Slideshow
Tags & Categories

Posts Tagged ‘ibu’

Tak ada kata seindah bagi Ibu.

Saya mulai membayangkan 20 tahun silam saya tanpa ibu. Hak asuh jatuh ke tangan ayah dan saya terpisah dari ibu. Ibu mendapatkan hak asuh kami (saya dan adik laki-laki), karena dua hal. Pertama karena kami masih balita dan kedua karena ibu kuat secara ekonomi.

Kedua alasan tadi sejatinya dalam kacamata saya masih saja melemahkan kaum perempuan. Pertanyaannya, jika kami tidak dalam kondisi balita apakah hak asuh akan jatuh ketangan perempuan? Pertanyaan kedua, bagaimana bila ibu saat itu tidak kuat secara ekonomi? Apakah hak asuh tidak jatuh ke tangan perempuan? Dan laki-laki dianggap mampu menjadi perwalian kami.

Sebenarnya saya sangat kecewa ketika ibu menceritakan alasan hakim memutuskan alasan hak asuh jatuh ke tangan ibu. Bagi saya, hakim kala itu tidak menunjukkan keadilan yang berpihak kepada ibu. Karena, pada saat itu seharusnya alasan hak perwalian jatuh ketangan ibu bukan kedua hal tersebut. Dalam kacamata saya, seharusnya hakim menjatuhkan hak tersebut karena ayah dianggap tak mampu memenuhi peran dan tanggungjawabnya sebagai seorang ayaha. Termasuk pemenuhan tiga hak konstitusional anak (pendidikan, kesehatan dan bebas dari kekerasan).

Tidak pernah saya bayangkan jika harus tinggal bersama ayah. Walaupun saya yakin, ayah juga orang tua yang akan sangat menyangi kami (walaupun saya tau, hingga saat ini tidak ada pemenuhan tiga hak konstitusional yang dipenuhinya kepada kami). Tak ada satupun anak broken home yang tidak pernah memimpikan mempunyai orang tua lengkap satupun di dunia ini. Rasanya iri sekali, ketika kita melihat setiap pagi teman-teman diantar ayah atau ibunya ke sekolah. Sedangkan kami tidak pernah merasakan itu. Atau diambilkan raport oleh ayah. Bagi kami, itu bukan masalah.

Ibu harus bekerja ekstra lebih banyak. Bekerja di ranah produktif dan domestik. Dua pekerjaan ini harus secara penuh menjadi tanggungjawabnya dan dilakoninya dengan bersama. Tanpa ada pembagian pekerjaan secara merata. Pertama untuk memenuhi kebutuhan kami dan kedua, baginya untuk mensetarakan status sosial kami. Bahwa peran ayah dan ibu tetap menjadi hak kami sebagai seorang anak.

21 tahun ibu menjadi perempuan kepala keluarga. Status Janda (Baca : perempuan kepala keluarga) tidak pernah membuatnya goyang sedikitpun hingga saat ini. Walaupun tak luput tudingan miring sering menghampiri.

Tak bisa saya bayangkan bagaimana ibu menangis sesenggukan di kamar, hanya karena tak mampu membeli buku yang ingin kami baca kala itu. Walaupun tak ada niat melukai hati ibu, tapi tetap saja ibu selalu mengatakan bahwa pendidikan hal nomor satu dan buku adalah jendelanya. Atau hati kami yang terluka karena ibu dituding mencari uang tidak halal, karena mampu menyekolahkan kami dengan baik. Tak ada satupun orang yang boleh menjudge, karena mereka tidak pernah tau derai tetesan darah ibu untuk kami.

Sungguh tak bisa kubayangkan menjadi ibu. Seorang perempuan tangguh yang mengabdikan dirinya sebagai seorang pegawai negeri biasa tapi mempunyai integritas yang sangat tinggi. Suatu kali kami ibu pulang sangat sore, kami hanya berdua saja dirumah. Kami mengeluh kepada ibu, kenapa pulang lama sekali. Ibu hanya berkata “ini adalah bagian dari tanggungjawabnya menyelesaikan semua pekerjaan dengan tuntas”. Kala itu aku masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar.

Status perempuan kepala keluarga memang bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan. Sesekali ibu dilamar seorang laki-laki beristri, dengan tujuan membantu ibu untuk menyekolahkan kami. Tapi ibu menolak dipoligami. Ibu menolak membahayakan diriku sebagai seorang anak perempuan dari resiko pencabulan dan pemerkosaan serta melukai anak-anak lainnya. Tentu juga perempuan lainnya dan ibu menolak dikasihani karena ekonomi.

Status Janda merupakan politik seksual, yang menempatkan perempuan kepala keluarga menjadi sosok yang demikian miring untuk kepentingan garis kekuasaan laki-laki. Berbeda sekali jika kita mengasumsikan dengan seorang duda. Dikepala kita akan timbul langsung asumsi “duren” (duda keren). Praktek ini sejatinya menunjukkan bahwa posisi perempuan masih saja diidentikkan dengan ketubuhannya yang bersifat aib.

Posisi ibu sebagai perempuan kepala keluarga dekade ini masih harus bergulat dengan status miringnya sebagai perempuan single, mandiri yang mampu membesarkan kami dengan penuh ‘integritas’ sebagai seorang ibu dan seorang manusia. Perdebatan mengenai status perempuan kepala keluarga masih menjadi rumor yang hingga saat ini belum mampu membebaskan ibu dari ketidakadilan atas perjuanggannya. Serta mensterilkan dirinya dari tudingan miring dari politik kekuasaan laki-laki atas nama seksual.

Dalam status sosial, perempuan kepala keluarga memang belum mempunyai ruang yang signifikan untuk setara dan steril dari tudingan miring. Tetapi sesungguhnya, pilihan ibu menjadi perempuan kepala keluarga sama hebatnya dengan perjuangan melawan imperialisme.

Selamat Hari Ibu

Bengkulu, 22 Desember 2011

 

Rasanya butuh tambahan waktu dalam satu hari. 24 jam rasanya tidak cukup untuk mengurai semua pekerjaanku yang kian hari kian menumpuk. Sebenarnya pekerjaan utamaku tidak terlalu banyak, tetapi sambil bekerja aku membutuhkan kegiatan lain untuk mengisi waktuku. Akhirnya aku bersama teman-temanku menggagas sebuah kegiatan les komputer bagi anak-anak di sebuah desa.

Setiap sore, sekitar pukul 16.00, sepulang kerja aku memacu si loly (panggilan sayang untuk motorku), ke desa tersebut. Desa tersebut berada sekitar 15 km dari tempat tinggalku. Tidak terlalu jauh, tapi aku sedikit was-was harus melewati sekitar satu kilometer kawasan hutan untuk sampai  ke desa tersebut. Sesekali aku akan bertemu sapi, kerbau, kambing yang akan pulang ke kandangnya. Sesekali aku akan bertemu biawak yang mungkin lewat dan kadangkala matanya menatapku tajam. Memang seringkali aku sedikit memacu dengan cepat si loly melewati hutan tersebut.

Bukan karena aku takut, tapi sedikti was-was saja. Siapa tau ada orang yang akan tiba-tiba menggangu perjalannku. Entahlah. Tapi aku memang terkesan paranoid saja. Jalanan serasa bukan sebuah tempat yang sangat nyaman. Apalagi aku harus menempuh perjalanan setiap harinya sepanjang 30 km.

Tak ada yang kutakutkan sebenarnya. Dikepalaku hanya ketakutan mengenai ularlah yang memang menyiksaku. Aku sedikit paranoid dengan lingkungan baru, aku merasa ada ular dimana-mana. Kadang aku melihat cicakpun seperti ular saja. Sangat membuatku tidak nyaman.

Aku menamakannya ular. Yah, ular. Ular setiap hari ada disekelilingku. Kadang ada di kamarku, di kamar mandi, di ruang tamu, di tempat tidur, di kantor, kadang pula menaiki si loly. Ada dimana-mana dan membuatku sebal sekali. Biasanya lehernya akan menjulur panjang dan matanya awas melihatku mulai bergerak. Kakinya panjang, kulitnya licin, rambutnya kadang menjuntai hingga ke lantai.

Kadang si loly juga bercerita kepadaku sedikit gerah dengan ular tersebut. Si loly sering geram karena tiap kali dinaiki ular tersebut, kakinya akan dijulurkan terlalu panjang dan akhirnya seringkali membuat keram kaki si loly.

Kadang ular tersebut dengan entengnya makan di meja makanku, dan berlari ke kamar mandi. Jika si ular sudah ke kamar mandi, aku sedikit takut bahkan untuk sedekar ingin pipis dan mandi. Aku takut tiba-tiba dia berada di dalam kamar mandi, menjulurkan kakinya dalam bath up dan menyemprotkan air dari shower ke tubuhnya.

Ular tipe binatang melata yang paling suka hidup di air. Ular akan menjulurkan tubuhnya di air dan akan cepat berlari jika berada dalam air. Itulah sebabnya aku sangat takut jika ular berada di kamar mandi. Bukan hanya di kamar mandi, di ruang makan atau dapur tempat yang berpotensi ada airnya juga membuatku takut. Tapi herannya, aku merasa si ular dengan cepat akan berlari mengikuti langkah kakiku.

Aku berlari dari kamar mandi karena mendengar film Doraemon sebentar lagi tayang. Seperti biasa aku masih basah dan hanya berbalut handuk saja. Aku melewati ruang makan dan merasa ada yang aneh di bawah meja makan. Kuurungkan niat untuk melihat doraemon dan kembali menjongkok melihat sesuatu dibawah meja makan.

‘mommmmmyyyy………..’ teriakku kuat.

Mom langsung berlari ke arahku.

‘ada apa?’

‘itu mom, di bawah meja’, ungkapku tak bergeming.

‘tak ada apa-apa tuh, apa sih ribut saja’, ujar mom.

‘ada ular mom’, ungkapku histeria.

‘mana? Tak ada apa-apa disini’

‘mom, coba lihat lagi, itu ular mom’

‘ah, anak kecil Cuma bisa berhayal, masuklah kamar dan ganti pakaian’, ujar mom sedikit kesal.

Aku heran, kenapa mom tidak melihat ular di bawah meja itu. Mom tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Sebelum tidur kuungkapkan lagi kepada mom, bahwa ada ular di bawah meja makan. Dia diam saja, bewarna hitam dan bermata merah. Tapi tetap saja mom tidak percaya. Kata mom itu hanya ilusi anak kecil saja, dan akan hilang dengan sendirinya.

Pada waktu aku tidur, ular juga selalu datang dalam mimpiku. Kadang mengelilingiku dan membuatku ketakutan. Kadang pula ular tersbeut membuatku terbangun dari tidur nyenyak dan menggigit di kakiku. Entahlah. Itu pertama kalinya, pada usiaku 5 tahun.

Mom selalu saja datang terlambat. Atau pulang terlalu larut karena bekerja. Aku memahaminya, tapi mom tidak pernah percaya jika ular tersebut selalu saja menyambangiku dan mengajakku bicara sesekali. Yah walaupun bicaranya hanya mengatakan kalimat ‘ssttt’ saja.

Ular itu saat ini selalu mengikutiku kemana saja kau pergi. Dan benar-benar membuatku takut. Bingung sekali, bagaimana aku mengungkapkannya. Apakah itu benar-benar ular ataukah makhluk sejenisnya yang dianggap ada. Aku merasa bingung sekali dengan keberadaan ular tersebut. Tapi tetap saja tak pernah ada yang percaya padaku. Ular tersbeut sebenarnya telah merusak sistem jaringan kewaspadaanku, hingga semua yang berada di dekatku menjadi ular semua.

Suatu pagi aku mengintip dari dinding papan rumah kami. Aku melihat ular tersebut berbincang dengan mom. Aku kebingungan, selama ini mom tidak pernah percaya pada apa yang aku ungkapkan. Mom memarahiku setiap kali aku membicarakan ular. Kuusap mataku berkali-kali, benar saja, itu ular yang selalu mengikutiku. Membuntutiku dan menggusarkanku.

Kulihat lagi, kudengar lagi mom berbicara dengan nada manja dan mesra sekali. Mereka sama-sama menjulurkan rambut panjangnya dan sama-sam mengeluarkan liur dari mulut. Tangannya menjulur panjang juga kakinya. Kepalaku pusing, aku merasa mom juga seperti ular saja. Makin lama makin kian intim bersama ular. Liur mereka menari-nari dikepalaku. Oh, mom. [ge]

Bengkulu, 2 November 2011

 

 

 

 

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics