Slideshow
Tags & Categories

Aku ini lahir dari kerumitan yang tak terhingga. Masih terngiang jelas ditelinga ini, hari raya Idul Adha entah tahun keberapa, aku memakai kaos biru setali, dengan rambut pirang yang dikuncir sembarangan oleh ibu. Lalu aku melihat kejadian yang selalu membuatku terbangun tengah malam dari tidur lelapku. Ibuku membanting keras meja makan, dan bertengkar hebat dengan ayahku. Mungkin usiaku baru tiga tahun kala itu.

Kusimpan rapat-rapat bertahun-tahun, tapi tetap saja kuingat. Kusimpan bertahun-tahun tak ingin kubicarakan pada siapapun. Akhirnya aku luluh lantah pula, kuceritakan pula. Tak sangup lagi rasanya hati ini menahan. Tak ada yang mengerti kadangkala kupikir. Hidup tanpa seorang ayah, tak pernah kupermasalahkan. Tak ada masalah. Aku tetap menjalankan hidup dengan bahagia, seperti anak lainnya. Seperti remaja kebanyakan, seperti manusia kebanyakan. Aku meleburkan diriku pada manusia kebanyakan dan membuat diriku senyaman mungkin.

Akhirnya tiba waktunya, kenyamanan itu terusik. Pada suatu hal yang menunggu keputusanku. Pada suatu hal yang memaksaku untuk memutuskan. Pada suatu hal yang tak pernah ingin kuputuskan sendiri. Pada suatu hal yang akupun sebenarnya tak ingin mengusiknya. Pernahkah kita merasa rindu namun kita pula tersakiti? Inilah yang sesungguhnya, merindukan seorang sosok ayah, tapi bertahun-tahun sakit itu tak pernah hilang. Sungguh dalam hati ini, aku tak pernah ingin kenyamanan yang kubangun bertahun-tahun ini tak ingin kuusik sedikitpun. Terlalu aku tak ingin lagi terbangun malam-malam.

Terlalu kacau untuk aku ungkapkan. Terlalu kacau untuk aku rasakan sendiri. Aku belum siap menghadapinya sendiri. Butuh waktu bertahun-tahun lagi menghadapinya sendiri. Tak ingin pula isak tangis nantinya keluar. Umpatan, cacian, hinaan, hingga kebahagian yang tak tau lagi pada tempatnya.

Aku tak ingin membicarakan, atau dibicarakan. Ditekan ataupun menekan. Memutuskan ataupun diputuskan. Aku terlalu kacau melakukannya sendiri. Sekali ini aku tidak ingin menjadi momentum ini menjadi kebanyakan. Pernahkah kau bayangkan melihat ibu menangis dibelakang? Sekaligus pula melihat ayah menangis dibelakang. Hanya aku yang tau bagaimana diantara mereka menumpahkan tangis dibelakangku. Membayangkannya saja aku tak sanggup. Merasakannya saja aku tak ingin.

Sungguh sebenarnya aku tak ingin kenyamanan ini terusik. Hanya karena aku ingin menjalani hidup baru. Bukankah Tuhan tidak pernah membuatku sulit. Membuat aku menyakiti orang lain. Tak ada satupun rasa ini ingin menyakiti. Tapi pada akhirnya aku harus menyakiti. Hingga aku pula mengubur dalam-dalam sendiri.

Entah butuh berapa puluh tahun lagi, ketika kejadian itu terjadi. Aku harus mengingat, terbangun tengah malam, membangun kenyamanan dan mungkin menyesali keputusanku, menyakiti mereka.

Dengan derai air mata yang tak turun.

Bengkulu, 11 Februari 2012, 23:24

 

2 comments on “Menulis sambil Menangis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1,252 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics