Slideshow
Tags & Categories

Posts Tagged ‘global warming’

Filosofi Padi (Semakin berat, semakin merunduk).

Seharian tadi aku mengalami pengalaman pertama melakukan survei ubinan padi. Survei ubinan digunakan untuk memperkirakan potensi hasil padi dan palawija dalam luasan 1 hamparan ( 1 ha ). Untuk melakukan ubinan ini beberapa tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menghitung potensi hasil tanamannya. Survei ubinan menggunakan alat ukur yang telah dirancang dengan luas 2,5 m2 x 2,5 m2, yang dilengkapi pula dengan alat timbangan. Angka random juga berfungsi untuk menentukan sampel mana yang harus dihitung. Padi dan palawija dipanen dan ditimbang hasil produksinya, untuk menghasilkan data estimasi jumlah produksi padi dan palawija. Survei ubinan juga dilengkapi dengan beberapa pertanyaan mengenai produktivitas tanaman padi dan palawijya.

Dari Survei ubinan, estimasi hasil produksi padi dan palawija dapat diketahui. Termasuk faktor-faktor penghambat perkembangan tanaman serta keberhasilan tanaman, serta penggunaan pupuk serta kualitas bibit yang digunakan. Sebenarnya, dalam pikiran sederhana saya, survei ubinan ini bisa dilakukan oleh petani sendiri. Survei ubinan ini, dilakukan untuk menghitung hasil padi dan palawijanya. Sehingga petani dapat memperhitungkan sendiri hasil produksinya. Jika hal ini dilakukan, hasil survei ubinan dapat digunakan oleh petani untuk mengukur berapa besar investasi yang dapat dilakukan oleh petani dalam tanamana padi dan palawija.

Hasil panen padi dan palawija seluas 2,5m2 dan 2,5 m2, dikalikan dengan pengali 1600. Misalnya, jika hasil gabah kering panen (GKP) dari survei ubinan yang dilakukan 4kg. Maka 4kg  dikalikan 1600, hasilnya adalah 6400 kg atau 6,4 ton GKP dalam setiap 1 ha. Jika sudah memperkirakan hasil panen tersebut, maka saya berfikir bahwa petani juga membutuhkan belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah dilakukannya.

Survei ubinan ini merupakan salah satu metode sederhana agar petani dapat menghitung keuntungan secara ekonomis dan tidak cepat beralih fungsi lahan serta menjual sawah dan ladangnya ke tengkulak.

Namun, masalah-masalah yang terdapat dalam pertanian bukan melulu perhitungan saja. Pemasalahan distribusi pupuk yang tidak pernah merata selalu saja dikeluhkan oleh petani. Subsidi yang diberikan oleh pemerintah, jarang sekali mengena ke sasaran. Dalam wawancara bulanan yang dilakukan kepada penjual pupuk. Pupuk selalu mengalami kenaikan harga jika musim tanam tiba dan kelangkaan pupuk juga sering terjadi. Jika harga subsidi yang diberikan pemerintah untuk urea Pusri di rate Rp 2000/kg, pada musim tanam harga pupuk urea bisa mencapai hingga Rp 5000/kg. Kenaikan yang sangat drastis ini dijelaskan penjual pupuk karena proses distribusi yang sangat rawan. Misalnya di Kab B, mendapat jatah 16 ton untuk satu bulan. 12 ton yang ada biasanya sudah dibeli oleh toke. Tentunya dengan metode ‘main mata’. Sehingga jatah yang diterima oleh petani tinggal 4 ton saja perbulannya. Dari harga yang sudah main mata tadi, toke menjual ke petani dengan harga yang lumayan fantasitis.

Keberadaan koperasi dan kelompok tani sebenarnya belum sangat membantu dalam siklus produksi petani. Seperti yang dituturkan seorang petani, “kami ini orang pesak (miskin), untuk membeli pupuk saja tidak bisa, cakmano (bagaimana) hasil panen mau bagus”, ungkapnya. Petani tersebut pada subround kali ini hanya menghasilkan 2 ton GKP dalam 1 ha nya.  Belum lagi ketersediaan air dan kebutuhan irigasi yang sangat dibutuhkan petani. Serta permasalahan hama, global warming, kebijakan impor beras serta menariknya perhitungan ekonomis alih fungsi lahan.

Jika sudah begitu, sulit sekali ya menanamkan filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk. Yang ada, semakin berisi dan banyak duit semakin menindas. Semakin sulit rakyat, semakin dibiarkan saja.

Catatan Hari Ini

Bengkulu, 19 Oktober 2011

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics