Slideshow
Tags & Categories

Archive for the ‘Rasa Kritik’ Category

May Day, May Day, May Day, May Day

‘semua buruh menunggu weekend tiba. Ketika mereka tidak terbebani dengan pekerjaan yang menumpuk’

Siapa buruh?

Pertanyaan pertama yang akan kita pertanyakan sebelum memperingati May Day. Siapakah buruh sebenarnya? Apa yang mereka perjuangkan hingga satu Mei menjadi hari yang sangat penting bagi buruh. Apakah saya buruh? Read the rest of this entry »

Penyandang Disabilitas dan Bahasa

Saya memulai pembahasan tulisan ini dengan memilih kalimat ‘penyandang disabilitas’. Perbandingan kata dari penyandang disabilitas adalah ‘difabel’ yang berasal dari singkatan kata ‘different ability’ atau orang berkebutuhan khusus. Dalam analisis wacana Teun Van Djik dijelaskan bahwa untuk membahas sebuah wacana dibutuhkan tiga elemen penting, yaitu teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Dalam teks terdapat tiga elemen yaitu struktur makro, suprastruktur dan struktur mikro. Dalam struktur mikro makna wacana dapat diamati dengan menganalisis kata, kalimat, preposisi, anak kalimat, dan parafrase yang dipakai, dan sebagainya.

 

Kata ‘penyandang disabilitas’ dalam kacamata saya, merupakan sebuah pilihan kata yang menggunakan gaya bahasa natural, tanpa berlebih-lebihan. Penyandang disabilitas menyadarkan kita secara nyata bahwa penyandang disabilitas merupakan sesosok manusia yang diberikan kekurangan secara fisik, namun bukanlah orang yang berbeda. Kita secara sadar memandang dan bersikap empati terhadap penyadang disabilitas. Penyandang disabilitas tidak ditempatkan sebagai makhluk asing yang dipandang berbeda, namun harus diperlakukan dengan penuh empati dan rasa kasih sayang, sama seperti makhluk Tuhan lainnya.  Kesetaraan merupakan tujuan penting bagi penyandang disabilitas karena tidak sedikit diskriminasi yang dilekatkan bagi penyandang disabilitas. Read the rest of this entry »

‘Wanita’, VoA menggunakan pilihan kata ‘wanita’ dalam artikel ‘PBB Desak Afghanistan Tegakkan UU Perlindungan Wanita’. Duh, ada apa dengan VoA?

Saya memilihkan judul itu, karena bagi saya itu hal sepele namun berdampak sangat panjang. Sangat excited sekali melihat media sebesar VoA menuliskan isu perempuan dan berbagai keberhasilan perempuan dengan isu yang beragam. Dari isu kekerasan dalam tulisan ‘Pemerintah Diminta Serius Tangani Kasus Kekerasan terhadap Perempuan’ hingga kilasan internasional seperti dalam tulisan ‘Dunia Didesak Beri Perhatian pada Nasib Perempuan di Perdesaan’.

Nah, coba perhatikan tulisan-tulisan ini, isinya sepertinya tidak ada masalah. Namun pemilihan kata ‘wanita’ dan ‘pria’ sangat mengganggu sepertinya. Kadang ada penggunaan kata ‘wanita’, kadang digunakan pula kata ‘perempuan’ dalam satu tulisan.

Tidak ada yang salah dengan pemilihan kata, namun secara historis kata ‘wanita’ mempunyai arti yang sangat panjang. Dalam Semiotika Roland Barthes, disebutkan bahwa ada dua tahap signifikasi Barthes. Pertama pada tataran denotatif dan kedua pada tataran konotatif.

Nah, disini menariknya, pada tataran denotasi, semua orang akan sepakat bahwa manusia yang mempunyai jenis kelamin perempuan sering juga disebut wanita. Manusia jenis kelamin ini, bercirikan antara lain mempunyai vagina, punya rahim, punya payudara.

Pada tataran kedua, yaitu konotasi, kita akan bicara mengenai interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Tanda ini bekerja melalui mitos.

Seringkali kita mendengar bahwa mitos perempuan dengan beberapa hal. Pertama, mitos wanita, harta dan tahta. Kedua, wanita adalah sumur, dapur, kasur. Kata ‘wanita’, dalam kebudayaan Jawa, sering diistilahkan dengan ‘wani ditata’, yang artinya ‘bisa diatur’. Konotasi dari mitos ini membuat kata wanita menjadi kurang sedap didengar. Bukan hanya kurang sedap didengar, melainkan pula kata ‘wanita’ ini sangat dekat dengan pelabelan diskriminasi.

Kedua mitos ini sangat dekat dengan prasangka yang akhirnya menimbulkan diskriminasi dan berujung pada kekerasan terhadap perempuan. Nah, mengapa  ’perempuan’ menjadi pilihan. Kata perempuan berasal dari kata ‘empu’, yang berarti dihargai, dimulaikan. Pemilihan kata ini menjadi sangat penting, karena ini bagian dari refleksi diri dari sebuah perjuangan untuk kesetaraan.

Jika sudah begini, lantas VoA akan memilih kata yang mana?

Salam

 

‘itukan kodrat perempuan, memasak, mencuci dan melayani suami’

Glek. Kalimat ini harus kita telan mentah-mentah, dan seringkali didengar. Nasehat-nasehat dan petuah-petuah mengenai tugas perempuan juga kita dengan dari orang tua. Ini nih, anak perempuan harus menjadi penurut dan tidak bertingkah laku aneh-aneh. Kalo bertingkah laku aneh-aneh, sering disebut ‘perempuan nakal’. Hmhm, saya tergelitik menuliskan sebenarnya apa sih itu kodrat dan apa itu gender. Sepertinya, dua perbedaan yang paling dasar inilah yang harus dipahami.

Kodrat itu sebuah pemberian Tuhan, dan tidak dapat dipertukarkan. Lah, memasak mencuci bisa ditukar kan? Berarti, thats right pekerjaan domestik bukan kodrat. Kita harus sepakat dulu dilevel ini. Nah, contoh dari kodrat ini seperti, perempuan punya vagina, rahim, bisa menyusui. Kalau laki-laki, punya testosteron, sperma, jakun dll. So, masih berpikir pekerjaan domestik itu hanya urusan perempuan?

Apa sih Gender? Urusan perempuan, gender itu?

Pertanyaan dasar itu, sering muncul dan membuat orang salah kaprah. Gender adalah peran sosial yang diberikan masyarakat untuk perempuan dan laki-laki. Nah, perempuan sering dilekatkan dengan pekerjaan domestik sedangkan laki-laki seringkali dilekatkan dengan pekerja produktif. Perempuan dengan sifat feminin, laki-laki dengan sifat maskulin. Perempuan menggunakan hati sedangkan laki-laki menggunakan logika. Perempuan malu-malu, laki-laki pemberani. Nih, disini nih masalahnya timbul, terjadinya ‘bias gender’. Karena pelabelan peran tersebut, akhirnya timbullah penguasaan atas satu pihak.

Misalnya, laki-laki tidak mau bekerja di sektor domestik, perempuan dianggap sebagai kelompok kelas dua, pemberian upah lebih rendah terhadap perempuan, perkosaan, KDRT, trafficking, ketidaksetaraan pendidikan, kesempatan pendidikan dan karier, dan masih banyak lagi persoalan-persoalan yang terjadi. Serta tidak henti-hentinya, hingga persoalan rok mini di DPR.

Tujuan dari perjuangan perempuan, sederhana sekali namun memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Kesempatan yang sama, hak yang dipenuhi, rasa nyaman, bebas dari kekerasan merupakan keinginan perempuan.

Masih berfikir soal perempuan itu hanya urusan perempuan saja? Itu jelas, pemikiran yang salah. Karena itu permasalahan bersama dan harus diperjuangkan. Memperjuangkannya memang sulit sekali, tapi saya yakin perempuan-perempuan diseluruh dunia ini, akan terus menyuarakan itu.

Selamat Hari Perempuan Internasional

untuk 8 Maret 2012

Banyak sekali perempuan saat ini yang dapat menikmati kehidupan karir, pribadi, bahkan seksualnya. Walau dengung kesetaraan masih memerlukan perjuangan panjang karena lebih banyak perempuan belum dapat menikmati kehidupannya.

Bagi kebanyakan orang, menikah merupakan sebuah kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Namun, bagi banyak sebagian perempuan menikah merupakan penjara Guantanamo yang siap mengukung, menyiksa dan menyodomi orang-orang didalam penjara tersebut. Kengerian berada didalam jeruji besinya dan menjadi sebuah momok yang menakutkan untuk memulai menjalaninya.

Betapa tidak, kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), saat ini merebak. Bahkan yang lebih parahnya, seringkali bukan hanya perempuan sebagai istri yang menjadi korban, melainkan anak yang pula menjadi korban. Kasus-kasus incest, narkoba, kenakalan remaja yang merebak saat ini, seringkali banyak diawali penidasan dan ketidaksetaraan peran dalam rumah tangga.

Suka tidak suka, budaya kita mentasbihkan pernikahan sebagai sebuah kebutuhan. Pernikahan dijadikan sebuah alat untuk melegalkan sebuah relasi yang sangat manusiawi. Padahal seringkali, pernikahan malah tidak memanusiakan manusia. Bukan karena lembaga yang disebut ‘pernikahan’, melainkan karena pembagian peranan dalam lembaga tersebut yang tidak proporsional.

Peran istri, suami, anak menjadi pemain utama dalam lembaga yang disebut ‘pernikahan’. Masing-masing memiliki peranan yang signifikan dan saling mendukung. Tentunya dengan dasar kesepakatan-kesepatakan yang dibangun bersama. Kita saat ini mengenal dua peranan dalam kehidupan berumah tangga, yaitu peranan domestik dan peranan produktif. Masyarakat pada umumnya membagi peranan ini berdasarkan jenis kelaminnya. Perempuan selalu dilekatkan dengan peranan domestik. Sedangkan laki-laki dilekatkan dengan peranan produktif.

Pekerjaan-pekerjaan seperti mencuci, mengurus anak, memasak selalu dilekatkan pada kegiatan perempuan. Sedangkan pekerjaan mencari nafkah, memutuskan suatu hal dalam kehidupan berumah tangga, laki-laki diberikan andil yang cukup besar. Pembagian peran tersebut seringkali dijadikan ‘kodrat’ dan harus dilakukan oleh peranan jenis kelamin masing-masing dalam kehidupan berumah tangga.

Tidak ada yang salah dengan pembagian peran tersebut pada dasarnya. Namun, pembagian peran tersebut dalam masyarakat sangat rentan sekali menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya, tidak adanya pelibatan perempuan dalam keputusan strategis mengenai kehidupan rumah tangga. Hal ini menyebabkan hanya kepentingan sepihak saja yang menjadi dasar sebuah keputusan.

Kedua, pembagian tugas yang kurang adil dan menempatkan perempuan tidak pada posisi yang strategis. Ketiga, perempuan yang juga mengambil peranan dalam mencari nafkah akhirnya mengerjakan peranan ganda dalam rumah tangga.

Wonder Women dan Label Stereotip

Jika dibilang sebagai wonder women, sepertinya perempuan yang mempunyai peranan ganda memang seorang yang wonder women. Betapa tidak, perempuan diharuskan mencari nafkah dan mengerjakan pekerjaan domestik sekaligus. Peranan yang sangat besar itu seringkali hanya dianggap sebelah mata oleh masyarakat, dan menjadi sebuah takdir menjadi seorang perempuan.

‘mungkin istri saya tidak tidur nyenyak setiap hari karena pekerjaannya yang sangat banyak. Bekerja di kantor, memasak, mencuci, menjaga anak dan bergadang setiap malam karena harus menyusui’, (Seorang laki-laki bercerita kepada saya).

Ya, itu mungkin hanya sebagian kecil dari yang dapat laki-laki tersebut jabarkan. Belum lagi urusan-urusan domestik rutinan yang harus dikelola oleh perempuan sebagai istri. Beban ganda pasti melingkupi kehidupan perempuan. Peranan tersebut, jika tidak dapat dilakukan oleh perempuan membuat perempuan dianggap sebagai perempuan yang tidak becus mengurusi rumah tangga.

Satu lagi yang menjadi tuntutan masyarakat terhadap perempuan. Perempuan ditasbihkan menjaga laki-laki agar sang laki-laki tidak berpaling ke perempuan lain. Menjaga disini sering diartikan sebagai ‘service’, dari sumur, dapur, kasur.

‘wajar saja suaminya selingkuh, servicenya tidak memuaskan sih’

‘wajar saja suaminya melirik perempuan yang lain, dirumah disuguhkan daster terus’.

Kalimat ini mungkin saja sudah sering kita dengar sehari-hari di lingkungan masyarakat. Sangat menyakitkan bukan tentunya, mendengarnya saja, rasanya bulu kuduk ini berdiri. Apalagi menjalankan tuntutan yang terdengar gila tersebut. Kalimat ‘service’, yang berarti pelayanan, pada dasarnya merupakan sebuah penghambaan paling dasar, tanpa meminta balasan apapun.

Pertanyaan dasarnya mudah sekali, apakah dalam rumah tangga tidak ada simbiosis mutualisme? Apakah perempuan sebagai istri merupakan pelayan? Peran perempuan sebagai istri tentunya tidak dapat dituntut ini itu begitu saja, karena bangunan pernikahan bukan saja dibangun oleh satu pihak saja, melainkan kedua pihak.

Wonder women, ekspektasi para perempuan untuk hebat. Tapi tentu saja bukan hebat atas pelanggengan budaya patriarki. Melainkan bekarya dan menghasilkan sesuatu hal untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Selamat Hari Perempuan Internasional

Air menjadi sumber utama bagi kehidupan. Setiap hari air dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan semua makhluk hidup lainnya. Air juga merupakan sumber inspirasi terbesar untuk kehidupan.

Perempuan adalah kelompok paling besar yang sangat membutuhkan air. Setiap harinya perempuan selalu bergelut dengan air. Mulai dari pagi hari hingga malam menjelang. Mulai dari pekerjaan domestik hingga produktif. Jika kita menilik lebih dalam air menjadi kehidupan dan inspirasi bagi perempuan. Air dan sungai bagi sebagian perempuan di Kecamatan Air Nipis dan Kecamatan Seginim merupakan sumber kehidupan terbesar bagi mereka. Sepanjang wilayah dua kecamatan ini, air mengaliri sungai dan anakan sungai yang membentang mengawal setiap wilayahnya.

Seperti yang terjadi di sepanjang aliran sungai Air Nipis, Kecamatan Air Nipis. Bagi mereka air di sungai Air Nipis menjadi tempat yang sangat krusial karena rahim kehidupan mereka berada di sepanjang aliran sungai ini. Berbagai kegiatan domestik hingga produktif di lakukan oleh perempuan di sepanjang aliran sungai ini. Mencuci pakaian, mandi, membersihkan perkakas rumah tangga, dan kegiatan lainnya semua terpusat di aliran sungai ini. Sebenarnya MCK sudah dimiliki oleh masyarakat, namun pada kondisi musim panas seperti ini, air di sungai ini menjadi alternatif terbaik bagi masyarakat.

Sebagian besar, pekerjaan pertanian produktif di dua wilayah ini ditangani oleh perempuan. Air dari sawah yang membanjiri rata-rata berasal dari Sungai Air Nipis, yang setiap tahunnya menghasilkan dua kali panen padi untuk kebutuhan masayarkat.  Tanpa aliran air dari sungai ini, belum tentu tanaman padi yang dihasilkan dapat dipanen secara rutin selama dua kali dalam setahun.

Kecamatan Seginim sebagai lumbung padi di Kabupaten Bengkulu Selatan sangat bergantung  dengan aliran air dari sungai Air Nipis ini. Kehidupan dialiran sungai ini membuat banyak kehidupan bergantung. Bukan saja padinya, sebenarnya kebudayaan masyarakatnya juga berpangkal dari sungai ini.

Air sebagai Sumber Kebudayaan

Bicara mengenai kebudayaan, kita akan bicara mengenai tiga hal ideologi, organisme, dan teknoekonomi (Goerge Sudarsono Etshu). Air membentuk ketiga hal tersebut dalam masyarakat. Air menciptakan sebuah cita-cita yang sangat besar bagi kehidupan masyarakatnya. Dengan aturan-aturan prasyarat pembagian kekuasaan dalam masyarakat. Serta menggunakan cara tertentu untuk mengesploitasi lingkungannya.

Air sebagai sebuah kebudayaan, telah memberikan ruang yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat, terutama bagi perempuan. Walau begitu besarnya peranan perempuan terhadap ketergantungan terhadap air, namun tetap saja kebudayaan lahir dengan garis patriarki. Karena sebenarnya, perempuan diletakkan hanya pada pekerja, bukan pada posisi pengambil keputusan. Sehingga kebudayaan yang lahir akhirnya menjurus terhadap kepentingan patriarkis. Peletakan posisi perempuan hanya didasarkan pada kegiatan domestik yang selama bertahun-tahun dimitoskan menjadi pekerjaan wajib perempuan.

Peranan perempuan terhadap air menjadi sangat krusial sekali, karena alasan produktif dan alasan domestik. Air akhirnya tetap saja bertumpu pada sang rahim, yaitu perempuan. Tapi kerap kali tidak pernah menggunakan perempuan sebagai alat pengontrol dan pengatur dalam kehidupan.

Tentu saja, jika perempuan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan akhirnya hanya menguntungkan satu pihak saja. Sedangkan semangat ideologi dalam negara kita mengatur mengenai kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Keterlibatan perempuan dalam mengelola dan menjaga lingkungan air merupakan titik awal, agar sungai sebagai aliran air paling dekat dengan masyarakat tetap menjadi rahim bagi kehidupan.

Bengkulu, 4 Februari 2012 (00:00)

(Sebuah Kritik dalam Tampilan Foto dan Inisial)

Saya menamakan judul tulisan ini seperti subjudul dalam sebuah rubrik liputan khusus sebuah majalah perempuan ternama di Indonesia. Subjudul aslinya ‘mereka yang menangis dalam diam’. Subjudul ini bagi saya lebih terasa maknanya daripada judul yang dipasang oleh penulisnya. Saya mengganti kata ‘diam’, dengan kata ‘media’. Hal ini dikarenakan saya begitu terkejut ketika membaca tulisan ini, dan seketika lahirlah tulisan ini.

Pertama kali saya tergelitik membaca tulisannya. Saya merasa tulisan tersebut sangat baik dan mudah dicerna oleh banyak kalangan. Apalagi isu yang diangkat adalah isu mengenai kekerasan terhadap perempuan. Dari tulisannya, saya melihat bahwa penulisnya sepertinya banyak membaca referensi dan mengetahui mengenai isu kekerasan terhadap perempuan.

Data yang disajikan, kasus-kasus yang terjadi hingga uraian cerita dan alur yang dibangun oleh penulisnya membuat nurani saya bangkit dan ingin pula melakukan banyak hal untuk perempuan korban kekerasan. Tulisan itu sangat menggugah dan membuat kita terhenyak dari kenyamanan kita sebagai seorang  manusia, bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan kejahatan akan hak asasi manusia. Kekerasan terhadap perempuan belumlah usai, walaupun sudah ada regulasi yang mengatur mengenai penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Regulasi tersebut diantaranya UU No 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) dan masih banyak lagi regulasi yang mengatur mengenai penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Setelah usai membaca tulisan tersebut, saya bingung apa yang menganjal dalam batin saya. Padahal saya merasa bahwa tulisan yang dibuat oleh penulisnya sangatlah baik. Saya melihat foto-foto yang ditampilkan oleh majalah tersebut dalam tulisan tersebut. Disitulah keterkejutan saya muncul. Saya melihat foto korban kekerasan terhadap perempuan, ditampilkan dengan jelas beserta nama dan kejadian apa yang telah terjadi pada perempuan korban.

Akhirnya saya membaca ulang tulisan tersebut. Keterkejutan saya semakin memuncak, karena banyak sekali nama perempuan korban yang tidak menggunakan inisial. Semua cerita mengenai korban kekerasan terhadap perempuan sedikitpun tidak menggunakan inisial. Hal inilah yang membuat saya menuliskan judul tulisan ini ‘Mereka yang Menangis Karena Media’. Secara kasat mata memang kejadian yang diceritakan oleh majalah ini memang dapat memberikan informasi kepada masyarakat . Tapi bagi saya, masyarakat bukan hanya saja membutuhkan sebuah informasi saja. Masyarakat membutuhkan kepekaan yang sangat dalam untuk perempuan korban kekerasan.

Dalam kacamata saya, penulisan nama perempuan korban kekerasan dalam sebuah media tanpa inisial bukanlah perkara yang bijak. Karena ini tentu saja menyakiti perempuan korban, keluarga perempuan korban dan lingkungan perempuan korban. Media sebagai sarana penyebar informasi, dengan mudah dapat memberikan informasi kepada masyarakat luas. Sehingga perempuan korban sangat rentan mendapat penyerangan kekerasan kedua kalinya dari media dan masyarakat secara luas.

Bagi saya, perempuan korban kekerasan  juga seorang manusia yang memiliki naluri dan rasa malu yang sangat dalam. Tentu saja, didunia ini tidak ada seorangpun yang ingin aibnya disebarluaskan kepada publik. Lirikan mata terhadap perempuan korban, gunjingan, pembicaraan mengenai kasusnya ke ranah publik merupakan penyebarluasan yang dapat berdampak psikologis kepada perempuan korban kekerasan. Hal-hal yang dianggap kecil tersebut akan berdampak sangat luas kepada kehidupan perempuan korban.

Dalam tulisan ini saya bukan berarti melarang pemberitaan mengenai kekerasan terhadap perempuan. Saya menggarisbawahi bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan sebuah kejahatan hak asasi manusia yang paling dasar. Perempuan korban kekerasan membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk suasana yang kondusif bagi pemenuhan dan pemulihan hak-haknya.

Banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan yang tidak mendapat dukungan hukum merupakan hal yang banyak terjadi pada perempuan korban. Kasus incest, perkosaan, KdRT yang diketahui setelah perempuannya mendapat kekerasan selama bertahun-tahun bukanlah kasus yang tidak sering kita dengar.

Jika pemberitaan dimedia juga membuat ketidaknyamanan bagi perempuan korban, membuat perempuan korban tidak ingin melaporkan kasusnya ke ranah hukum. Kita akan menyaksikan bahwa akan banyak sekali perempuan-perempuan korban kekerasan terbelenggu dalam lingkaran kekerasan yang menyiksa. Kita akan melihat berapa banyak lagi perempuan korban yang tidak melaporkan kekerasan yang dialaminya ke ranah hukum formal.

Tentu saja ini berita buruk bagi kita, bahwa tidak ada lagi ruang yang sangat nyaman bagi perempuan untuk berlindung. Bukan saja mereka yang menangis, tapi kita juga kita, yang masih memiliki hati nurani ini. (ge)

Bengkulu Selatan, 2 Februari 2012 (22:31)

 

Tak ada kata seindah bagi Ibu.

Saya mulai membayangkan 20 tahun silam saya tanpa ibu. Hak asuh jatuh ke tangan ayah dan saya terpisah dari ibu. Ibu mendapatkan hak asuh kami (saya dan adik laki-laki), karena dua hal. Pertama karena kami masih balita dan kedua karena ibu kuat secara ekonomi.

Kedua alasan tadi sejatinya dalam kacamata saya masih saja melemahkan kaum perempuan. Pertanyaannya, jika kami tidak dalam kondisi balita apakah hak asuh akan jatuh ketangan perempuan? Pertanyaan kedua, bagaimana bila ibu saat itu tidak kuat secara ekonomi? Apakah hak asuh tidak jatuh ke tangan perempuan? Dan laki-laki dianggap mampu menjadi perwalian kami.

Sebenarnya saya sangat kecewa ketika ibu menceritakan alasan hakim memutuskan alasan hak asuh jatuh ke tangan ibu. Bagi saya, hakim kala itu tidak menunjukkan keadilan yang berpihak kepada ibu. Karena, pada saat itu seharusnya alasan hak perwalian jatuh ketangan ibu bukan kedua hal tersebut. Dalam kacamata saya, seharusnya hakim menjatuhkan hak tersebut karena ayah dianggap tak mampu memenuhi peran dan tanggungjawabnya sebagai seorang ayaha. Termasuk pemenuhan tiga hak konstitusional anak (pendidikan, kesehatan dan bebas dari kekerasan).

Tidak pernah saya bayangkan jika harus tinggal bersama ayah. Walaupun saya yakin, ayah juga orang tua yang akan sangat menyangi kami (walaupun saya tau, hingga saat ini tidak ada pemenuhan tiga hak konstitusional yang dipenuhinya kepada kami). Tak ada satupun anak broken home yang tidak pernah memimpikan mempunyai orang tua lengkap satupun di dunia ini. Rasanya iri sekali, ketika kita melihat setiap pagi teman-teman diantar ayah atau ibunya ke sekolah. Sedangkan kami tidak pernah merasakan itu. Atau diambilkan raport oleh ayah. Bagi kami, itu bukan masalah.

Ibu harus bekerja ekstra lebih banyak. Bekerja di ranah produktif dan domestik. Dua pekerjaan ini harus secara penuh menjadi tanggungjawabnya dan dilakoninya dengan bersama. Tanpa ada pembagian pekerjaan secara merata. Pertama untuk memenuhi kebutuhan kami dan kedua, baginya untuk mensetarakan status sosial kami. Bahwa peran ayah dan ibu tetap menjadi hak kami sebagai seorang anak.

21 tahun ibu menjadi perempuan kepala keluarga. Status Janda (Baca : perempuan kepala keluarga) tidak pernah membuatnya goyang sedikitpun hingga saat ini. Walaupun tak luput tudingan miring sering menghampiri.

Tak bisa saya bayangkan bagaimana ibu menangis sesenggukan di kamar, hanya karena tak mampu membeli buku yang ingin kami baca kala itu. Walaupun tak ada niat melukai hati ibu, tapi tetap saja ibu selalu mengatakan bahwa pendidikan hal nomor satu dan buku adalah jendelanya. Atau hati kami yang terluka karena ibu dituding mencari uang tidak halal, karena mampu menyekolahkan kami dengan baik. Tak ada satupun orang yang boleh menjudge, karena mereka tidak pernah tau derai tetesan darah ibu untuk kami.

Sungguh tak bisa kubayangkan menjadi ibu. Seorang perempuan tangguh yang mengabdikan dirinya sebagai seorang pegawai negeri biasa tapi mempunyai integritas yang sangat tinggi. Suatu kali kami ibu pulang sangat sore, kami hanya berdua saja dirumah. Kami mengeluh kepada ibu, kenapa pulang lama sekali. Ibu hanya berkata “ini adalah bagian dari tanggungjawabnya menyelesaikan semua pekerjaan dengan tuntas”. Kala itu aku masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar.

Status perempuan kepala keluarga memang bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan. Sesekali ibu dilamar seorang laki-laki beristri, dengan tujuan membantu ibu untuk menyekolahkan kami. Tapi ibu menolak dipoligami. Ibu menolak membahayakan diriku sebagai seorang anak perempuan dari resiko pencabulan dan pemerkosaan serta melukai anak-anak lainnya. Tentu juga perempuan lainnya dan ibu menolak dikasihani karena ekonomi.

Status Janda merupakan politik seksual, yang menempatkan perempuan kepala keluarga menjadi sosok yang demikian miring untuk kepentingan garis kekuasaan laki-laki. Berbeda sekali jika kita mengasumsikan dengan seorang duda. Dikepala kita akan timbul langsung asumsi “duren” (duda keren). Praktek ini sejatinya menunjukkan bahwa posisi perempuan masih saja diidentikkan dengan ketubuhannya yang bersifat aib.

Posisi ibu sebagai perempuan kepala keluarga dekade ini masih harus bergulat dengan status miringnya sebagai perempuan single, mandiri yang mampu membesarkan kami dengan penuh ‘integritas’ sebagai seorang ibu dan seorang manusia. Perdebatan mengenai status perempuan kepala keluarga masih menjadi rumor yang hingga saat ini belum mampu membebaskan ibu dari ketidakadilan atas perjuanggannya. Serta mensterilkan dirinya dari tudingan miring dari politik kekuasaan laki-laki atas nama seksual.

Dalam status sosial, perempuan kepala keluarga memang belum mempunyai ruang yang signifikan untuk setara dan steril dari tudingan miring. Tetapi sesungguhnya, pilihan ibu menjadi perempuan kepala keluarga sama hebatnya dengan perjuangan melawan imperialisme.

Selamat Hari Ibu

Bengkulu, 22 Desember 2011

 

Berbicara mengenai tubuh perempuan memang sangat mencuri hati untuk membicarakannya. Dimulai dari keindahannya yang selalu dipuji-puji hingga berbagai persoalan yang diduga muncul karena tubuh perempuan. Secara fisik, tubuh perempuan mempesona karena selalu saja diletakkan sebagai objek  yang disejajarkan dengan kontasi aib dan komersil.

Selalu saja angka statistik menunjukkan tingginya angka kasus-kasus kekerasan terhadap ketubuhan perempuan. Mulai dari pelecehan seksual, perkosaan hingga penjualan tubuh secara komersil yang tak kunjung mereda. Perlakuan seperti ini menandakan bahwa tubuh perempuan selalu diletakkan pada tataran objek dengan konotasi aib dan komersil.

Konotasi aib menjelaskan kepada kita bahwa tubuh perempuan merupakan hal tabu yang tidak dapat dibicarakan dan akan menimbulkan akibat buruk. Ini jelas terkait organ reproduksi dan seksualitas perempuan. Ketabuan ini menimbulkan banyak sekali persepsi, mitos  yang muncul dimasyarakat, hingga kadang kala membuat perempuan takut sendiri akan ketubuhannya.

Pemahaman akan ketubuhan perempuan yang menempatkannya sebagai posisi aib dan komersil sangat mendorong tumbuh suburnya bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan. Menyimak dari catatan Komnas Perempuan bahwa hampir seperempat kasus yang terjadi terhadap perempuan adalah kekerasan seksual, dengan kasus perkosaan, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, pelecehan seksual, penyiksaan seksual dan eksploitasi seksual.

Maraknya fenomena kekerasan seksual yang terjadi dimana-mana menjadi sebuah fenomena yang harus disikapi dengan serius. Juga ditangani dan diadili secara serius. Penyalahan tubuh perempuan, jugdement terhadap perempuan membuat maraknya kekerasan terhadap perempuan semakin marak terjadi.

Tentu masih segar dalam ingatan kita akan kasus perkosaan yang terjadi di dalam angkot beberapa bulan yang lalu. Statement penyalahan akan penggunaan pakaian korban oleh pejabat publik sungguh sangat menyakitkan hati. Hal ini membuat kita miris dan terbelak bahwa permasalahan kekerasan seksual hanya dianggap sesederhana itu oleh pejabat publik.

Padahal merujuk kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi, bahwa tak ada korelasi antara pakaian yang digunakan oleh korban dengan kasus kekerasan yang terjadi. Kita tilik catatan Cahaya Perempuan WCC Bengkulu, Sejak tahun 2000-2010, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan ditangani Cahaya Perempuan WCC tercatat 1.761 kasus, sekitar 56.67% (998 kasus) adalah kasus Kekerasan Seksual. Kelompok yang paling rentan mengalami kekerasan seksual adalah anak usia di bawah 18 tahun.

Jika kita menilik catatan Cahaya Perempuan WCC Bengkulu, permasalahan kekerasan seksual bukanlah permasalahan yang sangat sederhana. Angka statistik menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun kasus-kasus pelanggaran hak asasi perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin urgensinya masalah kekerasan seksual, yang melibatkan ketubuhan perempuan.

Penyalahan atas ketubuhan perempuan sebagai biang terjadi kasusnya kekerasan seksual bukanlah sebuah cara dan upaya untuk menyelesaikan masalah. Kekerasan seksual merupakan sebuah pelanggaran hak asasi, yang membutuhkan penanganan konkret dan sistemik, juga membutuhkan banyak pihak untuk peduli.

Sehingga bentuk-bentuk mitos penyalahan tubuh perempuan merupakan sebuah cara yang taktis dan pragmatis saja. Untuk melakukan pembenaran sikap represif dan penyangkalan atas sikap ketidakmampuan menciptakan keamanan bagi perempuan.

Meracik Mimpi, Otonomi Tubuh Perempuan

Sebuah mimpi perempuan memiliki tubuh secara utuh. Namun, hal tersebut tentu saja bukan hanya sebatas asa semata. Perjuangan bagi ketubuhan perempuan merupakan sebuah perjuangan yang akan membebaskan perempuan dari kekerasan seksual. Otonomi tubuh perempuan mutlak harus terjadi. Karena tubuh perempuan hanyalah milik perempuan, yang tidak dapat dipolitisir maupun dikomersialisasikan semata.

Membebaskan perempuan dari kekerasan seksual, tentu saja harus dimulai dari membebaskan tubuh perempuan secara terbuka. Membebaskan dari mitos yang mengekang, judgement penyalahan tubuh perempuan, membebaskan definisi dari perspektif laki-laki serta memberikan keluasan tubuh perempuan untuk memilih.

Kekerasan seksual selalu saja identik dengan alat kelamin dan tubuh perempuan yang hingga saat ini diyakini secara massal sebagai bentuk aib. Gerah sekali rasanya, ketika kita harus mendengar tudingan-tudingan miring terhadap tubuh perempuan ketika kasus kekerasan seksual terjadi.

‘wajar diperkosa, pakaiannya aja rok mini’

‘wajar ingin dipegang, montok  sekali sih’

‘wajar dipoligami, mandul sih’

‘wajar suaminya selingkuh, service istrinya gak memuaskan sih’

Tudingan-tudingan seperti ini kerapkali muncul di masyarakat dan  jelas sekali hanya mengarah pada ketubuhan perempuan. Penyalahan tubuh perempuan yang akhirnya melegalkan prilaku menyakiti tubuh perempuan dengan melakukan tindakan kekerasan. Belum lagi perempuan harus menghadapi berbagai mitos mengenai tubuhnya yang lain. Seperti virginitas, ukuran ideal tubuh, kesehatan reproduksi serta segudang permasalahan lain mengenai tubuh perempuan.

Sehingga dibutuhkan pemahaman yang serius untuk membebaskan tubuh perempuan dan memberikan otonomi ketubuhan perempuan secara mutlak. Agar perempuan bebas dari kekerasan secara seksual. Mimpi itu tak akan pernah bisa terwujud bila tidak dibarengi dengan kebijakan mengenai kekerasan terhadap kekerasan seksual secaga tegas, penanganan kasus-kasus kekersan seksual secara serius, serta melakukan pendobrakan massa mengenai tubuh perempuan dengan pendidikan yang setara dan berperspektif.

Bengkulu, 8 Desember 2011

 

 

Stand Up Comedy Metro Tv, edisi 13 Oktober 2011, sangat menjadi inspirasi. Formula komedi sebagai bagian kritik baru seakan menjadi alat yang mujarab di tanah yang sedang gelisah ini. Saya sangat tertarik stand up comedy yang dibawakan para aktornya sungguh menggelitik. Menggugah kenyamanan kita, yang sebenarnya pada masa kegelisahan yang sangat berlebih.

Ditengah maraknya kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan (KTP), Miund menampilkan kegelisahannya mengenai realita ini dengan sangat baik sekali. Penggambaran kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dibalut dengan nyanyian dangdut yang sangat apik dihadirkan oleh Miund. Pengkonotasian perempuan dan pemarginalan kaum perempuan pada level seni menjadi gambaran yang sangat nyata akhir-akhir ini. Seni menjadi kehilangan rohnya ketika menaburkan aib dan membawa pada paradigma baru yang tidak sesuai dengan roh masyarakatnya.

Dangdut sebagai musik yang didefinisikan sebagai musik rakyat digambarkan telah kehilangan rasa yang terdalam terhadap perempuan. Perempuan dititikberatkan hanya sebagai objek yang cenderung lemah dan didefinisikan sebagai kodrat baru. Lagu dangdut yang berjudul sms, bang toyib, hamil tiga bulan dan alamat palsu, didefinisikan Miund sebagai konstruksi rendah perempuan dalam seni. Sehingga kecenderungan ini mengakibatkan efek-efek yang tak terkira. Peningkatan kasus KTP, seperti KDRT, perkosaan, traficking, pelecehan seksual menjadi gambaran yang sangat biasa sekali.

Belum lagi Temon, menyinggung infrastuktur yang sangat minim dan ketidakpedulian pemerintah terhadap kenyamanan masyarakat dalam menggunakan alat transportasi, juga menambah sederet masalah penyebab peningkatan kasus KTP. Baru-baru ini, perkosaan dalam angkot yang menyeret empat pemuda meringkuk dalam hotel prodeo menjadi salah satu bukti bahwa rendahnya kualitas infrastruktur yang dibagun pemerintah untuk masyarakatnya.

Parodi komedi ini seakan membawa angin segar baru dalam demokrasi. Masyarakat yang telah jenuh menangis, mengemis di negerinya sendiri seakan menemukan wahana baru bahwa sunggu negeri ini membutuhkan seorang dokter. Mungkin saja seorang psikiatris, agar rakyat tidak menjadi gila.

Bengkulu 13 Oktober 2011

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics