Slideshow
Tags & Categories

Archive for the ‘My Diary’ Category

Saya yakin saya tidak begitu cantik secara fisik, tapi sejak dulu saya menyakini sendiri saya menarik, memiliki rasa yang berbeda. Dan kamu tau itu di suatu lereng.

Pulang. Kembalilah ke tempat itu, ke tempat ketika pertama kali kita bertemu. Aku dengan bebas memandangmu, mengikuti wangi tubuhmu lalu merasai seluruh yang kau punya. Tidak ada satupun caranya selain kembali kesana, dimana kita saling berkata jujur, tempat kita memadu kejujuran rasa, meninggalkan embel-embel rasa dan kembali menjadi manusia yang sesungguhnya.

Aku ingin kembali ke peraduan itu, dimana pada suatu pagi aku melihat cahaya matahari menerpa tubuh diiringi dengan menusuknya alunan angin yang semilir. Di sudut itu kita melihat sebuah kota, terhampar bebas menunggu aku datang, ikut mewarnai rasanya dan aku ingin berada di sana. Seandainya waktu milik kita, kan kuputar waktu, kukembalikan pada tempatnya.

Pada satu waktu aku ingin kau hentikan waktu, menarikku ke lereng itu dan membiarkan aku hilang didalamnya. Ingin kuserahkan waktu padamu dan kembalikan waktu pada tempatnya. Hingga malam menjelang kita hanya bisa berpasrah diri pada waktu. Pada satu waktu aku ingin kau menempa keadilan yang sesungguhnya, pada hak yang menjadi milikmu yang tak tertulis secara jelas.

Ah, terlalu naif aku membicarakannya padamu, pada suatu malam yang tak milik kita, yang tak kau pahami. Atau kau pura-pura tak memahami sesungguhnya hingga aku tak pulang lagi pada malam itu. Seketika, aku mengingatmu pada masa yang telah hilang, pada doa-doa yang kupanjatkan, pada malam-malam yang dingin menusuk. Hingga surga menyentuh kaki kita, tak akan kulupa.

Angger Wiji Rahayu

Kunikmati semua rasa hatiku dalam temaram malam yang memudar. Kurasakan bau tubuhmu disini, kurasakan suaramu ditelingaku, kurasakan sentuhan tanganmu ditubuhku, kurasakan wangimu dalam ruang waktuku. Itu saja caranya yang mampu aku lakukan saat ini, ditengah rasa merinduku yang tak terbendung.

Bertahun kutunggu tak ada satupun kata yang mampu mewakili perasaanku. Tak ada lagi yang kutakutkan saat ini untuk memelukmu, merasai wangi tubuhmu. Aku ada, aku nyata, kamu ada, kamu nyata. Disini bersamaku, disini dalam pikiranku yang meluap. Merengkuhmu dan mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Tak ada yang ada bisa kuhadapi tanpa bayanganmu.

Pernahkah kamu dengan tidak sengaja menjadi motivator bagi orang lain? Atau bercita-cita setingi langit, sedangkan orang melihatmu dengan sebelah mata? Dua hal ini yang terjadi dalam hidupku hari ini dan bagiku hari ini adalah salah satu cara untuk bahagia.

Pertama aku dicemooh karena aku ingin bersekolah lagi ke Belanda. Aku hanya ingin sekolah ke luar negeri. Titik. Bagiku ini adalah salah satu cara mencapai visiku. Dalam hati aku tidak akan merasa bersedih hati, karena aku yakin selalu ada campur tangan Tuhan bagi orang-orang yang bervisi. Walaupun kapasitas Bahasa Inggrisku masih sangat kacau, namun tentu saja itu bukan sebuah alasan yang paling tepat untuk aku tidak bercita-cita sekolah keluar negeri lagi. Sesuai dengan kata Habibi yang aku kutip dalam tayangan 360 Metro tv, ‘jangan pernah bermimpi, karena ketika kamu bangun kamu tidak mendapatkan apa-apa, namun ketika kamu bervisi, kamu tau caranya mendapatkannya’.

Kedua, aku menjadi motivator bagi orang lain yang selalu tidak percaya diri. Kukatakan padanya, bahwa ketika kamu tidak percaya diri maka orang akan melupakannya dengan segera. ‘kamu boleh pergi jauh, tapi ketika kepada orang-orang terdekat bersikaplah seperti apa adanya dan percaya diri, sehingga aku tak akan kehilanganmu’. Aku tidak pernah ragu mendukung orang lain untuk maju. Aku berusaha tidak pernah iri melihat orang maju, karena didalamnya aku menemukan kebahagian yang luar biasa. Caranya bisa saja dengan sederhana, memberikan kesempatan mereka untuk berkarya dan tampil didepan walaupun itu dari pemikiran kita. Serta yang paling penting jangan mencari tujuan pujian didalamnya, karena didalamnya akan mengurangi kebahagiaan itu sendiri.

Dua hal ini menjadi pembelajaran penting hari ini. Sederhana sekali, dimulai dari diriku sendiri. Ini hari Kamis, besok Jumat, yang berarti kita akan punya waktu produktif bagi diri kita sendiri, berkarya dan berkarya. Tidak usah dipuji, ini sekedar kebahagian.

Pernahkah kalian bosan dengan pekerjaan kalian? Yeah, tha’s great. Saat ini saya masih dalam masa tahap kebosanan yang luar biasa. Bekerja sebagai PNS seperti impian ibu saya, sebenarnya jauh sekali dari kenyataan siapa diri saya sebenarnya. Namun tentu saja sorot mata dan kebanggaan mama jadi lebih penting dari cita-cita saya.  Read the rest of this entry »

25 years old, i feel happy and beauty, thanks mom, thanks God.

Kalimat itu yang aku ucapkan ketika tanggal empat bulan sepuluh menghampiriku. Tepat dua puluh lima tahun umurku. Berarti tepat dua puluh lima tahun pula ibu merawatku. Ada keputusan penting dalam hidup ketika umur ini menjelang 25 tahun, yaitu aku memutuskan menikah. Jelas saja aku sangat bahagia, diumur yang baru ini aku memiliki hal baru dalam hidup. Tidak semuanya aku menyukai hal baru, aku termasuk orang yang kesulitan beradaptasi dengan hal baru. Aku sulit move on dalam kehidupan, bagiku masa lampau merupakan teman dimasa kini.

Saat aku menginjak 25 tahun, semua orang bertubi-tubi memberikan ucapan kepadaku. Doa yang dipanjatkan tidak jauh dari kebahagaian untukku dan keluarga kecil baruku. I’m So Happy. Pada malam pergantian umur tersebut, aku hanya berdoa kepada Tuhan bahwa aku bisa selesai dengan diriku sendiri. Tulisanku keluar dari diriku, dan tidak terpengaruh dengan apapun. Aku ingin mengembalikan subjektifitasku sebagai seorang manusia. Menggunakan subjektifitasku untuk alur yang kumaknai. Serta sederet doa-doa yang kuungkapkan untuk keluarga kecilku.

Serta teronggok sebuah kue berangka 25  dan biola berbungkus kertas kado dari suamiku. Biola tak bisa aku peluk, tapi aku mencintainya dalam denting yang keluar dari senar-senarnya. Tak terhingga sejuta kalimat yang ingin kuucap, hanya ‘terima kasih’ yang mampu mewakili. Setidaknya kelak, anak-anak yang akan kulahirkan akan ditemani deretan nada-nada dari senar biola.

Kamu penganut liberal, manusia penganut fasisme, saya tidak ingin berteman dengan penganut liberal. Saya garda depan sebuah organisasi Islam, tidak mungkin akan jalan dengan penganut liberal.

Kalimat diatas dengan cepat diucapkan seorang teman kepadaku ketika aku bercerita mengenai aktifitas perlawananku dengan cara menulis.  Saya teringat kalimat ini dilontarkan satu tahun silam oleh seorang teman kepadaku. Sudah tentu saya terdiam dan belingsatan menanggapi kalimatnya yang cenderung sarkastik, sangat tidak menghargai perbedaan dan cenderung menyinggung SARA.

Saya lantas malas sekali berhubungan dengannya dan mencoba menjauhkan diri dengannya. Tapi sebaliknya akhir-akhir ini saya mulai tertarik dengan lontarannya, tentu bukan untuk membenarkan kalimatnya. Saya cenderung mencari apa yang salah dengan apa yang saya yakini dan perjuangkan selama ini. Bukankah untuk mencari sebuah yang kita yakini membutuhkan sebuah kebenaran-kebenaran yang kita cari dan yakini pula?

Saya baca beberapa referensi mengenai fasisme karya Mansour Fakih. Saya membaca beberapa artikelnya dan menemukan bagaimana sistem kerja fasisme dan liberal di Indonesia. Saya lantas serta merta mengurangi tuduhan saya pada teman saya yang benada sarkastik tadi, dengan mulai memahami secara menyeluruh apa yang dulu dia bicarakan padaku.

Mengutip apa yang dikatakan Mansour Fakih,

Namun demikian, meskipun awalnya lebih merupakan reaksi terhadap situasi krisis dan jalan keluar dari rasa frustrasi rakyat, namun secara umum terdapat kandungan ideologi yang membentuk gerakan fasisme. Salah satu yang terpenting adalah kuatnya semangat penolakan terhadap perkembangan arus keyakinan liberalisme yang menekankan pada kebebasan individual dan persamaan antar manusia dan warna kulit.

Saya tertegun membaca itu, dan mulai berfikir, apakah ini sebenarnya? Keyakinan saya seolah goyah dan saya membuat diri saya larut kedalamnya. Tapi saya yakin, inilah proses dalam hidup. Tak akan berhenti cepat mencari kebenaran dan keyakinan. Jika pada tahap itu kita sudah terlalu puas untuk berhenti, maka kita sesungguhnya mati dalam kehidupan.

Kebebasan individual, dan persamaan antar manusia dan warna kulit, saya tertegun dan teringat kalimat sarkastik yang keluar dulu, satu tahun silam. Seandainya saya punya keberanian mengatakannya padanya pandangan saya ini, saya akan mengatakan pula, bagaimana kita akan disamakan, sedangkan kita memang berbeda-beda.

Pencarian keberanan ini tentu saja belum usai, saya terus mencari dan belajar. Semoga suatu saat, ketika saya paham dan bertemu dengan kebenaran dan keyakinan, saya dapat mengatakannya dengan lugas. Berjuang juga dengan lugas.

Bengkulu, 28 Mei 2012

Dear Bapak,

Akhirnya tiba juga saatnya aku ingin berpamitan padamu. Pada saatnya aku harus menjaga perasaan mama. Manusia separuh dewa yang telah membuat aku menjadi begitu kuat, yang telah membuat aku mengenal siapa aku dan membuat aky mengerti apa tujuan hidupku. Maaf, sungguh aku hanya bisa menuliskannya disini saja. Tak mampu aku mengatakannya padamu, apalagi pada dunia. Hanya tangisan pilu dalam hati terdalam yang tak mampu aku luapkan.

Hanya tulisan ini saja. Ketika aku tak mengenalmu, ataupun merasakan panggilan sayang untukmu. Atau sekedar inginku dari dulu, tanyakan apakah aku sudah makan hari ini. Cukup itu saja, dan itu sudah dari lebih inginku. Aku menulis ini dengan berderai air mata. Ingin rasanya mengubah waktu dan kembali menjadi kecil serta menghapus semua mimpi-mimpi yang membuat aku ketakutan akan gelap. Ingin segera keluar rasanya dari persembunyian ini, ketika aku hanya berkaos biru dan mama memberi pilihan kepada kami. Kala itu aku terlalu kecil, tapi semua lengkap aku ingat hingga hari ini. Aku memilih tinggal bersama manusia separuh dewa dan sejak saat itu aku menepis semua mimpi tentangmu.

Bapak, mungkin dua bulan lagi aku akan melakukan perhelatan besar dalam hidupku. Kulawan semua trauma, kulawan semuanya dengan menjadi lebih dewasa. Mungkin saja, kau tak akan sempat sekedar memarahiku karena aku diapeli terlalu malam. Ataupun kau tak akan sempat menungguiku tidur lagi. Ataupun kau tak akan sempat menelisik orang yang kupilih. Tapi sungguh, aku tetap anakmu. Tak ada maksud untuk menjadi durhaka, ataupun mengabaikanmu. Ini masalah rasa, masalah hati yang ternyata tak bisa kutangani sendiri.

Aku sudah terbiasa memutuskan sendiri, terbiasa menjadi biasa saja. Oh Tuhan, semoga aku tidak salah.

Aku ini lahir dari kerumitan yang tak terhingga. Masih terngiang jelas ditelinga ini, hari raya Idul Adha entah tahun keberapa, aku memakai kaos biru setali, dengan rambut pirang yang dikuncir sembarangan oleh ibu. Lalu aku melihat kejadian yang selalu membuatku terbangun tengah malam dari tidur lelapku. Ibuku membanting keras meja makan, dan bertengkar hebat dengan ayahku. Mungkin usiaku baru tiga tahun kala itu.

Kusimpan rapat-rapat bertahun-tahun, tapi tetap saja kuingat. Kusimpan bertahun-tahun tak ingin kubicarakan pada siapapun. Akhirnya aku luluh lantah pula, kuceritakan pula. Tak sangup lagi rasanya hati ini menahan. Tak ada yang mengerti kadangkala kupikir. Hidup tanpa seorang ayah, tak pernah kupermasalahkan. Tak ada masalah. Aku tetap menjalankan hidup dengan bahagia, seperti anak lainnya. Seperti remaja kebanyakan, seperti manusia kebanyakan. Aku meleburkan diriku pada manusia kebanyakan dan membuat diriku senyaman mungkin.

Akhirnya tiba waktunya, kenyamanan itu terusik. Pada suatu hal yang menunggu keputusanku. Pada suatu hal yang memaksaku untuk memutuskan. Pada suatu hal yang tak pernah ingin kuputuskan sendiri. Pada suatu hal yang akupun sebenarnya tak ingin mengusiknya. Pernahkah kita merasa rindu namun kita pula tersakiti? Inilah yang sesungguhnya, merindukan seorang sosok ayah, tapi bertahun-tahun sakit itu tak pernah hilang. Sungguh dalam hati ini, aku tak pernah ingin kenyamanan yang kubangun bertahun-tahun ini tak ingin kuusik sedikitpun. Terlalu aku tak ingin lagi terbangun malam-malam.

Terlalu kacau untuk aku ungkapkan. Terlalu kacau untuk aku rasakan sendiri. Aku belum siap menghadapinya sendiri. Butuh waktu bertahun-tahun lagi menghadapinya sendiri. Tak ingin pula isak tangis nantinya keluar. Umpatan, cacian, hinaan, hingga kebahagian yang tak tau lagi pada tempatnya.

Aku tak ingin membicarakan, atau dibicarakan. Ditekan ataupun menekan. Memutuskan ataupun diputuskan. Aku terlalu kacau melakukannya sendiri. Sekali ini aku tidak ingin menjadi momentum ini menjadi kebanyakan. Pernahkah kau bayangkan melihat ibu menangis dibelakang? Sekaligus pula melihat ayah menangis dibelakang. Hanya aku yang tau bagaimana diantara mereka menumpahkan tangis dibelakangku. Membayangkannya saja aku tak sanggup. Merasakannya saja aku tak ingin.

Sungguh sebenarnya aku tak ingin kenyamanan ini terusik. Hanya karena aku ingin menjalani hidup baru. Bukankah Tuhan tidak pernah membuatku sulit. Membuat aku menyakiti orang lain. Tak ada satupun rasa ini ingin menyakiti. Tapi pada akhirnya aku harus menyakiti. Hingga aku pula mengubur dalam-dalam sendiri.

Entah butuh berapa puluh tahun lagi, ketika kejadian itu terjadi. Aku harus mengingat, terbangun tengah malam, membangun kenyamanan dan mungkin menyesali keputusanku, menyakiti mereka.

Dengan derai air mata yang tak turun.

Bengkulu, 11 Februari 2012, 23:24

 

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics