Slideshow
Tags & Categories

‘hai Le’, Sandi berdiri didepan mataku dan menyapaku. Kulihat Bayu bersama Sandi, dia dibelakang Sandi dan tersenyum menunduk.

Sandi menghampiriku dan membawakanku seikat bunga lily putih untukku. Aku terkejut sekaligus kelimpungan dibuatnya. Aku mengharapkan Bayu menemaniku, tapi aku mendapatkan kedua orang yang kuanggap mirip ini ada disini. Sebenarnya aku masih ingin memarahinya karena sudah lama sekali rasanya aku kehilangannya. Tak tau kabarnya dan kami seolah-olah menjauh. Kecuali waktu kami berkomunikasi melalui sms waktu aku sednag pelatihan kemarin.

Aku luluh dan tersenyum, merentangkan tanganku ingin meraihnya. Tanda aku berdamai dan sangat merindukannya. Sandi tersenyum dan mencium keningku serta meraih tanganku mendekapnya erat sekali.

‘hai, how are you darl?

I’m fine boy

I bring something for you, I gone to Anterpen, I rememembered you and buy this for you’, kata Sandi.

Sandi membawakannku coklat dan sebuah lonceng satu set, dari besar hingga kecil yang dapat jadi hiasan kamar lucu dan berbunyi jika aku menempatkannya didekat jendela. Aku melihatnya dan mencobanya, bunyi loncengnya membuat aku tersenyum, aku tau Sandi rasanya tau apa yang aku mau.

Mataku tak lepas dari mata Sandi. Aku merindukannnya sungguh. Kulihat Bayu move on dari tempatnya dan duduk mendekati Rara. Rara tersenyumd an terlihat kaget melihat dua laki-laki mirip ini.

‘oh, hai Bay. Terima kasih ya kamu disini’, aku menyapanya.

Sandi melepaskan tatapannya dan mengelus rambutku dengan mesra. Bayu tersenyum simpul saja, dan merasa kaku ada diantara aku dan Sandi. Kulihat dari sikapnya yang tak lepas dari ponsel, seolah-olah sibuk.

‘kapan kamu sampai Indonesia?’

‘baru kemarin Le aku sampai Jakarta, trus aku dijemput Bayu dan Bayu menceritakan tentangmu, makanya kami langsung terbang kesini’, kata Sandi.

‘Ra, apakabar? Maaf jadi tak menegurmu’, kata Sandi sesopan mungkin.

‘yey, iya nih, kangen sih kangen, tapi rumah sakit ini bukan milik berdua ya Bay’, kata Rara sewot.

Kami tertawamendengar ocehan Rara.

‘ya maaf Ra, maklumlah, dua tahun udah gak ketemu, hampir kehilangan seumur hidup lagi’, kata Sandi.

‘Lo sih San, kemana aja. Gak ketemu bule manis disana?’, kata Rara sambil melirikku.

‘ah kamu Ra, mana mau bule sana sama aku. Lea aja dulu yang ngejer-ngejer banget’, ungkap Sandi sambil melirikku nakal.

‘hm, serius San, bentar lagi ada yang sewot’, kata Rara melirikku.

Aku menatap Bayu, sungguh aku tak tau bagaimana membedakan kedua laki-laki ini sebenarnya secara selintas mata. Tapi hatiku yang mampu melihatnya. Aku melihat perbedaan-perbedaan yang sangat jelas. Aku sangat beruntung rasanya bertemu kedua laki-laki ini. Nyaman sekali rasanya bertemu mereka disituasi yang sangat membuat aku tertekan ini. Sepertinya aku letih sekali dan mulai mengantuk. Sandi duduk disampingku dan setengah memelukku. Rara dan Bayu menyingkir keluar.

‘tidurlah Le, kau harus kuat. Akan aku ceritakan sebuah dongeng untukmu dari Sumatera Selatan, Putri Rambut Emas’, kata Sandi

‘apakah ada seorang putrid rambut emas itu San?’, tanyaku polos.

‘ya, dia ada dan akan aku ceritakan. Dahulu kala ada seorang putri rambut emas. Dia bertemu dengan seorang laki-laki dan mereka jatuh cinta. Namun, ayah putri rambut emas tidak menyetujuinya. Sang ayah menantang laki-laki tersebut bertarung. Laki-laki tersebut memenangkan pertarungan dan akhirnya putri rambut emas pergi serta hidup dengan laki-laki pilihan hatinya. Putri rambut emas dikaruniai dua orang anak perempuan yang sangat cantik. Mereka sering berburu dan hidup berbahagia, walaupun tanpa kehidupan hingar binger kerajaan’, kata Sandi berbisik menceritakannya denganku.

‘lalu bagaimana kelanjutannya’, kataku yang sudah setengah tertidur.

‘sang ayah putri rambut emas sebenarnya masih tidak merelakan putri rambut emas menikahi laki-laki tersebut. Akhirnya dengan penyihir kerajaan, sang ayah merencanakan ingin membunuh suami putri rambut emas dengan membuat lobang untuk menjebak laki-laki tersebut. Tapi ternyata bukan sang laki-laki tersebut saja yang terjebak lobang. Putri rambut emas dan seorang anak perempuannya juga ikut terjebak lobang dalam lobang yang langsung ditutup dengan sebuah pohon besar. Anak perempuan putri rambut emas satunya mencari-cari ibu, adik dan ayahnya dengan pilu. Kepiluan tersebut terdengar oleh ayah putri rambut emas, sang anak menceritakan kehilangannya. Awalnya sang ayah putri rambut emas tidak percaya. Tapi ketika melihat rambut emas sang putri yang berada diluar pohon membuat sang ayah mengamuk dan menyesali perbuatannya. Akhirnya sang ayah menyesal seumur hidup dan membawa anak putri rambut emas ke kerajaan.’, cerita Bayu.

Aku tertidur lelap sekali. Tapi aku mendengar ksiah tersebut. sandi tertidur disebelahku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1,612 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics