Slideshow
Tags & Categories

Archive for February, 2012

‘daya tahan tubuh Sarah melemah Le, Alea juga gak mau minum susu formula. Dia juga menolak disusui ibu lain. Sepertinya mereka terikat batin’, ujar Robert cemas.

Bayu masih memegang tanganku hingga saat kami tiba di rumah sakit. Robert melihat pegangan tangan itu. Rasanya ingin kulepas, tapi tubuh ini letih sekali. Aku biarkan Bayu kali ini mengatur tanganku dan menjatuhkanku dalam perhatiannya.

‘sudah mencari donor? Kami sudah menghubungi teman-teman untuk mencarikan donor dan teman-teman langsung ke PMI sekarang juga’, ujar Bayu.

‘iya, kita harus berjaga-jaga. Sepertinya Sarah terlalu letih’, ujar Robert.

‘dimana Alea?’, aku ingin segera mengendong bayi itu.

‘dia masih dibox Le’

Aku bergegas ketempat box bayi. Kulihat para perawat masih mencoba memasukkan susu formula kedalam mulutnya, tapi kulihat susu itu keluar lagi dari mulut Alea.

‘bolehkah aku menggendongnya?”, ujarku.

‘dari tadi sore, dia sepertinya merajuk mbak. Tidak ada masalah dengan kesehatannya, tapi jika dia begini terus, dia akan sakit juga’, ujar perawat.

‘sepertinya dia merajuk. saya heran mbak, bayi sekecil ini kok bisa merajuk’, tambah perawat lagi.

‘sini nak sama ibu’, aku mengangkat tubuh mungil Alea.

Alea sepertinya memanja padaku, dia mencoba mengeluarkan tangganya dari bedongannya. Aku mengeluarkan tanggannya dari bedongannya. Kupegang jemarinya, dia menggenggam kuat sekali. Aku mengisyaratkan meminta susu formula dimasukkan kedalam gelas dan meminta sendok kecil pada perawat.

Kunyanyikan lagu nina bobo, seperti ibu dulu sering menyanyikan lagu itu padaku setiap kali aku mulai ingin tertidur. Kuelus jemarinya yang mungil, kubisikkan kata ‘Alea, harus kuat, biar bisa jaga ibu Sarah’. Kumasukkan pelan-pelan susu formula dengan sendok mungil. Alea mulai mau menelannya sedikit-sedikit. Alea sepertinya suka mendengarkanku menyanyi. Aku mengulang-ulang lagu nina bobo hingga susunya habis dan dia tertidur pulas.

Kuciumi kening Alea dan kutaruh dibox bayi lagi. Kutungguinya hingga terlelap, dan jemarinya lelah menggenggam tanganku.

‘nanti kalau dia lapar, sepertinya, dia sudah mau diberi susu lagi mbak. Sepertinya dia tidak menyukai bau botol dot itu mbak karena baru’, ungkapku menduga.

‘iya mbak, kita rebus sekali lagi dotnya’, ujar perawat.

‘terima kasih banyak ya mbak sudah menjaganya’, ujarku.

Perawat tersenyum dan mengangguk kepadaku. Aku keluar kamar bayi untuk mengetahui bagaimana keadaan Sarah. Kulihat Bayu didepan pintu, sepertinya sedari tadi bayu sudah ada disini melihatku menyusui Alea.

‘kau memang ibu juga baginya’, ujar Bayu.

Aku tersenyum. ‘bagaimana kabar Sarah?’

‘dia masih di ICU Le, kata dokter barusan dia akan sehat, tapi butuh istirahat total. Menurutku Sarah tertekan Le’, ujar Bayu dengan menatapku polos.

Aku mendesah panjang sekali. Aku tau Sarah tertekan karena Robert. Aku meminta izin perawat untuk masuk keruangan ICU. Aku mengajak Bayu untuk masuk keruangan ICU. Kulihat Sarah tertidur dengan infus masih ditanggannya. Wajahnya pucat dan terlihat dia letih sekali.

Aku mengambil tanggannya, dan kupegang erat sekali. Aku bergumam dalam hati, ‘kau harus sehat Sar, Alea membutuhkanmu’. Sarah terbangun mengetahui kehadiran kami berdua. Sarah tersenyum dan bertanya ‘bagaimana dengan Alea Le?’.

‘kamu tidak boleh banyak bicara dulu Sar, Alea sudah tidur dan dia bayi yang sangat cantik Sar. Perawat menjaganya, aku juga sesekali akan melihatnya. Kau harus sehat Sar’, ujarku menyakinkan Sarah mengenai Alea.

Aku sengaja tidak memberitahunya, jika Alea tadi sempat merajuk.

‘aku letih sekali Le, kau harus menjaganya dulu ya Le’, ujar Sarah.

‘pasti Sar, aku akan menjaganya’, ujarku sambil menggengam erat tanggannya. Sarah tertidur lagi dan aku bergegas keluar untuk tidak mengganggu istirahatnya. Kulihat Robert masih duduk didepan dan menelpon seseorang.

‘aku harus bicara padamu Bet’, ujarku.

‘Bay, bisa tinggalkan kami berdua’, ujarku.

Bayu sepertinya terkejut dengan keputusanku, tapi Bayu mengerti.

‘oke, aku tunggu di mushola ya Sar. Telpon aku jika ada apa-apa’, ujar Bayu mencemaskanku.

Bayu bergegas pergi. Aku mengambil tempat duduk dibangku tunggu. Bangku tersebut hanya mempunyai lima kursi berjejer, khas kursi tunggu. Aku mengambil tempat duduk di tengah, sedangkan Robert masih ditempat duduknya. Rumah sakit ini tidak terlalu ramai, karena rumah sakit bersalin ini milik swasta dan sepertinya didesign untuk kenyamanan.

‘maaf sebelumnya bet, aku harus bicara ini kepadamu’, ujarku memulai pembicaraan.

Robert hanya mengangguk dan menatapku lama sekali.

‘maafkan aku Le’, akhirnya Robert bicara.

‘aku sudah memaafkanmu jauh sebelum itu Bert. Kamu harus memulai hidup baru dengan penuh cinta Bert. Sarah butuh perhatianmu. Sekarang kau juga punya Alea, dia anakmu’, ujarku.

‘aku baru sadar Le, aku salah selama ini’, ujar Robert.

‘tidakkah kau tau, Sarah berjuang menggadaikan nyawanya untuk Alea. Alea anakmu’, ujarku sudah mulai tak karuan.

‘aku sangsi awalnya Le. Sarah sering gonta-ganti pasangan’, ujarnya lagi.

Aku mulai merasa mengamuk. ‘trus kenapa dulu kau menikah dengannya? Kau pacari Sarah dan kau tuduh dia berpacaran dengan orang lain’, ujarku penuh emosi.

‘itulah Le, aku menyesali semuanya. Aku menyakitinya juga menyakitimu Le’, kata Robert.

‘terima kenyataan. Alea adalah anakmu sekarang. Kau harus merawatnya, kau harus mencintainya. Tes DNA bukan berarti jawabannya dari semuanya Bert. Tanya pada hatimu, tanya pada perasaanmu, itu adalah jawaban Bert’, ujarku lagi.

‘iya Le. Jujur aku masih mencintaimu Le. Aku tidak bisa melupakanmu Le’, ujar Robert spontan.

‘aku tidak mencintaimu lagi Bert, yang ada sekarang rasa kasihan padamu. Ternyata kau hanya laki-laki brengsek. Tega-teganya kau mengatakan itu sedangkan istrimu didalam sekarat’, amarahku memuncak.

Perawat melihat kami berdua dan aku segera mengecilkan suaraku. Aku juga takut Sarah mendengar pembicaraan kami diluar.

‘iya aku laki-laki brengsek Le, aku memang brengsek’, ujar Robert sambil menangis.

‘tak usah kau menangis. Aku dan Bayu akan menikah’, ujarku dengan polos.

‘maksudmu Le?’

‘aku mencintai Bayu Bert setelah pisah denganmu aku bertemu Bayu. Aku memutuskan untuk menikah dengannya’, ujarku berbohong.

‘Le..’, Robert hanya mengatakan itu.

‘dengar Bert, kita harus mampu menjaga diri kita masing-masing. Jika aku mendengar Sarah ataupun Alea tidak bahagia aku akan sangat kecewa dan tidak akan memaafkanmu’, ancamku kali ini.

‘aku salah selama ini. Ternyata cintaku hanya untukmu Le. Aku takut kau masih mencintai Sandi Le. Aku takut sekali kau hanya menjadikanku pelampiasan saja. Aku membalas itu dengan mengencani Sarah. Tapi ternyata aku salah Le. Maafkan aku. Aku mohon Le, jangan tinggalkan aku’, kata Robert polos.

Aku sudah semakin dipucuk amarah. Aku masih mampu mengendalikan diriku. Ingin rasanya menangis. Memang itu pula yang kulakukan padanya. Tapi aku merasa Robert tak pantas menyakiti Sarah sejauh ini.

‘tak usah kau ingat masa lalu. Hari ini adalah hal penting. Masa depan juga hal penting. Kau sudah memilih, akupun begitu, aku ingin kita sama-sama menutup masa lalu dan untuk cintamu padaku. Aku ingin kau pula mencintai Sarah dan Alea begitu’, ujarku mengecilakn suara. Entah karena aku terlalu letih atau karena aku pula sedih mendengarnya.

‘iya Le, akan aku lakukan. Aku hanya ingin meminta maafmu saja Le. Aku lega telah mengatakannya padamu’, ujar Robert lagi.

Kudengar Alea menangis. Aku bergegas ke ruangan bayi. Sepertinya Alea pipis dan merasa risih. Kulihat dari jendela, bedong Alea diganti oleh perawat. Aku masuk dan meminta kepada perawat untuk menggantikan bedongnya. Alea masih mengantuk sepertinya, tapi matanya terbuka melihatku dan tersenyum sambil menyunggingkan lensung pipinya yang manis.

Aku menyanyikan lagu nina bobo hingga Alea terlelap lagi. Robert hanya memandangiku dari kaca. Aku keluar ruangan bayi dan mencari Bayu. Kali ini kupegang erat tanggannya. Kali ini Bayu yang pasrah kupengang tangannya.

‘aku letih sekali, temani aku di ICU’, ujarku.

Aku tak peduli lagi rasa sakit itu, ataupun memulai rasa sakit yang baru. Aku harus kuat, untuk Alea kecil. ‘tidurlah nak, ibu akan kuat dan menjagamu’. (1188)

Sarah melahirkan anak perempuan cantik, dengan bobot 3,2 kg panjang 49 cm. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam legam, sepertinya ada lesung pipit yang menempel dipipi mungilnya. Matanya terlihat bulat, walau masih terlihat sipit. Baby Sarah lahir tepat pukul 09.30 WIB, setelah transfusi darahku masuk ketubuhnya.

Aku begitu ketakutan, tapi melihat Sarah, aku menjadi begitu kuat. Aku mendampingi operasi Sarah hingga selesai. Sarah hanya dibius lokal, dia masih bisa melihat proses operasi yang dilakukannya. Sarah memegang tanganku erat sekali dan tak memperbolehkanku meninggalkannya. Seharusnya Robert disini mendampinginya, tapi nyatanya hingga saat ini ponselnya tak aktif-aktif.

Hingga kelahiran anak perempuan cantik ini, aku tak henti-hentinya bedoa kepada Tuhan, agar mereka diberi keselataman. Aku aneh sekali, biasanya aku takut sekali melihat darah dimana-mana. Sekali ini, tatapan mata Sarah benar-benar membuatku luluh. Para dokter juga tak tega Sarah yang memohon memperbolehkan aku tetap disini.

Anak perempuan cantik itu menangis dengan kencang sekali. Dokter memerikasakan kondisinya, anak perempuan ini dinyatakan sehat oleh dokter. Setelah dibersihkan perawat, anak perempuan cantik ini aku gendong dan kuciumi. Aku menyarankan Sarah untuk melakukan inisiasi dini. Para perawat juga membantu Sarah melakukannya. Kami menunggu anak perempuan cantik ini mencari puting ibunya. Setelah satu jam, akhirnya anak perempuan ini mendapatkan puting ibunya.

Sarah menangis haru, aku memeluk kepalanya dan kurasakan kebahagian yang tak terkira. Kami berpegangan tangan. Aku melupakan semua kekesalanku terhadap Robert untuk seketika. Tak mampu kubendung pula tangisku. Aku pula merasa sebagai bagian dari ibu anak perempuan cantik ini. Ketika bibir mungilnya mencari puting Sarah, rasanya ingin aku tunjukkan. Tapi aku tetap harus sabar menantinya mencari puting Sarah. Rasanya tak mungkin melihat anak perempuan cantik ini. Anak ini lahir dengan dua ibu bersamanya. Aku yakin, anak ini pula kelak akan memanggilku dengan sebutan ibu.

‘Le, aku ingin menamakannya sama dengan namamu Le’, ungkap Sarah.

Aku terkejut dengan perkataan Sarah dan bingung mengatakan apa pada Sarah.

‘nanti tunggu Robert datang, kita bicarakan nama anak ini ya’, ungkapku.

Aku kebingungan, namaku akan dicatut dalam nama anak perempuan cantik ini. Sepertinya aku memang terjerat pada anak perempuan cantik ini dan akan semakin terjerat pada anak perempuan cantik ini.

‘kau juga ibunya, darahmu mnegalir ke tubuh ibu kandungnya’, ungkap Sarah lagi.

Aku memegang tangan Sarah kencang sekali. Tak mampu berkata apapun. Aku menggendong anak perempuan cantik ini dan membawanya ke tempat box bayi, karena telah tertidur pulas dan kenyang disusui oleh Sarah. Aku melihatnya dari box bayi, dan memegang kepalanya. Aku mencintaimu nak. Bukankah menjadi ibu bukan berarti harus melahirkannya. Bukankah menjadi ibu harus mengandungnya. Saat ini aku benar-benar terjerat padanya. Pada matanya yang polos dan pada tangannya yang mengenggam erat tanganku pula.

Robert baru datang pada sorenya. Robert melihat Sarah dan menanyakan dimana anak perempuan cantiknya. Robert terkejut melihatku berada disitu. Akhirnya seharian acara ditunda, pihak panitia memberitahuku kalau acara terakhir penutupan akan dilakukan esok hari. Aku lega, seharusnya beginilah keluarga, tak terikat oleh waktu dan memaksakan keadaan hanya untuk nama profesional.

‘Le, kenapa kau disini? Dimana bayiku?’, ungkap Robert.

‘di box nomor tiga, ada nama Sarah disana. Dia perempuan.’, ungkapku.

Kulihat Robert meminta izin perawat dan mengambil Sarah dari box. Diciuminya anak perempuan cantik itu dan langsung diazaninya anak perempuan cantik itu. Aku keluar kamar, dan membiarkan Robert, Sarah dan anak perempuan cantik itu utuh menjadi sebuah keluarga. Kulihat Bayu ada diluar dan tersenyum kepadaku.

‘hai, sejak kapan kau disini?’, ungkapku.

‘baru saja Le, aku ingat kamu belum mandi dan makan lagi sejak tadi. Ayo kita kembali ke hotel. Suami Sarah sudah datangkan?’, tanya Bayu.

Aku menangguk dan teringat, sedari pagi aku sibuk dan letih sekali menjaga Sarah dan anak perempuan cantik itu. Apalagi aku tadi donor darah, tentu saja aku buth istirahat untuk mengembalikan staminaku tentunya. Aku kembali kedalam ruangan. Kulihat Robert duduk disisi Sarah bersama anak perempuan cantik itu.

‘aku pulang ke hotel dulu Sarah’, izinku.

‘ya, kau harus istirahat Le. Terima kasih sudah ada untukku hari ini Le’, Sarah mengatakannya dan Robert mendungak melihat kearahku.

‘terima kasih sudah mendonorkan darahmu untuk Sarah, dan menjaganya seharian ini’, Robert akhirnya bicara padaku.

‘iya sama-sama’, aku sangat kaku sekali menatap keduanya.

‘tidakkah kau mau mencium anakmu dulu sebelum pulang Le’, ungkap Sarah.

Aku melihat kearah anak perempuan cantik itu dan memegang kepalanya. Sarah tersenyum melihatku.

‘aku namakannya Alea, seperti nama ibu angkatnya sayang’, ungkap Sarah kepada Robert.

Jalanku terhenti, rasanya ingin berbalik dan mengatakan tidak. Tapi aku tak berdaya. Robert pula mengiyakan apa yang dikatakan Sarah. Aku bergegas keluar, kulihat Bayu sudah menungguku diluar. Kami menaiki taxi yang ada didepan rumah sakit. Aku letih sekali. Kusandarkan badanku di jok belakang mobil.  Bayu membiarkanku senyaman mungkin.  Aku tau sebenarnya banyak pertanyaan dikepala Bayu kepadaku tapi mungkin dia tak tega melihatku.

‘aku lapar sekali Bay dan tidak ingin makan di hotel’, kataku pada Bayu sekaligus meminta kepadanya.

Bayu tersenyum. ‘ayo kita makan, aku ada tempat recomended disini Le’, kata Bayu.

‘kita ke Gubuk Mas pak’, lanjut Bayu kepada sopir taxi.

Aku menangguk saja. Aku memesan banyak sekali makanan. Cumi asam manis, cah kangkung spesial, gurame bakar, tahu tempe goreng pesananku. Bayu akhirnya hanya memesan semangkuk sop iga untuk makan siangnya.

‘aku nimbrung aja deh Le’, katanya tak yakin dengan pesananku akan habis semua dan dimakan.

‘kalo lagi stres, capek butuh makan banyak Bay’, aku menggoda Bayu.

Kami tertawa terbahak-bahak.

‘Le, Sandi minggu depan pulang. Dia ingin bertemu denganmu.’, ucap Bayu.

Glek. Aku menatap mata Bayu, mencoba mencari kebenaran dari mata Bayu. Sepertinya ada hal yang memberatkan Bayu mengatakannya.

‘iya, dia sms aku beberapa waktu lalu’, ungkapku sambil mengalihkan perhatian mataku.

Tuhan, jika aku melihat mata Bayu, seperti aku melihat mata Sandi. Aku tak menyukai situasi begini. Aku takut jatuh pada mata yang salah lagi. Seperti aku jatuh pada mata Robert untuk mencari Sandi. Aku menyakiti diriku sendiri dan akhirnya menyakiti orang lain pula.

‘kau ingin bertemunya Le?’, ungkap Bayu.

Aku terpana dengan perkataan Bayu, aku tak tau apakah feellingku yang terakhir sedang berjalan atau tidak. Tapi aku mulai mencurigai Bayu mulai menjatuhkan hatinya padaku. Kadangkala, menjatuhkan hati tidak harus mempunyai waktu yang lama. Hanya membutuhkan waktu singkat dan membutuhkan mata untuk ikut campur didalamnya.

Aku mendesah panjang dan tak mau menatap mata Bayu. Bayu semakin menatapku tajam sekali. Masih kuingat, Bayu selalu membelaku dalam forum jika Sarah mulai bersinis ria kepadaku. Atau sekedar perhatian kecilnya menyorongkan kursi sebelum aku duduk. Akhirnya makanan tiba, wangi cah kangkungnya membuyarkan lamunanku dan membuatku refleks untuk menyelesaikan makan besar malam ini.

‘aku harus menyelesaikan masalahku dulu secepatnya Bay. Aku tak ingin mengambang dan menyakitinya lagi. Sehabis ini aku ingin fokus menggarap naskah’, ungkapku datar sambil menyedokkan nasi kedalam piringku.

Bayu menatapku dalam sekali, aku mengambilkan nasi untuknya. Aku makan dengan lahap, tak kuhiraukan Bayu menatapku lama sekali. Sungguh aku tak ingin terjebak pada mata Sandi lagi dan menyakiti orang lain lagi. Ponselku berbunyi.

Robert calling…..

‘ya hallo’

‘bisa kau kerumah sakit, Sarah pingsan beberapa waktu lalu’, ungkap Robery disana.

‘Sarah kenapa? Apakah bayinya baik-baik saja’, ungkapku panik.

‘bayiku juga tidak mau menerima susu formula. Le, aku butuh kau menjaga bayi kami. Aku harus mencari darah lagi’, kata Bayu.

‘aku segera kesana’, ungkapku.

‘Bay, segera habiskan makanmu. Sarah pingsan, bayi perempuan itu sepertinya merajuk, tak mau meminum susu formula. Aku panik Bay’, ungkapku pani.

‘tenang Le, kau harus makan dulu. Tadi kau donor darah, kau butuh energi lebih. Kita tidak boleh gegabah’, ungkap Bayu menenangkanku.

Aku sudah terlalu panik dan kebingungan ada apa dengan Sarah. Aku berdoa sepanjang jalan untuk kesehatan mereka berdua.

‘bisa lebih cepat pak’, ungkapku pada pak sopir, aku tak sabar segera sampai ke Rumah sakit.

Bayu memegang tanganku erat sekali. Memegang tanganku untuk pertama kalinya. Aku pasrah. (1257)

 

Aku ini lahir dari kerumitan yang tak terhingga. Masih terngiang jelas ditelinga ini, hari raya Idul Adha entah tahun keberapa, aku memakai kaos biru setali, dengan rambut pirang yang dikuncir sembarangan oleh ibu. Lalu aku melihat kejadian yang selalu membuatku terbangun tengah malam dari tidur lelapku. Ibuku membanting keras meja makan, dan bertengkar hebat dengan ayahku. Mungkin usiaku baru tiga tahun kala itu.

Kusimpan rapat-rapat bertahun-tahun, tapi tetap saja kuingat. Kusimpan bertahun-tahun tak ingin kubicarakan pada siapapun. Akhirnya aku luluh lantah pula, kuceritakan pula. Tak sangup lagi rasanya hati ini menahan. Tak ada yang mengerti kadangkala kupikir. Hidup tanpa seorang ayah, tak pernah kupermasalahkan. Tak ada masalah. Aku tetap menjalankan hidup dengan bahagia, seperti anak lainnya. Seperti remaja kebanyakan, seperti manusia kebanyakan. Aku meleburkan diriku pada manusia kebanyakan dan membuat diriku senyaman mungkin.

Akhirnya tiba waktunya, kenyamanan itu terusik. Pada suatu hal yang menunggu keputusanku. Pada suatu hal yang memaksaku untuk memutuskan. Pada suatu hal yang tak pernah ingin kuputuskan sendiri. Pada suatu hal yang akupun sebenarnya tak ingin mengusiknya. Pernahkah kita merasa rindu namun kita pula tersakiti? Inilah yang sesungguhnya, merindukan seorang sosok ayah, tapi bertahun-tahun sakit itu tak pernah hilang. Sungguh dalam hati ini, aku tak pernah ingin kenyamanan yang kubangun bertahun-tahun ini tak ingin kuusik sedikitpun. Terlalu aku tak ingin lagi terbangun malam-malam.

Terlalu kacau untuk aku ungkapkan. Terlalu kacau untuk aku rasakan sendiri. Aku belum siap menghadapinya sendiri. Butuh waktu bertahun-tahun lagi menghadapinya sendiri. Tak ingin pula isak tangis nantinya keluar. Umpatan, cacian, hinaan, hingga kebahagian yang tak tau lagi pada tempatnya.

Aku tak ingin membicarakan, atau dibicarakan. Ditekan ataupun menekan. Memutuskan ataupun diputuskan. Aku terlalu kacau melakukannya sendiri. Sekali ini aku tidak ingin menjadi momentum ini menjadi kebanyakan. Pernahkah kau bayangkan melihat ibu menangis dibelakang? Sekaligus pula melihat ayah menangis dibelakang. Hanya aku yang tau bagaimana diantara mereka menumpahkan tangis dibelakangku. Membayangkannya saja aku tak sanggup. Merasakannya saja aku tak ingin.

Sungguh sebenarnya aku tak ingin kenyamanan ini terusik. Hanya karena aku ingin menjalani hidup baru. Bukankah Tuhan tidak pernah membuatku sulit. Membuat aku menyakiti orang lain. Tak ada satupun rasa ini ingin menyakiti. Tapi pada akhirnya aku harus menyakiti. Hingga aku pula mengubur dalam-dalam sendiri.

Entah butuh berapa puluh tahun lagi, ketika kejadian itu terjadi. Aku harus mengingat, terbangun tengah malam, membangun kenyamanan dan mungkin menyesali keputusanku, menyakiti mereka.

Dengan derai air mata yang tak turun.

Bengkulu, 11 Februari 2012, 23:24

 

Air menjadi sumber utama bagi kehidupan. Setiap hari air dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan semua makhluk hidup lainnya. Air juga merupakan sumber inspirasi terbesar untuk kehidupan.

Perempuan adalah kelompok paling besar yang sangat membutuhkan air. Setiap harinya perempuan selalu bergelut dengan air. Mulai dari pagi hari hingga malam menjelang. Mulai dari pekerjaan domestik hingga produktif. Jika kita menilik lebih dalam air menjadi kehidupan dan inspirasi bagi perempuan. Air dan sungai bagi sebagian perempuan di Kecamatan Air Nipis dan Kecamatan Seginim merupakan sumber kehidupan terbesar bagi mereka. Sepanjang wilayah dua kecamatan ini, air mengaliri sungai dan anakan sungai yang membentang mengawal setiap wilayahnya.

Seperti yang terjadi di sepanjang aliran sungai Air Nipis, Kecamatan Air Nipis. Bagi mereka air di sungai Air Nipis menjadi tempat yang sangat krusial karena rahim kehidupan mereka berada di sepanjang aliran sungai ini. Berbagai kegiatan domestik hingga produktif di lakukan oleh perempuan di sepanjang aliran sungai ini. Mencuci pakaian, mandi, membersihkan perkakas rumah tangga, dan kegiatan lainnya semua terpusat di aliran sungai ini. Sebenarnya MCK sudah dimiliki oleh masyarakat, namun pada kondisi musim panas seperti ini, air di sungai ini menjadi alternatif terbaik bagi masyarakat.

Sebagian besar, pekerjaan pertanian produktif di dua wilayah ini ditangani oleh perempuan. Air dari sawah yang membanjiri rata-rata berasal dari Sungai Air Nipis, yang setiap tahunnya menghasilkan dua kali panen padi untuk kebutuhan masayarkat.  Tanpa aliran air dari sungai ini, belum tentu tanaman padi yang dihasilkan dapat dipanen secara rutin selama dua kali dalam setahun.

Kecamatan Seginim sebagai lumbung padi di Kabupaten Bengkulu Selatan sangat bergantung  dengan aliran air dari sungai Air Nipis ini. Kehidupan dialiran sungai ini membuat banyak kehidupan bergantung. Bukan saja padinya, sebenarnya kebudayaan masyarakatnya juga berpangkal dari sungai ini.

Air sebagai Sumber Kebudayaan

Bicara mengenai kebudayaan, kita akan bicara mengenai tiga hal ideologi, organisme, dan teknoekonomi (Goerge Sudarsono Etshu). Air membentuk ketiga hal tersebut dalam masyarakat. Air menciptakan sebuah cita-cita yang sangat besar bagi kehidupan masyarakatnya. Dengan aturan-aturan prasyarat pembagian kekuasaan dalam masyarakat. Serta menggunakan cara tertentu untuk mengesploitasi lingkungannya.

Air sebagai sebuah kebudayaan, telah memberikan ruang yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat, terutama bagi perempuan. Walau begitu besarnya peranan perempuan terhadap ketergantungan terhadap air, namun tetap saja kebudayaan lahir dengan garis patriarki. Karena sebenarnya, perempuan diletakkan hanya pada pekerja, bukan pada posisi pengambil keputusan. Sehingga kebudayaan yang lahir akhirnya menjurus terhadap kepentingan patriarkis. Peletakan posisi perempuan hanya didasarkan pada kegiatan domestik yang selama bertahun-tahun dimitoskan menjadi pekerjaan wajib perempuan.

Peranan perempuan terhadap air menjadi sangat krusial sekali, karena alasan produktif dan alasan domestik. Air akhirnya tetap saja bertumpu pada sang rahim, yaitu perempuan. Tapi kerap kali tidak pernah menggunakan perempuan sebagai alat pengontrol dan pengatur dalam kehidupan.

Tentu saja, jika perempuan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan akhirnya hanya menguntungkan satu pihak saja. Sedangkan semangat ideologi dalam negara kita mengatur mengenai kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Keterlibatan perempuan dalam mengelola dan menjaga lingkungan air merupakan titik awal, agar sungai sebagai aliran air paling dekat dengan masyarakat tetap menjadi rahim bagi kehidupan.

Bengkulu, 4 Februari 2012 (00:00)

(Sebuah Kritik dalam Tampilan Foto dan Inisial)

Saya menamakan judul tulisan ini seperti subjudul dalam sebuah rubrik liputan khusus sebuah majalah perempuan ternama di Indonesia. Subjudul aslinya ‘mereka yang menangis dalam diam’. Subjudul ini bagi saya lebih terasa maknanya daripada judul yang dipasang oleh penulisnya. Saya mengganti kata ‘diam’, dengan kata ‘media’. Hal ini dikarenakan saya begitu terkejut ketika membaca tulisan ini, dan seketika lahirlah tulisan ini.

Pertama kali saya tergelitik membaca tulisannya. Saya merasa tulisan tersebut sangat baik dan mudah dicerna oleh banyak kalangan. Apalagi isu yang diangkat adalah isu mengenai kekerasan terhadap perempuan. Dari tulisannya, saya melihat bahwa penulisnya sepertinya banyak membaca referensi dan mengetahui mengenai isu kekerasan terhadap perempuan.

Data yang disajikan, kasus-kasus yang terjadi hingga uraian cerita dan alur yang dibangun oleh penulisnya membuat nurani saya bangkit dan ingin pula melakukan banyak hal untuk perempuan korban kekerasan. Tulisan itu sangat menggugah dan membuat kita terhenyak dari kenyamanan kita sebagai seorang  manusia, bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan kejahatan akan hak asasi manusia. Kekerasan terhadap perempuan belumlah usai, walaupun sudah ada regulasi yang mengatur mengenai penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Regulasi tersebut diantaranya UU No 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) dan masih banyak lagi regulasi yang mengatur mengenai penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Setelah usai membaca tulisan tersebut, saya bingung apa yang menganjal dalam batin saya. Padahal saya merasa bahwa tulisan yang dibuat oleh penulisnya sangatlah baik. Saya melihat foto-foto yang ditampilkan oleh majalah tersebut dalam tulisan tersebut. Disitulah keterkejutan saya muncul. Saya melihat foto korban kekerasan terhadap perempuan, ditampilkan dengan jelas beserta nama dan kejadian apa yang telah terjadi pada perempuan korban.

Akhirnya saya membaca ulang tulisan tersebut. Keterkejutan saya semakin memuncak, karena banyak sekali nama perempuan korban yang tidak menggunakan inisial. Semua cerita mengenai korban kekerasan terhadap perempuan sedikitpun tidak menggunakan inisial. Hal inilah yang membuat saya menuliskan judul tulisan ini ‘Mereka yang Menangis Karena Media’. Secara kasat mata memang kejadian yang diceritakan oleh majalah ini memang dapat memberikan informasi kepada masyarakat . Tapi bagi saya, masyarakat bukan hanya saja membutuhkan sebuah informasi saja. Masyarakat membutuhkan kepekaan yang sangat dalam untuk perempuan korban kekerasan.

Dalam kacamata saya, penulisan nama perempuan korban kekerasan dalam sebuah media tanpa inisial bukanlah perkara yang bijak. Karena ini tentu saja menyakiti perempuan korban, keluarga perempuan korban dan lingkungan perempuan korban. Media sebagai sarana penyebar informasi, dengan mudah dapat memberikan informasi kepada masyarakat luas. Sehingga perempuan korban sangat rentan mendapat penyerangan kekerasan kedua kalinya dari media dan masyarakat secara luas.

Bagi saya, perempuan korban kekerasan  juga seorang manusia yang memiliki naluri dan rasa malu yang sangat dalam. Tentu saja, didunia ini tidak ada seorangpun yang ingin aibnya disebarluaskan kepada publik. Lirikan mata terhadap perempuan korban, gunjingan, pembicaraan mengenai kasusnya ke ranah publik merupakan penyebarluasan yang dapat berdampak psikologis kepada perempuan korban kekerasan. Hal-hal yang dianggap kecil tersebut akan berdampak sangat luas kepada kehidupan perempuan korban.

Dalam tulisan ini saya bukan berarti melarang pemberitaan mengenai kekerasan terhadap perempuan. Saya menggarisbawahi bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan sebuah kejahatan hak asasi manusia yang paling dasar. Perempuan korban kekerasan membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk suasana yang kondusif bagi pemenuhan dan pemulihan hak-haknya.

Banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan yang tidak mendapat dukungan hukum merupakan hal yang banyak terjadi pada perempuan korban. Kasus incest, perkosaan, KdRT yang diketahui setelah perempuannya mendapat kekerasan selama bertahun-tahun bukanlah kasus yang tidak sering kita dengar.

Jika pemberitaan dimedia juga membuat ketidaknyamanan bagi perempuan korban, membuat perempuan korban tidak ingin melaporkan kasusnya ke ranah hukum. Kita akan menyaksikan bahwa akan banyak sekali perempuan-perempuan korban kekerasan terbelenggu dalam lingkaran kekerasan yang menyiksa. Kita akan melihat berapa banyak lagi perempuan korban yang tidak melaporkan kekerasan yang dialaminya ke ranah hukum formal.

Tentu saja ini berita buruk bagi kita, bahwa tidak ada lagi ruang yang sangat nyaman bagi perempuan untuk berlindung. Bukan saja mereka yang menangis, tapi kita juga kita, yang masih memiliki hati nurani ini. (ge)

Bengkulu Selatan, 2 Februari 2012 (22:31)

 

Tak ayal lagi Robert akan mengunjungi Sarah. Sarah sepertinya tau hubungan kami dulu. Tapi aku tak ingin membuat keributan. Sarah mengenalkan Robert pada semua teman-teman ketika jam makan malam di resetoran hotel. Aku mengambil duduk bersama Dewi, Andi dan Bayu. Sepertinya Robert sedikit shock melihatku ada disana. Mungkin Robert tak pernah berfikir aku ada disana.

‘ini Sarah sayang, temannya Rara’, kata Sarah menyinggungku.

‘atau kalian sudah saling kenal’, lanjut Sarah yang menyerocos melihat Robert terpaku melihatku.

Tampang Robert sedikit kucel. Sepertinya dia harus bekerja keras setelah menikah dan Sarah hamil. Dari cerita yang kudengar, Sarah ngotot ingin punya rumah baru setelah menikah. Alhasil, Robert harus bekerja sampingan pula untuk memenuhi keinginan Sarah. Kata Rara Robert akhirnya membuka usaha franchise sebuah makanan di Bandung.

Mungkin pula, karena perjalanan Jakarta Lampung yang membuat Robert sedikit kucel. Aku tersenyum sebiasa mungkin kepada Robert dan Sarah. Robert mengulurkan tangannya dan aku membalas jabatan tanggannya. Sarah sepertinya kesal sekali kepada Robert karena bertemu denganku.

Sarah mengajak Robert duduk bersama kami. Aku tak mempermasalahkan. Sepertinya aku sudah mulai kuat. Mungkin pula karena ada Bayu disini dan aku yakin aku tidak sendirian kali ini. Robert kulihat juga kelimpungan, dan bingung mau melakukan apa. Tapi rasanya itu bukan Robert karena tidak mampu bersandiwara. Dia mampu memacari kami, mengatakan cinta aku, memaksaku datang setiap minggu selama tiga tahun, memperlakukan aku dengan lembut. Hingga membuat Sarah bertekuk lutut di hadapannya. Bukankah itu sandiwara yang hebat. Skenario yang ditulis oleh Robert sungguh membuat aku dan Sarah sebagai manusia yang ingin saling menyakiti.

‘sayang kita ambil salad dulu yuk’, ajak Sarah kepada Robert.

Mereka meminta izin mengambil salad menuju bufe. Aku masih tetap mengunyah omelete yang aku pesan tadi. Sesekali aku menghirup kopi susu yang aku racik tadi.

‘sepertinya Sarah ada masalah denganmu?’, bisik Bayu.

Andi sedang mengangkat telpon ponselnya, sehingga tak mempedulikan kami berdua.

‘masalah apa?’, ungkapku mencoba menyembunyikan perasaanku.

‘dari kemarin Sarah seakan ingin menikammu dalam kata-katanya’, lanjut Robert.

‘ah, itu biasa, mungkin karena Rara Bay’, ketusku.

‘itu kan temanmu, bukan kamu. Tapi kenapa dia yang sewot?’, kata Bau sewot.

‘biasalah perempuan, sering agak sensitif gitu deh’, kataku sembarangan.

Kami tertawa.

‘hai, apa sih yang diobrolin’, ucap Andi sehabis menutup telponnya.

‘tuh, kami liat perempuan disana, sepertinya sedang menggodaku’, kata Bayu gesit sambil menoleh kearah perempuan yang duduk didepan kami.

‘dasar lu, itukan pelayan cantik yang dibilang semua peserta tau’, seloroh Andi.

‘oh ya? Sejak kapan komunitas ini memperhatiakn kecantikan para pelayan?’, balas Bayu.

‘ah lu, makanya jangan serius aja. Masa ada perempuan secantik itu didiemin aja. Herannya ya, kenapa lagi dia mau jadi pelayan. Tapi aku rasa dia itu bukan pelayan’, seloroh Andi.

‘maksudmu?’, kataku bingung.

‘dari bentuk badannya, sepertinya dia sudah terlatih melakukan olahraga, dan dari bentuk rambutnya yang pendek serta wajahnya yang ayu tapi tegas, aku yakin dia seorang intel’, ungkap Andi seperti gaya detektif.

‘intel? Ngapain Ndi’, tanyaku lagi.

‘ini kan hotel berbintang Le, pertemuan-pertemuan penting bukan hanya oleh petinggi negara, tapi juga pengusaha diadakan disini. Pasti saja mereka sedang menyamar untuk mengawasi gerak-gerik tamu di hotel ini’, jelas Andi.

‘ah masa sih Ndi?’, aku semakin penasaran. Kulihat Sarah dan Robert sepertinya sedang meributkan sesuatu. Robert dan Sarah akhirnya pergi ke wastafel toilet hotel ini. Aku pikir pasti mereka sedang meributkan sesuatu.

‘kamu ini polos banget ya Le. Denger ya, teror bom sedang dimana-mana saat ini, apalagi dengan hotel-hotel milik Amerika. Tapi tenang Le, aak Andi akan selalu menjaga keselamatan Lea disini. Kalau nanti calon mertua Andi telpon, beri tau menantunya akan selalu menjagamu’, rayu Andi lebay.

Bayu tertawa ngikik sambil menjitak kepala Andi.

‘masih lu ye, sudah aku bilang Lea ini pacarnya Sandi tau’, ungkap Bayu.

‘ye, lu atau Sandi sih yang sewot. Kalo naksir juga kita bersaing deh. Lu, gua, siapa situ sepupu lu’, kata Andi sambil menatapku penuh harap.

Bayu menjitak kepala Andi lagi. Aku berusaha melerai.

‘sudah-sudah, haduh kalian ini kayak remaja saja’, leraiku.

Robert dan Sarah kembali kemeja kami. Sepertinya setelah pergulatan yang cukup alot di dalam toilet tadi.

Mereka makan salada yang diambil. Keadaan menjadi tegang, Andi yang biasanya ngocol juga akhirnya hanya menyenggol kakiku memberi isyarat agar kami segera berlalu dari meja ini.

‘apa kabar kau Le?’, akhirnya Robert menyapaku.

‘baik’, ungkapku datar dan sesopan mungkin.

‘aku sudah menduga kalian sudah kenal lebih jauh’, seloroh Sarah.

Robert berusaha membuat Sarah tidak bersikap demikian dengan pandangan matanya yang sedikit memohon kepada Sarah. Aku diam saja. aku berpikir, aku sangat kasihan dengan Sarah karena tak tau apapun tentang Robert. Bahkan mungkin Robert bisa saja mengulang hal yang sama denganku dengan perempuan lain. Bayu memang melihat gejala yang tidak baik dengan hubungan kami berdua. Andi sepertinya juga melihat gejala itu.

‘Le, mau gak kamu aku foto di pinggir kolam itu. Kamu fotoin kita ya Bay’, ucap Andi cuek.

‘mulai deh Ndi. Tapi tidak deket-deket Lea ya’, Bayu kesal lantas menarikku.

‘kami foto dulu ya’, kata Andi polos bicara pada Sarah dan Robert.

Andi emang gila, dia mengajakku berpose ala prewedding. Sesekali Bayu menjitak kepala Andi. Sesekali pula aku tak menduga Andi akan menarik tanganku. Sehingga aku berdekatan dengannya. Bayu jika sudah begini akan sewot menarik tanganku dengan lembut. Kadang aku merasa deg-degan juga waktu Bayu menarik tanganku. Oh tidak, bayangan Sandi begitu mendekat.

Robert dan Sarah hanya melihat dari kejauhan. Sesekali aku mengintip, sepertinya Robert ingin sekali menarik tanganku pula. Aku tau, Robert seperti mati rasa. Aku tak ingin mengatakan apapun kepada Sarah nantinya, ini akan menyakiti kami. Kulihat Robert bergegas, aku tau, sepertinya Robert ada agenda pula di Lampung. Pagi ini dia hanya mampir, aku menduga-duga apa yang Robert kerjakan disini. Aku mengingat apa yang Robert kerjakan seperti akhir minggu yang sering akmi lewatkan berdua.

Sarah mendekati kami dan memanggilku.

‘Le, boleh aku bicara padamu’, akhirnya Sarah memberanikan diri.

Bayu dan Andi kulihat berpandangan. Dengan isyarat mata aku menyuruh Andi dan Bayu untuk menyingkir sejenak. Kuluhat mata Bayu yang tak ingin aku sendiri disitu, tapi aku tersenyum dan mengisyaratkan mereka harus pergi dari sini.

‘kenapa mbak?’, ungkapku sesopan mungkin.

‘aku tau hubungan kalian dulu. Walau Robert tak pernah mengatakannya. Aku minta tolong jauhi suamiku’, kata Sarah.

‘aku tidak pernah mencoba menganggu suami mbak’, ungkapku kesal dan geram.

‘setidaknya jangan pernah hubungi dia lagi’, lanjut Sarah.

‘aku tidak pernah menghubungi suamimu mbak’, kataku lagi.

‘dari aku SMA hingga sekarang, Cuma kau yang diperhatikannya. Aku mohon, sekarang aku mengandung anaknya, jauhi dia’, kata Sarah lagi.

Aku sebenarnya geram sekali dengan ungkapan Sarah, tapi aku kebingungan apa yang harus aku katakan. Haruskan aku teriak, bahwa suaminya lah yang telah menggangguku. Suaminyalah yang setiap kali menghubungiku. Suamninyalah yang telah membohongi kami berdua.

‘aku tau mbak, tapi aku tak pernah sedikitpun ingin menganggu suami mbak. Dulu biarlah dulu, tak ada lagi. Aku tau walau Robert membohongiku, membohongimu pula mbak, tapi aku tak pernah berniat membuat rumah tangga kalian berantakan. Kamu tenang saja mbak, aku tak akan membuat kalian jadi ribut’, ungkapku selembut mungkin.

Kulihat mata Sarah sudah berlinang air mata. Aku juga tak tega sebenarnya, apalagi hingga membuatnya menangis. Bagaimanapun juga aku ini perempuan, yang tau rasanya disakiti oleh seorang laki-laki. Ingin sekali mengambil tanggannya dan memelukknya kali ini. Persis seperti almarhum Rara yang dulu juga menangis karena Robert.

‘aku tak tau harus berbuat apa, Robert begitu kasar padaku akhir-akhir ini. Dia seakan tak yakin anak yang dikandungku ini adalah anakku’, ungkapnya memelas.

Bangsat. Bedebah. Dasar laki-laki buaya, hari ini aku sangat membenci Robert mendengar perkataan Sarah. Rasanya ingin aku hajar laki-laki itu. Membuat tiga perempuan sama gilanya.

‘sudah kau beri pengertian?’, ungkapku.

‘berkali-kali aku bilang padanya. Bahkan kami akan melakukan tes DNA ketika anak ini lahir kelak’, ungkap Sarah.

Astaga, aku ingin sekali membunuhnya kali ini. Apa yang sudah dia lakukan pada Sarah sungguh keterlaluan. Kali ini aku tak mampu menahan perasaanku.

‘Sarah itu sungguh keterlaluan. Robert yang kukenal tidak begitu. Dia sangat manis sekali pada perempuan’, kataku.

‘aku juga dulu diperlakukannya begitu, tapi setelah menikah aku tersiksa sekali Le. Aku harus mengatakan bahwa kau disini Le, supaya aku bisa dijenguk olehnya. Makanya aku sungguh kecewa terhadapnya’, ungkapnya sambil menyeka air matanya.

‘kau yang kuat ya mbak. Aku tak mungkin melakukan apapun. Tapi yakinlah, aku tak akan pernah merebut Robert darimu. Lihat aku mbak, kau harus yakin denganku mbak, supaya kau sehat dan tidak mengganggu janinmu’, ungkapku sambil memegang tangannya.

Sarah menangis dan memelukku akhirnya. Aku tak bisa melepaskan pelukannya. Semua orang sepertinya melihat adegan ini dari kejauhan. Aku tak kuasa Tuhan, sungguh aku bukan perempuan yang berhati baja diam saja melihat semua ini terjadi. Aku harus menghubungi Robert untuk mengatakan hal ini. Tapi aku takut terjebak lagi. Aku sudah berjanji pada Sarah, untuk perempuan yang juga telah menyakiti hati Rara.

Saat dalam pelukanku, Sarah mengaku kesakitan perutnya. Dan tiba-tiba lemas, kulihat darah mencair keluar mengucur lewat kakinya. Aku teriak memanggil semua orang, sepertinya Sarah pendarahan. Jika kuhitung kandungannya masuk usia tujuh bulan. Karena waktu menikah usia kandungan Sarah sudah hampir menginjak tiga bulan lebih. Aku ketakutan, segera semua orang langsung mengangkat Sarah dan membawa Sarah ke Rumah Sakit. Pintu UGD dibuka, tindakan dokter dilakukan. Kata dokter Sarah harus dioperasi segera. Aku panik sekali. Hari itu kami tidak ada kelas akhirnya. Semua peserta menunggu di rumah sakit.

Aku menandatangani berkas operasi. Aku katakan bahwa aku adik sepupunya. Kutelpon Robert tapi ponselnya tak aktif. Aku mengirim pesan singkat agar jika ponselnya aktif dia segera kesini.

Sarah pendarahan.

Segera harus dioperasi

Kami di Rumah Sakit Umum

Sent : 01/02/2012

08:30:01

Perawat keluar ruangan, aku segera menjemput perawan tersebut.

‘pasien butuh darah AB. Stok PMI sedang kosong. Siapa yang berdarah AB’, ungkap perawat.

‘saya darah AB mbak. Saya bisa donor’, ungkapku yakin.

‘sekarang mbak masuk. Tolong yang lain hubungi PMI disudut sana dan cari pendonor golongan darah AB’, ungkap perawat.

Sekarang semua orang panik dan bergerak mencari pendonor. Aku takut sekali masuk ruangan ini, tapi kulihat Sarah terkulai lemas. Aku memberanikan diri. Demi janji kepada Sarah. (J50K 1633)

Pagi ini diisi acara perkenalan. Masing-masing ternyata juga baru memulai dalam penulisan naskah monolog. Semua pelaku seni, dan telah mengembangkan seni teater sejak masih kuliah di daerah masing-masing. Aku yang paling bontot sepertinya dan punya pengalaman sedikit. Semuanya pernah membuat pentas teater menjadi heboh dengan karya-karya mereka.

Sungguh aku beruntung dapat kesempatan ini. Akhir-akhir ini aku sangat menyukai kegiatan tulis-menulis. Sesekali aku berpuisi dipentas mingguan komunitas seni. Sebenarnya tetap setiap minggu sih aku tampil, dari situ aku banyak belajar banyak hal. Bahwa aku tak bisa hanya tampil didepan saja jika aku mau merubah apa yang menjadi inginku.

Bagi sebagian orang mungkin anak-anak teater ini anak-anak gila. Bagiku dan bagi teman-teman disini, teater adalah kehidupan. Pentasnya, gelapnya suasana, suaranya yang menggema, bahasa langitnya, ochestra yang mengiringi, ceritanya yang menyentuh serta persiapannya yang meletihkan. Semuanya satu kompleksitas cerita yang tak habis-habisnya.

Dulu aku penrnah kepincut dengan seni tari, waktu masih kecil. Sepertinya bahagia sekali melihat orang menari dan melenggok-lenggokkan badannya diatas panggung. Berdandan cantik, dan menggunakan pakaian yang indah-indah. Dipadu dengan gerak tubuh yang memikat hati. Aku pernah merengek kepada ibu untuk ikut kelas menari waktu kecil. Aku dititipkan dikelas menari anak-anak pejabat pemerintah. Tarian pertama yang kupelajari adalah tari piring.

Karena aku masih pemula dan kecil, aku disuruh menggunakan piring plastik untuk belajar. Aku melihat beberapa anak lainnya yang sudah mahir diperbolehkan menggunakan piring dari keramik untuk belajar. Saat itu aku menangis-nangis pada ibu untuk menggunakan piring dari keramik itu juga. Karena aku pikir belajar harus totalitas, pecah berarti aku melakukan kesalahan dan harus bekerja keras agar bisa.

Pelatih dan beberapa temanku tidak memperbolehkanku untuk begitu. Aku menangis dan mengamuk-ngamuk kala itu. Ibu mengerti tabiatku yang pekerja keras dan tentu saja keras kepala ini. Ibu akhirnya memohon kepada pelatihku untuk memberiku sebuah piring keramik. Aku kegirangan, dan aku belajar tari piring dengan piring keramik. Memang aku belum fasih dengan gerakan kaki, atau terlalu gemulai, tapi aku tidak menjatuhkan piring keramik tersebut. Menarikan tari piring dengan baik. Besoknya, aku tak mau lagi kembali ke tempat tari tersebut.

‘kenapa gak mau menari lagi Le?’, ungkap ibu tersenyum.

‘gak mau ah bu, gak ada yang percaya sama Lea’, ungkapku polos.

Ibu memberikanku sebuah senyum dan memelukku dengan mesra. Mungkin ibu geli waktu itu melihat tingkah polaku yang kekanak-kanakan sekali.

‘yah, ibu gak maksa sih. Besok kita lihat teater deh, mau gak? Temen ibu besok ada latihan, mau gak lihat?’,

‘apa itu teater bu?’, kataku.

‘pementasan gestur suara, intonasi, pencahayaan, cerita, lakon dalam satu panggung begitu nak. Seperti drama yang penuh artistik dan nilai seni. Menari piring juga teater’, celoteh ibu.

‘besok kita datang bu? Le pengen lihat bu’, kataku antusias padahal sebenarnya aku tidak tau arti yang ibu katakan padaku.

‘iya tidurlah dulu nanti ibu dongengkan sejarahnya lahir’, kata ibu kepadaku.

Tak ada satupun yang dapat mengalahkan dongeng ibu. Dongeng ibu merupakan sebuah cerita yang penuh misteri dan kita akan menjelajah hidup dengan penuh rasa optimis.

Ibu bercerita jika kata teater atau sebenarnya drama berasal dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti gerak. Kata Ibu, teater sebagai sebuah tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis pengungkapan bahwa teater sudah ada sejak abad kelima sebelum masehi. Ini hasil dari temuan naskah teater kuno di Yunani. Penulisnya ‘Aeschylus’ yang hidup antara tahun 525-456 sebelum masehi. Isi ceritanya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa.

Dulu teater atau drama-drama lahir bermula dari upacara keagamaan yang dilakukan para pemuka agama. Lama kelamaan upacara keagamaan ini berkembang, bukan hanya berupa nyanyian, puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang diucapkan dengan lantang. Akhirnya upacara keagamaan seringkali menonjolkan penceritaan seperti drama atau teater.

Ibu lebih mendefinisikan teater sebagai seni untuk berdoa. Memohon kepada Tuhan dengan cara yang artistik, bukan hanya melalui sembahyang yang biasanya dilakukan oleh agama. Kata ibu, dalam teater doa yang dipanjatkan juga dipanjatkan semua orang. Selain kepada Tuhan kata ibu, efeknya juga mengena pada manusia secara langsung. Teater menggerakkan manusia untuk berdoa pada Tuhan. Dikabulkan atau tidak bagi ibu itu adalah tugas Tuhan, kita tak mampu memaksakan.

Besoknya ibu mengajakku ke sebuah latihan teater, kulihat semua orang sibuk latihan. Ibu memperkenalkanku pada seorang pelatih teater, namanya Om Santosa. Lebih sering dipanggil Om Santos. Kebetulan pula kepalanya yang sedikit botak plontos.

Om Santos menyambutku dengan ramah, dan memberikanku sebuah kepercayaan untuk memainkan peran seorang anak yang hilir mudik lalu lalang dalam pementasan. Aku dinisbahkan menjadi Safitri, seorang anak dari pelacur yang hidup ditempat lokalisasi. Safitri membawa boneka kemana-mana, dan hilir mudik melihat adegan dalam lokalisasi. Peranku tidak begitu banyak bicara, tapi aku lebih bermain gestur waktu itu.

Dalam lakon tersebut, aku memainkan sosok anak dengan karakter kepolosannya. Setiap latihan ibu selalu mendampingi. Sejak saat itulah sebenarnya ayah mulai marah-marah jika aku mulai menyukai teater. Entah apa alasannya. Sebelum aku berangkat training ini ayah pernah bercerita kepadaku bahwa ibu dulu pernah berpacaran dengan laki-laki yang juga seniman dari teater. Aku tersenyum kala itu, berarti kecemburuan yang selama ini melanda. Atau ayah merasa disingkirkan dari hidup ibu dan aku lantaran bukan aktor teater pula.

Hingga suatu hari pementasan, aku berharap sekali ayah menontonku. Ini pementasan perdanaku. Kala itu aku masih berusia 10 tahun. Aku gelisah menunggu ayah, ayah harus mengantar sebuah lukisan kepada langganannya malam itu juga. Tapi ayah berjanji akan datang dalam pementasan perdanaku waktu itu. Aku gelisah dengan sangat waktu itu. Bagaimanapun juga aku sangat mengingnkan ayah hadir pada pementasan perdanaku waktu ibu. Saat aku telah berganti kostum, ayah belum juga menampakkan batang hidungnya. Aku mondar mandir keluar. Hingga om Santos, yang juga sebagai sutradara waktu itu, menyarankanku untuk melihat ayah dari bilik belakang yang dekat dengan parkiran. Supaya aku stay dibelakang panggung. Jika waktunya aku harus pentas, semua tidak kelabalakn mencariku. Ibu akhrinya menemaniku dibalik panggung, dan menyakinkanku ayah pasti datang melihat pementasanku.

‘mungkin ayah sedang dijalan sayang’, kata ibu menyakinkanku.

‘ayah pasti datang bu?’, kataku.

‘iya sayang, ayah pasti datang dan akan melihat pementasanmu nak’, ibu lebih menyakinkanku.

Ibu sibuk memencet tuts-tuts telepon menghubungi ponsel ayah. Aku lihat, sepertinya ibu ribut lagi dengan ayah. Suara ibu memang tidak keras, tapi raut muka ibu yang berubah menyakinkanku bahwa mereka sedang ribut. Setiap kali mereka ribut, memang tidak pernah didepanku atau hingga aku mendengar. Tapi aku selalu merasakan apa yang mereka rasakan pula. Situasi jadi tegang dan aku akhirnya harus mengalah. Aku tak pernah tahan melihat raut muka ibu yang berpura-pura sedih karena harus menutupi kebohongannya didepanku.

Aku menguatkan hati kala itu, walau aku kecewa berat. Rasanya pulang nanti aku tak mau bicara pada ayah untuk berapa lama. Waktu pementasan dimulai, aku mementaskan lakonku dengan baik. Aku dipuji banyak orang dan Om Santos memberiku sebuah buket bunga mawar warna merah. Tak kulihat ayah, entah karena pada waktu itu situasi gelap, dan aku tak dapat melihat sosok ayah.

Saat aku pulang, ayah tak ada dirumah. Aku langsung masuk kamar dan tidur. Tengah malam aku mendengar suara mobil masuk garasi. Aku berpikir itu pasti ayah baru pulang. Ingin rasanya bangun dan melabrak ayah, karena lalai dengan janjinya. Tapi aku melihat ibu gelisah disampingku. Mungkin ibu juga ingin melabrak ayah secepatnya seperti yang aku inginkan. Ibu hanya tidur dan merapatkan pelukannya padaku. Malam ini ayah tak berani masuk kamarku.

Saat pagi aku bangun, dan menuju kamar mandi, disamping meja makan aku melihat dua buah kanvas yang tertutup dengan kain putih. Aku penasaran, kenapa kanvas itu berada di ruang makan. Aku buka kain putihnya, kulihat sebuah panggung pentas dengan aku sebagai pemainnya ada digambarnya. Persis seperti kostum yang kupakai, interior panggung juga dengan detail tergambar dalam lukisan tersebut. Pencahayaannya, hingga detail kostum setiap pemain.

Lukisan satunya lagi, adalah aku dengan kostum yang kupakai semalam, sedang memegang boneka dan melebarkan tanganku. Yah, itu adalah gerakan menari yang kulakukan pada saat aku pentas jadi Safitri yang melihat adegan yang tidka pantas untuk dilihatnya. Aku begitu cantik dalam lukisan tersebut.

Aku bergegas mencari ayah, tapi ayah sudah tak ada di kamar. Aku berlari ke bengkel, tapi ayah juga tak ada di bengkel. Ibu tersenyum melihatku dan mengatakan bahwa ayah sedang ada urusan keluar. Sejak saat itu aku menyakinkan diriku bahwa inilah bakat yang aku punya. Inilah tempat yang memang untukku, tempat untukku berkarya. Walau sejak saat itu ayah tak mengizinkanku dan tetap membujukku untuk menjadi seorang model. Tapi dari lukisan itu aku yakin, ayah selalu mendukungku untuk menjadi pekerja seni dalam teater.

Aku mengakhiri ceritaku dengan tersenyum. Semua teman-teman yang lain, tak ada satupun yang mencela mendengarkan aku menceritakan mengenai sejarah pertama kali aku mulai berkenalan dengan teater. Termasuk Sarah, tak sedikitpun menyinggung apa yang sedang aku ungkapkan. Ini sejarah terpanjang diantara kawan-kawan yang menceritakan mengenai sejarah berkenalan dengan teater.

‘ceritanya indah, seindah orangnya. Pantasan saja Lea keren, keluarganya juga keren’, celoteh Andi setelah aku bercerita.

‘Aplause dulu buat Lea’, ungkap Pak Saleh, fasilitator kami yang notabene adalah maestro penulis monolog.

Semua bertepuk tangan kepadaku. Bayu menatapku dalam sekali, dan menyunggingkan sebuah senyuman yang indah untukku. Persis seperti senyum Sandi kepadaku. Kami melanjutkan acara selanjutnya sesuai dengan jadwal acara yang sudah disusun. Aku takjub sekali dengan Pak Saleh yang telah menelorkan banyak sekali karya monolog yang bagiku sangat keren dan artistik. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menceritakan pengalaman ini. Kubagi dengan orang yang belum aku kenal. (J50K 1516)

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics