Slideshow
Tags & Categories

Cahaya matahari sudah menerangi dan masuk melalui celah-celah kamarku. Biasanya ayah atau ibu sudah ribut jika aku bangun kesiangan. Memang aku tidak terlalu suka bangun kesiangan. Panas pagi menjelang siang, membuat tubuh sering lemah lunglai dan sering berpeluh keringat. Aku terduduk sebentar dan mengambil minuman yang selalu kuletakkan diatas meja. Aku meneguknya habis. Kuambil ponsel dan kulihat Bayu baru mematikan telponnya setelah aku terlelap. Sepertinya sekitar satu jam lebih.

Aku melihat pesan Bayu diponsel.

‘Le, aku jadwalkan tiket penerbanganku sore nanti. Semoga kau baik-baik saja’

Aku bingung harus merasa bahagia atau tidak, tapi aku serasa aneh saja. Tak bisa aku bayangkan bagaimana nanti kehidupanku. Bagaimana nanti perasaanku dan bagaimana aku menjelaskannya pada Bayu, juga pada ayah. Aku keluar kamar dan berlari ke bengkel. Kulihat anak-anak ini sedang asyik dengan kanvas masing-masing. Aku asyik memandang anak-anak yang sedang melukis ini, dan terduduk disana hingga aku lupa bahwa tujuan awalku ingin menanyakan keberadaan ayah.

‘mbak Le, kenapa?’, tiba-tiba Sahrul bertanya kepadaku.

‘mbak Le’, Sahrul menegurku lagi.

‘oh iya Rul. Enggak, mbak haru aja, melihat kalian sudah bisa melukis bagus-bagus’, ungkapku takjub.

‘hehe.. ayah emang melatih kami dengan keras mbak, dengan sepenuh jiwanya mbak’, ungkap Sahrul.

Aku tercengang. Aku langsung ingat tujuan awalku ke bengkel untuk menanyakan ayah.

‘ayah kemana?’

‘ayah ada di loteng mbak, sedang melukis sepertinya’, kata Sahrul.

Aku langsung lega. Kubiarkan diriku larut dalam bengkel ayah. Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan pekerjaan ayah dengan detail. Aku juga merindukan Rara, dimana dia, aku ingin melarikan diriku padanya.

Tapi kenapa aku ingat Bayu tadi malam? Aku merasa aneh. Kubuka ponselku dan kubaca ulang sms Bayu, astaga aku bingung, ternyata Bayu akan pergi kesini nanti sore. Apa yang harus aku katakana padanya, apa yang akan aku katakana pada ayah. Tuhan, kesalahan apa lagi ini? Apa yang harus aku perbuat dan apa yang harus aku lakukan.

Kupencet nomor Rara dan aku ingin dia segera dating kerumah.

‘Rara, kamu hari ini aku culik kerumah ya, bilang sama suamimu ya’

Aku tak izinkan Rara menjawab, langsung kumatikan ponselku. Aku memperhatikan anak-anak itu dan merasakan tubuhku letih sekali. Aku tak ingin makan apa-apa, aku hanya ingin bertemu ibu atau mendengar penjelasan dari ayah. Supaya hatiku tenang. Aku tak tau apakah ayah masih bermuram durja atau tidak. Tapi yang jelas aku sedang tidak ingin membujuk. Aku ingin dibujuk oleh ayah atau ibu. Atau Bayu, atau Rara. Aku mogok makan seharian.

Kulihat Rara memakirkan mobilnya, dan aku duduk saja di bengkel. Rara mendekatiku dan menarik tanganku.

‘hei, what’s wrong beb? Halah bahasaku sok keren ya?’, Rara mengkoreksi bahasanya sendiri.

‘ho oh, kebarat-baratan tau’, aku melenggos sambil mengajaknya ke kamar.

Rara tenang saja dan nyengir kuda melihat reaksiku yang memang sedang tidak mood tapi masih mau menimpali apa yang dikatakan olehnya.

‘kamu liat ini’, aku langsung menunjukkan lukisan-lukisan itu kepada Rara.

Rara langsung meneliti satu persatu lukisan yang kuperlihatkan kepadanya. Lukisan itu sesuai dengan susunan yang aku coba bolak-balik semalam.

‘ada apa ini Le? Itu ibu Le’, ujar Rara takjub sambil menutup mulutnya yang mulai melongo.

Aku langsung meneteskan air mata. Aku tau bahwa Rara lah anak kesayangan ibu. Ibu selalu menyayangi Rara seperti menyayangi aku. Ibu selalu membiarkan aku selalu bersama Rara, membuatkan makanan kesukaan Rara hingga kadang membelikan baju untuk Rara lebih bagus dari membelikan bajuku. Aku pernah cemburu pada Rara, tapi ibu hanya tertawa saja dan mengatakan bahwa ibu tak membedakan kasih sayangnya padaku atau pada Rara.

Rara kadang-kadang juga tertawa jika aku mulai cemberut ibu memperhatikannya lebih. Tentu saja Rara akan tertawa menang sekali dan mengatakannya didepan teman-teman. Ah, Rara tak dapat aku ungkapkan. Kami adalah satu, satu hati.

‘apakabar ibu Le?’, sekali ini Rara yang menangis. Aku lihat perasaannya lebih hancur dari perasaanku. Aku melihat, Rara tak kuasa menahan kepedihannya pula. Baru kali ini aku lihat Rara menangis dan melebihi kepedihanku.

Kami berangkulan erat sekali. Seakan tak terpisahkan. Berbagi kemelut, berbagi cerita dan berbagi kepedihan. Untuk satu orang yang sama-sama kami cintai. Aku tak mampu menghapus air matanya, tak mampu menghapus air mataku pula. Karena ini masalah rasa dan harus dipecahkan. Kami sama-sama merindukan ibu.  Tak ada yang lebih penting sekarang daripada merindukan ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4,874 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics