Slideshow
Tags & Categories

Aku tidur dipangkuan Bayu selama semalaman. Bayu menyelimutiku dengan jaketnya. Jujur saja, aku merasa nyaman sekali kali ini. Entah karena ada bayangan Sandi pula mulai menghampiri. Tapi ini real seoarang Bayu.

Aku terbangun kala azan subuh mulai berkumandang. Aku membangunkan Bayu pula, dan mengajaknya ke mushola. Sepertinya kakinya sedikit pegal karena semalaman harus menopang kepalaku. Kulihat Robert tidur di sofa samping Sarah. Sarah masih terlelap, speertinya Sarah diberi obat tidur oleh dokter agar dia mampu istirahat dengan total pasca tubuhnya melemah lalu.

Aku masih sedikit lelah, aku menyandarkan tubuhku didinding mushola. Bayu melintas didepanku dan terpaku melihatku. Aku seperti ember kosong yang tak ada air.

‘hei, kita harus back to hotel dan ikutin acara lagi. Satu hari yang melelahkan ya’, ujar Bayu.

‘iya Bay. Aku ingin makan salad buah’, ujarku

‘gak makan kerupuk lagi Le?’, canda Bayu.

‘yuk, aku gak mau telat hari ini’, ungkapku sambil melepaskan mukena yang masih kupakai.

Bayu memanggil taxi. Kami melaju ke hotel. Tentu saja, aku melihat Alea sebelumnya. Tapi aku tak melihat Sarah. Sarah sudah aman bersama suaminya, gumanku.

‘ibu pergi nak’.

Aku mengambil salad buah dengan porsi besar, ditambah coto makasar dan sepiring kerupuk udang. Bayu dan beberapa teman lainnya melotot melihatku menenteng banyak makanan dari bufe. Aku tentu saja tak peduli. Kadang, makan sepuasnya juga dapat melampiaskan emosi hati dan membuatnya lega.

Aku meminta segelas susu hangat pada pramusaji, dan menyeruputnya duluan hingga habis. Aku mulai makan tanpa melihat sekelilingku dan memperhatikan Bayu yang menggunakan kaos putih polos yang aku suka.

‘hei, banyak sekali yang kau makan Le’, ungkap Bayu

‘kamu kelaperan ya Le, seharian kemarin kamu gak makan apa Le?’, seloroh Andi santai.

‘banget, aku rasanya ingin menghabiskan semuanya Ndi’, aku menjawab pertanyaan Andi dengan konyol.

‘aduh makan akika aja deh Le. Sumpe rela deh gua’, seloroh Andi menggemas-gemaskan suaranya.

Hahahhaha… semua orang tertawa melihat kelakuan Andi. Aku juga sebenarnya ingin sekali tertawa terbahak, tapi mulutku penuh dengan salad buah yang sedang kusantap.

‘kalo kamu begini saat Sarah melahirkan kemarin, aku jamin Sarah cepet melahirkan Ndi. Karna dia bisa ngedan dua kali sambil tertawa’, ungkap Hamid sembarangan.

‘wah kalo gitu, ntar kalo kamu melahirkan panggil Hamid aja Le’, seloroh Andi.

Semua tertawa.

‘kalo yang itu harus izin dulu ma suaminya’, canda Bayu.

Semua mata menatap ke Bayu. Untung saja Hamid yang juga kocak, menyelamatatkanku dari kekikukan. ‘ih elu, sok sokan, jangan mau Le sama Bayu. Ma gua aja ya’

Aku sekali ini tertawa kuat sekali.

‘denger-denger ya mid, masa kamu ngerayu aku di tempat makan sih, gak romantis tau’, sambil melirik nakal ke Hamid.

‘wah kalo ekspresi lu gitu, aku tambah naksir Le’, ujar Hamid.

Semua tertawa.

‘maaf mba, ada yang mau diambil lagi di bufe. Bufe akan tutup, tapi silahkan lanjutkan makannya’, ujar pramusaji kepada kami.

‘sudah mba. Terima kasih. Yuks buruan, berarti kita udah mulai telat dong’, ujar Andi mengingatkan.

Hari ini penutupan acara. Kali ini kami membicarakan naskah monolog untuk pementasan yang akan ditampilkan bersama tiga bulan kedepan. Bayu mengimpitku dan berbisik ‘semenjak jadi ibu, makannya banyak ya’, ujar Bayu geli.

Aku tersipu malu.

‘beneran mau ma aku?’, aku membalasnya nakal.

‘gimana ya, kalo gak ada perempuan lain sih bolehlah’, ujar Bayu.

‘wah bukannya kamu suka sama aku?’

Bayu memandangku jauh sekali dan aku melelnggang cuek aja. Aku duduk dan sibuk dengan naskahku. Tentu saja, aku ingin naskah ini lolos dan dikoreksi bersama. Aku merasa lain, lebih berani dari sebelumnya.

‘Lea, tolong kumpulin naskah hasil temen-temen ya’, ujar Tika, fasilitator diskusi.

Aku mengarahkan flashdisk ke teman-teman untuk bergantian memasukkan naskah mereka ke folder yang sudah aku sediakan.

Tina menghidupkan LCD dan membuat rencana aksi tiga bulan kedepan. Aku aku terkejut karena rencana aksi yang didiskusikan oleh teman-teman tiga bulan kedepan sangat padat. Aku memikirkan bagaimana manajemen pekerjaan rumah untuk teaterku. Pasti Rara akan belingsatan sendiri bekerja. Atau kerepotan mengurusi pementasan-pementasan yang akan dilakukan hingga tiga bulan kedepan.

Dari kegiatan ini aku menyempurnakan naskah monologku dan yakin untuk menampilkan naskah monologku pada Juni kelak. Namun, project bersama ini harus dikerjakan pula secara bersamaan. Sedangkan aku harus mengikuti training lanjutan menulis naskah ini.

Hasil diskusi mengatakan ada tiga naskah yang akan dipakai sebagai rencana aksi bersama pada peringatan hari ulang tahun jaringan teater ini. Termasuk naskahku. Aku bingung, karena sebenarnya naskah ini sudah aku persiapkan untuk pementasan teaterku pada Juni nanti. Sepertinya kali ini aku harus menuliskan naskah lain untuk pementasan teater.

Semua bertepuk tangan untuk ketiga naskah yang terpilih. Termasuk naskah Bayu. Aku gelingsatan terpana dan memumpukan pandangan mataku ke mata Bayu. Sepertinya aku jatuh cinta kali ini. Bukan pada banyangan Sandi, tapi pada Bayu.

Ah, semudah itukah aku jatuh cinta.

‘ye, Bayu kesengsem tuh, sama Lea’, ‘cuit, cuit’, ‘sepertinya ada yang jatuh cinta’.

Aku tersipu-sipu malu mendengar berbagai ungkapan para teman-teman. Naskah kami dipilih karena orisinilitas karya, unik dan ada keterkaitan antara satu dengan lainnya. Mungkin saja ada keterkaitan, karena aku merasa kami terkait satu sama lain. Entahlah, ini jatuh cinta ataukah rasa merindu.

Batas antara merindu dan jatuh cinta jadi sedikit tipis. Namun kali ini aku yakin, aku jatuh cinta lagi, dan berulang pada laki-laki ini. Sejak semalaman dia terjaga menjagaku. Atau sejak aku tau dia berbakat menulis. Ah, kadang perempuan sering begini. Mudah jatuh cinta pada suatu kondisi yang sangat dramatis, pada momentum tepat dan pada ketika ada perbedaan selera namun terkait.

Aku tidak lupa pada ketegangan kemarin. Pada mata Sarah yang memelas, pada Robert yang pernah kucintai, atau pada Sandi yang merindu. Atau mungkin pada Alea kecil yang mencintai aku. Aku serasa diawang-awang, aku tidak mengalihkan pandanganku pada Bayu. Pada naskah yang terpilih bersama.

Aku tak malu-malu dan membuang harga diriku. Membuang maluku menyambangi Bayu dan memberinya selamat sambil memeluknya. Hangat tubuhnya, wangi tubuhnya aku resapi dalam-dalam. Kami tertawa bersama. Hanya Andi yang melihat adegan ini, karena semua sibuk bersamalam-salaman tanda perpisahan. Tentu saja ini ungkapan perpisahanku dengan Bayu. Tapi aku tak ingin berpisah dengannya kali ini.

‘Le, kau berat tau’, Sandi mengangkatku refleks, tanda kebahagiaannya.

‘kamu sih angkat-angkat aku’, ujarku memanja.

‘refleks sih, gak tau mau gimana lagi ungkapin senengnya, naskah dipilih’, ungkap Bayu.

‘ini naskah pertamaku yang dipentaskan dengan didanai lo Le’, ujarnya lagi.

Aku tersenyum, dan kami begandengan berberes ke kamar. Penerbangan soreku sudah menanti. Aku tak ingin berpisah. Tapi itulah pertemuan. Aku memeluk semua orang dan aku hanya menitipkan salam kepada Sarah. Menitipkan syalku untuk Aleaku. Mungkin tugasku telah usai terhadap Robert. (1060)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

12,749 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics