‘daya tahan tubuh Sarah melemah Le, Alea juga gak mau minum susu formula. Dia juga menolak disusui ibu lain. Sepertinya mereka terikat batin’, ujar Robert cemas.
Bayu masih memegang tanganku hingga saat kami tiba di rumah sakit. Robert melihat pegangan tangan itu. Rasanya ingin kulepas, tapi tubuh ini letih sekali. Aku biarkan Bayu kali ini mengatur tanganku dan menjatuhkanku dalam perhatiannya.
‘sudah mencari donor? Kami sudah menghubungi teman-teman untuk mencarikan donor dan teman-teman langsung ke PMI sekarang juga’, ujar Bayu.
‘iya, kita harus berjaga-jaga. Sepertinya Sarah terlalu letih’, ujar Robert.
‘dimana Alea?’, aku ingin segera mengendong bayi itu.
‘dia masih dibox Le’
Aku bergegas ketempat box bayi. Kulihat para perawat masih mencoba memasukkan susu formula kedalam mulutnya, tapi kulihat susu itu keluar lagi dari mulut Alea.
‘bolehkah aku menggendongnya?”, ujarku.
‘dari tadi sore, dia sepertinya merajuk mbak. Tidak ada masalah dengan kesehatannya, tapi jika dia begini terus, dia akan sakit juga’, ujar perawat.
‘sepertinya dia merajuk. saya heran mbak, bayi sekecil ini kok bisa merajuk’, tambah perawat lagi.
‘sini nak sama ibu’, aku mengangkat tubuh mungil Alea.
Alea sepertinya memanja padaku, dia mencoba mengeluarkan tangganya dari bedongannya. Aku mengeluarkan tanggannya dari bedongannya. Kupegang jemarinya, dia menggenggam kuat sekali. Aku mengisyaratkan meminta susu formula dimasukkan kedalam gelas dan meminta sendok kecil pada perawat.
Kunyanyikan lagu nina bobo, seperti ibu dulu sering menyanyikan lagu itu padaku setiap kali aku mulai ingin tertidur. Kuelus jemarinya yang mungil, kubisikkan kata ‘Alea, harus kuat, biar bisa jaga ibu Sarah’. Kumasukkan pelan-pelan susu formula dengan sendok mungil. Alea mulai mau menelannya sedikit-sedikit. Alea sepertinya suka mendengarkanku menyanyi. Aku mengulang-ulang lagu nina bobo hingga susunya habis dan dia tertidur pulas.
Kuciumi kening Alea dan kutaruh dibox bayi lagi. Kutungguinya hingga terlelap, dan jemarinya lelah menggenggam tanganku.
‘nanti kalau dia lapar, sepertinya, dia sudah mau diberi susu lagi mbak. Sepertinya dia tidak menyukai bau botol dot itu mbak karena baru’, ungkapku menduga.
‘iya mbak, kita rebus sekali lagi dotnya’, ujar perawat.
‘terima kasih banyak ya mbak sudah menjaganya’, ujarku.
Perawat tersenyum dan mengangguk kepadaku. Aku keluar kamar bayi untuk mengetahui bagaimana keadaan Sarah. Kulihat Bayu didepan pintu, sepertinya sedari tadi bayu sudah ada disini melihatku menyusui Alea.
‘kau memang ibu juga baginya’, ujar Bayu.
Aku tersenyum. ‘bagaimana kabar Sarah?’
‘dia masih di ICU Le, kata dokter barusan dia akan sehat, tapi butuh istirahat total. Menurutku Sarah tertekan Le’, ujar Bayu dengan menatapku polos.
Aku mendesah panjang sekali. Aku tau Sarah tertekan karena Robert. Aku meminta izin perawat untuk masuk keruangan ICU. Aku mengajak Bayu untuk masuk keruangan ICU. Kulihat Sarah tertidur dengan infus masih ditanggannya. Wajahnya pucat dan terlihat dia letih sekali.
Aku mengambil tanggannya, dan kupegang erat sekali. Aku bergumam dalam hati, ‘kau harus sehat Sar, Alea membutuhkanmu’. Sarah terbangun mengetahui kehadiran kami berdua. Sarah tersenyum dan bertanya ‘bagaimana dengan Alea Le?’.
‘kamu tidak boleh banyak bicara dulu Sar, Alea sudah tidur dan dia bayi yang sangat cantik Sar. Perawat menjaganya, aku juga sesekali akan melihatnya. Kau harus sehat Sar’, ujarku menyakinkan Sarah mengenai Alea.
Aku sengaja tidak memberitahunya, jika Alea tadi sempat merajuk.
‘aku letih sekali Le, kau harus menjaganya dulu ya Le’, ujar Sarah.
‘pasti Sar, aku akan menjaganya’, ujarku sambil menggengam erat tanggannya. Sarah tertidur lagi dan aku bergegas keluar untuk tidak mengganggu istirahatnya. Kulihat Robert masih duduk didepan dan menelpon seseorang.
‘aku harus bicara padamu Bet’, ujarku.
‘Bay, bisa tinggalkan kami berdua’, ujarku.
Bayu sepertinya terkejut dengan keputusanku, tapi Bayu mengerti.
‘oke, aku tunggu di mushola ya Sar. Telpon aku jika ada apa-apa’, ujar Bayu mencemaskanku.
Bayu bergegas pergi. Aku mengambil tempat duduk dibangku tunggu. Bangku tersebut hanya mempunyai lima kursi berjejer, khas kursi tunggu. Aku mengambil tempat duduk di tengah, sedangkan Robert masih ditempat duduknya. Rumah sakit ini tidak terlalu ramai, karena rumah sakit bersalin ini milik swasta dan sepertinya didesign untuk kenyamanan.
‘maaf sebelumnya bet, aku harus bicara ini kepadamu’, ujarku memulai pembicaraan.
Robert hanya mengangguk dan menatapku lama sekali.
‘maafkan aku Le’, akhirnya Robert bicara.
‘aku sudah memaafkanmu jauh sebelum itu Bert. Kamu harus memulai hidup baru dengan penuh cinta Bert. Sarah butuh perhatianmu. Sekarang kau juga punya Alea, dia anakmu’, ujarku.
‘aku baru sadar Le, aku salah selama ini’, ujar Robert.
‘tidakkah kau tau, Sarah berjuang menggadaikan nyawanya untuk Alea. Alea anakmu’, ujarku sudah mulai tak karuan.
‘aku sangsi awalnya Le. Sarah sering gonta-ganti pasangan’, ujarnya lagi.
Aku mulai merasa mengamuk. ‘trus kenapa dulu kau menikah dengannya? Kau pacari Sarah dan kau tuduh dia berpacaran dengan orang lain’, ujarku penuh emosi.
‘itulah Le, aku menyesali semuanya. Aku menyakitinya juga menyakitimu Le’, kata Robert.
‘terima kenyataan. Alea adalah anakmu sekarang. Kau harus merawatnya, kau harus mencintainya. Tes DNA bukan berarti jawabannya dari semuanya Bert. Tanya pada hatimu, tanya pada perasaanmu, itu adalah jawaban Bert’, ujarku lagi.
‘iya Le. Jujur aku masih mencintaimu Le. Aku tidak bisa melupakanmu Le’, ujar Robert spontan.
‘aku tidak mencintaimu lagi Bert, yang ada sekarang rasa kasihan padamu. Ternyata kau hanya laki-laki brengsek. Tega-teganya kau mengatakan itu sedangkan istrimu didalam sekarat’, amarahku memuncak.
Perawat melihat kami berdua dan aku segera mengecilkan suaraku. Aku juga takut Sarah mendengar pembicaraan kami diluar.
‘iya aku laki-laki brengsek Le, aku memang brengsek’, ujar Robert sambil menangis.
‘tak usah kau menangis. Aku dan Bayu akan menikah’, ujarku dengan polos.
‘maksudmu Le?’
‘aku mencintai Bayu Bert setelah pisah denganmu aku bertemu Bayu. Aku memutuskan untuk menikah dengannya’, ujarku berbohong.
‘Le..’, Robert hanya mengatakan itu.
‘dengar Bert, kita harus mampu menjaga diri kita masing-masing. Jika aku mendengar Sarah ataupun Alea tidak bahagia aku akan sangat kecewa dan tidak akan memaafkanmu’, ancamku kali ini.
‘aku salah selama ini. Ternyata cintaku hanya untukmu Le. Aku takut kau masih mencintai Sandi Le. Aku takut sekali kau hanya menjadikanku pelampiasan saja. Aku membalas itu dengan mengencani Sarah. Tapi ternyata aku salah Le. Maafkan aku. Aku mohon Le, jangan tinggalkan aku’, kata Robert polos.
Aku sudah semakin dipucuk amarah. Aku masih mampu mengendalikan diriku. Ingin rasanya menangis. Memang itu pula yang kulakukan padanya. Tapi aku merasa Robert tak pantas menyakiti Sarah sejauh ini.
‘tak usah kau ingat masa lalu. Hari ini adalah hal penting. Masa depan juga hal penting. Kau sudah memilih, akupun begitu, aku ingin kita sama-sama menutup masa lalu dan untuk cintamu padaku. Aku ingin kau pula mencintai Sarah dan Alea begitu’, ujarku mengecilakn suara. Entah karena aku terlalu letih atau karena aku pula sedih mendengarnya.
‘iya Le, akan aku lakukan. Aku hanya ingin meminta maafmu saja Le. Aku lega telah mengatakannya padamu’, ujar Robert lagi.
Kudengar Alea menangis. Aku bergegas ke ruangan bayi. Sepertinya Alea pipis dan merasa risih. Kulihat dari jendela, bedong Alea diganti oleh perawat. Aku masuk dan meminta kepada perawat untuk menggantikan bedongnya. Alea masih mengantuk sepertinya, tapi matanya terbuka melihatku dan tersenyum sambil menyunggingkan lensung pipinya yang manis.
Aku menyanyikan lagu nina bobo hingga Alea terlelap lagi. Robert hanya memandangiku dari kaca. Aku keluar ruangan bayi dan mencari Bayu. Kali ini kupegang erat tanggannya. Kali ini Bayu yang pasrah kupengang tangannya.
‘aku letih sekali, temani aku di ICU’, ujarku.
Aku tak peduli lagi rasa sakit itu, ataupun memulai rasa sakit yang baru. Aku harus kuat, untuk Alea kecil. ‘tidurlah nak, ibu akan kuat dan menjagamu’. (1188)