Slideshow
Tags & Categories

Archive for the ‘Serumpun Cerita’ Category

Batik Indonesia is our fashion. Great, slogan itu harus kita galakkan sedari dini. Sebagai suatu warisan budaya yang tak ternilai harganya, keunikan batik bukan saja menciptakan sebuah taste tersendiri, melainkan juga memiliki nilai nasionalisme yang sangat kuat.

Menggunakan batik ke acara resmi ataupun ke kantor sudah digalakkan dan menjadi budaya sendiri. Dari anak sekolah hingga pegawai kantoran, ataupun untuk acara yang semi formal, batik telah menjadi tempat tersendiri. Motif yang beragam, garis potongan baju yang juga sudah bervariasi membuat batik menjadi pilihan alternatif yang menarik.

Saat ini pilihan batik untuk kegiatan keseharianpun sudah sangat beragam. Dari blouse, kaos, kemeja, rok hingga berbagai aksesoris cantik yang saat ini menggunakan motif batik. Benar-benar batik is our fashion.

Harga batik juga sangat bersaing dimasyarakat. Dari atasan seharga dua puluh lima ribu rupiah, hingga ratusan bahkan jutaan rupiah tersedia. Tentu dengan kualitas pula yang beragam. Batik dibuat dengan tiga macam cara. Cara tersebut menentukan pula kualitas dan harga yang bervariasi.

Batik klasik, atau yang sering disebut batik tulis menempati urutan pertama pada kualitas batik yang paling pertama. Pengerjaannya dengan pewarnaan alam dan ditulis dengan tangan menjadi keunikan yang menghasilkan kualitas yang sangat prima. Pengerjaannya yang sedikit rumit, tak akan bisa digantikan dengan hasil yang sangat memuaskan. Mengenakannya pula tentu akan sangat terlihat istimewa sekali.

Batik lukis, batik klasik yang pengerjaannya sama seperti batik-batik lainnya, menggunakan pewarnaan, canthing, kain. Namun, motif batik yang terimajinasi dalam lukisan membuat batik lukis menjadi batik yang kuat dalam motif dan design gambar.

Batik cap, batik yang pengerjaannya menggunakan cap untuk memudahkan pengerjaannya. Kualitasnya dianggap menengah dan batik ini dianggap semi modern. Walau tidak seistimewa batik tulis, batik cap menjadi favorit karena harganya mudah dijangkau dan kualitasnya yang lumayan baik.

Batik printing, batik ini saat ini banyak tersebar disemua tempat. Batik ini pengerjaannya menggunakan alat yang menggunakan motif batik. Walaupun kualitasnya dianggap minim. Namun, pencinta batik banyak yang menggunakan batik jenis ini karena harganya yang super terjangkau.

Berbagai kelebihan dan kekurangan batik yang ada, namun namanya tetap satu yaitu batik. Hal yang paling terpenting dari batik adalah bagaimana kita mempopulerkan batik menjadi batik is our fashion dengan menggunakan batik buatan masyarakat Indonesia.

Kenyataannya, barang-barang gempuran import yang lebih murah dan bervariasi membanjiri pasar di Indonesia. Menggalakkan Batik Indonesia menjadi sebuah ikon, juga harus dibarengi dengan kecintaan kita terhadap kualitas dalam negeri.

Kita harus peka dan menjunjung tinggi nilai penghargaan terhadap hasil karya masyarakat lokal. Kita harus bersungguh hati mencintai hasil karya masyarakat lokal dengan cara membeli batik dan menggunakan batik buatan masyarakat Indonesia asli.

Dengan begitu, kita akan bangga mengatakan bahwa ‘Batik is Our Fashion‘. Menunjukkan pada dunia, bahwa kita berkarakter kuat dan punya pilihan

‘Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Batik Indonesia, kerja sama Blogfam dan www.BatikIndonesia.com

Genap sudah umurku di 24 tahun kemarin. Tepat pada Minggu, 4 Oktober 1987, pukul 03.15 WIB, aku lahir ke dunia. Tepat pula kemarin aku sudah tidak berada dalam masa remaja lagi. Sudah satu hari aku menjalani umur dalam tahap perempuan dewasa. Perempuan yang mulai matang secara reproduksi dan mandiri secara keseluruhan.

Aku merasa, aku baru memulai hidup lagi. Belum banyak yang sudah kulakukan untuk dunia ini di usiaku yang ke 24 tahun ini. Merasa bahwa secuilpun waktu tak akan kulewati untuk hal sia-sia. Saat ini masih banyak yang belum dapat kulakukan. Hal terbesar yang mulai dapat kulakukan pada masa remaja adalah, aku tidak takut lagi dengan kegelapan pada saat tidur dan mampu makan sayur-mayur. Namun pencapaian tersebut belum dapat dikatakan sempurna, karena aku belum mampu berenang dan melakukan kegiatan dalam air.

Kemarin, hari yang sangat bahagia, berbagai ucapan datang dari semua media komunikasi. Baik dari teman, sahabat, adik, kakak, relasi, keluarga dan pacar. Semua memberikan doa-doa yang berlimpah dan harapan-harapan yang tak pernah pupus, agar aku mampu menjadi yang terbaik. Tercurah pula ucapan-ucapan bahagia datang bertubi-tubi dengan cara yang berbeda-beda.

Momentum 24 tahun ini, menjadi sangat berharga karena pada titik ini aku akan memulai hal baru dengan kesiapan-kesiapan yang sungguh berbeda. Tahun ini harus lebih baik lagi. Menyongsong harapan-harapan yang tak pernah mati bersemanyam dalam jiwa raga ini. Terima kasih untuk mama, yang tak pernah letih memberikan semangat-semangat dan harapan untuk kehidupan dan dunia pada umumnya hingga titik ini.

Selamat ulang tahun jiwa dan ragaku. Satu titik momentum untuk menjadi terbaik.

untuk 4 Oktober..

 

 

Pernahkah kau melihat matahari selebar tampa? Rasanya pernah, ketika sore menjelang kala itu dan aku menantikanmu pulang.

Pernahkah kau menginginkan seuntai rambut panjang menjuntai dibahumu? Rasanya pernah, ketika matahari tentu saja selebar tampa. Tak setiap kali, tak setiap rasa. Kita menginginkan suatu hal yang tak ingin kulakukan. Tapi aku menantikannya.

Ya, Matahari.. Izinkan aku mulai bercerita dalam kelam malam ini. Ketika tubuhku mulai letih, dan kau tak ada disini. Bulanpun tak menemaniku. Hanya seuntai rambut panjang dan harapan-harapan yang tak akan pernah mati.

Ya, izinkan saja matahari. Aku tau kau tetap berada pada tempatmu. Aku saja yang sedang berkeliling dan belum ingin pulang. Aku saja yang tetap mencari kegelapan malam, dan terangnya bintang-bintang dalam pantulan bulan.

Ya, biarkan saja matahari. Aku tak ingin cepat usai, biarkan kali ini aku menikmati malam yang tiada henti. Merasuki relung-relung terdalam yang menjebak rasa. Menjuntaikan rasa yang tak terkira. Menikmati hati yang tengah bergelut pada malam yang tak terkira.

Ya, biarkan saja matahari. Aku ingin memulai dengan yang kurasa. Dengan perasaan suka cita yang tak henti. Menyerobot relung-relung yang terasa teramat dalam. Bagaikan sastra yang bertemu pada malam, lalu bergelut dalam keramaian dan kesunyian. Dua dekade yang mampu menyatukan rasa.

Ya, biarkan saja matahari. Biarkan aku menuntaskan rasaku, pada titik terdalam. Agar rasa ini muncul seperti adanya. Ketika pagi menyertai, kita akan merasakan sebuah cinta yang tak terkira.

Ya, matahari. Aku akan tetap pulang. Pada rumah yang aku impikan. Pada rumah yang dia pula impikan. Pada rasa yang menyatu. Pada rumah yang nantinya kami pahat bersama, dengan buliran embun yang tak pernah padam.

Pada rasa itu, aku akan pulang. Pada rumah. Ya rumah, satu kata yang tak akan pernah berhenti pada satu titik saja. Ketika pagi dan malam akan kita mulai. Aku menginginkannya.

Merindukannya.

Bengkulu, 22 September 2011

 

Banyak yang punya telinga tapi tak bisa mendengar. Banyak yang punya mata, tapi tak mau melihat. Banyak yang punya rasa tapi tak mampu merasai.

Dear Rasa,

Ada terbersit rasa lain. Ada tercurah sebuah senjata, ada pula tercurah sebuah bom atom yang meledak-ledak. Tak ada yang dapat merasai, tak ada yang mampu mencurahkan semuanya. Cukup sudah, tak ada pula gunanya meluncurkan roket dan akhirnya serbuknya melukai mataku sendiri.

Ya, tak akan kulukai sendiri lagi tubuhku ini. Tak akan kurasakan lagi sebuah ilusi yang memenggal rasa. Tak kurasakan lagi sudut malam yang dingin dan menyentuh urat-uratku. Kulupakan semua, semua, semua.

Inginku, kuledakkan saja bumi ini. Inginku kuracuni saja semua air yang mengalir. Inginku hembus saja, kepanasan yang meledak di udara. Inginku, kubumihanguskan saja semua yang ingin hidup didalam tanah ini.

Aku merasakan sebuah emosi yang tersublimasi, serta akhirnya menciptakan sebuah prototype baru. Emosi dalam bumi mencurahkan sebentuk partikel atom yang menggerombol menjadi lautan merah. Seperti sang surya, terlihat kemerahan di ufuk senja.

Kurasakan pula, mata ini tak pernah mampu menantang sang surya tepat diatas saja. Mata ini terlalu ketakutan untuk melakukan kata hati. Mata ini terlalu takut untuk mengambil sikap, dan akhirnya terjerumus sendiri dalam liang yang pekat. Menjadi seoonggok makanan cacing yang berkeliaran.

Kulihat pula Telinga ini selalu memerintahkan tangan untuk menutup lubangnya. Membuatnya hanya menjadi seonggok daging yang menyembul keluar dari bulatan bola saja.

Oh tidak. Ingin kuledakkan saja bumi ini. Agar aku merasa, dan mampu merasai. Sebuah rasa yang tak ingin tertinggal disini saja. Sebuah rasa yang ingin mendayuh sendiri saja. Ingin terus bermimpi. Ingin terus saja kukejar. Ingin terus saja kuledakkan bumi ini.

Ingin terus saja kubumihanguskan. Ingin saja semakin kumelukai. Kucaci maki pula. Inginku saja. Inginku juga. Ingiku rasa. Ingnku teriak. Inginku katakan saja. Tak ada yang merasai ketika seorang putri mengatakan “deaf no problem”.

@Trees side with love

Bengkulu, 21 Agustus 2011

 

Pendataan Program Pelayanan Perlindungan Sosial 2011 telah memasuki minggu kedua. Dalam minggu kedua ini telah banyak sekali catatan dari celotehan petugas pendataan di lapangan yang ditangkap oleh penulis. Beberapa hal tersebut :

1.Pendataan ini menimbulkan asumsi di tingkat masyarakat untuk penerimaan program bantuan dalam waktu dekat. Sehingga banyak masyarakat yang seharusnya tidak masuk dalam kategori masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah mengajukan diri dalam proses pendataan.

2. Program bantuan langsung klaster 1 (seperti BLT, raskin dll), sungguh memiskinkan pula mental masyarakat. Banyak sekali masyarakat yang meminta menjadi “miskin”, agar mendapatkan pula bantuan tersebut.

3. Kemiskinan sangat sulit didefiniskan, karena kemiskinan ternyata bersifat relatif. Sebagai contoh, sebuah rumah tangga yang dianggap menengah, karena dianggap memiliki aset kepemilikan barang yang lumayan. Seperti hp, mobil, motor namun sebenarnya dalam keadaan yang tidak layak pakai.

Contoh lainnya, sebuah rumah tangga pula yang dianggap menengah namun ketika istrinya akan melahirkan dengan proses caesar. Maka rumah tangga tersebut serta merta akan jatuh menjadi miskin untuk membayar proses kelahiran tersebut. Jika sudah begitu bagaimana perlindungan sebenarnya didefinisikan?

4. Saat ini konsep “rumah tangga” dan “keluarga” masih belum dipahami dengan baik baik ditingkat masyarakat maupun dilevel pemerintahan. Konsep ini menimbulkan perbedaan asumsi yang mengenai penerapan program-program yang dijalankan. Sehingga sering menimbulkan asumsi pendataan yang tidak tuntas.

Catatan-catatan ini hasil dari seloroh lapangan yang diungkapkan oleh petugas lapangan. Menurut mereka, dalam pendataan ini kita harus mengggunakan hati nurani dan kerasionalan yang tak henti. Ada lagi pertanyaan yang sangat mengganggu pikiran penulis, apakah negara ini telah begitu miskinnya sehingga memberi perlindungan sosial kepada setiap warga negaranya sangat sulit sekali?

Terima kasih untuk petugas-petugas lapangan Kecamatan Pino untuk diskusi yang tiada henti (Jono, Apandi, Sumardi, Supriadi, Yunita, Miridian Asri)

Bengkulu, 30 Juli 2011, 10 :31

 

“Kenapa gak pake jilbab saja?”, seorang laki-laki bertanya padaku.

“lebih cantik kalo pake jilbab, lebih terasa anggun dan lebih agamis”, ujar seorang laki-laki padaku.

“berjilbablah, nanti kiamat”, canda seorang teman padaku.

“penampilan berjilbab lebih baik dan orang memandangnya lebih baik”, nasihat seorang teman kepadaku.

“sekarang aku merasa lebih baik dengan jilbab, ayo kapan menyusul?”, curhan seorang teman kepadaku.

Ada Apa dengan Jilbab?

Dewasa ini, jilbab menjadi trend fashion masa kini yang tak kalah saingnya dengan trend musim lainnya. Ada yang bergaya Pakistan, Arab, serta trend-trend lain yang silih berganti naik daun. Dengan berbagai corak dan warna-warna yang sangat menarik hati.

Jilbabisasi sejatinya mulai sejak abad 21-an. Perempuan Melayu yang dulunya suka menggunakan selendang dan berbaju kurung, sekarang telah mengganti penutup kepalanya dengan menggunakan jilbab. Syndrome jilbab memang sudah merasuki para perempuan di Indonesia, bahkan di negara-negara Asia lainnya yang pula berumpun Melayu.

Tuntutan zaman akan penggunaan jilbab menjadi sebegitu merebaknya ditambah dengan trend fashion yang semakin marak. Industri fashion muslim saat ini juga tak kalahnya menjadi sebuah industri besar lainnya. Tentu pula dengan pendidikan kepada konsumen menjadi konsumen yang konsumtif.

Hal ini tidak dapat dipungkiri, bahwa perkembangan dunia fashion tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan peradaban saat ini. Jilbab, sebuah penutup kepala dianggap sebagai alat yang lebih beradab dan lebih manusiawi untuk menutupi tubuh perempuan.

Jilbab pula dianggap sebagai lambang untuk menilai akhlak dan moral seorang perempuan. Menjadi alat penilai untuk kebaikan diri dan sebuah manifestasi peradaban baru kedepan. Namun, dibalik itu semua, ada sedikit catatan yang sangat mengganggu pikiran penulis.

Pertama, jilbab sungguh-sungguh mewacanakan aurat ketubuhan perempuan yang dianggap sebagai dosa (dalam agama tertentu) dan pembuat dosa. Pengukuhan ini diperkuat dengan pengakuan bahwa jilbab adalah sebuah lambang kebaikan untuk menutupi sebuah kejahatan.

Hal ini adalah sebuah ladang investasi bagi ideologi patriarki, yang menciptakan benih-benih kekerasan terhadap perempuan berbasis gender. Jilbab secara tidak langsung mengukuhkan bahwa tubuh perempuanlah yang bersalah atas kasus-kasus terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Tubuh perempuan juga masih dianggap sebuah bentuk tabu dan sumber masalah.

Kedua, jilbabisasi pula secara tidak langsung telah mendeskriditkan perempuan yang tidak menggunakan jilbab. Asumsi perempuan jilbab sebagai perempuan yang agamis dan berakhlak mulia, memproduksi makna bahwa perempuan yang belum menggunakan jilbab merupakan perempuan yang belum agamis. Perempuan yang masih belum berada dalam keadaan dijalan yang benar.

Ketiga, jilbab menjadi identitas bagi seorang perempuan dalam agama tertentu. Keyakinan terhadap sebuah agama tertentu menurut kacamata penulis merupakan hak seseorang, termasuk identitas diri seseorang. Maka secara tidak langsung pula jilbab memberikan konstribusi besar dalam indonesiaisasi (baca : penghapusan nilai-nilai perbedaan).

Keempat, jilbab mewariskan nilai-nilai baru mengenai konsep aurat dalam budaya lokal. Pemaknaan aurat menjadi sangat lain, karena dikonotasikan sebagai bentuk lain (the other) dan harus tertutup. Padahal pemaknaan aurat disetiap daerah seharusnya bersifat sangat lokal dan subjektif sekali. Namun, pada akhirnya, jilbab meruntuhkan pula kerifan lokal mengenai pengakuan aurat perempuan dan laki-laki.

Beberapa catatan diatas merupakan hasil perenungan yang tiada henti dari penulis. Bahwa saya tidak dapat mengatakan siapa saya tanpa ada identitas. Identitas boleh saja semuanya wajib menggunakan KTP, tapi tidak mengapakan bila didalamnya tertulis nama yang berbeda dan agama yang berbeda pula. Saya rasa, sungguh aneh bila kita semua sama.

Bengkulu, 21 juli 2011, 23 :58

Pernikahan bukan lembaga pelayanan seksual, bukan pula lembaga full services untuk saling menindas..

Launching Klub Istri Taat Suami (KTS) pada 19 Juni 2011 di Indonesia merupakan salah satu bentuk bahaya laten bagi perempuan. Mengapa tidak? Klub yang awalnya lahir di Malaysia ini merupakan klub yang mengajarkan beberapa hal yang mendeskriditkan kaum perempuan. Beberapa hal tersebut, antara lain :

Pertama, pelayanan seksual seperti PSK kelas atas. Pelayanan seksual ini, dijabarkan sebagai pelayanan seksual yang memuaskan suami, dalam artian sepihak saja. Jelas sekali tidak mempertimbangkan asas kepentingan istri sebagai manusia. Pelayanan juga dilakukan dengan tanpa kata ‘menolak’. Artinya, perempuan wajib melayani suami kapanpun dan dimanapun suami inginkan.

Kedua, istri diajarkan untuk menerima jika suami ingin berpoligami. Artinya, istri harus siap jika dipoligami dengan kondisi apapun.

Ketiga, istri diwajibkan melakukan pelayanan kepada suami dengan rate ‘sangat memuaskan dan full services“. Termasuk pelayanan kebutuhan hidup suami.

Keempat, pernikahan hanya dianggap sebagai lembaga pelayanan seksual semata.

Kelima, agama dikambinghitamkan menjadi dasar untuk melanggengkan budaya patriarki.

Kelima hal inilah dalam kacamata penulis merupakan bahaya laten terbesar bagi kaum perempuan. Hal ini dikarenakan :

  • hubungan seksual dalam hubungan suami istri hanya mementingkan satu pihak saja. Sehingga kemungkinan besar perempuan tidak mempunyai hak untuk berpendapat. Perempuan juga punya hak untuk mendapatkan kebutuhan biologis setara dengan laki-laki,
  • hubungan seksual juga hanya dilihat sebagai pemuasan kebutuhan saja (nafsu) sepihak saja, tapi tidak dilihat sebagai bentuk kebutuhan manusia secara biologis,
  • jika pelayanan seksual dilakukan seperti PSK kalangan atas, ada kemungkinan yang terjadi, apakah si suami pernah mencicipi kehidupan seksual bersama PSK kalangan atas?
  • jika poligami dijadikan alasan agar suami tidak jajan diluar. Maka sebenarnya ada pertanyaan mendasar yang harus dijawab. Laki-laki macam apakah yang menjadi suami tersebut? Apakah hanya menginginkan kebutuhan seksual dalam pernikahan? (Sedangkan Tuhan saja tidak ingin diduakan, Dia pencipta alam semesta)
  • perempuan hanya dianggap makhluk nomor dua saja, karena posisi tawarnya sebagai perempuan dan sebagai istri menjadi sangat lemah. Termasuk keputusan hidup istri dan anak-anaknya. Perempuan hanya dijadikan alat  dan mesin produksi bagi kebutuhan suami,
  • sebagai alat, perempuan menjadi tidak mempunyai hak untuk bersuara dan menyatakan pendapat juga dalam hak memutuskan suatu hal dalam kehidupannya,
  • pernikahan juga hanya dianggap sebagai lembaga pelayanan seksual dan full services saja. Jika begitu, ruang gerak istri sebagai perempuan di ranah produktif akan terbatasi. Padahal pernikahan bukanlah lembaga pembatasan ruang gerak untuk menjadi produktif berkarya,
  • tidak ada satupun agama yang mengajarkan untuk menyakiti orang lain, dan mengajarkan tidak menghargai sesama manusia. apakah benar agama mengajarkan kita untuk melakukan hal diluar batas kita sebagai manusia?

Sungguh naif sekali bila hal itu terjadi. Perempuan hanya diposisikan sebagai “mesin” dan “alat” dalam kehidupan tak ubahnya robot dan remote controlnya dikendalikan oleh laki-laki sebagai suami.

Perempuan bukan begitu, bukan pula begini. Namun perempuan pula seorang manusia biasa, yang punya hak untuk mengatakan “TIDAK” bila tak ingin. Punya hak pula untuk dihargai sebagai manusia. Punya rasa pula untuk berkarya.

Bengkulu, 19 Juli 2011

Seorang laki-laki bertampang seram seperti terbangun dari tidur siangnya yang pulas. Mungkin saja, anak buahnya yang membangunkan. Dari kumisnya yang tebal, kulitnya yang gelap serta tubuhnya yang terlihat tambun tersembur senyum yang ramah sekali. Mempersilahkan kududuk dan bertanya dengan sopan apa yang aku butuhkan.

Aku sedikit kikuk, karena apa yang dilakukan jauh sekali dari kebanyakan apa yang kulihat dari orang-orang lainnya. Kujelaskan maksudku, tak lupa pula kukenalkan identitas diriku. Sungguh aku terkaget-kaget kala itu, dia menjawab pertanyaannku yang tak banyak ini dengan sopan. Biasanya semua orang akan kesal sekali jika setiap bulan ditanyakan pertanyaan yang berulang dan sama. Kali ini aku mencari data untuk perhitungan inflasi harga perdagangan besar.

Dia menjawab semua pertanyaanku dan sepertinya sudah mengtahui untuk apa data ini selalu dicari setiap bulannya. Jelas sekali ada perbedaan turun dan naik harga setiap bulannya, terkait dengan mekanisme pasar dan kebutuhan konsumen.Terkait pula dengan pekerjaannya. Walaupun dia tak tau bagaimana impact secara langsung untuk dirinya.

Kupikir pula, jalan hidup setiap orang berbeda-beda. Aku terkejut sebenarnya harus mempelajari roda perekonomian. Walaupun aku belum tau banyak, tapi akhirnya aku bertekad akan menjerumuskan diri pula. Supaya aku dapat memahami dan benar-benar dapat memanfaatkan keberadaanku untuk membant mereka. Walaupun aku belum tau keberadaannya.

Namun, ada suatu hal yang membuat aku sangat takjub dengan laki-laki ini. Bukan mengenai bisnisnya yang sukses, ataupun tokonya yang selalu ramai dengan konsumen. Waktu itu, kutanyakan nomor telepon atau ponsel untuk menghubungi mereka, agar mereka tak repot-repot menyediakan sedikit waktu untuk melayaniku setiap bulannya.Ini kulakukan untuk tidak merepotkan pekerjaan mereka, karena aku meminta mereka menyediakan waktu untuk bersama membahas apa yang kutanyakan.

“Maaf mbak, mbak gak kerepotan kan setiap bulannya ke toko kami?” jawabnya sopan.

“tidak sama sekali bapak, karena ini tugas saya, saya sangat takut sekali mengganggu waktu bapak untuk melayani pembeli”, ungkapku kikuk.

“maaf mbak, bukan saya tidak mengizinkan memberikan nomor telepon atau ponsel, tapi saya sangat menjaga perasaan istri saya. Siapa yang tidak suka ditelpon sama orang secantik mbak, tapi nanti istri saya curiga dan akhirnya membuat saling tidak enak”

“Oh, iya pak”, aku langsung tersenyum dan rada kaku sekali.

“istri saya tidak cemburuan mbak, tapi saya sangat menghargai dia”, ungkapnya.

Oh, My God. Yeah, beruntung sekali nasib istri bapak tersebut. Sangat beruntung sekali, untuk hal yang sangat kecil saja suaminya sangat memikirkan perasaan istrinya. Padahal jelas-jelas itu pure urusan pekerjaan. Laki-laki ini tidak seperti tampangnya yang sangat seram, tapi kelakuannya selayaknya seorang laki-laki. Menunjukkan siapa dirinya. Tidak takut dibilang “suami takut istri”. Dialah laki-laki feminis, laki-laki yang sangat menghargai peran perempuan sebagai istri. Menjunjung tinggi asas monogami dan bertanggungjawab atas pilihan hidup bersama istrinya.

Dalam perjalanan aku berdoa begitu pula. Tuhan, sekiranya diperbolehkan, seorang laki-laki biasa saja seperti bapak tadi. Laki-laki feminis. Cukup itu saja, melebihi dari apa yang aku inginkan. Aku tersenyum, ini pasti doa seluruh perempuan di dunia ini. Doa pula laki-laki di seluruh dunia ini.

Bengkulu, 15 Juli 2011

Sebuah nama, seorang sahabat.

Ingat sekali, dulu almarhum sering memanggilku dengan sebutan “balon”. Tentu saja alasannya karena tubuhku yang sedikit besar ketimbang teman-teman seusiaku. Aku hanya merengut saja waktu itu, dan tetap menoleh jika dia panggil dengan sebutan “balon”.  Atau panggilan manjaku, “anggeng”. Aku pula akan menyebut nama bapaknya jika dia mulai mengejekku.

Rasanya satu sekolah tau siapa nama bapak almarhum. Bahkan menjadi nama panggilan sehari-harinya. Aku ingat sekali rambutnya yang begitu mudah panjang selalu terlihat tebal dan gelap. almarhum juga tidak suka memasukkan baju kedalam celana. Memang sih dia terlihat lebih keren karenanya.

Tubunya terlihat sederhana, tapi aura menarik ada di tubuhnya. Kulitnya tergolong putih dengan dada yang bidang. Secara genetik alm merupakan keturunan Sunda. Sungguh, banyak sekali perempuan yang meliriknya. Dia, sahabatku.

Sangat terkejut sekali ketika mendengar kabarnya di pagi hari. Sungguh, ini tak dikira. Sungguh cepat sekali. Rasanya aku tak percaya, tapi itulah hidup. Hidupnya yang penuh dengan perjuangan membuatnya menjadi laki-laki yang sangat penyayang. Hidupnya penuh perjuangan. Sakitnya dan perjuangan untuk sembuhnya, keluarganya, serta keinginannya untuk bersekolah.

Kata alm, jika sudah punya uang, alm akan sekolah lagi menyusul ketertinggalannya. Dia bekerja untuk mengumpulkan itu, walau kutau, untuk kebutuhannya saja itu tak cukup.

Aku ingat sekali, almarhum dulu pernah menyembunyikan kepalaku agar aku tak melihat mantan pacarku berjalan dengan temanku. Lalu berhari-hari membiarkan kepalaku di pundaknya atau sedikit bercerita mengenai rinduku pada seseorang. Menjaga perasaanku dan selalu menungguku pulang jika aku pulang sendiri karena ekstrakulikuler ataupun les ini itu di sekolah.

Jika mendengar lagu-lagu karya Peterpan, alm suka sekali menyanyikannya, walau hanya terdengar lirih saja. Alm juga pernah bercerita padaku mengenai Alm Reza Qurnia. Katanya mereka berteman dari kecil hingga dewasa dan saling melindungi. Aku bahagia mendengar itu.

Tiga bulan yang lalu, pada Maret 2011, alm terduduk menungguku pulang. Lalu memanja meminta dibuatkan secangkir kopi pekat sama ibu. Akhirnya pula, meminta secangkir teh hangat karena tak bisa meminum kopi. Sejenak aku memarahinya karena tak berhelm ketika berkendara. Itulah pertemuan terakhir. Katanya, aku harus jaga Kesehatan.

Terima kasih untuk persahabatan yang indah. Doa-doa yang indah. Serta berbagai cerita seru yang tak dapat kuceritakan.Semoga engkau tenang sahabat. Juga Reza Qurnia yang tak terlupa, laki-laki yang menggendongku di bibir pantai. Seorang sahabat pula. Dua sahabt penyuka basket. Tak terlupakan.

Bengkulu, 12 Juli 2011, 22:53

 

 

Sudah larut sekali malam ini. Semua keluarga sudah terlelap ke alam mimpi. Ada yang berpose ke kiri, ada pula yang ke kanan. Ada yang keletihan, ada pula yang pulas sekali.

Biasanya tak kuizinkan lagi tubuhku belum membaringkannya di peraduan malam. Baisanya pula tak kuizinkan tanganku masih sibuh mengetik, namun seringkali tengah malam buta begini semua menjadi serba ada.Sunyi, hanya bebunyian gemercik angin yang menderu. Serbuan angin semilir yang pula tak ingin terhempas.

Lamat-lamat, semua makhluk hidup saut menyaut. Menyatukan rasa yang ada. Satu cerita tak ingin terhempas, begitu pula satu suara. Jika nyamuk mengaung, kodokpun tak ingin alpa. Apalagi cicak yang tiba-tiba menjadi pemangsa nyamuk dalam rotasi kehidupan.

Kudengar lamat-lamat, sepertinya biasa saja. Tapi sebuah kompilasi yang sangat harmonis. Ternyata malam juga menyuguhkanku sebuah rasa campuran yang lain. Tenang saja, aku masih saja hijau. Terlalu bahagia dengan hamparan pagi yang menawan. Begitulah, pagi menciptakan cipratan-cipratan dua warna yang bersimbol berbeda. Hitam dan Putih.

Bosan sekali rasanya menceritakannya lagi. Mengulangnya lagi, selalu saja dengan cerita yang sama. Setiap kali aku disuguhi kalimat yang sama. Setiap kali pula kuminta kalimat yang sama. Sudahlah, sudahilah, aku pula pernah merasakan. Aku sangat tau bara yang terlalu terpendam itu.

Malam yang pekat jua pernah mengantarkanku ke tangisan yang menderu. Aku terduduk terdiam, namun cicak mulai berbicara. Hingga pada suatu massa, ketika di mengatakan ingin pergi, dan aku tak ingin, aku biarkan saja. Kala itu, dua manusia hebat bersamaku. Menatapku dari kejauhan dan aku menguatkan tubuhku. Rasanya ingin berbalik saja. Jalanan 10 meter terasa hanya satu meter saja.

tepat di depanku ada dia. Dia yang menyukai malam. Aku tak ingin saja rasanya. Anggukan hebat menatapku dari kejauhan sepuluh meter. Kukatakan jua “ini kubawakan makanan dari ultahku tadi”. Tentu saja sambil tersenyum. Namun hanya kata terimakasih setengah hati yang kuterima.Tak apalah malam, itu sudah lebih dari cukup saja.

Kulangkahkan pulang, hingga aku di depan dua manusia hebat, Mereka hanya berkata “u were Angger Wiji Rahayu”. Yah, hanya itu dan itu, tapi itu rasa lain mengenai malam. Itu rasa lain mengenai hati.

“Maafkan aku”

Itu lebih dari apa yang aku kira.

(Bengkulu, 3 Juli 2011 /23:37)

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics