku, dan tentunya aku akan banyak dimusuhi para fans Robert. Sungguh perjuangan yang begitu menyebalkan bagiku. Sangat sulit mencari dengan diam-diam rumah Robert. Aku harus melihat buku tahunan Osis agar benar-benar tak ada yang mengahui kalo aku sedang mencari rumah Robert.

Ayah Rara menunggu dimobil sedangkan aku bertugas menelpon si Robert dan Rara sudah siap didepan pagar rumah Rara dengan kue ulang tahun kecil dan bingkisan kadonya yang kesemuanya berwarna pink. Baru masuk gang rumah Robert, aku dan Rara sudah saling berpandangan, karena ternyata bukan hanya Rara yang berpikiran untuk memberikan surpise party. Kulihat Sarah genk sudah berdiri didepan gerbang pagar rumah Robert.

Rasanya aku ingin pulang saja. Aku benar-benar tak ingin bermasalah dengan Sarah genk. Sarah adalah kelompok genknya, tentu saja mereka terkenal disekolah karena mereka termasuk golongan elit dan tajir. Rara juga nyalinya mengkerat dan memutuskan untuk menepikan mobil dan melihat dari kejauhan saja apa yang dilakukan oleh Sarah genk. Tepat jam 00.00, Robert keluar dari rumahnya dan menyambut dengan gembira surpise party yang dibuat oleh Sarah. Kulihat Sarah mengalungkan sebuah jam branded ditangan Robert dan memberikan kesempatan Robert untuk make a wish dengan kue ultah bergambar spiderman kesukaan Robert.

Rara tentu saja miris. Tentu saja pula tak tahan menahan air mata. Belum lagi sebuah kecupan manis dikening Sarah mendarat kala itu. Bisakah dibayangkan orang yang kita cintai menyentuh orang lain? Memberikannya sebuah kecupan hangat? Tak bisa dibayangkan bagaimana akhirnya. Bagaimana menyayatnya hati Rara.

Rara melihatnya tanpa meneteskan air mata. Walau kutau, air mata itu sudah diujung sudutnya ingin menumpahkan diri. Dengan kuat hati, Rara melihat semua adegan itu. Aku hanya tertegun dan merasakan sakitnya Rara. Ayah Rara dengan bijak akhirnya memutarkan mobil dan mengajak kami kembali kerumah.

Aku tak mampu berbicara apapun kala itu. Walau sekedar mengatakan bahwa ‘Ra, yang kuat’. Aku tak mampu mengatakannya. Aku lebih merasakan kepedihan yang Rara rasakan. Kami mati rasa berdua. Malam itu Rara hanya menutup surpise party-nya dengan tidur, dalam pelukanku. Aku tau dia menangis malam itu. Itu waktu aku dan Rara duduk pada kelas satu SMA. Lebih dari sepuluh tahun silam.

Kudekati Robert yang tertidur pulas. Kupegang bibir Robert, dan kukecup bibirnya dengan mesra sambil mengingat Rara. Untuk Rara, sahabatku. Robert terbangun dari tidurnya dan membalas kecupanku dengan mesra. Menarik tanganku dan memasukkan tubuhku dalam pelukannya. Rasanya jika ingat Rara tak mungkin aku ada dipelukan Robert. Ingin kuceritakan rasanya bagaimana perasaan Rara waktu itu.

Ingin kukatakan bahwa Robert telah membunuhnya secara perlahan. Hingga akhir hayatnya. Membunuh hidupnya dan rasanya. Kutak tau bagaimana Rara mampu melewatinya. Hingga pada akhirnya Rara menyerah pada kanker yang telah hinggap ditubuhnya sejak lama. Rara pernah mengungkapkan padaku diakhir hari-harinya bahwa ingin sekali mencium bibir Robert sekali saja. Tapi tak pernah kami perjuangkan lagi, karena Rara tak ingin. Rara tak ingin menyakiti siapapun ungkapnya.

Kucium sekali lagi bibir Robert.

‘untukmu Ra’, ungkapku dalam hati lirih. Robert menarikku untuk tidur kembali. Tak tau aku bisa terlelap lagi. (J50K 1254)

Berbicara mengenai ibu tak pernah habisnya. Ibu memang secara fakta meninggalkan ayah. Tapi aku selalu yakin ibu punya alasan tersendiri meninggalkan ayah. Ibu seorang perempuan spesial dalam hidupku. Selain karena sudah melahirkanku, merawatku dan mengajarkanku banyak hal.

Aku mempunyai semua kecantikan yang dimiliki oleh ibu. Mata bulat ibu, kulit kuning langsat ibu, rambut hitam ikal ibu, kaki jenjang ibu hingga hidung banggir ibu. Ibu seorang pelukis. Seperti cita-citanya. Ibu mampu melukis dengan baik. Sesuai dengan apa yang hatinya inginkan. Tidak bergantung pada siapapun dan mempunyai rasa sendiri.

Ibu seseorang yang sangat pendiam. Lebih pendiam dari aslinya. Sedari kecil aku jarang sekali diajaknya bicara, walaupun mengomentari sesuatu. Aku jarang berbicara pada ibu, tapi kami sangat dekat. Ibu juga jarang mengajariku sesuatu, tapi aku mampu meniru yang ibu lakukan. Memang hubungan yang rumit dan aneh.

Keterampilanku berbicara dan bergaul dengan banyak orang didapat dari kakekku. Kakekku dari pihak ibu, dulunya seorang guru yang dikenal sangat ramah dan disayangi murid-muridnya. Sedangkan ibu, sangat menurun dari sifat nenek. Sepertinya aku termasuk gen yang berbeda. Di keluarga dari pihak ibu biasnya perempuan menjadi sedikit pendiam dan laki-laki termasuk kriteria orang yang gampang bergaul dengan semua orang.

Biasanya kita akan menemui keluarga yang anggota perempuannya ramah, bahkan terkesan sedikit cerewet. Namun itu sangat berbeda yang terjadi dikeluargaku. Perempuan menjadi sedikit pendiam, dan laki-laki menjadi orang yang mudah bergaul. Memang kami sering disebut keluarga yang aneh.

Sebenarnya, kami dididik dengan ada Jawa kuno. Kakek dan nenek sangat menjunjung tinggi adat istiadat. Sehingga kami para perempuan didalam keluarga lebih diajarkan untuk nrimo dan diajarkan untuk menjadi orang yang lemah lembut, santun, berbicara seperlunya. Maklum saja, mungkin karena ada turunan darah ningrat didarah kedua nenekku.

Ibu menuruni bakat melukis dari nenek. Sama seperti ayah yang juga seorang pelukis, yang bakatnya turun dari nenek. Tapi karena kakek super protektif terhadap nenek, akhirnya nenek harus puas menempati posisi ibu rumah tangga. Bakat nenek melukis tidak pernah mati, tapi pada akhirnya nenek menyerah kepada keadaan dan menghambakan dirinya hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Berbeda dengan nenek dari pihak ayah, yang bagiku punya kemandirian lebih kuat.

Oh ya, sebenarnya aku memanggil nenek dan kakek dari pihak ibu dengan sebutan eyang uti dan eyang kakung. Sedangkan dari pihak ayah aku menyebutnya embah uti dan embah kung. Itu panggilanku kesayangan untuk mereka. Tapi sekarang mereka dipanggil kakek nenek karena kami sudah tidak tinggal di pulau Jawa lagi. Sehingga menurut ayah ibu dulu, sebaiknya kami menggunakan bahasa Indonesia saja dalam penggunaan panggilan pada mereka.

Aku juga tak mengerti keputusan mereka untuk hijrah di pulau ini. Meninggalkan tanah Jawa tempat kelahiran mereka dan memilih tingga disebuah kota kecil ini. Juga meninggalkan kakek dan nenek. Orang sepertinya melihat keluarga kami sebagai keluarga yang aneh, dan kacau. Nenek meninggalkan kakek, kami meninggalkan kakek. Padahal aku melihat kemandirian yang sangat kuat dikeluargaku. Meleapskan ketergantungan, namun bukan berarti kami tidak saling mencintai.

Waktu aku kecil dulu, nenek sering menemani ibu melukis di halaman belakang rumah. Ibu pula yang selalu dimarahi nenek jika tak mampu mengerjakan lukisan-lukisan yang wajib dikerjakan dengan baik. Ibu selalu tekun belajar melukis, cerita nenek kepadaku. Tapi tak menurun kepadaku. Menggambar saja aku tidak pintar apalagi melukis. Sejak dulu aku suka sekali berakting. Ibu menyuruhku masuk sebuah teater. Tapi ayah selalu mengatakan ‘untuk apa main teater? Seperti orang gila saja’.

Ayah lebih mendukungku masuk ke dunia modelling, karena tampangku yang lumayan dan tubuhku yang semampai mendukung untuk aktivitas itu. Aku dulu sering mendengar perdebatan ayah dan ibu. Mereka jika tak pernah mengajariku melukis. Atau aku memang aneh, tak punya bakat lukis sedikitpun dari ayah dan ibu. Kadang aku juga bertanya, mengapa aku tidak memiliki bakat melukis dari ayah dan ibu. Aku juga kebingungan. Karena aku memang tidak mampu melukis. Tapi aku mampu melihat dan memberi makna pada setiap lukisan yang ada.

Suatu kali pada waktu aku masih kecil, aku diajak ayah dan ibu ke pameran lukisan teman ayah. Bertanya pada ayah,

‘apakah ini semua lukisan realis ayah?’

Ibu langsung menatapku dan seakan tak percaya mendengar ucapanku seolah aku telah begitu dewasa. Seolah aku mengerti aliran-aliran lukisan. Aku memang pernah mendengar nenek bercerita suatu sore dengan ibu mengenai lukisan realis yang dulu pernah ingin dibelinya waktu nenek sedang berada dipameran lukisan aliran realisme.

‘dimana kau melihatnya?’, tanya ayah heran.

‘aku membaca ayah. Lukisan itu termasuk aliran realisme. Aliran ini telah bosan atas kemapanan aliran romantisme. Tumbuh di Perancis ayah. Aliran ini berhubungan dengan perjuangan sosial, reformasi politik dan demokrasi ayah. Salah satu pelukis aliran ini Jean Francois Millet’, cerocosku pada ayah.

Kala itu ayah dan ibu berpadangan. Tak menyangka aku mampu menceritaka mengenai realisme. Ayah sangat bahagia aku tumbuh begitu cerdasnya, walaupun tak menuruni bakat mereka melukis.

Aku menyukai seni peran. Sebenarnya tak jauh-jauh dari seni dan satra, karena aku dilahirkan dari keluarga yang berdarah seni. Dan ibu mengerti itu. Tapi tidak dengan ayah. Ayah selalu saj menentangku untuk menjadi seorang aktor dalam teater. Entah kenapa, padahal aku yakin ayak pasti mengerti bahwa seni peran dalam teater tak kalah indahnya dengan melukis.

Aku seringkali merengek pada ibu ingin menontot pertunjukan teater yang diadakan sebuah teater di kotaku. Kami selalu berkonspirasi berdua supaya tidak ketahuan ayah menonton pertunjukan teater. Biasanya ayah sedang melukis dibelakang rumah dan aku bersama ibu mengatakan bahwa kami ingin berbelanja.

Biasanya ayah tak terlalu menyukai rutinitas berbelanja. Jadi ayah tak akan ikut jika kami meminta izin berbelanja. Tentu saja ibu sudah memasukkan berbagai belanja bulanannya di bagasi mobil. Sehingga ketika pulang kami sudah lengkap dengan menenteng belanjaan. Kadang ayah curiga, tapi aku selalu bercerita bagaiamana adegan belanja tadi, dan pertunjukan fashion show yang aku tonton di mall tadi.

Ayah akan antusias dan menyarankanku untuk ikut salah satu perlombaan. Aku hanya tersenyum saja dan bilang pada ayah aku sangat malu jika banyak yang menontonku diatas catwalk. Biasanya ayah akan mengerti dan tetap saja sesekali menasehatiku bagaimana bekerja didunia seni tanpa materi yang cukup. Menurutnya teater tidak akan memberikan kenyamanan. Tidak akan pula memberikan ruang materi yang cukup untuk hidup. Ayah mencontohkannya mengenai hidup keluarga kami yang pas-pasan saja. Ayah memang mempunyai bengkel melukis. Tapi untuk ukuran disebuah kota kecil begini, peminat lukis masih sedikit sekali. Bengkel ayah memang hanya berada di garasi rumah, tapi ayah juga mempunyai banyak sekali fans dan anak didik yang dibinanya.

Berbeda dengan ibu. Ibu melukis untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Biasnya ibu menghasilkan karya yang sangat baik menurut kacamataku. Ibu juga seorang relealis. Karyanya pernah dipamerkan dalam pameran kebudayaan gabungan pelukis di kotaku beberapa tahun silam. Waktu itu ibu membuat sebuah lukisan suatu keluarga yang makan dimeja makan tanpa cukup makanan. Didinding rumah dalam lukisan tersebut, terdapat sebuah lukisan karya Leonardo da Vinci.

Sebenarnya aku tak paham apa maksud ibu. Tapi aku yakin ibu menceritakan mengenai kemiskinan, ketamakan, keserakahan akan kekuasaan. Ibu melukiskannya dengan sangat indah. perpaduan warna menghasilkan beberapa warna yang sangat alami. Warna ungu sangat dominan dalam lukisan tersebut. Keanggunan karakter dalam tokoh lukisan tersbeut juga menjadi sebuah hal yang sangat menarik hati dan mata.

Aku mendengar lukisan itu ditawar hingga ratusan juta oleh seorang kolektor lukisan aliran realisme. Tapi ibu belum mau menjualnya. Ibu mengatakan akan menjualnya kepada seseorang yang mampu menikmati lukisan tersebut. Bukan hanya seorang kolektor saja. Aku ingat waktu itu, ayah dan ibu akhirnya bertengkar hebat. Ayah pikir, itu harga yang sudah cukup pantas untuk ibu melepaskan lukisan tersebut.  Tapi ibu tetap keukeuh mempertahankan bahwa lukisan itu hanya untuk orang yang mampu menikmati lukisan tersebut.

Kadang aku pusing juga melihat hubungan ayah dan ibu. Mungkin lebih rumit dari hubunganku dengan ibu. Ibu memang jarang sekali berbicara, tapi pada waktu itu kulihat ibu sangat marah dan mempertahankan argumennya. Entah karena ego pribadi ayah, atau juga karena ego pribadi ibu pula. Hingga akhirnya ibu meninggalkanku dan ayah dirumah. Hanya gara-gara perdebatan akan lukisan itu. Aku tak pernah tau kenapa ibu tidak mengajakku turut serta.

Pada malam ibu meninggalkan kami, ibu masuk ke kamarku dan mengatakan bahwa aku harus menjadi seorang aktor dalam teater dan menjadi apa mauku. Kata ibu tak akan pernah meninggalkanku. Ibu hanya ingin berjalan-jalan sebentar. Ibu meninggalkan lukisan itu kepadaku. Katanya akulah yang paling berhak.

Ibu hanya melukis untukku. Untuk keluarganya saja. (J50K 1344)

Di dalam mobil aku masih saja merasa kesal dengan obrolan yang tak menentu tadi, dengan laki-laki penyuka rokok tersebut. Rasanya, kaki ini ingin kembali dan mendampratnya. Robert menarikku dalam pelukannya dan mengecup lembut keningku. Tarikan tangan Robert seperti biasanya membuatku tersentak. Robert memandangiku dengan caranya, dan aku seperti biasanya akan menjadi luluh melihat tatapan matanya yang sangat dalam ini.

Love is blind. Benar jika ada yang bilang bahwa cinta itu adalah buta. Cinta membuat aku benar-benar tergila-gila padanya. Pada matanya yang berbinar, pada tangannya yang kekar. Pada kata-kata cintanya. Pada seluruh rasa yang tak bisa aku ungkapkan sendiri dan membuat aku tak tersadar.

‘mau nginep dimana nih sayang?’ kali ini Robert mencoba mengambil alih kekesalanku.

‘aku ingin mencoba JW Marriot sayang’

‘iya sayang. Mau makan apa kita? Pasti sudah lapar ya?’

Hal seperti ini yang tak bisa kulupa dari Robert, selalu saja pintar mengalihkan perhatianku yang kadang-kadang cepat sekali terbawa emosi. Aku sering kali mengatakannya emosi jiwa, karena kadang sebuah masalah bukan saja mengundang sakit hati tapi jiwa juga ikut menjadi sakit.

Kepintaran Robert mengambil hatiku dengan hal seperti ini memang membuat aku sangat jatuh cinta kepadanya. Kadang kala aku berfikir bahwa aku terlalu berlebihan dengan cintaku, yang kahirnya membuatku mencintainya dengan membabi buta.  Sebenarnya sungguh aku terlalu takut kehilangannya. Aku pula terlalu takut mengatakan pada dunia aku mencintainya. Aku pula terlalu takut nantinya harus menghadapi kenyataan bahwa semua ini tak seindah yang kubayangkan.

Dahi Robert berkerut melihatku yang terlalu mencari jawaban pertanyannnya mau makan apa. Robert menarikku dalam pelukannya.

‘kali ini kita aku ingin mencoba makanan Chinnes sayang’, aku mencoba mengalihkan perhatiannya.

‘serius sayang? Sejak kapan nih mau makanan Chinnes?’ tanyanya heran kepadaku.

Aku tersenyum nakal, dan melirik matanya dengan syahdu. Sebenarnya aku memang tak terlalu menyukai makanan Chinnes, tapi Robert sangat menyukainya. Biasanya aku memang selalu saja memaksa menuruti mauku. Tapi kali ini, entah angin dari mana aku ingin sekali menuruti maunya Robert.

‘serius beb. Masa aku bohongan. Kita coba dulu ya, siapa tau nanti aku menjadi suka’, ungkapku asal untuk menyakinkannya.

‘berati hari ini hariku ya sayang’, ungkapnya nakal kepadaku.

Aku sebenarnya ingin tergelak mendengar ucapannya kali ini. Terasa biasa tapi asing sekali. Sebenarnya aku juga kadang-kadang membencinya dengan kalimat mesranya. Benar-benar membunuhku. Benar-benar membuatku tak bisa menjadi diri sendiri.

Aku hanya mengerlingkan mataku saja dan membelasi rambutnya. Pikiranku masih melayang  ke pembicaraan aneh dengan laki-laki penyuka rokok tadi. Aku keheranan kenapa aku mampu mengatakan selugas tadi dan dengan sadar. Tapi aku tak mampu bersikap seperti yang kuungkapkan tadi. Aku hanya mampu mengungkapkan tanpa mampu melakukan. Tepatnya mungkin seperti itu.

‘turun yuk sayang’, ungkap Robert sambil membukakan pintu untukku.

Benar-benar aku tak bisa mengelak jika aku sedang kalut. Aku tergugup dan melemparkan seulas senyum kepadanya. Kadang senyum juga bisa dimanipulasi untuk menutupi perasaannku yang sedikit kacau kali ini.

lets go, kita habiskan makanan kali ini’, kataku berbasa basi.

‘iya sayang ayo’, ungkap Robert bingung.

Kami memesan tempat duduk paling sudut, mengjadap sebuah kolam ikan kecil yang kurasa memang dibuat untuk mempercantik dan menarik suasana di rumah makan tersebut. Rumah makan ini kecil sekali dan terasa seperti bukan tempat yang nyaman. Tapi sebenarnya interior ruangannya membuat nyaman sekali. Pada makanan pembuka kita akan disuguhkan beberapa cemilan ringan dan teh.

Tanpa bicara Robert menarik tangganku dan mengajakku kedepan sebuah lemari pendingin yang besar sekali, memilih makanan yang ingin kami santap. Dia mengambil beberapa sayuran, dan tofu. Aku mengambil lumpia dan bakso. Dia melirik kepadaku tanpa bicara dan menyodorkanku sayuran kepadaku. Aku ambil sayurannya dan menyerahkan pada pelayan.

Mungkin saja Robert terheran-heran melihatku. Mengambil sayuran dan menuruti semua maunya. Kugenggam tanggannya erat sekali ketika berjalan ke meja makan. Kutatap tubuhnya yang kekar sambil berjalan tanpa berpaling. Sungguh laki-laki ini membuatku gila. Membuatku menutup mata dan mampu melupakan Sandi.

Sandi. Ya Sandi.  Tak akan terlupa, cinta pertamaku. Orang yang mengatakan cinta pada malam perkemahan liburan. Orang yang membuatku ingin selalu saja pulang telat kerumah dan menyukai rambut ikalku. Matanya yang sedikit sipit, kulitnya yang kuning kecoklatan.

‘ada apa sayang? Kok dari tadi sepertinya melonggo saja? Ada yang dipikirkan’, brondongan pertanyaan Robert membuyarkan bayangan Sandi lagi.

Mungkin selalu saja begitu, Robert benar-benar ditakdirkan untuk menghilangkan bayangan Sandi. Robert memang ditakdirkan untuk membuat hatiku menutup mata mengenai Sandi dan membuat aku melupakan semua kenangan bersama Sandi.

‘gak ada apa-apa beb. Tiba-tiba aku merindukan ayah saja. Ada seorang laki-laki yang kutemui tadi di pesawat. Dia penyuka rokok. Cara laki-laki itu menghisap rokok sangat mirip sekali ayah. Aku jadi tiba-tiba merindukannya’, cerocosku padanya.

Robert senyum simpul kepadaku dan memegang tanganku dengan lembut.

‘itu wajar sayang, semua orang akan merindukan sosok seorang ayah pada hidupnya. Tidak ada yang salah dengan merindukan ayah. Kenapa jadi tiba-tiba aneh sayang?’, tanya Robert menyelidik.

‘gak apa-apa beb, tiba-tiba saja juga merindukan ibu. Entah kemana ibu sekarang ya beb. Bagaimana rupa ibu ya beb. Apakah ibu merindukanku saat ini beb?’, ungkapku pilu.

Robert memegang tanganku dengan mesra dan membelai rambutku dengan lembut. Aku tau dari caranya memegang pasti Robert sedang menguatkanku. Robert memang selalu mengerti keadaanku. Robert selalu saja membuatku nyaman menceritakan masalah-masalah dalam hidupku. Membuatku yakin bahwa hidup ini bukan hanya mengenaiku saja. Tapi juga mengenai orang lain.

Pramuniaga datang dan menghidangkan teh tawar kepada kami.

‘bisa diganti dengan air putih mba?’, tanya Robert sopan.

‘iya pak, ada yang dibutuhkan lagi?’, ungkan pelayan juga sopan .

‘mungkin tissu saja mba’, Robert meminta dengan sopan pula.

‘sebentar ya pak’

Aku memandang adegan ini. Robert memang dengan sangat sopan sekali memperlakukan orang lain. Begitu yang selalu dilakukannya padaku pula. Pokoknya benar-benar Robert laki-laki tipeku sekali. Mungkin saja ibu pula mempunyai perasaan yang sama terhadapku. Menyukai laki-laki lembut dan sopan terhadap perempuan. Memanjakan dan membuatku bagaikan seorang ratu.

‘kapan kita akan mencari ibu?’

Deg. Jantungku serasa berhenti berdetak. Sandi pernah mengatakan hal yang sama kepadaku mengenai ibu. Sandi pula mengatakan padaku bahwa aku harus mencari ibu. Jantungku bergetar hebat, Sandi benabenar kembali ke hatiku kali ini.

‘iya nanti setelah akhir tahun ini selesai beb. Aku ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan dengan cepat. Tapi bukan maksudku ibu tidak menjadi prioritas.’, ungkapku diplomatis.

‘iya sayang, kita harus mencari ibu sampai ketemu ya. Kamu yang kuat ya sayang. Aku mencintaimu’, ungkapku mesra.

‘aku juga beb’, kataku mesra.

Aku takkan pernah melupakan ibu. Sebenarnya ada hal rahasia yang aku simpan mengenai ibu dari ayah. Aku tau, ibu tetap melukis dan selalu melukis. Aku akan mencarinya kemanapun. Hingga aku menemukan ibu kembali. Melukis bersamanya dan bercerita mengenai sebuah pagi yang indah dengan menghirup secangkir teh.

Takkan terlupa suatu pagi aku hanya berdua bersama ibu. Ibu mengajarkanku cara melukis. Dia tarik  sebuah garis tengah dalam kanvas dan memulai menggambarkan sebuah pagi untukku dari guratan garis tersebut. Takkan pernah terlupa olehku, bagaimana hasil lukisan ibu mengenai pagi untukku. Sebuah mata yang indah dengan untaian rambut hitam panjang. Sungguh aku menyukai lukisan ibu.

Lukisan ibu selalu membuatku terperangah setiap kali menyambut pagi. Seperti Robert pula, yang selalu menghargai guratan lukisan ibu. Robertlah yang hanya mau mendengarkan ocehanku mengenai lukisan ibu secara berulang-ulang. Beribu kali, dengan cerita yang sama.

Kuhabiskan malam bersamanya, dengan bayang-bayang lukisan ibu. Aku mendesah.

J50K (1171)

 

 

 

 

 

 

Akhirnya perjalanan ke Jakarta yang hanya memakan waktu satu jam ini kuhabiskan juga. Aku buru-buru keluar dari dalam pesawat karena benar-benar penerbangan kali ini membuatkan setengah gila dan sakit jiwa sekali. AC tanpa freon sungguh menyiksa. Semua penumpang merasakan sensasi panas yang luar biasa sekali. Rasanya seperti dalam panggangan roti dan akhirnya kami keluar dengan lumasan mentega yang telah mencair.

Suasana menjadi begitu kacau dan kurasakan pula sedikit umpatan kesal yang terlontar dari seluruh penumpang. Jika kelakuan mereka begini terus, kupastikan sebentar lagi pesawat ini akan tutup karena mendapatkan cemoohan komplain dari setiap konsumen dan pelanggan.

“pesawat ini sudah kayak Jakarta ya mba, panas dan macet”, ungkap laki-laki penghisap rokok tersebut sambil berjalan mengimbangiku.

Aku terkejut mendengar suara laki-laki penghisap rokok ini. Tadinya kami tidak dapat satu sheet. Aku berada duduk di deretan paling depan, dan kulihat tadi dia duduk didamping serorang perempuan bersepatu widges warna orange, di urutan paling belakang. Kupikir dia sudah melupakanku karena sibuk berbincang dengan perempuan bersepatu widges warna orange tersebut. Rupanya perempuan tersebut ditinggalkannya begitu saja sambil menggeret sebuah koper berukuran mini mencoba mendekat ke arahku.

Aku mencoba tersenyum, walau dalam keadaan mual. Rasanya baru sekali ini kurasakan mual yang tak terkira didalam pesawat. Benar-benar sebuah penerbangan yang sangat kacau. Sambil mengibas-ngibaskan rambut ikalku yang tergerai panjang, aku mencoba mengibas-ngibasakn pula majalah yang kutenteng.

“yah begitulah transportasi di negara tercinta kita pak”, ungkapku konyol sedikit malas diperhatikan.

“tapi saya tidak mengira saja mba, saya masih bisa berjalan disamping mba, saya pikir kita akan tewas dalam pesawat tadi”

“iya, Ac tanpa freon, guncangan yang sangat dahsyat, kursi yang tidak nyaman, pramugari yang menyebalkan, kue yang hampir basi”, ungkapku menimpali ocehan laki-laki penyuka rokok tersebut.

Laki-laki tersebut tersenyum dan memandangku dengan puas, mungkin pikirnya dia berhasil menarik perhatianku. Lalu pembicaraan ini akan terus berlanjut. Setidaknya perjalanan dari pesawat hingga ruang tunggu tidak akan membosankan. Biasanya aku pula tidak ingin meladeni orang-orang yang baru saja kukenal. Tapi tak apalah, sekali-sekali punya relasi aneh seperti ini juga menyenangkan. Setidaknya aku mengingat ayah dan melihatnya juga sepertinya merindukan sosok anaknya dalam ragaku.

“benar sekali mba, transportasi di Indonesia memang kacau sekali mba. Setidaknya saya tadi berdoa, jikalau Tuhan masih mengizinkan saya ingin sekali meminta maaf kepada istri saya mba”

Dahiku mengkerut, mendengar curhatan tiba-tiba laki-laki penyuka perokok ini.

“saya sudah tidak pulang satu tahun mba, saya ini senasib dengan Bang Toyib mba”

Aku tergelak mendengar ocehan laki-laki penyuka rokok ini. Langsung saja pandanganku mengingat bait-bait lagu Bang Toyib, yang sedikit nakal dan jenaka, sudah tiga kali lebaran tak pulang-pulang.

“kenapa tertawa mba? Kenyataannya memang begitu”, ungkapnya sedikti kesal kepadaku, karena aku tergelak seperti ingin meledek ungkapannya.

“saya merasa aneh saja pak. Kenapa pula bapak merasa senasib. Seharusnya istri bapak yang mengatakan begitu”, ungkapku geli dan sebenarnya aku merasa memang jenaka sekali.

“iya ya mba”, ungkapnya belagak bingung.

“tapi sungguh panas sekali tadi ya mba dan gila negara ini. Masih saja menyediakan barang rongsokan untuk warganya. Jangan-jangan pesawat tadi dibeli dari hasil pesawat tak terpakai China lagi ya mba”, ungkapnya mengalihkan pembicaraan, seperti kepergok malu terhadap ucapannya sendiri.

“waduh saya mana tau pak, yang saya atau seharusnya armada pesawatnya harus sudah memenuhi standar penerbangan. Tapi tadi, memang belum memenuhi standar deh pak”, aku juga akhirnya berbasa-basi.

“iya, yang saya sebel tadi pramugarinya berlagak cuek waktu bagasi diatas saya penutupnya tidak rapat lagi. Sehingga saya harus bolak balik menutupnya biar tidak menimpa saya”

Sambil mendengarkan cerita laki-laki penyuka rokok tersebut, aku mengaktifkan ponselku dan langsung mengirimkan pesan singkat ke Robert.

‘Beb dmn? Aku di ruang tunggu, cepet ya beb. Kangen’

‘Messege sent’

Akhirnya sampai juga di ruang tunggu. Kulihat sekelilingku, tapi Robert  belum terlihat batang hidungnya. Ingin kucoba menelpon, tapi Robert tentu saja tak akan mengangkat jika sedang berada dirumahnya. Lagipula tak enak saja berbicara pada Robert didepan laki-laki penyuka rokok ini yang setengahnya lucu ini.

Akhirnya aku menemukan bangku yang cukup nayman untuk duduk, yang jelas aku mencari posisi yang aman. Agar waktu Robert datang, dia dengan cepat akan membawaku masuk ke mobilnya dan membawaku ke hotel.

“mba mau kemana? Siapa tau kita satu tujuan”

“terima kasih pak, saya dijemput teman saya”, ungkapku sopan menolak bantuannya yang sebernya diungkapkan secara tidak langsung.

“oiya mba, saya tunggu saja sampai teman mba menjemput. Disini rawan lho mba, nanti malah diganggu orang. Saya sering memikirkan anak saya yang sudah saya tinggalkan selama bertahun-tahun. Mungkin saja sudah seusia mba sekarang”, katanya gamang dan memulai curhatan versi Bang Toyib lagi.

“oh, terima kasih pak, tapi saya sudah biasa sendiri”, ungkapku sesopan mungkin dna menghindar dari curhatannya lagi.

“saya juga sedang menunggu sopir mba, boleh saya masih berbincang dengan mba”, ungkapnya seperti tau saja perasaanku yang sikapku yang mulai menjaga jarak.

Waduh dalam hatiku, laki-laki ini pemaksa juga rupanya. Tapi kulihat benar-benar laki-laki ini sedang galau sekali. Seperti katanya, nasibnya seperti bang Toyib yang sudah tiga kali lebaran tak pulang-pulang.  Sedangkan ingin sekali pulang tapi tak berani pulang.

“kenapa bapak tak pulang-pulang?”, keberanianku bertanya muncul karena iba melihatnya.

“ingin pulang  mba, tapi apa istri saya masih mau menerima laki-laki seperti saya ini mba?”, katanya pilu. Pilu sekali.

“saya melukai hatinya mba. Seperti negara ini telah melukai warga negaranya, dengan menyediakan alat transportasi rongsokan”

Keningku sedikti berkerut, walaupun aku tau maksud arah dan tujuannya berbicara. Tapi aku masih seolah tak peduli. Aku tak ingin menyentuh perasaannya dan aktivitas pribadinya. Itu ruang sangat privasi sekali.

“sedangkan saya sibuk menghambur-hamburkan uang dari hasil kerja kerasnya pula mba. Saya bertemu seorang perempuan, dan tertarik padanya. Saya nikahinya secara siri mba, tanpa sepengetahuan istri saya. Tapi istri saya yang kedua ini, juga mempunyai pacar. Saya sangat cemburu mba, dia seperti lonte saja mba”

“maksud bapak?” kataku sedikit geram mendengar ucapannya yang terakhir sekali.

“dia juga punya simpanan laki-laki mba. Itu sangat menyakiti hati saya mba”, katanya dengan sangat enteng sekali

“lha apa bedanya dengan bapak?” kali ini aku mulai mencercanya.

Kali ini keningnya yang mengkerut melihat responku yang terlampau emosi saja. Geram rasanya mendengarnya mengatakan itu. Seolah-olah perempuan hanya mainannya saja.

“tapi tidak begitu seharusnya perempuan mba. Seharusnya dia setia dan memperlakukan kami ini selayaknya diperlakukan mba, coba saya ini dikasih service gitu mba”, ungkapnya menyalahkan istrinya.

Aku tertawa dan melihat sosok Robert dari kejauhan dan  melambaikan tanganku. Tapi ditengah perjalanan ke arahku. Kulihat Robert bertemu dengan seorang laki-laki yang kuduga salah satu koleganya. Aku langsung mengalihkan perhatianku ke laki-laki penyuka rokok ini agar temannya tidak curiga melihatku dan Robert. Sebenarnya kau sedikit kesal dengam tragedi bertemunya Robert dengan temannya ini. Aku sudah sangat merindukannya dan ingin sekali memeluknya tapi alhasil kami harus menunda pertemuan kami.

“service yang bagaimana pak?”

Aku spontan saja bertanya untuk mengalihkan perhatian. Untung saja, laki-laki peyuka rokok ini tidak memperhatikan lambaianku. Kegalauannya dengan versi curahatan Bang Toyib sepertinya menimbulkan perasaan yang sangat kacau juga terhadap dirinya.

“yah seperti makan, kebutuhan hidup saya sampai maaf di kasur ya mba. Dia kalo dirumah tidak pernah secantik pacar saya itu mba. Terus jarang sekali berdandan atau pakai pakaian yang saya mau”, curhatnya panjang lebar.

Aku semakin geram saja sebenarnya, tapi aku benar-benar tak mungkin meladeninya. Jika salah satu kolega Robert tau mengenai hubungan kami, aku tak tau bagaimana jadinya kami berdua nantinya.

“hey, pak. Perempuan dan laki-laki itu sama-sama nikotin. Sama-sama pula sebuah ac, jika tanpa freon dia akan membuat penghuninya kepanasan”, kali ini aku sedikit berbahasa langit dan mengabaikan sopan santun.

“mengapa seperti nikotin mba? Mengapa pula seperti ac mba?” sepertinya laki-laki penyuka rokok ini kebingungan.

Aku tersenyum simpul. Kali ini aku mengulurkan tanganku dan meminta rokok kepadanya. Kuhisap dalam-dalam hisapan pertamaku, dan kuhembuskan asapnya dengan perasaan bahagia. Kulirik tampangnya yang melongo melihat caraku menghisap rokok.

“sudah dibilang nikotin dalam rokok ini dapat menimbulkan berbagai penyakit pak”, kataku menghisap dalam-dalam rokok tersebut dan kusemburkan asapnya yang mengepul tepat pada raut muka laki-laki penyuka rokok.

Sambil menghindar dan mengerutkan dahinya, laki-laki itu sibuk menutup hidungnya. Dan kuulangi lagi hingga dia terbatuk-batuk.

“begitulah pak, tak ada yang peduli. Bahwa menghisap nikotin dan tar dari asap lebih berbahaya untuk orang lain. Berupaya melindungi tapi ternyata menyakiti. Berupaya hemat malah melukai” kataku tersenyum simpul sambil mengawasi gerak Robert.

“saya semakin tidak mengerti”

“jika Bapak menyebar benih, maka begitu pula yang akan didapatkan”. Aku melanggeng pergi saja. Jenuh. Laki-laki penyuka rokok yang aneh ungkapku.

“aneh”, ungkapnya samar-samar.

Aku kembali kehadapannya dan berkata. “bapak yang aneh, meninggalkan dan tak mau ditinggalkan. Sadar dong, kita perempuan ini bukan pelayan”

Laki-laki penyuka rokok yang aneh itu tersentak. Mungkin saja tau jawabannya. Aku melengos menghampiri mobil Robert.

 

 

 

 

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics