Slideshow
Tags & Categories

Posts Tagged ‘feminis’

Seorang laki-laki bertampang seram seperti terbangun dari tidur siangnya yang pulas. Mungkin saja, anak buahnya yang membangunkan. Dari kumisnya yang tebal, kulitnya yang gelap serta tubuhnya yang terlihat tambun tersembur senyum yang ramah sekali. Mempersilahkan kududuk dan bertanya dengan sopan apa yang aku butuhkan.

Aku sedikit kikuk, karena apa yang dilakukan jauh sekali dari kebanyakan apa yang kulihat dari orang-orang lainnya. Kujelaskan maksudku, tak lupa pula kukenalkan identitas diriku. Sungguh aku terkaget-kaget kala itu, dia menjawab pertanyaannku yang tak banyak ini dengan sopan. Biasanya semua orang akan kesal sekali jika setiap bulan ditanyakan pertanyaan yang berulang dan sama. Kali ini aku mencari data untuk perhitungan inflasi harga perdagangan besar.

Dia menjawab semua pertanyaanku dan sepertinya sudah mengtahui untuk apa data ini selalu dicari setiap bulannya. Jelas sekali ada perbedaan turun dan naik harga setiap bulannya, terkait dengan mekanisme pasar dan kebutuhan konsumen.Terkait pula dengan pekerjaannya. Walaupun dia tak tau bagaimana impact secara langsung untuk dirinya.

Kupikir pula, jalan hidup setiap orang berbeda-beda. Aku terkejut sebenarnya harus mempelajari roda perekonomian. Walaupun aku belum tau banyak, tapi akhirnya aku bertekad akan menjerumuskan diri pula. Supaya aku dapat memahami dan benar-benar dapat memanfaatkan keberadaanku untuk membant mereka. Walaupun aku belum tau keberadaannya.

Namun, ada suatu hal yang membuat aku sangat takjub dengan laki-laki ini. Bukan mengenai bisnisnya yang sukses, ataupun tokonya yang selalu ramai dengan konsumen. Waktu itu, kutanyakan nomor telepon atau ponsel untuk menghubungi mereka, agar mereka tak repot-repot menyediakan sedikit waktu untuk melayaniku setiap bulannya.Ini kulakukan untuk tidak merepotkan pekerjaan mereka, karena aku meminta mereka menyediakan waktu untuk bersama membahas apa yang kutanyakan.

“Maaf mbak, mbak gak kerepotan kan setiap bulannya ke toko kami?” jawabnya sopan.

“tidak sama sekali bapak, karena ini tugas saya, saya sangat takut sekali mengganggu waktu bapak untuk melayani pembeli”, ungkapku kikuk.

“maaf mbak, bukan saya tidak mengizinkan memberikan nomor telepon atau ponsel, tapi saya sangat menjaga perasaan istri saya. Siapa yang tidak suka ditelpon sama orang secantik mbak, tapi nanti istri saya curiga dan akhirnya membuat saling tidak enak”

“Oh, iya pak”, aku langsung tersenyum dan rada kaku sekali.

“istri saya tidak cemburuan mbak, tapi saya sangat menghargai dia”, ungkapnya.

Oh, My God. Yeah, beruntung sekali nasib istri bapak tersebut. Sangat beruntung sekali, untuk hal yang sangat kecil saja suaminya sangat memikirkan perasaan istrinya. Padahal jelas-jelas itu pure urusan pekerjaan. Laki-laki ini tidak seperti tampangnya yang sangat seram, tapi kelakuannya selayaknya seorang laki-laki. Menunjukkan siapa dirinya. Tidak takut dibilang “suami takut istri”. Dialah laki-laki feminis, laki-laki yang sangat menghargai peran perempuan sebagai istri. Menjunjung tinggi asas monogami dan bertanggungjawab atas pilihan hidup bersama istrinya.

Dalam perjalanan aku berdoa begitu pula. Tuhan, sekiranya diperbolehkan, seorang laki-laki biasa saja seperti bapak tadi. Laki-laki feminis. Cukup itu saja, melebihi dari apa yang aku inginkan. Aku tersenyum, ini pasti doa seluruh perempuan di dunia ini. Doa pula laki-laki di seluruh dunia ini.

Bengkulu, 15 Juli 2011

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics