Slideshow
Tags & Categories

Posts Tagged ‘cerpen’

Dua ratus jam lima puluh menit dan tiga puluh detik sudah aku lewatkan untuk menunggunya. Laki-laki gila yang aku tunggu ini bukan hanya seorang laki-laki seperti biasanya. Laki-laki dengan maskulinitasnya, kekuatan tubuhnya, atau rayuannya yang membuat perempuan jatuh hati ke pelukannya tidak lama kemudian.

Laki-laki ini adalah laki-laki biasa saja, yang kutemui tiga ratus enam puluh lima hari silam disebuah desa kecil bernama desa Harapan. Tangannya yang lincah dan geraknya yang luwes membuatku terkesima seperti mendapatkan durian runtuh seketika. Tentu saja aku selalu melihat setiap geraknya dengan penuh seksama, kadang tanpa berkedip sedikitpun. Laki-laki sungguh menggoda hatiku, bukan karena laki-laki seperti biasanya, tapi karena gerak yang luar biasa. Aku kebingungan melihat tingkahku sendiri pada hari itu, seperti aku terkoneksi olehnya, tapi selalu terkoneksi gagal karena tak ada respon sedikitpun kepadaku. Read the rest of this entry »

Tak ada yang bisa aku obati kali ini. Tak ada luka yang menyayat, tak ada deru tangis yang membahana. Hanya ada rintisan musisi yang menyapu tiang hati ini. Mungkin itulah rindu yang membahana seperti gerimis yang tak lekas hujan. Teramat Luka.

Sudah sejak lama, bahkan jauh dari kita pertama kali bertemu. Aku sudah yakin bahwa aku akan kembali ke kota itu. Entah sejak kapan aku mulai merindukan kota itu. Mulai menginginkan kota yang seharusnya tidak ada dalam guratan hatiku. Aku tak pernah mengenal apapun tentang kota ini, ataupun sejarah yang berkesan mengenai kota ini. Selain dari buku sejarah ataupun pengetahuan ataupun majalah yang aku baca. Read the rest of this entry »

Aku sakit lagi. Ini untuk ketiga kalinya aku sakit setelah sore itu di teras hatiku.

Air mata tak tertumpahkan lewat mata lagi. Hati pun ikut larut. Aku sakit lagi. Kuulang lagi. Untuk ketiga kalinya. Ah…ini seperti klimaks. Jika tiga kali terjadi ini adalah tanda, bahwa dunia tak berpihak pada keinginanku, tapi pada hatiku.

Aku bertanya pada Tama petang itu. “Tama adakah salahku padamu?”. Tama diam saja menanggapi pertanyaanku. Aku pikir, diam adalah tanggapan Tama yang terindah. Daripada dia bicara, tapi aku tak mengerti apa maksudnya. Read the rest of this entry »

Benar…

Aku hanya butuh kau mengakui, bahwa kau pernah menduakan barat dan timur. Di awal Hari Kemerdekaan kita, kau nodai dengan berdusta. Aku gelisah, ketika kau berusaha jujur. Ini untuk menarikku kembali atau membuat aku di tengah-tengah barat dan timur lagi.

Aku gelisah aku mengakui kesalahanmu.

Read the rest of this entry »

Malam tak belagak seperti biasanya. Di sudut ruang ada sesosok makhluk unik ini lagi. Berdiri dan duduk disudut dengan tumpukan novel setebal mata memandang. Matanya tak liar, semuanya tak salah, namun ada seberkas didalam dirinya yang membuatku menatap pedas ke arahnya ketika malam datang. Malam-malam penuh suasana baginya, mengarungi mimpi-mimpi yang ingin digapainya. Malam juga dunia katanya, dimana separuh hidupnya dihabiskan untuk mengerjakan hal-hal yang sangat esensial. Dalam kelelahan yang sangat, dia memaksa matanya untuk melahap mentah-mentah santapan malamnya yang kadang melebihi batas.

Sesekali aku menatapnya lalu aku membuang muka ke arah lainnya dan sibuk dengan kegiatanku sendiri. Lalu aku membuat air yang kukeluarkan dari gallon bercat merah, dengan mencelupkannya kedalam kertas lunak penampung daun-daun yang diiris. Sesekali juga dia menatap dan meminta daun-daun yang diiris masuk kedalam bulatan wadahnya. Read the rest of this entry »

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics