<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Angger Wiji Rahayu</title>
	<atom:link href="http://anggerwijirahayu.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anggerwijirahayu.com</link>
	<description>Karena dunia yang kita lihat adalah representasi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 May 2013 07:38:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Pengalaman Lapangan ST2013</title>
		<link>http://anggerwijirahayu.com/pengalaman-lapangan-st2013.html/</link>
		<comments>http://anggerwijirahayu.com/pengalaman-lapangan-st2013.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 07:38:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angger Wiji Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Statistik-Statistika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggerwijirahayu.com/?p=600</guid>
		<description><![CDATA[Mei ini sungguh sangat hebat, luar biasa sekali bagi tim BPS seluruh Indonesia. BPS sedang menghadapi hajatan besar yaitu Sensus Pertanian 2013. Menurut UU No 16 Tahun 1997, sensus diadakan setiap 10 tahun sekali. Sehingga seluruh daya dikerahkan untuk menghadapi perhelatan besar ini. Tentu saja dengan sepenuh hati kami mencoba semaksimal mungkin melakukan yang terbaik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fb-like" style=""><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://anggerwijirahayu.com/pengalaman-lapangan-st2013.html/&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=500&amp;action=like&amp;font=&amp;colorscheme=light&amp;locale=en_US" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:500px; height:31px"></iframe></div><p>Mei ini sungguh sangat hebat, luar biasa sekali bagi tim BPS seluruh Indonesia. BPS sedang menghadapi hajatan besar yaitu Sensus Pertanian 2013. Menurut UU No 16 Tahun 1997, sensus diadakan setiap 10 tahun sekali. Sehingga seluruh daya dikerahkan untuk menghadapi perhelatan besar ini. Tentu saja dengan sepenuh hati kami mencoba semaksimal mungkin melakukan yang terbaik untuk kehidupan petani yang lebih baik. <span id="more-600"></span></p>
<p>Usreg (kesibukan) ST2013 bukan hanya pada saat Mei 2013. Melainkan sebelum Mei sudah dilakukan persiapan-persiapan yang sungguh penuh perjuangan. Beberapa kali saya ditelpon petugas yang tidak masuk dan memaksa ingin menjadi petugas St2013. Padahal secara kualifikasi petugas tersebut tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Belum lagi intervensi yang dilakukan penguasa wilayah yang mencoba memasukkan petugas pilihannya.</p>
<p>Belum lagi pembahasan konsep definisi (kondef) yang sangat banyak dan harus dikuasai oleh setiap petugas baik pegawai BPS maupun petugas mitra. Batasan kondef yang sangat banyak membuat tidak sedikit banyak diskusi-diskusi baik resmi maupun tidak resmi yang dilakukan diluar jam kantor. Sungguh menurut saya, ini pekejaan yang luar biasa. Ditengah pekerjaan rutin yang juga harus berjalan, kami juga harus menjaga kualitas data yang dihasilkan. Pada masa St2013, saya selalu menenteng ponsel kemana-mana bahkan ketika ke kamar mandi agak lama saya selalu mendekatkan telepon didekat kamar mandi.  Bisa saja setiap petugas menelpon berdiskusi permasalahan lapangan yang muncul ataupun kesulitan-kesulitan pengisian kuesioner, kondef dan situasi lapangan.</p>
<p>Ketidakpahaman masyarakat akan pentingnya data ST2013, menyebabkan banyak petugas lapangan yang kesulitan dalam penggalian masalah di masyarakat. Sebagian besar masyarakat  tidak memberikan infromasi secara jujur kepada petugas, karena data ST2013 dianggap berkaitan dengan bantuan yang akan diterima oleh masyarakat. Seperti raskin, bantuan pupuk, bantuan sapi dsb. Saya sering menyebutnya &#8216;mental miskin&#8217;. Mental miskin bukan secara tiba-tiba datang ke masyarakat, tapi dibentuk oleh sistem yang buruk dan pelayanan kepada masyarakat yang sangat buruk. Hal ini menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah semakin memburuk.</p>
<p>Selain itu, sebagian besar masyarakat ketakutan akan momok pajak yang selalu saja menghantui. Karena faktanya, banyak pajak yang dibayar oleh masyarakat tidak sesuai dengan kondisi lapangan yang ada. Misalnya, ada seorang nenek yang tinggal digubuk dengan luas rumah 5&#215;5 membayar pajak Rp40.000 pertahun untuk PBB, sedangkan ada masyarakat yang mempunyai rumah berukuran 6&#215;10 dan tanah lebih luas dari sang nenek membayar hanya Rp. 15.000/tahun untuk PBB. Momok yang sangat mengerikan ini membuat masyarakat menaruh kecurigaan yang mendalam terhadap proses pendataan yang dilakukan.</p>
<p>Beban hidup yang sudah sangat berat ditambah pajak yang yang tidak adil membuat kepercayaan masyarakat terhadap proses pendataan dilapangan menjadi berkurang. Masyarakat selalu bertanya &#8216;siapa yang mendata pajak?&#8217;, &#8216;siapa yang menentukan besaran pajak?&#8217;. Selain dituntut menjawab pertanyaan masyarakat, tidak sedikit petugas ST2013 harus dicerca dengan pertanyaan pajak, jamkesmas, raskin yang sebenarnya bukan domain petugas ST2013. Disamping itu, ada juga pihak yang memanfaatkan proses pendataan untuk kegiatan politis, misalnya mengkaitan proses pendataan ST2013 dengan pemilihan kades ataupun besaran DPT untuk pemilu 2014.</p>
<p>Saya tentu saja tidak bisa menutup mata dan menyalahkan masyarakat sepenuhnya, karena masyarakat dididik dalam sistem yang dijalankan dengan carut marut. Saya selalu bilang kepada petugas dilapangan, bahwa kesalahan data itu bisa terjadi karena selalu saja ada tingkat eror tertentu yang dapat dimaklumi. Namun, sikap dan tingkah <em>moral hazard</em> (perbuatan menyimpang) merupakan perbuatan yang tidak dapat dimaafkan dan akan memperburuk situasi masyarakat. Saya selalu menekankan bahwa kita harus bekerja sesuai koridor dan memaklumi keluh kesah masyarakat. Bahkan menjadi pendengar keluh kesah masyarakat. Saya yakin itu sebagian dari perjuangan bagi pembangunan.</p>
<p>Kami mencoba memberikan yang terbaik, menyediakan data yang berkualitas. Dalam prosesnya kami semaksimal mungkin melakukan sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan untuk pembangunan pertanian yang lebih baik. Untuk Kehidupan Petani yang Lebih Baik.</p>
<p>SALAM PIA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggerwijirahayu.com/pengalaman-lapangan-st2013.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayah Ayo Memulai Riset</title>
		<link>http://anggerwijirahayu.com/ayah-ayo-memulai-riset.html/</link>
		<comments>http://anggerwijirahayu.com/ayah-ayo-memulai-riset.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 02:56:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angger Wiji Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASI dan Baby Area]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggerwijirahayu.com/?p=597</guid>
		<description><![CDATA[Ayah juga harus bisa menyusui! (dr Wiyarni Pambudi, Sp.A, IBCLC) Pernahkah kamu berfikir laki-laki heboh mengurusi ASI dan bayi. Pasti sebagian dari kita, bahkan kebanyakan kita beranggapan ASI dan bayi urusan perempuan. Atau pernahkah kamu berfikir bahwa apa yang dikatakan oleh orang tua tidak benar? Lalu apa korelasinya? Kita akan mulai dari hal yang sepele. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fb-like" style=""><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://anggerwijirahayu.com/ayah-ayo-memulai-riset.html/&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=500&amp;action=like&amp;font=&amp;colorscheme=light&amp;locale=en_US" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:500px; height:31px"></iframe></div><p><em>Ayah juga harus bisa menyusui! (dr Wiyarni Pambudi, Sp.A, IBCLC)</em></p>
<p>Pernahkah kamu berfikir laki-laki heboh mengurusi ASI dan bayi. Pasti sebagian dari kita, bahkan kebanyakan kita beranggapan ASI dan bayi urusan perempuan. Atau pernahkah kamu berfikir bahwa apa yang dikatakan oleh orang tua tidak benar? Lalu apa korelasinya? Kita akan mulai dari hal yang sepele.<span id="more-597"></span></p>
<p>Saya baru saja membaca buku ‘Catatan Ayah ASI’ yang notabene dipinjemin Mas Adit (makasih ya mas J). Pertama membaca artikelnya di Ayah gila Pandu Gunawan, saya tertarik membacanya karena judulnya ‘Surat untuk Jaseena’. Saya memang salah satu penggila berkirim surat bahkan kepada diri sendiri maupun Tuhan. Taraaa&#8230; Yah, akhirnya saya tertarik membacanya.</p>
<p>Dalam tulisannya Pandu menjelaskan mengenai pentingnya membuat suatu riset kecil-kecilan mengenai kebutuhan ASI, termasuk didalamnya kebutuhan menentukan Rumah Sakit mana yang akan dituju. Menurutnya persiapan yang sangat matang dalam mempersiapkan kebutuhan ibu dan anak dalam proses menyusui sangatlah penting. Terlepas kebutuhan persalinan normal juga yang menurutnya sangat penting.</p>
<p>Menurutnya keberhasilan memberikan yang terbaik bagi bayi adalah ketika kita tepat memilih rumah sakit yang pro ASI, normal dan IMD. Termasuk tenaga medis yang membantu proses melahirkan si bayi. Menurut Pandu, keterlibatan tenaga medis yang proASI, IMD dan melahirkan normal sangat penting untuk membantu ibu lebih dekat dengan bayi dan memberikan yang terbaik untuk baby. Haduh, rasanya romantis sekali ya J.</p>
<p>Sebuah proses menjadi hal yang sangat penting dari pengalaman Ayah Pandu. Bagi Pandu proses merencanakan hingga implementasi merupakan proses belajar yang tiada tara. Apalagi semuanya ditujukan untuk kebaikan si baby.  Nah, ini ada tanggapan dr. Wiyarni Pambudi, Sp.A, IBCLC yang disarikan dari buku ‘Catatan Ayah ASI’</p>
<p>“idealnya, saat seseorang punya keinginan menjadi orangtua, ia dan pasangannya harus mencari bekal sebanyak-banyaknya, termasuk belajar ‘ilmu ASI dan persiapan lainnya’. Seperti sering disinggung ‘keberhasilan menyusui adalah keberhasilan ayah, kegagalan menyusui adalah kegagalan ayah’-setidaknya ada 50% andil ayah dalam suksesnya pemberian ASI. Pemahaman ayah mungkin tidak perlu seahli konselor, tapi disaat dibutuhkan ia siap mendukung dan melindungi proses menyusui dari gangguan yang mungkin terjadi. Ayah juga harus bisa menyusui! Tentu bukan dalam wujud menyodorkan payudara, tapi antusiasme dukungan dan pemahaman tentang ASI, pasti diharapkan oleh pasangan kita.”</p>
<p><em>That’s great</em> bu dokter, peran ayah sangat menentukan sekali bagaimana proses pemberian ASI berlangsung untuk sang baby. Oh ya, Ayah Pandu juga menceritakan bahwa pengalamannya menghadapi mertua dan orang tua pada umumnya juga harus disikapi dengan bijak. Tidak sedikit orang tua memberikan nasihat-nasihat dalam menghadapi persalinan dan memberikan ASI. Nah, biasanya ilmu yang dipahami orang tua didapatka dari warisan turun temurun. Misalnya, menyiapkan sufor jika ASI belum turun pasca melahirkan, memberikan susu ketika baby menangis, atau masih banyak nasihat lainnya.</p>
<p>Tentu saja sebagai calon orang tua kita harus cerdas menerima masukan dari orang tua. Tentu tanpa membuatnya tersinggung (nah yang ini tinggal trik kita sebagai anak saja cara menyampaikannya). Menurut saya, inilah kekuatan riset yang diceritakan ayah Pandu. Jangan dipikir lho riset itu harus berurusan dengan metodologi dan sebagainya. Kita bisa memilih riset kecil-kecilan yang bisa kita design sendiri lho.</p>
<p>Sebagai calon orang tua, kita memang harus menggali sebanyak-banyaknya informasi yang dibutuhkan. Bisa melalui dokter langsung atau bisa <em>browsing</em> via mbah gugle deh. Segudang informasi bisa kita temukan mengenai pemberian ASI dan perawatan ASI. Langkah pertama yang harus dilakukan tentu saja membuat daftar kebutuhan informasi apa yang kita butuhkan. Tentu saja tidak usah malu menjadi laki-laki yang peduli ASI. Toh ini demi kebaikan baby tercinta bukan?</p>
<p><em>Men,Go a real father!!</em></p>
<p><em>February</em> <em>Love</em>, Peluk cium penuh kasih sayang.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggerwijirahayu.com/ayah-ayo-memulai-riset.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>May Day</title>
		<link>http://anggerwijirahayu.com/may-day.html/</link>
		<comments>http://anggerwijirahayu.com/may-day.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 May 2013 01:31:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angger Wiji Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rasa Kritik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggerwijirahayu.com/?p=594</guid>
		<description><![CDATA[May Day, May Day, May Day, May Day ‘semua buruh menunggu weekend tiba. Ketika mereka tidak terbebani dengan pekerjaan yang menumpuk’ Siapa buruh? Pertanyaan pertama yang akan kita pertanyakan sebelum memperingati May Day. Siapakah buruh sebenarnya? Apa yang mereka perjuangkan hingga satu Mei menjadi hari yang sangat penting bagi buruh. Apakah saya buruh? Sebagian besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fb-like" style=""><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://anggerwijirahayu.com/may-day.html/&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=500&amp;action=like&amp;font=&amp;colorscheme=light&amp;locale=en_US" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:500px; height:31px"></iframe></div><p>May Day, May Day, May Day, May Day</p>
<p>‘semua buruh menunggu <em>weekend</em> tiba. Ketika mereka tidak terbebani dengan pekerjaan yang menumpuk’</p>
<p><strong>Siapa buruh?</strong></p>
<p>Pertanyaan pertama yang akan kita pertanyakan sebelum memperingati May Day. Siapakah buruh sebenarnya? Apa yang mereka perjuangkan hingga satu Mei menjadi hari yang sangat penting bagi buruh. Apakah saya buruh?<span id="more-594"></span></p>
<p>Sebagian besar menganggap bahwa, buruh identik sekali dengan pekerja pabrikan, berdemonstrasi dan berpusat di pulau Jawa. Atau pekerja harian yang diupah dengan uang atau barang setelah melakukan suatu pekerjaan. Pekerjaan kantoran ataupun sebagai staf di sebuah perusahaan seringkali identik dengan kata ‘karyawan’, bukan buruh. Mereka dianggap pekerja dengan penghasilan layak yang tidak harus turun ke jalan seperti para buruh pabrikan yang gajinya diatur oleh UMP atau UMR dan kapan saja bisa di-PHK dengan alasan pengurangan pegawai atau kebangkrutan.</p>
<p>Buruh dalam konsep ILO adalah orang yang bekerja dengan dikontrak selama waktu tertentu dan  mempunyai perjanjian kerja. Berarti seorang PNS, pegawai bank, jurnalis, pegawai perusahaan termasuk kategori ini. Apakah kita termasuk dalam kategori ini?</p>
<p><strong>Buruh Perempuan, Hak-hak yang Terabaikan</strong></p>
<p>Menyoal soal hak buruh, tentu saja buruh sebagai seorang pekerja mempunyai hak yang tidak akan terlepas dari kewajibannya. Dengung hak-hak yang terabaikan seringkali terdengar, namun apakah sebagian buruh lain yang tidak Jawasentris menyadarinya? Dari hasil Sakernas 2011, didapatkan bahwa 29,53% penduduk 15 tahun keatas yang bekerja seminggu yang lalu berdasarkan status pekerjaan utama di Provinsi Bengkulu adalah buruh. Jumlah ini paling besar diantara status pekerjaan utama lainnya. Hal ini berarti bahwa masyarakat Bengkulu sebagian besar status pekerjaannya masih bergantung menjadi buruh.</p>
<p>Apakah hak dasar buruh telah terpenuhi? Itu menjadi pertanyaan pada diri kita masing-masing. Namun menyoal hak, sebagai seorang buruh, saya ingin sekali menyuarakan hak-hak dasar saya sebagai seorang buruh.  Pertama, sebagai seorang perempuan saya menyinggung persoalan dasar kesehatan reproduksi saya. Prioritas ruang ASI yang masih minim menjadi kendala bagi sebagian besar perempuan untuk memberikan ASI pada balitanya. Disatu sisi pemerintah menyerukan agar perempuan memberikan hak dasar anak dengan kualitas makanan terbaik, yaitu ASI.</p>
<p>Buruh perempuan masih harus berjuang memompa ASI mereka ditengah pekerjaan mereka yang menumpuk. Atau pilihannya buruh perempuan mengganti makanan balitanya dengan memberikan susu formula yang berdampak pada kehidupan ekonomi keluarga itu sendiri. Minimnya sensitifitas terhadap perempuan memaksa perempuan bekerja ekstra keras untuk mendudukkan posisinya sebagai buruh pekerja dan istri. Belum lagi persoalan, menstruasi yang saat ini menjadi kenyataan yang terpinggirkan. Perempuan buruh belum mendapatkan hak cuti mestruasi jika dalam keadaan menstruasi yang sakit.</p>
<p>Kedua, perempuan buruh dibebankan pada dua realita, yaitu pekerjaannya dan kesempatan karirnya. Tidak heran bila kebanyakan pemimpin dinegeri ini adalah laki-laki, karena trah mereka dalam status sosial dianggap sebagai kelas pemimpin. Sedangkan perempuan harus berjuang dan keluar dari mitos mereka sebagai perempuan, pekerja domestik dan sangat cerdas jika harus menjadi seorang pemimpin.</p>
<p>Satu Mei sebuah momentum penting bagi buruh untuk menjadikan momentum hari ini sebuah titik perjuangan penting dalam posisinya sebagai pekerja yang memiliki hak-hak dasarnya sebagaimana diatur dalam Undang-undang.</p>
<p>Selamat Hari Buruh</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggerwijirahayu.com/may-day.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Pengalaman</title>
		<link>http://anggerwijirahayu.com/dua-pengalaman.html/</link>
		<comments>http://anggerwijirahayu.com/dua-pengalaman.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2013 10:44:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angger Wiji Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggerwijirahayu.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah kamu dengan tidak sengaja menjadi motivator bagi orang lain? Atau bercita-cita setingi langit, sedangkan orang melihatmu dengan sebelah mata? Dua hal ini yang terjadi dalam hidupku hari ini dan bagiku hari ini adalah salah satu cara untuk bahagia. Pertama aku dicemooh karena aku ingin bersekolah lagi ke Belanda. Aku hanya ingin sekolah ke luar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fb-like" style=""><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://anggerwijirahayu.com/dua-pengalaman.html/&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=500&amp;action=like&amp;font=&amp;colorscheme=light&amp;locale=en_US" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:500px; height:31px"></iframe></div><p>Pernahkah kamu dengan tidak sengaja menjadi motivator bagi orang lain? Atau bercita-cita setingi langit, sedangkan orang melihatmu dengan sebelah mata? Dua hal ini yang terjadi dalam hidupku hari ini dan bagiku hari ini adalah salah satu cara untuk bahagia.</p>
<p>Pertama aku dicemooh karena aku ingin bersekolah lagi ke Belanda. Aku hanya ingin sekolah ke luar negeri. Titik. Bagiku ini adalah salah satu cara mencapai visiku. Dalam hati aku tidak akan merasa bersedih hati, karena aku yakin selalu ada campur tangan Tuhan bagi orang-orang yang bervisi. Walaupun kapasitas Bahasa Inggrisku masih sangat kacau, namun tentu saja itu bukan sebuah alasan yang paling tepat untuk aku tidak bercita-cita sekolah keluar negeri lagi. Sesuai dengan kata Habibi yang aku kutip dalam tayangan 360 Metro tv, &#8216;jangan pernah bermimpi, karena ketika kamu bangun kamu tidak mendapatkan apa-apa, namun ketika kamu bervisi, kamu tau caranya mendapatkannya&#8217;.</p>
<p>Kedua, aku menjadi motivator bagi orang lain yang selalu tidak percaya diri. Kukatakan padanya, bahwa ketika kamu tidak percaya diri maka orang akan melupakannya dengan segera. &#8216;kamu boleh pergi jauh, tapi ketika kepada orang-orang terdekat bersikaplah seperti apa adanya dan percaya diri, sehingga aku tak akan kehilanganmu&#8217;. Aku tidak pernah ragu mendukung orang lain untuk maju. Aku berusaha tidak pernah iri melihat orang maju, karena didalamnya aku menemukan kebahagian yang luar biasa. Caranya bisa saja dengan sederhana, memberikan kesempatan mereka untuk berkarya dan tampil didepan walaupun itu dari pemikiran kita. Serta yang paling penting jangan mencari tujuan pujian didalamnya, karena didalamnya akan mengurangi kebahagiaan itu sendiri.</p>
<p>Dua hal ini menjadi pembelajaran penting hari ini. Sederhana sekali, dimulai dari diriku sendiri. Ini hari Kamis, besok Jumat, yang berarti kita akan punya waktu produktif bagi diri kita sendiri, berkarya dan berkarya. Tidak usah dipuji, ini sekedar kebahagian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggerwijirahayu.com/dua-pengalaman.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Firasat Hujan</title>
		<link>http://anggerwijirahayu.com/firasat-hujan.html/</link>
		<comments>http://anggerwijirahayu.com/firasat-hujan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Apr 2013 07:05:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angger Wiji Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[firasat]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggerwijirahayu.com/?p=589</guid>
		<description><![CDATA[Dua ratus jam lima puluh menit dan tiga puluh detik sudah aku lewatkan untuk menunggunya. Laki-laki gila yang aku tunggu ini bukan hanya seorang laki-laki seperti biasanya. Laki-laki dengan maskulinitasnya, kekuatan tubuhnya, atau rayuannya yang membuat perempuan jatuh hati ke pelukannya tidak lama kemudian. Laki-laki ini adalah laki-laki biasa saja, yang kutemui tiga ratus enam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fb-like" style=""><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://anggerwijirahayu.com/firasat-hujan.html/&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=500&amp;action=like&amp;font=&amp;colorscheme=light&amp;locale=en_US" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:500px; height:31px"></iframe></div><p>Dua ratus jam lima puluh menit dan tiga puluh detik sudah aku lewatkan untuk menunggunya. Laki-laki gila yang aku tunggu ini bukan hanya seorang laki-laki seperti biasanya. Laki-laki dengan maskulinitasnya, kekuatan tubuhnya, atau rayuannya yang membuat perempuan jatuh hati ke pelukannya tidak lama kemudian.</p>
<p>Laki-laki ini adalah laki-laki biasa saja, yang kutemui tiga ratus enam puluh lima hari silam disebuah desa kecil bernama desa Harapan. Tangannya yang lincah dan geraknya yang luwes membuatku terkesima seperti mendapatkan durian runtuh seketika. Tentu saja aku selalu melihat setiap geraknya dengan penuh seksama, kadang tanpa berkedip sedikitpun. Laki-laki sungguh menggoda hatiku, bukan karena laki-laki seperti biasanya, tapi karena gerak yang luar biasa. Aku kebingungan melihat tingkahku sendiri pada hari itu, seperti aku terkoneksi olehnya, tapi selalu terkoneksi gagal karena tak ada respon sedikitpun kepadaku.<span id="more-589"></span></p>
<p>Matanya hanya bulat dan memandang ke banyak peserta pelatihan lainnya. Tentu saja kaum hawa juga kulihat terkesima sama olehnya. Tapi tak ada pandangan sedikitpun kepadaku. Aku sedikit merasa bersyukur karena aku bisa memandangnya dengan puas tanpa sedikitpun diketauinya. Tentu saja karena dia fasilitator dalam sebuah pelatihan dan aku seolah menjadi peserta yang sangat mendengarkannya. Sepertinya ini modus yang aku jalani karena dalam kondisi ini aku dapat menikmati setiap geraknya yang luwes tanpa harus malu jika dia memergokiku tiba-tiba. Hari pertama pelatihan aku sukses memandanginya dengan puas. Aku kembali kerumah dengan perasaan bahagia. Hari itu belum aku tau apakah statusnya, lajang, menikah ataukah duda? Mataku seperti sebuah <em>emotion</em> dengan simbol <em>love </em>dimataku. Tak peduli dulu tentang statusnya.</p>
<p>Waktu terus berjalan, aku terus menunggunya disini. Didalam kamarku sambil membolak-balik buku yang sebenarnya sudah aku baca berulang-ulang kali. Tentu saja sambil mataku melirik ke ponsel dan telingaku awas mendengar suara ponselku. Suara ponsel sudah aku paksakan pala volume suara paling keras, namun tak kunjung jua dia menelponku. Atau sekedar memberi kabar kepadaku.</p>
<p>Sudah hampir sepuluh hari aku bertingkah aneh seperti ini menunggunya. Tak jelas sebenarnya apa mauku kali ini, yang aku tau hanyalah kapan dia menelponku atau sekedar mengirimkan sms memberikan kabarnya. Karena waktuku bukan tidka lama lagi, tapi waktuku sangat terbatas. Aku hanya punya waktu lima bulan lagi sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah lagi.</p>
<p>Akhirnya kuberanikan diri menelponnya. Kurencanakan setelah aku pulang dari mengantar ibu ke pasar, agar dijalan aku tidak merasa panik apapun yang kami bicarakan nanti. Aku bergegas masuk ke kamar dan menutup pintu kamar rapat-rapat dan aku berdoa kepada Tuhan agar dimudahkan percakapanku padanya. Kucari nomor teleponnya dan kupencet tombol menelpon. Suaranya sambungannya nyaring dan terdengar jelas. Setidaknya aku tau dari suara sambungannya dia sedang tidak berada di daerah sulit.</p>
<p>Akhirnya koneksi terputus karena tidak ada yang mengangkat. Kuberanikan diri menelponnya sekali lagi dan masih tersambung seperti panggilan yang pertama. Tanpa bebas gangguan, tapi tetap saja tak diangkatnya. Hatiku gundah gulana dan kebingungan, apakah dia tidak menyimpan nomorku lagi ataukah memang dia tidak ingin diganggu.</p>
<p>Aku pergi ke dapur dan akhirnya membantu ibu masak. Meleburkan hatiku dan membiarkan waktu cepat berlalu. Mungkin saja aku bisa mengobati semuanya ini dengan sendirinya, tanpa harus aku mengatakan sesuatu apapun.</p>
<p>‘tadi ayah bilang, keperluanmu sudah jadi, pasport, visa dan tiket sudah selesai semua’, kata ibu.</p>
<p>‘iya bu’, kataku datar.</p>
<p>‘hei, mengapa tak bersemangat?’, tanya ibu curiga kepadaku.</p>
<p>‘tak ada bu, aku terlalu gugup untuk jauh meninggalkan kalian dan hidup di negeri sebrang’, ujarku menutupi rasa hatiku.</p>
<p>Ibu tersenyum dan memelukku. Suasana jadi galau dan syahdu, kami berpelukan mesra. Seketika hujan turun deras sekali. Mungkin ini tanda-tandanya aku harus melupakannya dan memfokuskan diri pada study lanjutnku.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Aku sudah berjanji pada diriku untuk menghapus nomornya. Tak usah aku tunggu lagi ketidakpastian darinya. Sebagai seorang perempuan, aku merasa tak pantas menunggunya terlalu lama lantas menghubunginya terlalu sering. Cukup saja ketika aku harus bertanya sesuatu padanya ketika aku butuh jawaban darinya, dan itu biasanya tak akan keluar dari bahasan mengenai perfilman. Terlebih dia sangat paham akan bahasan mengenai film dokumenter.</p>
<p>Beberapa kali aku mencoba mengirimkan sms salah yang kukirim secara sengaja padanya. Tapi apa responnya? ‘dek kamu salah kirim ya?’, dan selalu berakhir dengan kalimat maaf dan tidak apa-apa. Selalu saja begitu.</p>
<p>‘Rani hujan, tolong ibu mengangkat jemuran’, teriak ibu membuyarkan lamunanku.</p>
<p>‘iya bu’, aku berteriak sambil membuka pintu kamar.</p>
<p>Aku bergegas kebelakang rumah dan membantu ibu mengnagkat jemuran pakaian yang setengahnya sudah hampir kering semua. Beberapa detik lamgkahku masuk ke dalam rumah, hujan mengguyur dengan derasnya, tak menyisakan sedikitpun sisa halaman rumahku yang tak terguyur air. Sungguh deras dan seperti badai yang datang tiba-tiba. Aku merasa hujan seperti hatiku yang tiba-tiba basah karena menunggunya yang penuh dengan ketidakpastian.</p>
<p>Tiba-tiba suara ponselku bunyi, seperti suara sms. Kubuka dengan biasa saja. Setelah penantian yang cukup lama, hanya pertanyaan singkat yang dikirimkannya padaku.</p>
<p>‘Kemarin kamu telepon dek.</p>
<p>Maaf abang sedang di desa’</p>
<p>Sender : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>13.30.31</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hatiku sebenarnya deg-degan dan kebingungan dengan apa yang kurasa saat ini. Bahagia ataukah harus bersedih hati. Aku berfikir sejenak, apakah aku harus membalasnya sekarang atau nanti. Atau aku harus menghubunginya lewat telepon. Aku mulai menuliskan beberapa kalimat untuk membalas smsnya.</p>
<p>‘iya bang, kemarin aku telpon’</p>
<p>Kupandang pandang dan kubaca berkali-kali kalimat singkat diatas. Apakah kalimat tersebut sudah tepat ataukah belum. Kuhapus kalimat diatas dan kuganti dengan jawaban yang lebih tepat.</p>
<p>‘Iya bang, aku ingin bertanya tentang budaya Tionghoa, aku tertarik membuat dokumenternya’.</p>
<p>Kupandang lagi kalimat yang kususun tersebut. Tapi aku masih belum sreg, aku takut seperti biasanya kami akan membahas masalah film dan berkutat seputar film saja. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku merindukannya, aku akan pergi untuk waktu yang cukup lama dan maukah kamu menungguku. Titik hanya itu saja.</p>
<p>Apakah itu pantas? Aku serasa mati rasa akhir-akhir ini, aku tak bisa menyimpan semua yang aku rasakan kali ini. Setidaknya ketika aku pergi melanjutkan studyku, aku akan meninggalkannya dengan perasaan tenang. Aku tidak hanya terfokus padanya dan membuang waktuku lagi hanya untuk menunggu ketidakpastiannya.</p>
<p>Terakhir sekali dia menawarkan aku tiket gratis Bali Bengkulu untukku pada ulang tahunku yang ke 22 lalu, itu sekitar delapan bulan yang lalu dan aku menolaknya karena aku tak bisa berpergian tanpa tujuan jelas dan sendiri pula. Aku tau ayah akan memarahiku karena tidak fokus akan pendidikanku.</p>
<p>Aku menggaruk-garuk kepala. Aku rasa urusan cinta lebih sulit ketimbang aku harus repot menulis naskah cerita film, membongkar plot dan mengaturnya dalam alur-alur yang rapi. Belum lagi urusan hati ini lebih repot dari pada aku harus bolak-balik kampus bimbingan untuk menyelesaikan skripsi dan studi akhir di kampus.</p>
<p>Ingin rasanya bercerita pada ibu, tapi aku malu. Ingin rasanya mengatakan pada ayah untuk menunda keberangkatanku bila nantinya aku belum mengatakan pada abang semua perasaanku tapi aku tak kuasa. Aku kehabisan cara mengungkapkannya, aku kehabisan akal untuk mencoba merayunya atau apalah.</p>
<p>Aku tak bisa merayunya tentu saja. Aku tak bisa bersikap manis padanya tentu saja itu benar. Sehingga aku selalu kalah menarik dengan beberapa teman perempuannya yang pastinya lebih smart dan lebih punya kelebihan fisik daripada aku.</p>
<p>Hujan semakin deras dan aku semakin menahan hatiku. Sudah hampir setengah jam dari sms abang yang masuk ke ponselku. Akhirnya aku putuskan mengetik kalimat pertama yang kurasa lebih dari cocok.</p>
<p>‘iya bang, kemarin aku telepon’</p>
<p>Recipient : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>14.08.31</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Sent. Message sent.</em></p>
<p>Akhirnya terkirim juga. Aku mulai was-was lagi menunggu balasannya. Aku yakin perempuan yang sedang jatuh cinta dimanapun akan selalu memikirkan jawaban sms seorang laki-laki yang dicintainya. Suara sms kembali masuk dan aku dengan tergesa meraih ponselku. Kubuka segera, ternyata bukan dari abang melainkan teman kampusku menanyakan apakah aku akan pergi dalam diskusi Jumatan sore nanti.</p>
<p>Aku tak berminat membalasnya, aku lebih berminat menunggu sms balasan dari mas. Kubuka lagi <em>sent items</em>, kubaca lagi kalimat yang kukirimkan padanya agar aku yakin itu kalimat yang sangat pantas untuknya. Ataukah dia akan sedikit malas membaca smsku. Pesan dari abang masuk lagi.</p>
<p>‘ada apa dek? Aku melihat teleponmu dua kali.</p>
<p>Aku sedang dijalan waktu telponmu masuk?’</p>
<p>Sender : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>14.10.31</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Glek, aku merasa disambar geledek mendapatkan smsnya. Apa yang akan aku balas, aku mondar-mandir di kamarku dan aku kebingungan. Aku menutup mukaku dengan bantal dan aku mulai berkeringat dingin. Rasanya ingin kutelpon ayah dan ingin kukatakan aku ingin dilamar olehnya.</p>
<p>Apa yang harus aku jawab, apa yang harus aku katakan. Hujan semakin deras dan aku ingin berteriak kencang. Aku menghidupkan musik dan kusempal <em>headset</em> ke telingaku. Kuputar lagu-lagu Alanis Morisette dan kukencangkan volume suaranya. Sungguh ingin aku teriakan lantunan lagu-lagu ini.</p>
<p>Aku tersadar, dalam keadaan seperti ini aku harus menyelesaikan masalahku. Aku tak ingin terkurung dikamarku karena cinta yang tak diungkapkan.</p>
<p>‘aku hanya ingin bilang, aku akan sekolah ke Belanda tiga bulan lagi’</p>
<p>Recipient : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>14.30.31</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Sent. Message sent.</em></p>
<p>Tak lama kemudian sms dari abang kembali masuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘itu meminta pamit kan? Bukan meminta izin.</p>
<p>Toh abang yakin itu tidka merubah keputusanmu.</p>
<p>Selamat’</p>
<p>Sender : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>14.32.01</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jantungku berdegup kencang. Ternyata abang punya perhatian yang sangat besar kepadaku. Aku termenung dan membaca sms yang abang kirim terakhir. Kuberanikan diri menulis kembali apa yang sedang aku pikirkan tanpa mengulangnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘sebanrnya dari dulu aku ingin bertanya.</p>
<p>Apakah abang akan membawaku ke tempat yang sama?’</p>
<p>Recipient : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>14.34.22</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Balasan sms dari abang masuk lagi secepat kilat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘dari semua smsmu abang yakin kamu menyayangiku dek.</p>
<p>Tapi aku tidak pernah dilibatkan dalam keputusan penting hidupmu’</p>
<p>Sender : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>14.35.22</p>
<p>Aku membacanya dengan penuh kegetiran. Sungguh ingin aku berlari mengerumuni hujan dan memeluknya dan kukatakan bahwa pada titik ini aku sangat menyesal. Aku terlalu kaku dan terus berpikir ulang. Aku segera mengetik sms balasan, aku tak berpikir ulang. Aku hanya berjalan mendekati jendela dan ingin merasakan percikan hujan masuk melalu jendela kamarku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘aku bingung dengan sikapmu sejak pertama bertemu.</p>
<p>Setidaknya sekarang aku mengatakannya bang’</p>
<p>Recipient : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>14.37.00</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘aku tidak menyangka</p>
<p>kamu mengambil keputusan secepat itu.</p>
<p>Seharusnya kamu tau dari pertama kita bertemu’</p>
<p>Sender : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>14.39.02</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘aku tidak merasa menjadi bagian penting</p>
<p>dalam hidupmu’</p>
<p>Recipient : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>14.39.59</p>
<p>‘jika kamu tidak penting</p>
<p>tak akan pernah kubalas smsmu dek.</p>
<p>Bahkan sekarang aku sedang mengajar’</p>
<p>Sender : Abang</p>
<p>0812345678910</p>
<p>Sent :</p>
<p>13 Feb 2013</p>
<p>14.39.02</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku tak membalas lagi sms abang. Aku menangis sejadi-jadinya ditemani hujan yang masih turun mendera. Menemaniku, mungkin Tuhan tau bahwa perasaanku sesedih hatiku. Aku tidak keluar kamar sampai malam. Ayah dan ibu hanya mengetok pintu dan aku tidak berminat keluar. Aku hanya melongokkan kepalaku dan bilang aku ada deadline nulis naskah film, akhirnya ayah dan ibu bisa mengerti.</p>
<p>Kulihat jam didinding kamarku, mereka beradu berdetak-detak dan tau bahwa aku hanya menunggu waktu. Aku memandangi suasana kamar mungilku. Lemari pakaian, cat bewarna ungu, boneka-boneka masa kecil yang tertumpuk rapi tumpukan sepatu koleksiku, tumpukan buku-buku yang separuhnya berantakan dimeja belajar dan semua aksesoris yang tergantung di dinding. Mereka malam ini seakan menertawakan keadaanku. Mereka bersiul dan saling bersautan menyuruhku melakukan sesuatu.</p>
<p>Aku letih, aku tidur dengan hujan deras malam yang mulai mereda. Kudengar sayup-sayup ayah membuka pintu, menarikkan selimut untukku.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Aku terbangun pukul tiga dinihari. Sungguh suasana masih terlalu pagi untuk bangun, tapi mataku tidak dapat terpejam lagi. Aku mengambil beberapa novel yang belum kubaca. Namun pikiranku tidak dapat fokus pada satu titik. Pikiranku melayang entah kemana. Sengaja tak kucari ponselku seperti biasanya setiap bangun pagi ketika aku selalu mencarinya.</p>
<p>Aku harus fokus memikirkan studyku tiga bulan kedepan. Sebelum aku sampai disana, aku harus sudah menyelesaikan sebuah karya ilmiah. Tentu saja ini akan menguras banyak waktuku. Setidaknya aku cukup berdoa saja hari ini indah dan cepat melupakan abang.</p>
<p>Abang <em>calling</em>&#8230;.. abang <em>calling</em>&#8230;. abang <em>calling</em>&#8230;</p>
<p>Aku kebingungan mengapa tiba-tiba akhirnya dia menelponku. Laki-laki tak biasa yang aku tunggu teleponnya sepuluh hari lalu dan menelponku dipagi buta. Apakah aku pantas mengangkat teleponnya dipagi buta. Apakah dia akan berfikir aku benar-benar menyukainya. Oh Tuhan, dimana harga diriku. Bagaimana ini. Tapi mungkin saja abang dalam keadaan darurat hingga harus menelponku pada jam-jam segini. Kuraih dengan tergesa ponselku, kali ini pikiran terakhirku yang membuatku luluh lantah.</p>
<p>‘ya, assalamualaikum’, ujarku pelan mencoba menahan perasaanku.</p>
<p>‘kamu sudah bangun dek?’, kata abang pelan pula.</p>
<p>‘kebetulan aku tidur cepet mas’, kataku datar.</p>
<p>‘kapan kamu berangkat?’, tanyanya langsung.</p>
<p>‘kemungkinan pertengahan Juni bang’, ujarku.</p>
<p>‘kamu ambil study apa?’, tanyanya lagi.</p>
<p>‘aku mengambil perfilman bang’, jawabku datar.</p>
<p>‘negara mana dek?’, tanyanya.</p>
<p>‘Belanda mas’, jawabku datar.</p>
<p>Kami terdiam, ada kekakuan diantara kami berdua. Walaupun hanya melalui telepon aku merasa sedang berhadapan langsung dengannya. Aku merasa dia sedang berada dekat didepanku.</p>
<p>‘kamu kenapa kok smsmnya gitu tadi?’, tanya abang membuyarkan lamunanku.</p>
<p>‘aku berencana menetap disana mas, bersama ayah dan ibu’, kataku jujur.</p>
<p>‘kenapa kamu baru bilang sakarang? Itu bukan meminta pendapatku kan? Tapi memohon izin untuk pindah’, suara abang melemah disana.</p>
<p>Kurasakan getir yang menyelimuti keadaan kami berdua. Entah, yang kurasa hanyalah aku telah jatuh cinta padanya.</p>
<p>‘aku menunggu itu satu tahun lebih bang’, ujarku peluh.</p>
<p>‘seharusnya sejak dari awal kamu tau dek, mas ingin ke tempat yang sama denganmu’, ujarnya datar.</p>
<p>‘apakah saat ini masih tidak mungkin?’, pertanyaannya menusuk jantungku.</p>
<p>Aku serasa mati, aku dilamar olehnya, seketika dan menjawab semua kegundahanku selama ini.</p>
<p>‘masih aku ingat, tengkukmu yang jenjang ketika kau pertama kali mengikatkan rambutmu tinggi-tinggi, tawamu yang renyah, matamu yang tajam’, ujarnya merayu.</p>
<p>Aku masih saja terdiam ditempatku. Cicak-cicak di dinding tolong tampar aku, apakah aku sedang bermimpi. Tolong berdecak kuat-kuat supaya indra pendengaranku tidak salah mendengar.</p>
<p>‘dek..’, panggilnya.</p>
<p>‘ya bang. Aku bingung memulainya dari mana bang’, ujarku.</p>
<p>Tuhan tolong aku, mengapa harus saat ini.</p>
<p>‘maaf bang, aku dilamar beberapa hari lalu’, akhirnya aku menceritakannya dengan plong.</p>
<p>Kami terdiam. Suasana haru memendam dalam hati kami masing-masing, aku dilamar dan seketika pula aku harus menjatuhnya dengan telak. Skak matt.</p>
<p>‘itu tidak dapat dirubah lagikah?’, tanyanya pilu.</p>
<p>‘aku sudah menunggumu bang beberapa waktu, tapi akhirnya aku mengambil jalan ini untuk kesehatan ibu’, ujarku pilu.</p>
<p>‘mengapa kau tidak mengatakannya sejak awal’, tanyanya mencercaku.</p>
<p>‘aku tidak diberi pilihan olehmu mas, tak sedikitpun’, ujarku.</p>
<p>‘satu langkah aku tertinggal olehmu dan kau sudah memutuskan keputusan penting dalam hidupmu’, katanya sendu.</p>
<p>‘maafkan aku mas’, aku tak bisa berkata-kata.</p>
<p>‘seandainya kamu bisa merubah keputusanmu dek’, katanya datar.</p>
<p>‘ibu sakit mas, ibu ingin kembali ke Belanda dan ingin dikebumikan disana’, ujarku sendu ingat ibu.</p>
<p>‘kenapa kau tidak menceritakan mengenai ibu?’, ujarnya.</p>
<p>‘aku bingung memulainya dari mana bang’, kataku dengan air mata yang tak tertahan ingin tumpah.</p>
<p>‘menangislah selagi kau bisa’, katanya.</p>
<p>‘ibu ingin aku segera menikah bang, setidaknya ada yang menjagaku kelak. Mereka ingin berpergian ketika sampai di Belanda. Mereka ingin mengenang sejarah mereka dulu. Sedangkan kondisi kesehatanku tidak memungkinkan mas. Sedangkan kamu aku tau mas, kariermu sedang bagus dan kamu punya kehidupan yang belum bisa aku ikuti’, ujarku.</p>
<p>‘setidaknya kamu bisa membiarkanku menjagamu, memberiku pilihan pula dek’, katanya pilu.</p>
<p>‘jika aku bisa merubah waktu bang, sepuluh hari kebelakang saja, sebelum keputusan besar ini kuambil. Apa yang akan kamu lakukan?’, tanyaku ingin mengetahui perasaannya.</p>
<p>Abang berhenti sejenak menarik nafas dalam-dalam dari yang kudengar diponsel.</p>
<p>‘dulu aku berfikir, aku harus memboyongmu tinggal denganku bila kita menikah dek. Sedangkan kamu harus menjaga ibumu. Aku berfikir aku juga harus memboyong ibumu, sedangkan pakerjaanku yang seperti ini membuatku tidak percaya diri. Atau pilihannya aku harus bekerja lebih ekstra dan membiarkanmu bisa bolak balik rutin  mengunjungi ibumu’, ujar abang panjang lebar.</p>
<p>‘sebegitu jauhnya bang kamu berfikir?’, kataku terkejut dengan semua yang diceritakan oleh abang.</p>
<p>‘aku tidak akan membiarkanmu bekerja keras, aku ingin kamu mengembangkan cita-citamu menjadi sutradara film dan menjaga anak-anakku. Karena aku yakin, dipangkuan seorang perempuan hebat anak-anakku kelak akan menjadi hebat’, ujarnya.</p>
<p>Aku menangis tersedu-sedu, aku tak kuasa menahan perasaanku lagi. Jika dia berada didekatku pasti saja aku sudah sedari tadi memelukknya dengan erat. Tuhan salahkah aku kali ini.</p>
<p>‘keputusan besar itu telah kamu buat dek. Aku sebagai abangmu hanya bisa mendukungmu. Setidaknya aku pernah tau, bahwa ada perempuan hebat yang selalu menantiku dan mencintaiku dengan tulus setahun ini’, ujar abang.</p>
<p>‘maafkan aku bang, aku terlalu ego’, ujarku.</p>
<p>‘maafkan abang juga karena selama ini abang teralu santai dengan hidup ini’, ujarnya.</p>
<p>Hujan seketika luruh lagi. Hatiku berkecamuk. Kami bisu untuk beberapa saat dan tentu saja hatiku hancur Tuhan. Dia laki-laki dalam doaku sepanjang malam, dia laki-laki dalam lamunanku, dia laki-laki yang ingin aku menjadi makmumnya.</p>
<p>‘apakah laki-laki yang akan menjagamu itu baik?’, tanyanya membuyarkan kebisuan kami.</p>
<p>‘setidaknya aku mengenalnya sudah jauh bang, aku mengenalnya dengan baik pula’, ujarku menyakinkannya.</p>
<p>‘aku yakin dia akan menjagamu dan menjaga kalian nantinya. Aku hanya berharap kamu tetap seperti Maharani yang aku kenal dahulu’, ujarnya yakin.</p>
<p>‘setidaknya kamu pula harus memikirkan hidupmu bang, aku tak ingin kita memutuskan silahturahmi antara kita bang’, kataku menutupi perasaanku.</p>
<p>‘tidak, bagaimanapun kamu perempuan yang tak akan pernah kulupa. Tengkuk jenjangmu, rambutmu, matamu, semuanya yang ada padamu tak akan pernah aku lupakan’, ujarnya.</p>
<p>Aku menarik nafas panjang mendnegar setiap kata-katanya. Masih kuseka air mata yang semakin turun. Laki-laki ini memang membuatku luruh lantah ke dasar lautan paling dalam.</p>
<p>‘bisakah kita bertemu untuk terakhir kalinya dek?’, tanyanya kepadaku.</p>
<p>‘aku mengharapkan itu juga mas’, kataku sambil terus menyeka air mataku.</p>
<p>‘aku akan menemui secepatnya, sepulang aku dari Bali. Kamu harus mengatur waktumu’, ujarnya yakin.</p>
<p>‘iya mas’, kataku kebingungan apa yang bisa aku lakukan.</p>
<p>Kami mengakhiri percakapan kami dan aku terlelap tidur di subuh buta. Tentu saja mataku sembab waktu bangun. Ibu dan ayah hanya keheranan melihatku.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Hujan deras menghuyur dua minggu terakhir ini. Disertai badai yang terus melanda. Aku masih berkutat dengan karya ilmiahku, masih mencari bahan-bahan di internet saja. membaca beberapa referensi dan sesekali menonton film-film dokumenter. Ibu terlihat mulai membaik dari akhir-akhir ini setelah mengetahui aku akan menikah sebentar lagi, terlebih dia akan kembali ke Belanda tempatnya dibesarkan.</p>
<p>Sedangkan ayah masih tetap setiap pagi mengurus bunga-bunga di halaman rumah dan merawat beberapa ternak di belakang rumah sebelum pergi bekerja. Tiba-tiba suatu telepon dari abang memanggil. Langsung kuraih ponsel dan mengangkat teleponnya.</p>
<p>‘ya assalamualaikum’, ujarku.</p>
<p>‘walaikumsalam. Nak ini nomer Maharani?’, tanyanya.</p>
<p>Aku kebingungan ini ponsel mas, tapi yang menelpon orang lain.</p>
<p>‘iya pak ini Maharani’, kataku.</p>
<p>‘maaf mengganggu, saya ayahnya Agung. Agung meninggal kemarin. Disaat terakhir Agung mencoba menghubungimu nak’, ujar ayahnya.</p>
<p>Aku menangis, luruh lantak.</p>
<p>‘innalillahi wa innalillahi rojiun, aku turut berduka pak. Sekarang jenazahnya dimana?’, ujarku datar dan mulai merayapi kesedihan yang tak terbendung.</p>
<p>‘sudah dikuburkan kemarin, saya hanya menyampaikan wasiatnya jika dia tidak ingin dilihat oleh Maharani dalam keadaan terbujur kaku. Agung terkena sakit jantung sejak lama nak, tapi tak ingin memberitahunya’, ujar bapak pilu.</p>
<p>‘maafkan saya pak’, hanya itu yang bisa aku katakan.</p>
<p>‘ini kalimat terakhirnya, jika suatu saat beribu tahun lagi aku bertemu denganmu sebagai manusia yang lain, aku ingin bertemu kepadamu dan tak ingin terlambat waktu’</p>
<p>Aku menangis sejadinya, inikah firasat dari hujan.</p>
<p>Telepon tertutup.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggerwijirahayu.com/firasat-hujan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bebe Oh Bebe</title>
		<link>http://anggerwijirahayu.com/bebe-oh-bebe.html/</link>
		<comments>http://anggerwijirahayu.com/bebe-oh-bebe.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Mar 2013 08:47:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angger Wiji Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera selatan]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggerwijirahayu.com/?p=586</guid>
		<description><![CDATA[ Alin menganggap BB merupakan gadget terkini yang bisa membuatnya menjadi tenar di sekolahnya. Baginya, tiada yang lebih canggih dari BB. Berbeda dengan ponsel generasi pertama miliknya yang hanya dapat menerima telepon dan pesan pendek, BB menawarkan dunia dalam genggaman. BB bisa membuat orang terhubung tanpa batas, dimanapun dan kapanpun. Semua terhubung dari fasilitas internet, telepon, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fb-like" style=""><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://anggerwijirahayu.com/bebe-oh-bebe.html/&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=500&amp;action=like&amp;font=&amp;colorscheme=light&amp;locale=en_US" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:500px; height:31px"></iframe></div><p><strong> </strong>Alin menganggap BB merupakan gadget terkini yang bisa membuatnya menjadi tenar di sekolahnya. Baginya, tiada yang lebih canggih dari BB. Berbeda dengan ponsel generasi pertama miliknya yang hanya dapat menerima telepon dan pesan pendek, BB menawarkan dunia dalam genggaman. BB bisa membuat orang terhubung tanpa batas, dimanapun dan kapanpun. Semua terhubung dari fasilitas internet, telepon, pesan pendek (sms), foto, menyimpan data hingga berbagai fitur yang ditawarkan. BB bisa menghubungkan semua orang dengan fasilitas <em>chatting</em>nya yang sering disebut BBM dengan mudah, bisa memperbarui status dijejaring sosial serta <em>browsing </em>apa saja karena banyaknya tawaran berbagai provider internet. BB sebagai alat teknologi <em>smartphone</em> pertama sangat digandrungi oleh kaula muda. Bentuknya yang sedikit besar dari kebanyakan ponsel dekade pertama membuat ponsel ini mempunyai kekhasan sendiri.<span id="more-586"></span></p>
<p>Bagi Alin BB merupakan alat yang membuat dunia serasa dekat dan mudah dijangkau. Jika ada momen bagus bisa diabadikan dengan kamera ponsel dan dapat langsung diunggah<em> </em>deh dijejaring sosial. Atau yang lebih kerennya di<em>upload. </em>Sebenarnya kalimat diunggah itu lebih dikenal setelah era internet mulai dikenal tahun 2000-an. Banyak orang sih yang mempertanyakan menganai kata ‘unggah’ itu. Ah, itu tidak usah dibahas panjang lebar Alin menganggap BB-lah yang membuat seseorang  menjadi terlihat lebih keren. Semua aktifitas bisa terekam dan semua orang bisa mengetahui semua aktifitas yang dilakukan. Kita bisa <em>update </em>status apapun ketika kita sedang berada dimanapun. Layaknya seorang artis yang setiap tingkah lakunya diburu oleh para <em>paparazzi</em>.</p>
<p>Alin ingin sekali memiliki BB. Sudah hampir menyeluruh temannya memiliki gadget ini. Bahkan Indah, seorang yang dianggap cupu di sekolahpun saat ini sudah memiliki BB. Tidak terkecuali bagi Angga, sang pujaan hati Alin. Angga termasuk anak yang popular di sekolahnya, maklum bagi remaja seusia Alin, perasaan tertarik pada lawan jenis sangat mendominasi dalam jiwa remaja yang sedang menggelora. Alin merasa Angga terlihat sangat keren saat menenteng gadget impiannya itu, yaitu BB.  Kekagumannya terhadap Angga semakin menjadi-jadi ketika Alin pertama kali melihat Angga menenteng BB.</p>
<p>Angga-lah orang yang pertama kali menenteng BB di sekolahnya. Maklum saja, Angga anak kepala sekolah. Walaupun sudah ada aturan bahwa tidak diperbolehkan membawa ponsel ke sekolah. Tapi karena Angga anak kepala sekolah, aturan tersebut jadi berubah. Awalnya Angga hanya ditegur oleh guru bimbingan konseling agar tidak membawa ponsel ke sekolah. Yah, walaupun aturan sudah ditetapkan, tetap saja yang namanya anak orang nomor satu di sekolah ini aturan tersebut tidak terlalu dihiraukan. Aturan tersebut hanya diberlakukan satu minggu oleh Angga.</p>
<p>Setelah itu, dengan diam-diam Angga mengajak anggota Osis untuk mengirimkan surat ke pihak sekolah agar mengubah aturan tidak diperbolehkannya membawa ponsel ke sekolah. Dalih yang digunakannya, pertama perubahan zaman, kedua kemudahan aksesibilitas jika terjadi tindak kriminilitas. Dua alasan itu, sangat ampuh merubah peraturan di sekolah, apalagi ada pengecualian kewajiban penonaktifan ponsel pada waktu belajar. Serta tidak diperbolehkan membawa ponsel pada waktu ujian berlangsung.</p>
<p>Senyum kemenangan tentu dipegang Angga, apalagi hampir seluruh anggota komite menyetujui usulan Osis ini. Yah, beginilah akhirnya, demam BB merebak di sekolah. Hampir seluruh anak gaul dan keren di sekolahan memiliki gadget ini. Sesekali mereka mencuri waktu ber-bbm ria waktu jam pelajaran sekolah berlangsung. Tentu saja bukan hanya urusan pribadi yang dibicaran dibbm ini tetapi gunjingan-gunjingan mengenai guru yang sedang mengajar. Bahkan sesekali ada seorang anak yang iseng memfoto pantat seorang guru Bahasa Inggris dan mengirimkannya menjadi <em>broadcast</em> kepada teman-teman bbmnya. Terang saja, bagi pengguna bbm, <em>broadcast </em>tersebut jadi buat seluruh anak keriangan dan tertawa dibelakang sang guru. Tanpa diketahui sedikitpun oleh guru.</p>
<p>Bukan hanya itu, ada beberapa anak yang memanfaatkan BB untuk memotret beberapa bagian pelajaran yang sedang dijelaskan oleh guru. Kata anak-anak tersebut, mereka capek menulis sehingga mereka tidak repot lagi menulis dibuku. Atau ada yang sedikit nakal menjadikannya alat untuk mencontek dan fasilitas untuk tukar menukar jawaban ujian.</p>
<p>Kalau fasilitas kamera itu tidak usah ditanya lagi. Setiap momen yang terjadi pengguna gadget ini langsung mengabadikannya dan langsung diunggah dijejaring sosial. Tentu saja foto yang bagus-bagus, atau sesekali diedit dengan fasilitas yang ada baru diunggah. Jadilah foto-foto narsis dengan terlihat wajah yang sedikit putih atau lebih tepatnya disebut pucat. Bagi mereka wajah putih dan mulus menjadi kewajiban dan menjadi kebahagian tersendiri. Walaupun pada kenyataannya tidak begitu. Bukankah itu benar?</p>
<p align="center">***</p>
<p>Teriknya matahari tidak menyurutkan langkah Alin untuk merengek kepada bapaknya untuk membelikannya gadget BB tersebut. Sepertinya lapar yang sedari tadi mendera tidak dihiraukannya. Dipikiran Alin hanya bagaimana caranya mendapatkan BB dan dapat memberikan pin BB ke Angga dalam waktu singkat.</p>
<p>Tadi siang Angga datang ketempat duduknya di kantin dan menanyakan pin BB Alin. Sontak saja, Alin terkejut. Alin merasa campur aduk, antara bahagia ditegur pujaan hatinya tapi malu karena belum punya BB. Akhirnya Alin meminta nomer ponsel Angga, yang dibalas Angga dengan tidak meminta nomer ponsel Alin. Sepanjang perjalanan pulang, Alin bingung bagaimana caranya bisa menjalin hubungan dengan Angga via komunikasi ponsel. Dari itu Alin bertekad ingin memiliki BB secepatnya dan dengan bangganya mengirim pesan pendek ke Angga memberitahukan pin BB baru Alin.</p>
<p>Alin sudah sangat buru-buru masuk rumah. Setelah mengucapkan salam yang tak sempat dijawab oleh orang tua Alin, Alin langsung mengutarakan maksudnya ke orang tuanya.</p>
<p>‘bak, aku nih pengen punyo BB. Pokoknyo belike aku ni BB. Lah bosan aku makai yang butut-butut terus’, kata Alin mencerca Bapaknya yang sedang santai duduk di ruang tamu.</p>
<p>‘walaikumsalam, yo kagek bak belike’, kata Bapak Alin santai tanpa memperdulikan ocehan anak semata wayangnya.</p>
<p>‘nian yo pak, janji yo bak’, kata Alin langsung kegirangan dan berlari ke kamarnya.</p>
<p>Di ruang tamu, bapak Alin yang sedang santai memang sering tidak memperdulikan keinginan Alin. Maklum saja, bapak Alin yang terkenal dengan sebutan Wak Koneng ini tidak berpendidikan memadai. Wak Koneng lahir di Kota Palembang, di pinggir sungai Musi. Sedari kecil Wak Koneng ini hanya bisa membuat pempek dan hingga sekarang masih berjualan pempek.</p>
<p>Kaki Wak Koneng sedikit pincang yang sebelah kanan. Waktu kecil Wak Koneng pernah step dan menderita sakit hepatitis. Waktu itu warna tubuhnya kuning karena penyakit hepatitis dan dibarengi step. Sebenarnya dalam medis, wak Koneng menderita gejala radang selaput otak. Karena mukjizat Tuhan, Wak Koneng selamat dan sembuh dari penyakitnya. Tapi dia harus merelakan kakinya sebelah pincang. Sejak saat itu, wak Koneng disebut Koneng yang berarti bewarna kuning.</p>
<p>Walaupun tingkat pendidikan rendah, tapi wak Koneng termasuk orang yang cukup berhasil dibidang usaha pempek ini. Siapa yang tidak tahu pempek 000, pempek ini sudah merajai di lingkungan Pasar Sekanak. Pasar Sekanak ini berada didekat Benteng Kuto Besak yang berdampingan dengan Sungai Musi. Pasar Sekanak ini terkenal dengan pempek yang enak dan murah. Tak terkecuali pempek buatan wak Koneng. Kadang-kadang, orang lebih menyebutnya pempek wak Koneng.</p>
<p>Warung wak Koneng sudah termasuk warung pempek yang maju. Berbagai pempek setiap harinya diproduksi diwarungnya. Tentu saja dengan rasa ikan yang gurih. Bukan hanya pempek warung wak Koneng juga menyediakan berbagai jenis kerupuk ikan dan kemplang yang enak-enak. Omzet wak Koneng sebulan sekitar 150 juta rupiah.</p>
<p>Entah mengapa wak Koneng tidak membeli mobil pribadi untuk fasilitas keluarganya. Walaupun mempunyai uang yang banyak, Alin tetap saja ke sekolah menggunakan fasilitas umum. Kadang Alin mengeluh kepada bapaknya supaya dibelikan motor atau mobil, sehingga ada yang antar jemput ke sekolah. Maklum saja bus-bus yang ada di Kota Palembang sering ugal-ugalan. Tidak hanya sekali Alin harus kena copet, bahkan berkali-kali. Tapi apa yang harus dicopet dari seorang Alin. Ponsel bututnya selalu ditinggalnya dirumah. Dalam dompetpun hanya bertengger foto Angga yang dicurinya dari salah satu akun dijejaring sosial milik Angga, serta beberapa uang lembar ribu-ribuan sisa uang jajan Alin hari itu.</p>
<p>Usut punya usut ternyata wak Koneng sedikit mabuk jika berada lama dalam mobil. Itu yang menyebabkan wak Koneng belum membeli mobil hingga sekarang. Wak Koneng harus puas dengan memiliki sepeda motor yang digunakannya kemana-mana. Tapi rahasia ini hanya berada dilingkungan keluarga Alin, sehingga masyarakat sekitar sering menganggap keluarga wak Koneng sederhana.</p>
<p>Wak Koneng mengingat-ingat apa yang diminta Alin tadi. Sudah lama sekali anak semata wayangnya itu tidak dituruti kemauannya. Tadi pagi seorang pembeli mengatakan bahwa untuk apa semua harta yang dimiliki jika bukan untuk anak-anak. Karena itu, untuk menyenangkan hati anaknya, Wak Koneng sekali ini ingin membelikan sesuatu yang diiinginkan Alin. Tapi wak Koneng lupa apa yang tadi diminta Alin. Wak Koneng kebingungan, tapi untuk menyenangkan hati Alin, wak Koneng berusaha keras untuk mengingat sambil melayani pembeli pempek.</p>
<p>Tiba-tiba saja ada sepasang anak muda yang sedang terlibat asmara sedang makan di warung Wak Koneng. Sambil melayani pembeli yang emmbayar dikasirnya, wak Koneng menguping pembicaraan kedua sejoli ini.</p>
<p>‘beb, ih ilfeel nianlah aku denga si Rini tu, BBnyo bau nian ye’, kata seorang pembeli cewek</p>
<p>‘yo, kau omongke masalah BBnyo tuh’, kata sang cowok sewot.</p>
<p>‘iyo beb, kalo bb ini sih baunyo lain beb’, kata cewek dengan centilnya sambil menyodorkan kantong baju yang berisi BB.</p>
<p>Kedua sejoli itu senyum-senyum kecentilan hingga beberapa pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.Pendengaran wak Koneng yang sudah setengah–tengah ini membuat wak Koneng hanya mendengar tentang yang berhubungan dengan BB yaitu bau badan. Wak Koneng juga tidak mencerna apa yang dikatakan oleh kedua pembeli tadi mengenai istilah BB. Apalagi suasana warung wak Koneng mulai riuh rendah dengan kehadiran pembeli.</p>
<p>Mendengar pembicaraan tersebut, Wak Koneng bertekad pulang malam nanti akan membawakan BB untuk Alin. Wak Koneng sengaja menitipkan kasir dengan wak Dullah, pegawai wak Koneng yang paling dipercaya. Bisa dikatakan wak Dullah tangan kanan wak Koneng di warung pempeknya. Wak Koneng akan menemui wak Mahmud, teman sebaya wak Koneng untuk menanyakan saran lebih lanjut dari wak Mahmud mengenai BB.</p>
<p>‘asalamualaikom’</p>
<p>‘walaikumsalam, nah ado apo nian sore-sore lah sanjo kesini. Apo dak bukak warung tuh’, sapa wak Mahmud dengan ramah sambil menjulurkan tangan bersalaman.</p>
<p>‘cak ini kak, aku nih tadi dimintain Alin belike BB, nah menurut kau macam mano nih kak? Aku nih selamo ini idak pernah nyenengin Alin. apolagi dio nih anak semata wayang aku, aku pengen nyenengke Alin’, kata wak Koneng panjang lebar</p>
<p>‘belike, kapan lagi nak nyenengin anak. Mumpung masih ado inilah kak’, kata wak Mahmud langsung menimpali.</p>
<p>‘masalahnyo aku nih dak tau BB tuh apo kak, tapi dari yang kudenger-denger tadi bau badan kak’, kata wak Koneng curhat dengan wak Mahmud.</p>
<p>‘oi kak, raso aku bukan bau badan, anak mudo zaman sekarang nih, pake <em>handphone</em> yang lebar itu nah kak. Kalo dak yakin ngapo idak ditanyo langsung ke Alin be?’, tanya wak Mahmud.</p>
<p>‘rencano ni pengen suruprise kak. Nah, amun cak itu cari dimano <em>handphone </em>besak itu yo?’, kata wak Koneng dengan mantap mengatakan <em>surprise</em>, kata kejutan dalam bahasa Inggris.</p>
<p>‘nah kebetulan ado kawan aku tadi yang nak jual BB tuh, apo kito kesano be?’, kato wak Mahmud tidak sadar dengan kata <em>surprise</em> yang disebutkan wak Koneng tadi.</p>
<p>‘payolah sekarang kito kesano’, kata wak Koneng mantap.</p>
<p>Wak Koneng dan wak Mahmud mengemudikan motor wak Koneng menuju <em>rumah</em> teman wak Mahmud dengan sebelumnya wak Mahmud menelpon temannya tersebut. Sesampainya di rumah teman wak Mahmud tersebut yang terletak di sudut gang, teman wak Koneng yang sudah riang menunggu kedatangan mereka berdua.</p>
<p>‘nah, ini nah Jul, kawan aku nih nak nengok BB jualan kau ni’, kata wak Mahmud memulai pembicaraan.</p>
<p>‘nah ini nak kak, barang aku ni aseli, tapi barang belack market cak itu. Barang ni dak keno pajak, jadi murah’, kata Jul menjelaskan.</p>
<p>‘ngapo pacak dak keno pajak ni?’, tanya wak Koneng heran.</p>
<p>‘aih, permainan wong pelabuhan itulah kak, gampang sogok be petugas pemerintahnyo, gampang. Mereka tuh mato duitan kak, disogok dengan handphone baru be langsung galak’, jelas Jul panjang lebar.</p>
<p>‘berapo hargonyo ni?’, tanyo wak Koneng.</p>
<p>‘’kalo yang model cak ini sejuta limo ratus be, hargo perkenalan ni. Tapi kalo beli duo duo juta setengah be. Ini model terbaru kak, kalo hargo resminyo tigo jutaan kak’, kata Jul menjelaskan.</p>
<p>‘ngapo pacak cak itu?’, tanyo wak Koneng.</p>
<p>‘ini namonyo ni kak ye, belek market. Nah, kito ngambek langsung dari kapal pas turun, jadi dak keno pajak. Makonyo murah kak. Tapi aman kak barang ni, wong yang di cukai itu lah kito selesaike’, terang Jul berapi-api.</p>
<p>‘yo lah amun cak itu, aku ambek duo langsung be biar murah’, kato Wak Koneng mantap.</p>
<p>Transaksi berhasil, Jul merasa bahagia dan langsung tersenyum memberikan dua ponsel bebe yang langsung berpindah tangan ke wak Koneng.</p>
<p>Wak Koneng segera pulang kerumah setelah berpamitan kepada Jul dan Wak Mahmud. Segeralah diberikan kepada Alin BB baru tersebut. Bukan kepalang senang hatinya Alin. Keesokan harinya wajah Alin tampak sumingrah, tentu saja pin BB Angga sudah ditangan. Tentu saja Alin menjadi salah satu murid yang dibicarakan hangat karena Alin menggunakan BB dnegan model terbaru dan membuat iri beberapa perempuan yang sedari dulu juga menyukai Angga.</p>
<p align="center">&#8212;</p>
<p>Sejak saat itu Alin mempunyai fans klub tersendiri karena Alin sangat eksis dengan BB barunya. Alin juga aktif dibeberapa jejaring sosial seperti twitter, facebook dan Alin mulai menggunakan blog sebagai diary pribadinya yang diikuti hampir semua rata-rata penghuni sekolah. Beberapa tulisan Alin diblog diagkat menjadi tulisan majalah sekolah yang akhirnya membuat Alin semakin terkenal disekolahnya. Tentu saja Angga semakin terpesona dengan Alin.</p>
<p>Tiga bulan berlalu, tentu saja Alin menjadi primadona sekolah yang tak tertandingi. Melalui BB Alin berkenalan dengan banyak hal, belanja <em>online</em> hingga menghabiskan waktu dengan <em>browsing-browsing</em> lagu, <em>game </em>dan aktif secara media sosial. Atau ber-bbm ria dengan Angga hingga larut malam. Alin mulai keteteran dengan sekolahnya karena setiap malam Alin tidak sempat lagi membaca buku. Hingga pembagian raport datang dan Alin harus puas menduduki ranking kesembilan dikelasnya. Alin menangis dan malu sebenarnya. Belum lagi Wak Koneng yang marah karena nilai Alin yang turun.</p>
<p>‘cakmano pulo biso ranking sembilan tuh. Apo nak jadi tukang pempek keliling kau tuh hah? Apo gara-gara BB tuh?’, kata Wak Koneng memarahi Alin.</p>
<p>‘idak bak, nian bukan gara-gara BB karena aku nih sekarang masuk dikelas unggulan bak, jadi banyak yang pintar. Bukan cak kelas duo kemaren’, jelas Alin berbohong dan tau akibatnya bila BB ditarik maka hubungannya dengan Angga juga akan berakhir.</p>
<p>‘janji nian bak, kalo semester depan nih akan aku perbaiki nilai. Asal BB nih jangan ditarik’, ujar Alin.</p>
<p>‘Pemirsa baru saja polisi menggerebek rumah Jul yang terindikasi sebagai komplotan penjual ponsel blacberry secara ilegal. Tersangka Jul menjelaskan ada beberapa orang yang menjadi penadahnya, salah satunya siswa sebuah sekolah berinisial AD yang saat ini masih dalam pengejaran polisi.’</p>
<p>Wak Koneng terdiam. Terlebih Alin yang menduga AD adalah inisial dari Angga Dewantara.</p>
<p>Catatan :</p>
<p>Bak : bapak, pengen : ingin, pokoknyo : pokoknya, belike : belikan, Lah : sudah, makai : menggunakan, butut : jelek dan tua, kagek : nanti, nian : serius, wak : paman, lah : sudah, bukak : buka, sanjo : datang untuk main, cak : seperti/begini, macam mano : bagaimana, selamo : selama, idak/dak : tidak, nyenengin : menyenangkan, dio : dia, pengen : ingin, ngapo : mengapa, ado : ada, apo : apa, denger : dengar, ditanyo : ditanya, be : saja, rencano : rencana, ni : ini, oi : hei, pake : pakai, amun : kalo, hargo : harga, belek market : <em>black market</em>, tigo : tiga, kito : kita, selesaike : selesaikan, wong : orang, keno : kena,</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggerwijirahayu.com/bebe-oh-bebe.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Wisata ke Curup dan Kepahiang</title>
		<link>http://anggerwijirahayu.com/ayo-wisata-ke-curup-dan-kepahiang.html/</link>
		<comments>http://anggerwijirahayu.com/ayo-wisata-ke-curup-dan-kepahiang.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2013 02:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angger Wiji Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata da Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[curup]]></category>
		<category><![CDATA[danau harun bastari]]></category>
		<category><![CDATA[durian]]></category>
		<category><![CDATA[kepahiang]]></category>
		<category><![CDATA[strawberry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggerwijirahayu.com/?p=579</guid>
		<description><![CDATA[Menurut saya Bengkulu mempunyai tempat wisata yang kaya sekali. Kali ini kita akan mengupas wilayah bagian Rejang Lebong, ada apakah disana? Kita Mulai dari Kepahiang, daerah Kepahiang mempunyai sebuah kebun teh yang sangat luas. Usut punya usut kebun teh tersebut dulunya berasal dari era kolonialisme Belanda, sekitar dekade abad 18. Kebun teh yang sangat luas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fb-like" style=""><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://anggerwijirahayu.com/ayo-wisata-ke-curup-dan-kepahiang.html/&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=500&amp;action=like&amp;font=&amp;colorscheme=light&amp;locale=en_US" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:500px; height:31px"></iframe></div><p>Menurut saya Bengkulu mempunyai tempat wisata yang kaya sekali. Kali ini kita akan mengupas wilayah bagian Rejang Lebong, ada apakah disana?</p>
<p>Kita Mulai dari Kepahiang, daerah Kepahiang mempunyai sebuah kebun teh yang sangat luas. Usut punya usut kebun teh tersebut dulunya berasal dari era kolonialisme Belanda, sekitar dekade abad 18. Kebun teh yang sangat luas tersebut sering dijadikan objek wisata, sayang informasi sejarah mengenai kebun teh ini sangat minim. Lalu siapakah pengelolanya sekarang?<span id="more-579"></span></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/anggerwiji/8509810246/"><img src="http://farm9.staticflickr.com/8252/8509810246_566256f964_n.jpg" alt="IMG_1324" width="320" height="213" /></a></p>
<p>Ini Danau Harun Bastari, danau yang dikelilingi oleh eceng gondok dan beberapa tanaman air yang menjadi parasit. Disini ada fasilitas naik ketek (perahu) untuk mengitari Danau dan flying fox mengintari samping danau. Didanau ini ada burung belibis (Cairina Scutulata), kalau kita beruntung kita akan bertemu ketika mengelilinginya.</p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/anggerwiji/8509790172/"><img src="http://farm9.staticflickr.com/8392/8509790172_700416f887_n.jpg" alt="IMG_1482" width="320" height="213" /></a></p>
<p>Banyak sekali makanan lokal yang diproduksi didaerah Curup maupun Kepahyang. Segar sekali, dan jauh dari pestisida. Dikedua daerah ini (Kepahiang dan Curup) apa saja yang kamu tanam pasti akan hidup. Kedua daerah ini juga terkenal dengan sentra sayur mayur serta kopi yang terkenal lezatnya.</p>
<p>Diwilayah tersebut juga ada Bukit Kaba (maaf belum ada foto tersebut). Sebenarnya bukit kaba lebih tepat dibilang sebagai Gunung, karena ketinggiannya sekitar 2000 mdpl, yang melebihi batas kategori sebuah bukit. Jalur ke puncak bukit dapat dilalui dengan kendaraan bermotor dan berjalan kaki beberapa km.</p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/anggerwiji/8510990291/in/photostream"><img src="http://farm9.staticflickr.com/8234/8510990291_7ff941097b_n.jpg" alt="IMG_1432" width="320" height="213" /></a></p>
<p>Ini kebun strawberry, yipppi kalo sedang berbuah biasanya kamu bisa memetiknya langsung.</p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/anggerwiji/8512131558/in/photostream"><img src="http://farm9.staticflickr.com/8094/8512131558_9fe1ea44c9_n.jpg" alt="IMG_1488" width="213" height="320" /></a></p>
<p>Buah durian juga dapat dijumpai ditepian Kabupaten Kepahiang, biasanya buah ini dibawa dari Kabupaten Bengkulu Tengah yang diambil dari pohonnya langsung. Tentu seperti bentuknya yang lumayan, rasanya sungguh memukau dengan harga yang relatif murah, sekitar Rp. 25000/bh untuk durian yang besar. Mau?</p>
<p>Jika beruntung, kamu akan mendapatkan beberapa bunga Raflesia Arnoldi sedang mekar. Biasanya mekarnya hanya bisa sampai dua mingguan. Sayang foto bunga Raflesiaku tidak ada dilaptopku. Tapi nanti akan aku ceritakan mengenai bunga besar ini. Kalau ingin berwisata air, didaerah Curup kamu harus datang ke &#8216;Suban Air Panas&#8217;, kamu akan mendapatkan air panas dengan belerang langsung dari mata airnya.  Serta tak jauh dari air panas tersebut, ada air terjun yang dibawahnya kamu bisa main air dengan puas.</p>
<p>Jika kamu pecinta masakan lokal, ada suatu daerah dibelakang pasar bang mego tempat masakan asli masyarakat. Ada gulai bagar hiu, pendap yang menjadi menu jalan-jalan yang mengasyikkan. Nah, untuk pecinta jagung bakar, kamu bisa makan jagung manis dengan view kota Curup. Bengkulu is wonderfull island.</p>
<p>Happy Travelling</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggerwijirahayu.com/ayo-wisata-ke-curup-dan-kepahiang.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dear Diary</title>
		<link>http://anggerwijirahayu.com/575.html/</link>
		<comments>http://anggerwijirahayu.com/575.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2013 02:09:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angger Wiji Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggerwijirahayu.com/?p=575</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah kalian bosan dengan pekerjaan kalian? Yeah, tha&#8217;s great. Saat ini saya masih dalam masa tahap kebosanan yang luar biasa. Bekerja sebagai PNS seperti impian ibu saya, sebenarnya jauh sekali dari kenyataan siapa diri saya sebenarnya. Namun tentu saja sorot mata dan kebanggaan mama jadi lebih penting dari cita-cita saya.  Menjadi anak brokenhome tidaklah mudah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fb-like" style=""><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://anggerwijirahayu.com/575.html/&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=500&amp;action=like&amp;font=&amp;colorscheme=light&amp;locale=en_US" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:500px; height:31px"></iframe></div><p>Pernahkah kalian bosan dengan pekerjaan kalian? Yeah, <em>tha&#8217;s great</em>. Saat ini saya masih dalam masa tahap kebosanan yang luar biasa. Bekerja sebagai PNS seperti impian ibu saya, sebenarnya jauh sekali dari kenyataan siapa diri saya sebenarnya. Namun tentu saja sorot mata dan kebanggaan mama jadi lebih penting dari cita-cita saya. <span id="more-575"></span></p>
<p>Menjadi anak <em>brokenhome</em> tidaklah mudah. Sedari kecil banyak hal yang sudah saya alami, baik suka maupun duka. Tapi hal itu tidak pernah menghambatku untuk menjadi kreatif dan belajar menjadi manusia sesungguhnya. Sejak kecil saya sangat menyukai menulis. Beberapa puisi yang saya tulis pernah ditampilkan dan saya baca diacara-acara level kabupaten dan provinsi. Bahkan saya mendapatkan beberapa piala dibidang itu. Belum lagi deretan diary yang saya punya. Ah masa memiliki diary masa yang sangat indah bagi saya.</p>
<p>Lantas mama selalu bilang bahwa menjadi penulis itu miskin. Saya yakin sekali mama mengatakan itu karena kemiskinan yang melandanya sehingga dia berharap kami mampu merubah nasib kami. Saya lantas tak melanjutkan cita-cita saya. Namun, dunia ini tak lantas saja menghilang, dibangku kuliah saya mulai menemukan kepercayaan diri dengan membuat blog belajar menulis otodidak sembari saya kuliah dan mencoba bekerja. Disini saya yakin, inilah <em>passion</em> saya.</p>
<p>Saya lebih senang menyebut diri saya seorang blogger ketimbang seorang PNS. Saya sedikit tidak pede dengan sebutan itu. Awal masuk menjadi PNS saya begitu malu dengan diri saya sendiri karena tidak berani berjuang untuk cita-cita saya. Saya tidak kuat, tidak konsisten dan terlalu takut mengambil resiko karena tidak ada dukungan mama. Yeah, inilah akhirnya saya masuk ke dunia yang tidak saya inginkan dan akhirnya saya tidak totalitas mengerjakan apa yang ada dihadapan saya.</p>
<p>Selama menjadi PNS, saya selalu berusaha bekerja sesuai dengan SOP yang dihadapkan pada pekerjaan saya. Saya ke lapangan dan menerima tugas-tugas saya dengan baik. Alhamdulillah selama dua tahun bekerja saya belum pernah lalai terhadap tugas-tugas saya. Walaupun dalam kondisi hati saya yang sangat berkecamuk. Saya tau saya bermata pencaharian dari bidang itu sekarang, dan harus menjalankan konsekuensi dengan bertanggungjawab pada pekerjaan saya, seburuk apapun perasaan saya.</p>
<p>Tentu saja masuk ke sistem PNS bukan pula hal yang mudah. Setiap hari saya berhadapan dengan beberapa orang yang mengkesampingkan proses manajamen dan diskusi serta pengalaman dari lapangan. Saya berhadapan dengan masalah koordinasi dan pola pikir yang cenderung apatis. Serta pekerjaan <em>by project</em>, walaupun itu tidak keseluruhan. Saya tidak dapat mengembangkan diri disini dan merasa menjadi &#8216;<em>manusia mesin</em>&#8216;, bekerja seperti apa yang diperintahkan. Saya mati didalamnya, lemah, lunglai dan akhirnya saya hanya mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan.</p>
<p>Baiklah pertama yang saya pikirkan dalam otak saya, apa yang bisa kerjakan untuk masyarakat. Itu pertama kali yang saya pikirkan. Akhirnya saya membuat sebuah perpustakaan mini disebuah desa yang dikelola oleh masyarakat tersebut. Walaupun hingga saat ini masih sedikit buku yang ada tapi saya yakin bagi mereka buku-buku tersebut sangat bermanfaat. Saya membuat forum menulis bersama teman-teman, dan sekarang bersama teman-teman membuat forum kesehatan ibu dan anak. Bagi saya hanya itulah yang membuat pekerjaan saya semakin hidup. Disela-sela aktifitas saya masih menyempatkan diri ngeblog, ikut lomba menulis, belajar belajar membuat novel, menjadi tutor di UT Bengkulu dan <em>party time</em> dengan teman-teman.</p>
<p>Kadang saya yakin sekali, Tuhan punya rencana yang sangat indah. Melebihi apa yang saya duga, saya yakin bercita-cita menjadi penulis dan seorang pengajar bukan berarti akan mati saat ini. Terlebih ketika saya merasa hidup didalamnya. Semoga apa yang saya rintis dari nol saat ini menjadi bermanfaat kedepan. Saya yakin, walau hati saya berkecamuk saya yakin saya tidak akan mati karena itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggerwijirahayu.com/575.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merencanakan Kehamilan</title>
		<link>http://anggerwijirahayu.com/merencanakan-kehamilan.html/</link>
		<comments>http://anggerwijirahayu.com/merencanakan-kehamilan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 03:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angger Wiji Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehamilanku]]></category>
		<category><![CDATA[merencanakan kehamilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggerwijirahayu.com/?p=567</guid>
		<description><![CDATA[Pasca abortus dan kuretase bulan lalu, saya merencanakan kehamilan pasca sibuk-sibuk sensus pertanian usai. Sekitar Juni atau awal ramadhan tiba. Karena referensi yang saya baca mengenai kehamilan, kehamilan akan berjalan lancar jika ibunya secara fisik dan psikologis merasa nyaman. Yah, ternyata perencanaan kehamilan pertama memang saya merasa kurang matang. Padahal saya paham betul hak anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fb-like" style=""><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://anggerwijirahayu.com/merencanakan-kehamilan.html/&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=500&amp;action=like&amp;font=&amp;colorscheme=light&amp;locale=en_US" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:500px; height:31px"></iframe></div><p>Pasca abortus dan kuretase bulan lalu, saya merencanakan kehamilan pasca sibuk-sibuk sensus pertanian usai. Sekitar Juni atau awal ramadhan tiba. Karena referensi yang saya baca mengenai kehamilan, kehamilan akan berjalan lancar jika ibunya secara fisik dan psikologis merasa nyaman. Yah, ternyata perencanaan kehamilan pertama memang saya merasa kurang matang. Padahal saya paham betul hak anak yang diatur dalam Undang-undang, serta dalam agama.<span id="more-567"></span></p>
<p>Saya merencanakan kehamilan kedua dengan penuh hati-hati, kesiapan psikis dan ragawi menjadi penting. Sejak sekarang saya menyiapkan asupan gizi bagi tubuh saya, olahraga, banyak membaca referensi ahli, rutin konsultasi ke dokter dan menyiapkan perencanaan dana kelahiran, kesehatan, serta pendidikan kelak untuk sang buah hati. Kebetulan untuk perencanaan keuangan pendidikan sang buah hati, saya telah jauh hari merencanakan sendiri. Setidaknya ketika nanti ia masuk usia belajar, saya tidak repot dan tidak kesulitan memberinya yang terbaik. Saya juga sekarang menjadi selektif memilih dokter dan rumah sakit yang akan menjadi tempat persalinan nanti. Apakah dokter beserta perawatnya pro normal, pro ASI dan pro IMD. Ini menjadi penting, karena ini proses perkenalan pertama kali si baby ke dunia. Sehingga saya mengharapkan yang terbaik bagi bayi saya kelak.</p>
<p>Saya juga mulai menyiapkan diri dengan berbagai kebutuhan pengetahuan lainnya. Saya yakin, dengan pengetahuan yang lebih saya dapat mendidik anak-anak saya kelak menjadi manusia yang seutuhnya. Tidak lebih penting dari saya, melainkan mengajarkan dia menjadi manusia seutuhnya. Saya belajar, membaca, berdiskusi, menolong orang lain, mengajari diri saya untuk peka terhadap lingkungan, belajar menjadi sabar, belajar menjadi manusia.</p>
<p>Dalam tanyangan 360 Metro TV semalam, saya meneguhkan hati saya akan memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anak kelak.  Karena ketidakpercayaan saya pada lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Saya percaya sayalah nanti sebagai orang tuanya yang akan memberikan yang terbaik untuknya. Saya berencana memberikannya pendidikan <em>homeschooling </em>pada tingkat dasar. Kelak nantinya dia harus bersosialisasi dengan masyarakat secara langsung dan melihat permasalahannya dari kacamatanya. Ah, nanti saya yakin dia akan tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa.</p>
<p>Semalam seorang teman bertanya, &#8216;kenapa kamu pulang kerumah masih saja sibuk baca dan gak diem? gak capek apa kerja seharian?&#8217;, tanyanya kepadaku.  &#8217;saya merencanakan punya anak kembar, seandainya nanti mereka lahir dan tanya macam-macam mengenai hidup setidaknya saya punya pengetahuan dan memberikan dia jawaban yang mendekati rasional&#8217;, ungkapku.</p>
<p>Saya rasa, perempuan bukan hanya harus cerdas, melainkan pula peka terhadap lingkungannya. Mereka harus mampu berdiri diatas kakinya sendiri, tanpa harus bergantung pada orang lain. Karena dia akan menjadi pendidik yang paling baik bagi anak-anaknya kelak. Ayo merencanakan kehamilan, merencanakan menyambut sang buah hati. Agar mereka mendapatkan hak-hak mereka secara adil.</p>
<p>Semangat Pagi</p>
<p>Bengkulu, 8 Februari 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggerwijirahayu.com/merencanakan-kehamilan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Representasi Pemberitaan Perempuan dalam Media Massa</title>
		<link>http://anggerwijirahayu.com/representasi-pemberitaan-perempuan-dalam-media-massa.html/</link>
		<comments>http://anggerwijirahayu.com/representasi-pemberitaan-perempuan-dalam-media-massa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2013 08:43:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angger Wiji Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literasi Media]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan terhadap perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pemberitaan media]]></category>
		<category><![CDATA[representasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggerwijirahayu.com/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[Oleh    : Angger Wiji Rahayu (Diterbitkan dalam SAPA Cahaya Perempuan WCC dalam Harian Rakyat Bengkulu) Bukan sebuah rahasia lagi, jika terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan, berita tersebut menjadi bulan-bulanan media. Media kita masih menjadi media yang sangat menyukai bentuk-bentuk berita yang mengorek-ngorek pribadi individu. Kasus-kasus pribadi menjadi sangat penting dalam headline media, bahkan kasus-kasus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fb-like" style=""><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://anggerwijirahayu.com/representasi-pemberitaan-perempuan-dalam-media-massa.html/&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=500&amp;action=like&amp;font=&amp;colorscheme=light&amp;locale=en_US" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:500px; height:31px"></iframe></div><div>
<p><strong>Oleh    : Angger Wiji Rahayu</strong></p>
</div>
<p><strong>(Diterbitkan dalam SAPA Cahaya Perempuan WCC dalam Harian Rakyat Bengkulu)</strong></p>
<p>Bukan sebuah rahasia lagi, jika terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan, berita tersebut menjadi bulan-bulanan media. Media kita masih menjadi media yang sangat menyukai bentuk-bentuk berita yang mengorek-ngorek pribadi individu. Kasus-kasus pribadi menjadi sangat penting dalam headline media, bahkan kasus-kasus tersebut seringkali dijadikan alasan politis untuk kepentingan tertentu. Perempuan korban kekerasan seringkali menjadi objek kekerasan kedua kalinya dalam media untuk melanggengkan bukan hanya kepentingan politis tertentu, namun juga kepentingan media terhadap sebuah pemberitaan.<span id="more-564"></span></p>
<p>Walaupun seringkali media mencoba menghormati perempuan korban kekerasan terhadap perempuan, misalnya dengan menyembunyikan identitas korban dan menyampaikan deskripsi kronologis kasus dengan singkat, namun cukup banyak media lain justru melakukan kekerasan dengan pengobjekan perempuan korban kekerasan.  Media seringkali bersikap tidak adil kepada korban, bahkan yang lebih naifnya lagi, media bersimpati kepada pelaku. Media mengobjekkan korban sebagai perempuan yang juga awalnya merupakan pelaku terjadinya tindak kekerasan. Seperti yang diungkapkan oleh Piliang dalam Sorbur,</p>
<p><em>“Kekerasan terhadap perempuan—dengan mengacu pada pengertiannya yang paling luas—pada kenyataannya tidak hanya berlangsung pada tingkat ‘realitas’ (berupa pemukulan, perkosaan atau pelecehan) akan tetapi juga pada tingkat ‘representasi’ dari realitas tersebut di dalam berbagai media representasi.”</em></p>
<p>Artinya, bagaimana bentuk dan cara sebuah ‘realitas kekerasan’ direpresentasikan di dalam berbagai media representasi telah merupakan sebuah bentuk ‘kekerasan’ itu sendiri. Sehingga sikap tidak empatis pada korban, dan bias gender yang berpihak pada pelaku pada berita merupakan sebuah representasi dari kekerasan terhadap perempuan itu sendiri dalam media. Apalagi jika perempuan korban kekerasan diberi stigma sebagai “bukan perempuan baik-baik”. Sehingga secara tidak sadar, memaksa masyarakat memberikan arti bahwa kekerasan terhadap perempuan diawali oleh perempuan itu sendiri sebagai penyebab terjadinya kekerasan. Sungguh suatu pemaksaan yang tidak adil, yang melanggengkan budaya patriarki itu sendiri dalam masyarakat.</p>
<p>Contoh yang sangat konkret adalah terlihat dari pemilahan bahasa yang digunakan media untuk menggambarkan suatu kejadian perkosaaan. Dengan menggunakan ”bahasa banci” yang memaksa masyarakat meraba-raba dan menebak-nebak makna yang terkandung. Misalnya saja contoh judul berita perkosaan di media cetak ”Remaja ABG Digarap Sepulang Sekolah” atau ”Digauli ayah Tiri selama 1 Tahun”. Kedua contoh judul diatas merupakan sebuah bentuk representasi kekerasan terhadap perempuan dalam media massa. Bagaimana tidak, perempuan diposisikan sebagai kaum yang lemah yang hanya ingin diposisikan sebagai ”korban” yang tak berdaya. Penulisan judul saja sudah membuat asumsi dalam benak masyarakat bahwa perempuan merupakan mahluk yang bisa diperlakukan semena-mena.</p>
<p>Ini belum lagi termasuk kedalam isi yang juga sarat akan kekerasan terhadap perempuan pada tingkat representasi. Seringkali deskripsi korban dijadikan senjata secara sengaja untuk menggambarkan bahwa perempuan juga merupakan pelaku. Contohnya saja, ”Gadis (Bunga bukan nama sebenarnya, 16 tahun), bertubuh sintal dan kulit putih digarap pada saat pulang sekolah disebuah gubuk”. Secara naluriah, jika kita membaca tulisan ini, maka kita akan berasumsi bahwa perempuan tersebut memancing laki-laki untuk melakukan tindakan kekerasan. Bukankah itu suatu bentuk kekerasan secara psikologi yang kedua kalinya didapatkan oleh perempuan? <em>Starting point</em>nya yang perlu digaris bawahi adalah ”Perempuan mana yang ingin terjadi kekerasan dalam hidupnya?”</p>
<h1>Media sebagai Agen Konstruksi Realitas</h1>
<p>Pekerjaan media pada hakikatnya adalah mengkonstruksikan realitas. Isi media adalah hasil dari konstruksi realitas yang dipilih para pekerja media untuk ditampilkan kepada khalayak. Konstruksi realitas pada media merupakan hasil peristiwa-peristiwa tertentu yang dipilih berdasarkan kepentingan-kepentingan. Menurut Bauer dan Bauer dalam Barker (2000:278), menyatakan bahwa media yang berkembang dengan baik mengemban pengaruh yang cukup untuk membentuk opini dan keyakinan, mengubah kebiasaan hidup. Secara aktif media juga membentuk perilaku yang kurang lebih sesuai dengan keinginan orang-orang yang dapat mengendalikan media dan isinya. Semua teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi tertentu (Eriyanto, 2001:13).</p>
<p>Media massa menyusun realitas dari berbagai peristiwa yang terjadi hingga menjadi cerita atau wacana yang bermakna. Dengan demikian seluruh isi media adalah realitas yang telah dikonstruksikan (<em>constructed reality</em>) dalam bentuk wacana yang bermakna. Media adalah agen yang secara aktif menafsirkan realitas untuk disajikan kepada khalayak (Hamad, 2004:11-12).Namun, ada sebuah konsep filosofis yang mengatakan bahwa yang kita lihat bukanlah realitas, melainkan representasi (<em>sense datum</em>) atau tanda (<em>sign</em>) dari realitas yang sesungguhnya, yang tidak dapat kita tangkap. Yang dapat ditangkap hanyalah tampilan (<em>appearance</em>) dari realitas dibaliknya (Straaten dalam Sorbur, 2006:930).</p>
<p>Dalam konteks media-khususnya pemberitaan mengenai perempuan di dalamnya-representasi perempuan didasarkan atas sebuah ideologi besar. Menurut Piliang, ada banyak prinsip bagaimana ideologi beroperasi dalam produksi makna-termasuk makna dalam media. Di antara prinsip tersebut adalah apa yang disebut sebagai prinsip ‘oposisi biner’ (<em>binary opposition</em>), yaitu semacam prinsip polarisasi segala sesuatu (tanda, kode, makna, stereotip, identitas) yang di dalamnya terjadi proses generasilasi dan reduksionisme, sedemikian rupa sehingga segala sesuatu dikategorikan ke dalam dua kelompok yang ekstrim, saling bertentangan dan kontradiktif.</p>
<p>Dalam media mengenai kasus kekerasan terhadap perempuan konsep-konsep oposisi biner tersebut, terpolarisasi dari ideologi patriarki secara garis besar. Ideologi patriaki membagi prinsip oposisi biner dalam konsep maskulinitas dan feminitas yang terkonstruksi secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan diposisikan secara budaya sebagai makhluk yang lemah dan tak berdaya. Sedangkan laki-laki diposisikan sebagai mahluk yang kuat dan mendominasi. Bahkan perumpamaan ini hanya sedikit sekali ungkapan mengenai konsep maskulinitas dan feminitas. Pembagian prinsip-prinsip dasar sifat ini terkonstruksi dalam masyrakat kita yang patriarki, sehingga adanya penerimaan secara mutlak yang tidak adil dalam masyarakat. Penegasan ini didukung oleh media yang dianggap sebagai agen informasi.</p>
<p>Lebih lanjut menurut Piliang, di dalam media-termasuk media pers-ideologi beroperasi pada tingkat bahasa, baik ‘bahasa tulisan’ maupun ‘bahasa visual’. Ideologi pada tingkat bahasa atau linguistik melibatkan yang pertama, pilihan (<em>choices</em>) kata-kata, kosa-kata, sintaks, gramar, cara pengungkapan, pada tingkat paradigmatik (perbendaharaan bahasa), dan yang kedua, tingkat seleksi (<em>selection</em>) yaitu penentuan kata atau bahasa berdasarkan pada berbagai pertimbangan ideologis.</p>
<p>Jika begitu, dominannya ideologi patriarki mempengaruhi kehidupan masyarakat menjadikan polarisasi maskulin dan feminin menjadi suatu bentuk yang konkret dan kodrat, bukan hanya ideologi saja. Kodrat baru yang diterima oleh masyarakat dijadikan sebagai tolak ukur dalam penerimaan apa yang disampaikan oleh media. Bahwa maskulin dan feminin merupakan kodrat bukan hasil konstruksi sosial. Dan itu direduksi secara massal oleh masyarakat. Sungguh naif, jika kita tak mampu menjabarkan yang mana kodrat dan yang mana konstruksi realitas, padahal kita hidup di era yang penuh dengan informasi.</p>
<p>Daftar pustaka :</p>
<p>Barker, Chris. (2000), <em>Cultural Studies</em>, Bentang, Yogyakarta.</p>
<p>Hamid, Hasan Lubis. (1993), <em>Analisis Wacana Pragmatik</em>, Angkasa,Bandung.</p>
<p>Sobur, Alex. (2006), <em>Semiotika Komunikasi,</em> Remaja Rosdakarya, Bandung.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggerwijirahayu.com/representasi-pemberitaan-perempuan-dalam-media-massa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
