Slideshow
Tags & Categories

Ketika merindu dan mencinta adalah dua hal yang tak dapat dipisah. Lalu bagaimana aku bisa mengungkapkannya jika kau tak ada disini? Jika kau pergi meninggalkanku. Apakah hanya cukup dengan isyarat saja?

Aku gelisah selama perjalanan pulang, rasanya penerbangan selama satu jam lama sekali. Aku bingung sekali dengan kejadian tadi. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang melayang-layang dibenakku. Aku kebingungan. Kemana lagi aku mencari ibu. Oh, Tuhan, apakah ibu sehat? Apakah ibu sedang dalam keadaan baik? Ataukah ibu sedang kesulitan? Bagaimana hidup ibu sekarang? Apakah hidup ibu aman, nyaman?

Aku memikirkan hidup ibu terlunta-lunta, ibu kesulitan makan, ibu sakit. Ah, semua membayangi pikiranku. Kebingungan-kebingungan tiba yang ada. Ibu terbiasa aktifitasnya terjadwal dari pagi hingga malam. Lalu apakah ibu masih melakukan itu?

Aku menaiki taksi yang kupanggil dari bandara. Aku meminta sopir taksi berkeliling dulu, siapa tau aku bertemu ibu disini untuk meyakinkan diri bahwa tadi bukan ibu. Tadi ayah telpon, ayah masih ada tamu di bengkelnya. Aku merasa lega ayah tidak jadi menjemputku. Setidaknya aku masih bisa menutupi perasaanku ini didepan ayah. Aku bingung bagaimana ayah bisa tidak mencari ibu. Aku bingung sebenarnya apa yang terjadi diantara keduanya. Aku yang selama ini terllau mengerti apakah aku sebenarnya tidak mengerti.

Sopir taksi seakan tak mengerti bahwa aku sedang gelisah. Tapi kulihat dia mencuri bayangan dari kaca melihat ekspresiku yang tak karuan ini. Rambutku yang memang acak-acakan sedari tadi kuikat tinggi-tinggi agar tak menghalangi pandangan mataku ke jalanan. Setidaknya aku merasa bahwa ibu tak dikota ini, dan tak pula bersama laki-laki penyuka rokok tadi.

Bayangan ibu seperti menghantuiku. Betapa rindunya aku dengan perempuan itu. Betapa rindunya dengan pelukannya, tembangnya hingga gurisan tanggannya yang lembut. Oh ibu, mengapa ayah tak pernah mencarimu. Apakah ada yang disembunyikan dariku sesungguhnya. Apa yang mereka lakukan dan membuat aku terlalu bingung untuk semuanya. Apakah memang aku harus memendam rindu ini.

Terus terang, aku akhir-akhir ini mengakui bahwa aku jatuh cinta pada ibu. Sejak lukisan bergaya monalisa itu diberikan kepadaku, aku mulai jatuh cinta. Pernahkah kita merasa jatuh cinta pada seseorang yang kita cintai seumur hidup kita? Itulah jawabannya mengenai ibu. Ibu merupakan sosok yang sangat membuat aku jatuh cinta berkali-kali.

Dad calling… Aku terasa enggan mengangkatnya, takut perasaanku menjadi bias dan sedikit kebingungan. Tapi kuberanikan diri memencet tombol hijau diponsel.

darling, sudah sampai mana? Mengapa lambat sekali?

‘ya ayah, sebentar lagi sampai, tapi kami melewati pantai, agar tidak terkena macet. Malah kami yang terjebak macet ayah’

‘okelah, ayah tunggu ya’

Ayah mematikan ponsel setelah aku mengatakan ‘iya ayah’, dengan memanja. Mungkin itulah yang membuat ayah merasa lega, anak kesayangannya ini telah kembali kepangkuannya kembali dengan bahasa memanja.

Aku seakan takut ketika dari kejauhan sudah melihat halaman luas rumah yang didepannya ada bengkel ayah. Ayah pasti sudah membersihkan kamarku dan menyediakan makan untukku. Tapi sepertinya, hal itu tidak dapat membuat hatiku bahagia. Aku hanya ingin bertemu ibu sekarang. Saat ini juga. Aku hanya ingin tau keberadaan ibu.

Ayah menjemputku didepan pagar dan tersenyum sumingrah. Sepertinya ayah sedang bahagia dan ingin memberitahuku.

‘Alea kecil ayah’, ayah memelukku waktu aku turun dari taksi.

Aku membayar taksi, dan ayah mengkerutkan dahinya melihat argo yang tinggi sekali. Aku memberi senyum dan menarik tangan ayah. Sopir taksi memanggilku untuk kembalian uangnya, aku hanya tersenyum dan mengatakan dia harus mengambil sisanya.

‘ayah, aku lapar sekali’, ungkapku sambil tersenyum melihat beberapa anak asuh ayah yang melihat kedatanganku dan membantu membawakan barang-barangku.

‘iya, ayah tadi masak bayam bening, tempe goreng dan kerupuk udang untukmu. Ayah pikir pasti kau kebosanan makan makanan ala hotel itu’, cerocos ayah.

Aku tetap saja terpana sepertinya dan mencoba mendengarkan ayah, walau perasaannku kacau sekali. Duduklah ayah akan mengambilkan piring.

‘aku ganti baju dulu ya yah, aku juga belum cuci tangan yah’, ungkpaku yang ingin sekali masuk kamar dan melihat lukisan ibu.

Aku menghambur ke kamarku, dan langsung terkejut, kamarku seperti galeri. Ada beberapa lukisan menggunakan kanvas kecil. Aku tau ini lukisan ibu dan lukisan ini bercerita.

‘ayah’, aku menjerit dari kamar.

Ayah tiba-tiba sudah dibelakangku dan tersenyum.

‘ada yang mengirimkan lukisan ini untukmu tapi tidak ada nama pengirim, sepertinya dari Belanda’, ungkap ayah nakal.

‘maksud ayah Sandi?’

‘siapa lagi jika bukan dia?’, ayah sambil mengangkat tangganya.

‘maaf ayah membukanya, karena ayah takut lukisan ini jamuran karena pembungkusnya sepertinya basah kemarin’

Aku memandangi lukisan itu seksama dan yakin itu lukisan ibu.

‘ayah, coba ayah perhatikan, itu lukisan siapa?’, ungkapku sedikit geram pada ayah.

Dahi ayah berkerut dan mulai berjalan kearahku.

‘apa yang kau pikirkan Le?’, kali ini ayah tak mampu berbohong.

‘ayah, aku merindukan ibu’, akhirnya tangisku pecah.

Ayah memelukku erat sekali dan tak berkata apa-apa.

‘ayah ada apa ini sesungguhnya? Ayah mengapa ayah tidak pernah mencari ibu? Ayah apakah yang terjadi pada ibu?’ tanyaku.

‘bagaimana ayah bisa menceritakannya padamu nak’

‘ayah ada apa ini?’

Ayah hanya memelukku saja. erat sekali, hingga air mata kami sama-sama tumpah. Hatiku berkecamuk. Aku merindukan perempuan itu. Sungguh, aku cinta dan merindukannya. Tak ada kata lebih pantas dari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1,610 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics