Slideshow
Tags & Categories

Archive for May, 2012

Ayah sudah didepan pintu ketika kami masih menangis. Ayah langsung memeluk kami dan ikut menangis pula. Rara memeluk ayah erat sekali. Aku membiarkan ayah dan Rara berpelukan, aku membiarkan rasa kami tumpah dalam satu rasa, yaitu Ibu. Tak akan pernah habis menceritakan mengenai ibu.

‘ayah, ada apa dengan ibu?’, Rara memulai pembicaraan pada ayah.

‘boleh Rara mendengar? Ibu lebih dari ibu yah bagi Rara’, ungkap Rara mendalam.

Aku hanya tertegun. Tak bisa kubayangkan bagaimana seharusnya ibu bahagia mendapati kami merindukannya sedalam ini. Read the rest of this entry »

Cahaya matahari sudah menerangi dan masuk melalui celah-celah kamarku. Biasanya ayah atau ibu sudah ribut jika aku bangun kesiangan. Memang aku tidak terlalu suka bangun kesiangan. Panas pagi menjelang siang, membuat tubuh sering lemah lunglai dan sering berpeluh keringat. Aku terduduk sebentar dan mengambil minuman yang selalu kuletakkan diatas meja. Aku meneguknya habis. Kuambil ponsel dan kulihat Bayu baru mematikan telponnya setelah aku terlelap. Sepertinya sekitar satu jam lebih.

Aku melihat pesan Bayu diponsel.

‘Le, aku jadwalkan tiket penerbanganku sore nanti. Semoga kau baik-baik saja’

Aku bingung harus merasa bahagia atau tidak, tapi aku serasa aneh saja. Tak bisa aku bayangkan bagaimana nanti kehidupanku. Bagaimana nanti perasaanku dan bagaimana aku menjelaskannya pada Bayu, juga pada ayah. Aku keluar kamar dan berlari ke bengkel. Kulihat anak-anak ini sedang asyik dengan kanvas masing-masing. Aku asyik memandang anak-anak yang sedang melukis ini, dan terduduk disana hingga aku lupa bahwa tujuan awalku ingin menanyakan keberadaan ayah.

‘mbak Le, kenapa?’, tiba-tiba Sahrul bertanya kepadaku.

‘mbak Le’, Sahrul menegurku lagi.

‘oh iya Rul. Enggak, mbak haru aja, melihat kalian sudah bisa melukis bagus-bagus’, ungkapku takjub.

‘hehe.. ayah emang melatih kami dengan keras mbak, dengan sepenuh jiwanya mbak’, ungkap Sahrul.

Aku tercengang. Aku langsung ingat tujuan awalku ke bengkel untuk menanyakan ayah.

‘ayah kemana?’

‘ayah ada di loteng mbak, sedang melukis sepertinya’, kata Sahrul.

Aku langsung lega. Kubiarkan diriku larut dalam bengkel ayah. Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan pekerjaan ayah dengan detail. Aku juga merindukan Rara, dimana dia, aku ingin melarikan diriku padanya.

Tapi kenapa aku ingat Bayu tadi malam? Aku merasa aneh. Kubuka ponselku dan kubaca ulang sms Bayu, astaga aku bingung, ternyata Bayu akan pergi kesini nanti sore. Apa yang harus aku katakana padanya, apa yang akan aku katakana pada ayah. Tuhan, kesalahan apa lagi ini? Apa yang harus aku perbuat dan apa yang harus aku lakukan.

Kupencet nomor Rara dan aku ingin dia segera dating kerumah.

‘Rara, kamu hari ini aku culik kerumah ya, bilang sama suamimu ya’

Aku tak izinkan Rara menjawab, langsung kumatikan ponselku. Aku memperhatikan anak-anak itu dan merasakan tubuhku letih sekali. Aku tak ingin makan apa-apa, aku hanya ingin bertemu ibu atau mendengar penjelasan dari ayah. Supaya hatiku tenang. Aku tak tau apakah ayah masih bermuram durja atau tidak. Tapi yang jelas aku sedang tidak ingin membujuk. Aku ingin dibujuk oleh ayah atau ibu. Atau Bayu, atau Rara. Aku mogok makan seharian.

Kulihat Rara memakirkan mobilnya, dan aku duduk saja di bengkel. Rara mendekatiku dan menarik tanganku.

‘hei, what’s wrong beb? Halah bahasaku sok keren ya?’, Rara mengkoreksi bahasanya sendiri.

‘ho oh, kebarat-baratan tau’, aku melenggos sambil mengajaknya ke kamar.

Rara tenang saja dan nyengir kuda melihat reaksiku yang memang sedang tidak mood tapi masih mau menimpali apa yang dikatakan olehnya.

‘kamu liat ini’, aku langsung menunjukkan lukisan-lukisan itu kepada Rara.

Rara langsung meneliti satu persatu lukisan yang kuperlihatkan kepadanya. Lukisan itu sesuai dengan susunan yang aku coba bolak-balik semalam.

‘ada apa ini Le? Itu ibu Le’, ujar Rara takjub sambil menutup mulutnya yang mulai melongo.

Aku langsung meneteskan air mata. Aku tau bahwa Rara lah anak kesayangan ibu. Ibu selalu menyayangi Rara seperti menyayangi aku. Ibu selalu membiarkan aku selalu bersama Rara, membuatkan makanan kesukaan Rara hingga kadang membelikan baju untuk Rara lebih bagus dari membelikan bajuku. Aku pernah cemburu pada Rara, tapi ibu hanya tertawa saja dan mengatakan bahwa ibu tak membedakan kasih sayangnya padaku atau pada Rara.

Rara kadang-kadang juga tertawa jika aku mulai cemberut ibu memperhatikannya lebih. Tentu saja Rara akan tertawa menang sekali dan mengatakannya didepan teman-teman. Ah, Rara tak dapat aku ungkapkan. Kami adalah satu, satu hati.

‘apakabar ibu Le?’, sekali ini Rara yang menangis. Aku lihat perasaannya lebih hancur dari perasaanku. Aku melihat, Rara tak kuasa menahan kepedihannya pula. Baru kali ini aku lihat Rara menangis dan melebihi kepedihanku.

Kami berangkulan erat sekali. Seakan tak terpisahkan. Berbagi kemelut, berbagi cerita dan berbagi kepedihan. Untuk satu orang yang sama-sama kami cintai. Aku tak mampu menghapus air matanya, tak mampu menghapus air mataku pula. Karena ini masalah rasa dan harus dipecahkan. Kami sama-sama merindukan ibu.  Tak ada yang lebih penting sekarang daripada merindukan ibu.

Kamu penganut liberal, manusia penganut fasisme, saya tidak ingin berteman dengan penganut liberal. Saya garda depan sebuah organisasi Islam, tidak mungkin akan jalan dengan penganut liberal.

Kalimat diatas dengan cepat diucapkan seorang teman kepadaku ketika aku bercerita mengenai aktifitas perlawananku dengan cara menulis.  Saya teringat kalimat ini dilontarkan satu tahun silam oleh seorang teman kepadaku. Sudah tentu saya terdiam dan belingsatan menanggapi kalimatnya yang cenderung sarkastik, sangat tidak menghargai perbedaan dan cenderung menyinggung SARA.

Saya lantas malas sekali berhubungan dengannya dan mencoba menjauhkan diri dengannya. Tapi sebaliknya akhir-akhir ini saya mulai tertarik dengan lontarannya, tentu bukan untuk membenarkan kalimatnya. Saya cenderung mencari apa yang salah dengan apa yang saya yakini dan perjuangkan selama ini. Bukankah untuk mencari sebuah yang kita yakini membutuhkan sebuah kebenaran-kebenaran yang kita cari dan yakini pula?

Saya baca beberapa referensi mengenai fasisme karya Mansour Fakih. Saya membaca beberapa artikelnya dan menemukan bagaimana sistem kerja fasisme dan liberal di Indonesia. Saya lantas serta merta mengurangi tuduhan saya pada teman saya yang benada sarkastik tadi, dengan mulai memahami secara menyeluruh apa yang dulu dia bicarakan padaku.

Mengutip apa yang dikatakan Mansour Fakih,

Namun demikian, meskipun awalnya lebih merupakan reaksi terhadap situasi krisis dan jalan keluar dari rasa frustrasi rakyat, namun secara umum terdapat kandungan ideologi yang membentuk gerakan fasisme. Salah satu yang terpenting adalah kuatnya semangat penolakan terhadap perkembangan arus keyakinan liberalisme yang menekankan pada kebebasan individual dan persamaan antar manusia dan warna kulit.

Saya tertegun membaca itu, dan mulai berfikir, apakah ini sebenarnya? Keyakinan saya seolah goyah dan saya membuat diri saya larut kedalamnya. Tapi saya yakin, inilah proses dalam hidup. Tak akan berhenti cepat mencari kebenaran dan keyakinan. Jika pada tahap itu kita sudah terlalu puas untuk berhenti, maka kita sesungguhnya mati dalam kehidupan.

Kebebasan individual, dan persamaan antar manusia dan warna kulit, saya tertegun dan teringat kalimat sarkastik yang keluar dulu, satu tahun silam. Seandainya saya punya keberanian mengatakannya padanya pandangan saya ini, saya akan mengatakan pula, bagaimana kita akan disamakan, sedangkan kita memang berbeda-beda.

Pencarian keberanan ini tentu saja belum usai, saya terus mencari dan belajar. Semoga suatu saat, ketika saya paham dan bertemu dengan kebenaran dan keyakinan, saya dapat mengatakannya dengan lugas. Berjuang juga dengan lugas.

Bengkulu, 28 Mei 2012

…yang tidak boleh dia lakukan adalah cemburu kepadaku..

Kami terduduk terdiam dimeja makan. Semua orang tak ada yang berani memanggil ayah, karena mereka melihatku menangis. Putri kecilnya yang paling disayangnya menangis dan terduduk terdiam dimeja makan. Mungkin pula ayah kebingungan bagaimana menjelaskan padaku.

Ayah meninggalkanku sendirian di meja makan, tanpa penjelasan, tanpa kata apapun itu. Setidaknya ayah tidak membujukku seperti biasa jikalau aku menangis. Aku memeluk sebuah lukisan berjiwa ibu. Lukisan seorang perempuan duduk di sela-sela pepohonan yang rimbun membaca buku serta membawa sebotol minuman disampingnya. Read the rest of this entry »

Dear Bapak,

Akhirnya tiba juga saatnya aku ingin berpamitan padamu. Pada saatnya aku harus menjaga perasaan mama. Manusia separuh dewa yang telah membuat aku menjadi begitu kuat, yang telah membuat aku mengenal siapa aku dan membuat aky mengerti apa tujuan hidupku. Maaf, sungguh aku hanya bisa menuliskannya disini saja. Tak mampu aku mengatakannya padamu, apalagi pada dunia. Hanya tangisan pilu dalam hati terdalam yang tak mampu aku luapkan.

Hanya tulisan ini saja. Ketika aku tak mengenalmu, ataupun merasakan panggilan sayang untukmu. Atau sekedar inginku dari dulu, tanyakan apakah aku sudah makan hari ini. Cukup itu saja, dan itu sudah dari lebih inginku. Aku menulis ini dengan berderai air mata. Ingin rasanya mengubah waktu dan kembali menjadi kecil serta menghapus semua mimpi-mimpi yang membuat aku ketakutan akan gelap. Ingin segera keluar rasanya dari persembunyian ini, ketika aku hanya berkaos biru dan mama memberi pilihan kepada kami. Kala itu aku terlalu kecil, tapi semua lengkap aku ingat hingga hari ini. Aku memilih tinggal bersama manusia separuh dewa dan sejak saat itu aku menepis semua mimpi tentangmu.

Bapak, mungkin dua bulan lagi aku akan melakukan perhelatan besar dalam hidupku. Kulawan semua trauma, kulawan semuanya dengan menjadi lebih dewasa. Mungkin saja, kau tak akan sempat sekedar memarahiku karena aku diapeli terlalu malam. Ataupun kau tak akan sempat menungguiku tidur lagi. Ataupun kau tak akan sempat menelisik orang yang kupilih. Tapi sungguh, aku tetap anakmu. Tak ada maksud untuk menjadi durhaka, ataupun mengabaikanmu. Ini masalah rasa, masalah hati yang ternyata tak bisa kutangani sendiri.

Aku sudah terbiasa memutuskan sendiri, terbiasa menjadi biasa saja. Oh Tuhan, semoga aku tidak salah.

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics