Slideshow
Tags & Categories

Archive for January, 2012

Aku keluar kamar menggunakan jeans biru dongker dan selarik kaos berlengan panjang yang ku matchingkan dengan blazer casual senada dengan warna jeans. Beginilah enaknya jadi pekerja seni dan tidak terikat dengan birokrasi, kita bisa membuat diri kita senyaman mungkin dengan pakaian yang kita sukai.

Tak bisa aku bayangkan nanti jika aku setiap hari harus melapor ke kantor, atau wajib datang ke ke kantor absen. Haduh, bukan sekali pekerjaan yang menyenangkan bukan? Entah pula karena aku lahir dari keluarga yang benar-benar bebas berekspresi. Ibu dan ayah tak pernah punya waktu yang tetap untuk bekerja. Kadang pagi, kadang siang kadang malam. Tergantung kebutuhan. Aku pula terpola seperti itu, belajar buka buku kadang iya kadang tidak. Tapi aku tak pernah absen dari ranking satu dikelas.

Semua mata tertuju padaku waktu aku memasuki restoran. Mungkin karena aura bahagiaku yang keluar. Teringat pesan pendek Sandi tadi. Sinta menyambutku dan memperkenalkanku pada beberapa orang yang menatapku tadi.

‘hai teman-teman, ini mbak Lea temannya mbak Rara dari teater Kotak’, Sinta memperkenalkanku.

Aku menyalami mereka satu persatu. Tapi aku seperti melihat Sarah diantara sepuluh orang yang sedang berkumpul ini. Tapi aku lebih tertarik dengan seseorang yang mirip sekali dengan Sandi. Bahkan menurutku sama. Cara menatapnya, cara menjabat tanganku. Lembutnya tangannya hingga gerak-geriknya. Tapi dia bukan Sandi. Bukan Sandi tentunya. Aku tau aroma tubuhnya, tau tatapannya, tau pula caranya ketika bertemu aku.

Bagas. Bayu. Andi. Wahyu. Hendra. Hamid. Leo. Dewi. Sarah.

Glek. Benar Sarah, walau aku sudah lama tak bertemu padanya, tak tau kabarnya tapi aku amsih ingat bentuk tubuhnya. Dia terlihat gendut, mungkin karena sedang hamil. Karena aku mendapat cerita Robert kemarin, bahwa mereka menikah karena alasan itu. Perut Sarah telah membuncit. Tapi aku bingung kenapa dia ada disini. Ataukah dia salah satu peserta acara ini? Oh, Tuhan aku tak peduli padanya, ternyata dia juga pecinta seni.

Oh, Tuhan aku tau bahwa Robert mencari jejakku dalam tubuh Sarah. Tuhan jangan biarkan kami dalam keadaan sulit. Tuhan hindari pembicaraan ataupun hal lain mengenai Robert. Tak mungkin aku malah mengahadapkan diriku pada masalah ini. Aku takut sekali Sarah mulai menuduhku menggoda suaminya atau menganggapku seorang perempuan perusak rumah tangga. Oh Tuhan, jauhkan Robert dariku. Jauhkan bayangannya, jauhkan kesedihanku terhadapnya, jauhkan lukaku ini.

‘mbak Le, sarapan dulu ya’, Sinta mengingatkanku.

Aku gelisah sambil mengambil makananku. Aku mengambil salad buah, susu coklat dan dua potong roti bakar di bufe. Aku hampir saja menjatuhkan sebuah mangkok karena aku gugup dan gelisah. Beberapa pelayan dengan ramah membantuku membawakan piring yang hampir jatuh.

‘mbak mau duduk dimana? Biar saya bantu bawakan’, ungkap pelayan tersebut ramah.

‘saya duduk dikelompok itu’m ungkapku sambil melihat kearah tim.

Laki-laki mirip Sandi tersebut melihatku dan menyediakan tempat duduk tepat disampingnya. Aku tambah kikuk, dihadapanku ada dua manusia yang mengingatkanku pada dua orang yang ada dalam hidupku.

‘maaf telat, mari sarapan’, ungkapku mengakrabkan diri.

Oh Tuhan, Sarah mengikuti gerak gerikku. Laki-laki mirip Sandi yang aku tak hafal namanya ini menatapku juga dan sepertinya ingin mulai mengajakku ngobrol.

‘Lea, sudah lama di teater?’, akhirnya dia menyapaku pula.

‘iya, lumayan sudah hampir lima tahun’, ungkapku sambil menyendokkan makanan.

‘aku sering mendengar namamu, tapi baru sekali ini kita bertemu. Dulu waktu kamu pementasan lakon Marini karya Rara aku meilihatmu pentas’, ceritanya.

‘oh ya, waktu pementasan peringaran hari bumi kemarin? Kok kita gak berkenalan?’, ungkapku.

‘kamu waktu itu langsung menuju Jakarta kata Rara, ada pertemuan komunitas teater disana. Kebetulan aku sedang di Bengkulu dan memang  kenal dengan Rara sejak program dari kementrian pariwisata tiga tahun lalu. Rara banyak bercerita tentangmu.’, ungkapnya panjang lebar.

Aku tersenyum menjawab ucapannya dan melanjutkan makanku kebingungan apa yang harus aku jawab dengan perbincangan dengan laki-laki mirip Sandi ini Tuhan.

‘Sandi juga banyak cerita tentangmu’, ungkapnya datar.

Glek. Akhirnya aku terhenti makan, dan menatap matanya. Iya aku bertemu Sandi dalam mata itu.

‘maksudmu? Sandi?’, aku kelabakan.

‘Sandi itu kakak sepupu saya. Kebetulan ayah kami kembar. Banyak orang yang mengira kami juga kembar. Padahal kami hanya sepupuan’, ungkapnya.

‘Oh, iya aku ingat Sandi pernah bercerita tentangmu’, ungkapku kikuk.

‘Sandi akan pulang sebentar lagi. Aku tak menyangka itu benar kau Le’, katanya datar menatapku tajam.

‘Sandi banyak menceritakanmu, tapi tak pernah mengenalkannya padaku. Hingga kita bertemu disini’, lanjutnya.

‘iya dia akan pulang. Mungkin dia akan bekerja disini atau menikah disini. Entahlah’, ungkapku asal.

‘Sandi hingga saat ini belumm punya pacar lagi. Memang kau benar-benar hebat Le. Wajar saja Sandi tergila-gila padamu’, ungkapnya tak malu-malu.

Semua mata memandang pembicaraan kami. Aku menajdi risih sekali. Kali ini aku tak mampu menguasai keadaan dan tak mampu menguasai pembicaraan.

‘Kak Bayu kenal sama mbak Lea’, ungkap Sinta menyelamatkanku.

‘Lea ini pacarnya sepupu saya, tapi saya belum pernah bertemu langsung.’, ungkap Bayu menyelamatkanku pula dari kegugupan.

Glek. Pacar? Oh My God, kenapa aku jadi begitu kikuk di lingkungan ini. Padahal aku tadi begitu bersemangat. Entah karena ada Sarah disana yang tersenyum menang, mengetahui aku masih berstatsus pacaran. Atau karena ungkapan Bayu tadi yang masih memberiku gelar pacar Sandi.

‘waduh, saya gak jadi lajang deh mau kenalan sama mbak Lea’, seloroh Andi membuyarkan kekakuanku akhirnya.

Semua orang tertawa dan membuatku tersipu-sipu.

‘kalo Sarah dan Dewi tentu saja kita gak mungkin menaksirnya. Sinta apalagi. Nah, diantara sarang penyamun seni ini Cuma Lea lah yang bisa dijadikan sasaran cinta selama seminggu ini. Duh, pasti bukan aku saja yang patah hati’, seloroh Andi lagi.

Semua menyambut tawa termasuk Bayu yang melirik nakal kepadaku. Haduh, hanya dikomunitas ini saja sepertinya yang memujiku berlebihan.

‘sepertinya kita pernah bertemu Lea’, kata Sarah, menusuk jantungku.

‘mungkin saja mbak. Mungkin kita satu sekolah’, ungkapku sopan.

‘ya, ya kamu temannya Rara kan?’, katanya meyakinkanku.

‘iya Larasati mba’, ungkapku.

‘turut berduka ya atas kepergiannya. Saya mendengar kaulah yang paling dekat dengannya hingga menjelang akhir hidupnya’, katanya

‘Iya mbak, sekarang dia sudah tenang’, kataku datar mencoba sesopan mungkin.

‘maafku dan suami karena tidak bisa datang. Aku mendengar Rara sangat menyukai suamiku dulu’, katanya.

Semua orang melihatku dan meminta jawabanku.

‘waduh, sepertinya nostalgia nih’, seloroh Andi cuek. Smeua orang tersenyum melihatku.

Aku bingung sebenarnya apa yang akan aku jawab. Sarah menyingungku atau memang dia mengatakan tulus apa yang kurasa.

‘iya mbak. Saya mengerti’, kataku teringat Rara pedih.

‘Lho Rara mana ni Le?’, kata Bayu.

‘Rara teman SMA bay, bukan Dea Larasati, Rara yang kau kenal’, kataku sambil meminta perlindungannya.

‘wah sepertinya suamimu dulu sangat menggoda Sarah. Sekarang suamimu bekerja dimana Sarah?’ kata Wahyu sambil menunjukkan tampang usilnya.

‘bekerja di Departemen Keuangan yu. Sedang sibuk sekali sekarang. Dulu tanya saja sama Lea, dia tau banyak. Bahkan yang dulu ada dua orang sahabat yang sama-sama menyukai suamiku. Sepertinya aku menjadi perempuan beruntung.’, kata Sarah sambil menatapku.

Aku kelabakan dengan sangat. Sungguh Sarah sepertinya tau hubunganku dengan Robert. aku mengeram dalam hati. Tapi Sarah sungguh keterlaluan, seharusnya dia tidak mengatakan itu padaku didepan semua orang yang baru aku kenal ini. Sepertinya Bayu mengetahui apa yang aku rasa, Bayu memberi isyarat mata kepadaku agar aku diam saja.

‘pasti Lea juga dulu sangat digandrungi banyak laki-laki bukan?’, ungkap Bayu mencoba menengahiku.

‘aku yakin juga begitu. Sekarang aja duh, kalau bukan sepupumu saja, sudah aku ajak ribut dulu deh’, ucap Andi sambil tersenyum manis kepadaku.

‘oh tidak bisa. Sepupuku laki-laki istimewa, sangat pantas untuk Lea. Kamu jangan macem-macem ndi, sepupuku sebentar lagi kelar studynya dan pulang ke Indonesia’, seloroh Bayu sambil tersenyum kepada Andi.

‘waduh sepertinya pagi ini session perkenalan sudah jauh ni untuk mbak Lea. Ayo bergegas kakak-kakak, kita ada session perkenalan di ruangan’, kata Sinta memcah guyonan.

Ah, terselamatkan pagi ini. Aku terselamatkan dengan Sinta. Bayu berdiri dan menggeser kursiku. Bayu benar-benar mirip dengan Sandi. Selalu saja sopan denganku dan menempatkanku seperti putri.

Sepertinya seminggu ini akan sangat menyenangkan, tapi juga akan sangat melelahkan hati. Karena mau tak mau sepertinya aku harus menyiapkan diri bertemu dengan Robert. Atau menghadapi sindiran-sindiran Sarah. Bayu menarik mendekatiku dan berbisik.

‘tenang saja, jangan takut dengan Sarah, memang dia comel’, kata Bayu.

Aku tersenyum simpul saja dan bingung mengapa Bayu sepertinya membaca pikiranku. Tapi aku tak ingin menduga-duga, biarlah menjadi rahasia saja. Pertempuran akan dimulai, bagaimana bisa aku hanya mengambil bagian menjadi prajuritnya saja. Aku harus menjadi ahli strategi  yang ulung, mampu membaca situasi dan mampu bekerja dengan tim. Mungkin itu yang akan aku raih dalam trainning kali ini. Aku bukan hanya ingin menjadi pemain teater saja. tapi aku pula ingin menggunakan strategi untuk memainkan aktornya.

Atau nantinya aku hanya menjadi penonton saja. Aku berniat tak akan mempedulikan masalah pribadi dan Sarah. Apalagi Robert. Aku menyakinkan diri sambil berjalan ke ruangan. Kulihat Sarah juga sepertinya tak ingin pula dihambat cita-citanya walau sedang hamil. Kulihat dia tengah mempersiapkan notebooknya dan mengambil posisi jauh dari AC. Didalam perutnya ada anak Robert, anak orang yang pernah kusayang.

Aku memilih duduk Bayu. Sepertinya sedikit nyaman duduk disampingnya. Tentunya aku dapat melihat dengan jelas guratan Sandi untuk sementara. Andi mencoba duduk disampingku, tapi kulihat Bayu mengepalkan tangannya. Kelakuan mereka seperti anak-anak tapi Andi memang laki-laki tanpa menyerah. Aku suka laki-laki speerti ini. Seperti Sandi. Bukan Robert. bukan Robert yang membuat aku dan Sarah berjarak. Bukan Robert yang membuat Sarah jadi bukan Sarah. Dan aku hampir pula menjadi bukan aku.

Bayu tersenyum melihatku terpekur. Aku rasa dia tau apa yang aku rasakan. Merindukan Sandi. (J50K 1512)

 

Aku sampai Lampung sudah mendekati subuh, tepatnya masih tengah malam. Pukul 02.00 malam. Recepsionist hotel menyambutku ramah. Aku tak menyangka juga mendapatkan hotel yang  lumayan nyaman. Aku menempati kamar hotel yang tidak terlalu besar, tapi kuperiksa semuanya dalam keadaan yang sangat nyaman. Ada teras kecil pula disamping kamarku. Aku teringat Robert. Rasanya ingin kurebahkan badanku tapi aku tak bisa melupakan Robert. sudah hampir tiga bulan ini weekendku tak kulewatkan bersamanya. Tapi tak ada yang kurasakan. Aku serasa mati sepertinya, tapi ini harus kulewati.

Kemarin aku melewati hari ulang tahunnya dengan perjalanan panjang. Aku benar-benar melupakannya, tapi aku tetap tak bisa. Teras mungil itu mengingatkanku padanya. Ternyata aku merindukannya. Ingin rasanya kupencet tut-tut ponsel dan menelponya tengah malam begini. Ini biasanya kulakukan bersama Robert jika kami sama-sama sibuk bergadang bekerja masing-masing hingga pulsa habis, atau baterai ponsel mati. Atau hingga aku ketiduran.

Aku mengganti pakaianku dan membenamkan diriku dalam shower malam ini. Air hangatnya rasanya tak mampu mengobati dinginnya malam. Aku benar-benar terluka sebenarnya, walapun aku berusaha sekuat tenagaku untuk bertahan.

Tak ada yang mampu kulakukan saat ini. Dia sudah menjadi milik orang lain, walaupun aku tau aku masih bisa merebutnya kembali. Tapi tak mungkin kulakukan dan menyakiti perempuan lain. Aku tak ingin menyakiti siapa-siapa. Rasa ini saja yang belum dapat aku taklukkan. Ingin sekali tidur nyenyak malam ini, dan esok hingga seminggu kedepan aku akan disibukkan dengan berbagai hal. Minimal seminggu ini aku mampu melupakan Robert dan smeua kepenatanku ini.

Atau mungkin aku dapat berkenalan dengan laki-laki lain, dan melupakan Robert dengan cepat. Kadang aku berharap begitu, mengenal orang lain dan melupakan masa lalu. Seperti aku mencoba mengenal Robert, untuk melupakan Sandi. Tapi akhirnya aku menyakiti diriku sendiri. Aku mengabaikan diriku sendiri dan menyiksa diriku sendiri.

Yah, aku mampu melupakan Sandi. Namun sebenarnya aku tetap mengharapkannya. Aku tetap saja merasakan bahwa dia selalu menjagaku, walau kutau pula Sandi pernah menjalin hubungan dengan beberapa perempuan selama di Belanda. Mungkin aku bukan ekspektasinya, aku bukan perempuan yang diinginkannya. Aku memang tak pernah diinginkan menjadi seperti apa. Sebenarnya hal itulah yang membuatku marah sekali terhadapnya. Aku tak pernah melupakan Sandi. Tapi Robert membuatku gila dan dengan santai melupakan semua mengenai Sandi.

Ini gila, cinta terlalu buta. Terlalu buta untuk menjadikanku rasional.

Le, kau di Lampung?

Aku juga di Lampung.

Aku ingin bicara padamu Le.

Izinkan. Sekali ini saja.

Sent : 26/01/2012

02:10:01

Kuketik pula beberapa kalimat.

Kau ingin bicara apa?

Jangan ganggu aku lagi.

 

Tuts layar handphoneku berkedip-kedip, tapi belum kukirim juga. Aku tak sanggup menghadapinya. Apa yang ingin kukatakan jika bertemunya. Aku pula tak bisa menghindari perasaanku. Aku pula tak bisa mencegah perasaanku. Aku tertidur pulas akhirnya, dengan tuts ponsel berkedip kedip.

 

Save to draft.

 

 

Kabarku baik-baik saja Le.

Jangan cemaskan aku Le.

Aku sudah mulai mempersiapkan

Kembali ke Indonesia

pasti kau bahagia.

Sent : 27/01/2012

06:10:01

Aku tersenyum melihat pesan pendek Sandi kali ini. Sepertinya semua cara memohonku membalas pesan pendeknya tidak pernah kuladeni, akhirnya dia menggunakan cara-cara nakal untuk menghubungiku. Aku luluh juga dan membalas pesan pendeknya. Namun aku memberi jeda waktu untuk menghubunginya dan membalas pesan pendeknya. Aku memikirkan apa yang akan aku balas agar aku tak terkesan merindukannya pula. Well, pada waktu yang bersamaan merindukan dua orang bersamaan.

Alhamdulillah.

Sent : 27/01/2012

06:17:02

Hanya itu?

Tak usah terlalu mencemaskanku J

Sent : 27/01/2012

06:18:01

Well, sepertinya dia mampu melumpuhkanku kali ini. Oke, akan kulupakan sejenak kepenatan dengan Robert. Well, aku mulai menjatuhkan diriku pada keadaan semu. Kubiarkan Sandi kembali masuk dan datang menemuiku, walau aku tak ingin. Minimal aku tak penat dalam sarapan pagi ini.

Entah angin darimana aku berpikiran sedikit brutal pagi ini. Mungkin aku termakan oleh banyak hal yang kulakukan. Menggunakan Robert untuk melupakan Sandi. Melupakan Robert dengan Sandi. Aku terlalu jahat sebenarnya, tapi sudah kubilang sepertinya, cinta terlalu buta. Oh Tuhan, apakah Sandi memang jodohku, ataukah Robert? aku terlalu lelah sendiri Tuhan. Aku terlalu lelah. Terlalu lelah.

Kabari aku kapan keberangkatanmu.

Sent : 27/01/2012

06:19:05

Iya darl, tak sabar mengacak rambutmu.

Sent : 27/01/2012

06:22:02

Kubaca pesan singkatnya yang terakhir setelah aku mandi. Jam dinding kamar ini menunjukkan pukul 06.58.01. berarti hampir 30 menit aku merendam diriku dalam bath up. Membaca pesan pendek dari Sandi membuatku setengah gila. Darl, Oh my God, aku seperti kembali remaja lagi. Apakah ini Tuhan jawabannya. Apakah ini jawaban atas kegelisahanku. Sandi tak pernah menduakan perempuan manapun. Berarti saat ini dia sendiri. Berarti teman perempuannya yang kemarin bukan pacarnya atau istrinya. Aku diantara tak percaya atau berharap penuh. Aku mulai merasakan hal aneh lagi. Tapi tak mungkin.

Tok tok tok. Pintu kamarku diketuk orang. Aku melihat dari lubang, kulihat Sinta sedang didepan. Aku hanya menggunakan  piyama handuk saja dengan rambut basah yang kuikat dnegan handuk. Aku melonggokan kepalaku dan meminta Sinta masuk.

‘maaf kak, Sinta hanya mengingatkan sarapan pagi di lantai tiga ya kak. Kita mulai pukul delapan pagi’, katanya sopan.

‘oke Sinta terima kasih. Masuklah’, kataku.

‘makasih kak, Sinta harus mengingatkan peserta lainnya’, ungkapnya sopan.

‘oke Sinta. Sebentar lagi saya kebawah ya’, kataku.

Aku bergegas mengambil ponselku lagi dan membaca berulang-ulang apa yang dikatakan Sandi. Kupikir pesan singkatnya yang terakhir tak usah direspon, karena aku harus menyakinkan diri dulu bahwa Sandi saat ini berstatus lajang. Aku tersenyum kegirangan, mengeringkan rambutku berdandan dan bergegas ke restoran.

Aku sarapan dengan perasaan bahagia. Perempuan kadang memang sering aneh. (J50K 881)

 

Belum sempat aku main ketempat laki-laki penyuka rokok tersebut. Ternyata Rara sudah lebih dulu memiliki jurus ampuh untuk melakukan gebrakan tentang teater. Akhirnya naskahku dilirik sebuah jaringan teater satu Sumatera. Aku diundang untuk melakukan pelatihan penulisan naskah monolog untuk isu perempuan.

Sudah hampir satu minggu ini aku tak memperdulikan sms, telpon, email Robert. Aku mulai menutup hatiku dengan melakukan hal-hal positif. Tapi hari ini aku ingat, ini ulang tahun Robert. Ini hari lahirnya dan aku ingin sekali berada disisinya. Memeluknya dan membawakannya makan ditempat makan favoritnya. Atau sekedar menciumnya hingga terlelap.

Tak boleh kulakukan lagi. Tak boleh jeritku. Tanganku rasanya tak bisa berhenti ingin mengambil ponsel dan menghubunginya. Aku ingin sekali rasanya menelponnya atau hanya sekedar mengatakan selamat ulang tahun untuknya. Mungkin perjalanan ke Lampung kali ini mampu melupakan hari ini.

Aku memesan tempat duduk disamping sopir, agar aku leluasa tidur. 16 jam perjalanan akan aku tempuh hari ini. Panitia tidak menyediakan tiket pesawat untukku. Sebenarnya aku ingin naik pesawat, tapi aku belum pernah melewati jalur darat menuju ke Lampung. Mungkin menikmati perjalanan yang sangat meletihkan ini malah membuat banyak inspirasi buatku.

Aku juga menyiapkan obat anti mabuk yang membuat aku dapat tertidur pulas. Sebenarnya aku tidak pemabuk, tapi aku memilih obat tidur, supaya dapat dengan nyaman duduk berjam-jam didalam mobil. Mobilnya cukup nyaman, terlihat sepertinya masih sangat baru dan nyaman. Kulihat nomor polisinya, masih 2014 nanti. Berarti masih kurang satu tahun ini mobil ini beroperasi.

Aku langsung tertidur dengan nyaman dimobil. Tapi aku menitipkan pesan pada sopir, aku minta dibangunkan di Kabupaten Kaur. Aku ingin menikmati indahnya pantai di Kabupaten Kaur. Sebuah kabupaten paling selatan di Provinsi Bengkulu. Kabupaten baru ini, merupakan kabupaten pemekaran. Sehingga masih belum terlihat pembangunan fisik disana-sini. Namun, pantainya sangat indah dengan berbagai keanekargaman hewan maupun tumbuhan yang hidup dalam air.

Sopir benar-benar membangunkanku ketika mulai memasuki kecamatan di Kabupaten Kaur. Walau pantai indahnya belum terlihat tapi aku akhirnya menikmati sekali perjalanan sekali ini.  Kulihat disekelilingku rumah-rumah masyarakat berjejer rapi dengan pemandangan pantai dibelakangnya.

Pada saat mobil melaju angin sepoi-sepoi khas pantai mengiringi kami. Kami sengaja membuka kaca mobil untuk menikmati pemandangan sepanjang Kabupaten ini. Tak kukira semua penumpang dalam travel ini juga menikmati panorama yang disuguhkan Kabupaten ini. Kami banyak berbincang mengenai keindahan pantai Linau, Pantai Laguna dan Pantai Way Hawang. Tiga pantai keindahan yang berbeda menurutku walau dalam satu dataran yang sama. Serta sama-sama menghadap laut lepas.

Jika berbicara mengenai pantai Linau, kita akan menuju dermaga mungil, dengan airnya yang sangat biru jika terpantul dengan sinar matahari. Biasanya kita akan melihat birunya pantai jika matahari mulai timbul sekitar pukul 10 pagi hingga sore menjelang. Pasirnya berwarna putih dan masih banyak ditemukan material kerang dipinggir pantai. Banyak kapal nelayan yang bersandar di pantai Linau. Dari dermaga mungil kita bisa melihat ikan-ikan berkejaran dan main petak umpet diantara karang-karang yang tersisa. Atau hanya sekedar bermain-main dengan umpan yang dijulurkan dari para pemancing maniak dipinggir dermaga.

Sungguh indah jika kita melihat ikan-ikan berlarian dalam air dan kita mampu melihatnya dari atas menembus deburan air. Pemandangan ini sungguh membuat hati lebih tenang, karena memberikan suatu hal mengenai kehidupan lain. Mereka berlarian dan berkejar-kejaran seperti tidak ada beban dalam kehidupan saja.

Jika bicara mengenai Pantai Way Hawang, kita akan melihat ada tanah lot berbentuk mobil tak jauh dari bibir pantai. Bibir pantai dipenuhi dengan karang-karang yang terkikis oleh abrasi, material kerang juga masih banyak ditemukan. Walau tidak dapat melihat ikan-ikan yang berlarian, tapi kita bisa mencari umang-umang yang bersembunyi dipasir. Kita bisa menggali pasirnya dan memergoki rumah umang-umang. Atau sekedar duduk dikarang-karang yang terkikis menikmati dari berbagai sudut tanah lot yang tak jauh dari bibir pantai.

Menurut mitos masyarakat sekitar, tanah lot tersebut merupakan tanah lot yang memiliki kekuatan magis. Jika kita melihat terlalu lama tanah lot tersebut, kita bisa terhipnotis dan akan berjalan sendiri ke tanah lot. Jika sudah berjalan ke tanah lot tersebut, kita tidak akan kembali lagi. Dulu kata masyarakat setempat sudah ada beberapa orang yang tidak pernah kembali lagi karena terhipnotis oleh tanah lot tersebut.

Jika bicara mengenai Pantai Laguna, kita bicara mengenai keanekaragaman hayati didalam air. Kita bisa melihat bintang laut, ubur-ubur, dan berbagai alga-alga yang dapat dilihat dari pinggir pantainya. Para nelayan biasanya menjaring berbagai ikan dari pinggir pantai. Memang agak ke tengah, tapi sebenarnya itu masih berada dipinggir pantai. Paling-paling airnya hanya mencapai hingga dada para nelayan.

Haduh, aku merindukan tempat ini sejujurnya. Bagaimana bisa melupakan keindahannya. Tak ada yang mampu membuat melupakannya. Senja yang malu-malu timbul hingga keindahannya yang tak akan rela sedetikpun memejamkan kelopak mata.

‘bagus ya mbak. Mbak suka pantai ya?’ akhirnya sopir mengajakku ngobrol, karena aku selalu memandang ke arah pantai.

‘iya pak, saya suka yang terlihat lepas’, katakau seakan tak mau diganggu.

‘saya juga punya anak perempuan yang suka sekali dengan mandi di pantai’, kata bapak sopir tersebut.

Dalam hati aku berkata, waduh rasanya sudah berapa kali ini aku bertemu dengan orang yang menyamakan diriku dengan anaknya.

‘Oh ya pak?’ jawabku singkat. Sebenarnya aku tdiak terlalu tertarik mengobrol dengan bapak sopir ini. Aku masih takjub membayangkan keindahan pantai. Rasanya keindahannya menghipnotisku supaya tidak pernah lupa dengan pantai. Aku juga hingga melupakan kegiranganku kemarin karena aku akan belajar menulis naskah monolog dalam satu minggu kedepan.

Sebenarnya aku sangat ingin mengikuti pelatihan ini sejak dulu, karena aku memang belum mempunyai kapasitas menulis monolog. Berbicara dengan khalayak tanpa ada percakapan bukan hal yang mudah. Monolog berarti berbicara sendiri dengan hati, agar semua orang mampu mendengarnya. Menggunakan hati menjadi begitu penting dalam monolog, karena pusat monolog ada dihati bagiku.

‘anak bapak kuliah di Lampung?’, kataku sedikit berbasa basi.

‘iya mbak. Saya punya tiga anak, keduanya di Bengkulu bersama ibunya. Satunya kuliah di Lampung mbak’, ungkpanya bangga.

‘Bapak orang mana?’, tanyaku mulai tertarik.

‘saya orang Padang mbak’, ungkapnya.

‘lho kok orang Padang nyopir pak? Biasanya orang Padang kebanyakan berdagang pak? Orang Medan yang sering nyopir pak. Biasa orang sering menyebut sopir Medan gitu pak’, aku bertanya kebingungan.

‘jangan salah mbak, banyak orang Padang nyopir lo mba. Keluarga saya rata-rata sopir mbak’, ungkapnya.

‘Oh begitu pak. sudah lama berarti bapak nyopir Bengkulu Lampung?’, tanyaku masih tak percaya.

‘baru enam bulan terakhir ini mbak. Saya sudah hampir sepuluh tahun tidak nyopir mbak. Saya dulu sopir tujuan Padang Jakarta mbak. Saya pernah kecelakaan dan mengalami trauma lumayan parah. Akhirnya  sepuluh tahun terakhir saya berdagang mbak. Kebetulan orang rumah (baca : istri) saya orang Bengkulu mbak dan juga dulunya berdagang mbak’, ungkpa bapak sopir panjang lebar.

‘waduh saya minta maaf pak, membuka luka lama. Tapi kenapa sekarang nyopir lagi pak? Kenapa tidak berdagang lagi pak’, kataku heran dan sebenarnya sedikit cemas dengan perkataan ‘trauma’ yang pernah dideritanya. Karena ini pertama kalinya aku berjalan sendiri sejauh ini.

‘masih berdagang mbak, istri saya yang kelola sekarang mbak. Saya nyopir karena anak saya perempuan mbak’, katanya lagi.

‘kenapa dengan anak perempuan bapak?’, tanyaku heran lagi.

‘waktu lebaran kemarin dia kehabisan tiket pulang mbak dari Lampung ke Beng. Dia menangis karena tidak bisa pulang. Akhirnya saya jemput dia pulang. Saya bersama istri akhirnya memutuskan membeli mobil lagi dan saya menyopir lagi mbak’, ungkapnya panjang lebar.

Aku terkesima tak mampu bicara lagi. Hidup laki-laki ini lebih keren dari pantai tadi rasanya. Dia hanya melakukan sesuatu untuk anaknya saja. aku teringat ibu. Ibu aku merindukanmu. Aku ingin dipelukmu nanti malam. Aku benar-benar merindukan ibu. (J50K 1208)

 

(Pemerkosaan, perampok uang rakyat dan narkoba tidak dapat diselesaikan dengan hukum adat. Harus diselesaikan dengan hukum legal formal.  Itu bentuk kejahatan yang tidak manusiawi)

Pagi tadi, tiba-tiba aku terseret mengikuti acara Sosialisasi Seni Budaya disebuah Kabupaten. Karena berkaitan dengan seni budaya, perwakilan dari teater, aku yang berangkat. Pagi-pagi sekali aku berangkat dari rumah Rara. Rara masih harus bertugas mengedit dua naskahku. Satu naskah monolog dan satu naskah pementasan teater yang belum rampung aku kerjakan. Rara ngotot ingin membacanya hari ini. Katanya biar cepat ketauan dimana kelemahan naskah yang aku buat. Mengkoreksinya dan mulai menyiapkan pementasan lagi.

Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai acara seperti ini. Namun dalam acara tersebut, berbagai stakeholders terlihat tercantum dalam undangan. Peserta acara tersebut berasal dari tokoh adat, tokoh agama, kepala desa, pihak keamanan serta pihak pemerintahan. Acara ini difasilitasi oleh sebuah badan yang dibentuk untuk memfasilitasi kelompok adat dinegeri ini.

Dalam TOR yang kudapat, acara ini bertujuan untuk menyamakan pendapat mengenai bagaimana hukum adat dapat digunakan bersama untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat. Serta penguatan bagaimana peningkatan apresiasi terhadap kegiatan seni budaya. Aku sebenarnya malas sekali mengikuti acara yang semi seremonial seperti ini.

Tapi Rara sungguh membuatku yakin melangkahkan kaki keruangan ini. Acara ini terlihat sederhana sekali, tapi banyak sekali hal yang bisa kuamati dari kacamataku sebagai perempuan dan sebagai kaum muda. Mulai dari perspektif yang digunakan hingga muatan yang dibahas. Ayo kita mulai dengan apa yang menjadi sudut pandang para tokoh adat ini. Aku mulai berpikiran nakal. Aku bisa menggunakan kelompok ini untuk memfasilitasi pula isu yang dibawa Teater Kotak. Atau sumber inspirasiku untuk menulis naskah lagi. Mungkin ini juga yang direncanakan si nakal Rara.

Namun, ada beberapa perasaan yang sedikit menggelitik pada acara tersebut. Hanya ada satu perempuan, dua orang termasuk aku dari sekitar 50 peserta yang hadir. Termasuk narasumber. Tentu saja, dilevel pelaksanaan dan pengambil kebijakan mengenai hukum adat, serta pengembangan seni budaya dimasing-masing level, laki-laki paling mendominasi. Menurut ketua badan adat tersebut, posisi perempuan biasanya ditempatkan sebagai pengembang seni budaya untuk hanya urusan perempuan saja.

“pemimpin sekarang masih banyak yang budak (berumur muda), sejak ditetapkan peraturan bahwa pemimpin harus mempunyai pendidikan minimal. Sehingga budak-budak ini masih banyak belum mengerti masalah adat budaya, serta seni”, Ketua Badan Adat.

Glek, kalimat itu sangat menohokku. Jelas-jelas seorang tokoh adat mengatakan hal demikian. Mendeskreditkan kaum perempuan dan kaum muda tentunya. Masa karya kami akan muda masih dibilang tidak mengerti dengan aturan-aturan adat. Duh, rasanya ingin kupotong sekaligus pidato laki-laki tersebut, dan mencercanya dengan berbagai pertanyaan dan sanggahan. Tapi hal tersebut tak mungkin kulakukan, aku hanya peserta biasa disini dan tetap menjaga etikaku, sebagai bagian respekku terhadap kaum tua.

Tentu saja dari pendapat itu, golongan muda masih dianggap belum berperan penting dalam hukum adat dan pelestarian seni budaya. Minimnya partisipasi kaum muda juga didorong oleh anggapan bahwa kaum muda belum dapat dipercaya dan mampu menjadi teladan.

Laki-laki tersebut melanjutkan pidato pembukaannya, aku sudah mulai malas mendengar sebenarnya, namun aku pikir lebih lanjut, hal inilah kadang pula yang membuat kaum muda belum dihargai karyanya. Permasalahannya mengenai ‘respek’ menurutku. Kadang kaum muda melupakan mengatakan dengan lugas bahwa karya kaum tua berkualitas. Kaum muda sibuk belajar karya lama untuk menyempurnakan karyanya. Atau seringkali kita menyebutnya moderenisasi. Sehingga karya-karya orisinil hanya dianggap kuno tradisional dan antik dan hanya punya kelas tertentu saja.

Karya-karya seni WS Rendra, Afandi, Raden Saleh, Iwan Fals dan sederet maestro seni lain dibidangnya menurutku karya-karya yang tiada usang dimakan zaman berkualitas dan bukan hanya antik tapi memiliki sense of art yang sangat tinggi.

Aku menggarisbawahi suatu hal dalam acara ini bahwa yang turut berpartisipasi dalam penentuan hukum adat dan pelestarian seni dan budaya, partisipasi kaum muda dan perempuan masih sangat rendah sekali. Sehingga ketika aku berbicara mengenai seksualitas dan politik, semua akan memandang bahwa itu bukan urusan laki-laki melainkan urusan para perempuan.

Geram sekali rasanya menuliskannya dalam catatan hari ini. Itu realita yang harus disadari dan segera aku tersadar. Aku hanya mencatat didiaryku catatan-catatan kecil mengenai peretemuan itu. Sambil menulis, mataku tapi tak dapat lari dari seorang sosok laki-laki paruh baya yang menghisap rokok dalam-dalam. Sepertinya wajahnya tidak terlalu asing. Oh my God sepertinya aku bertemu laki-laki penyuka rokok itu lagi. Laki-laki seperti ayah yang menyukai rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

Aku tak habis pikir mengapa bisa bertemu laki-laki ini disini, pada kesempatan ini. Dia memandangku juga dan sama terkejutnya melihatku. Mungkin pula karena aku satu diantara dua perempuan dalam forum itu. Lalu dia menyunggingkan sebuah senyuman kepadaku. Bagiku senyumannya senyuman maut, yang sedang menggoda dan mengajak bertemu diakhir sesi diskusi. Huft, aku malas bertemu laki-laki itu, tapi tak mungkin aku menghindar, inilah saatnya Teater Kotak memperkenalkan dirinya dengan berbagai lapisan masyarakat.

Selama ini stakeholders yang kami bangun hanya sebatas lingkungan seni teater saja. Sesekali job-job manggung yang kami terima juga bukan berasal dari kalangan seni saja. Namun tetap saja harus ada gebrakan baru yang kami buat, agar nafas, dan isu yang kami perjuangkan juga menjadi isu banyak kalangan.

Kali ini beberapa praktisi hukum bicara mengenai realitas kehidupan hukum saat ini, termasuk si laki-laki penyuka rokok tersebut. Aku bingung bukankah dia bukan seorang praktisi hukum. Oh, sepertinya dia juga berbohong padaku kala itu. Sehingga membuatku geram pula. Apa maksudnya membohongiku kala itu. Kudengarkan apa masukannya, dia mengajukan usul mengenai beberapa hal. Kasus-kasus seperti pemerkosaan, perampok uang rakyat dan narkoba menurutnya tidak dapat hanya diselesaikan dengan hukum adat saja. Kasus tersebut masuk keranah hukum legal formal. Katanya lebih lanjut bahwa hal tersebut merupakan bentuk kejahatan yang tidak manusiawi.

Aku terpana terhadap paparannya dan ide-idenya. Diakhir sesi dia mengungkapkan bahwa ini harus menjadi kesepakatan bersama dan dimasukkan dalam sebuah kebijkan yang tertulis dan disepakati bersama. Aku mengangguk setuju dan mendukung idenya yang yang kuanggap layak pula untuk didukung. Laki-laki penyuka rokok sepertinya mendekatiku saat coffe break.

‘mbak ini yang kita bertemu di bandara kemarin ya? Yang satu pesawat dengan saya?’ katanya cukup sopan kepadaku.

‘oh, iya pak. Kita bertemu di bandara’, kataku menimpali dengan cukup sopan pula.

‘kenapa kita bertemu disini ya mbak?’, katanya mengajakku ngobrol.

‘kebetulan teater saya mendapat undangan pak’, ungkapku sambil tersenyum membayangkan kebingungannya waktu itu.

‘mba pekerja seni ya? Wah, gak saya kira’, katanya heran.

‘lho kenapa pak?’, aku juga bingung.

‘gak apa-apa mbak, saya hanya teringat anak saya lagi’, ungkapnya pilu.

‘oh, maaf pak. Bukan maksud saya’

‘kapan-kapan mampirlah ke kedai saya. Ini kartu nama saya. Siapa tau kita bisa ngobrol banyak hal tentang teater. Saya juga bisa promosikan teater mbak dengan relasi-relasi saya. Siapa tau kita bisa berkolaborasi seni mbak’, ungkapnya panjang lebar.

‘baiklah pak. Terima kasih undangannya. Saya akan kesana jika waktu longgar’, ungkapku dan mengambil kartu namanya.

Aku mengambil kartu namanya dan melihat namanya. Seperti tata cara orang Eropa yang selalu melihat nama orang yang tertera pada kartu nama, supaya terlihat sopan dan memasukkannya kedalam dompet.

Aku undur diri, dan terngiang bahwa perkosaan, merampok uang rakyat yang dikonotasikan dengan korupsi serta narkoba tidak dapat diselesaikan dengan hukum adat saja. ternyata laki-laki itu, sepertinya punya masalah sendiri dengan hidupnya. Kemarin dia bilang sedang meminta maaf istrinya dan mengatakan istrinya pelacur. Kali ini dia membela perempuan. Entah apa maksudnya Bang Toyib penyuka rokok ini. Aku yakin dia punya hati pula yang sedang galau. Atau begitulah laki-laki, lain dibibir lain dihati? Ah, aku tersenyum bingung saja. (J50K 1195)

“maaf telat bro, biasa lagi penuhin kebutuhan biologis dulu. Lingerie kamu gila banget, aku jadi super hot tadi”, Rara berceloteh sambil menyeruput kopiku.

Aku hanya terdiam mendengar celotehan Rara. Tersenyum simpul karena aku pikir Rara memang gila. Masih sempat mengangkat telponku pada saat sedang bercinta. Sungguh diluar kendaliku. Rara memang gila dan selalu gila bersamaku.

Tak bisa kubayangkan bagaimana gilanya Rara. Tentunya bagaimana gilanya Rara dan bagaimana pula gilanya aku karena menghadapi Rara. Aku juga menjadi gila karenanya. Banyak sekali waktu kuhabiskan dengan kegilaannya. Kegilaannya mencium Rendi sebelum akad nikahnya. Oh Tuhan, tak bisa kubayangkan bagaimana dulu Rara masih kecil. Pasti Rara menjadi makhluk paling jail.

Aku dan Rara saling melindungi setelah kepergian Irene. Dulu waktu dikampus kami menjadi three angels kampus. Aku berambut ikal, Irene berambut lurus sedangkan Rara berambut hitam tebal. Kata orang Jawa orang dengan berambut hitam tebal akan menjadi keras kepala sekali. Sesuai dengan karakter rambutnya, Rara memang keras kepala sekali.

Dulu waktu kami masih sama-sama dududk dipejabat BEM kampus, aku ingat sekali Rara selalu menentang tindakan demo yang selalu menggunakan pakaian dalam perempuan sebagai propertinya. Kata Rara, penggunaan alat dalam perempuan menjadi bentuk pelecehan bagi kaum perempuan yang bersifat laten. Waktu itu kami akan berdemo dan melakukan aksi teaterikal didepan kantor gubernur dalam kasus perebutan tanah hak ulayat masyarakat Desa Anggut.

“Mana bisa kita menggunakan pakaian dalam sebagai alat. Mana bisa kita melakukan hal tersebut”

“itu sebagai simbol bahwa yang mereka lakukan itu hal-hal yang rendah”, ungkap Wiwit Ketua BEM kala itu. Read the rest of this entry »

Sepulang dari yoga, aku melanjutkan menuliskan naskah. Beberapa naskah awal untuk pementasan teater akhirnya masih tersimpan di file dokumen. Aku membuka dokumen baru, dan menuliskan naskah monolog singkat. Aku tak tau bagaimana aku bisa tergelitik menuliskannya dalam satu hari saja. padahal beberapa hari yang lalu aku kesulitan sekali menulis. Namun, aku masih membutuhkan Rara sebagai editorku. Sebagai orang yang tau mana subjektivitas dan mana objektivitas. Kira-kira begini yang aku tuliskan.

Naskah Monolog

Perempuan dalam Angkot

Karya : Alea Nareswari

Lampu redup. Seorang perempuan muda dipinggir jalan sedang menunggu angkot yang melaju kearah rumahnya. Pada saat itu pukul sembilan malam lewat lima belas menit. Sang perempuan menggunakan setelan rok mini, pakaian resmi kerjanya. Sang perempuan merupakan seorang pramuniaga sebuah departement store. Menenteng sebuah sandal jepit dalam sebuah kantong hitam dan membawa bekal. Setelah memandang penonton, Sang Perempuan berteriak. Read the rest of this entry »

Berminggu-minggu kuhabiskan waktuku untuk duduk didalam kamar. Sesekali jika aku bosan, aku akan ke kedai kopi langgananku dan menghabiskan berjam-jam disana. Rara mengajakku dalam aktifitas barunya, yaitu yoga. Sebuah olahraga yang memusatkan pada pikiran, dan ketenangan. Awalnya aku ogah-ogahan tapi akhirnya aku luluh juga. Naskah ini membutuhkan banyak ketenangan untuk menyelesaikannya. Sedangkan setiap saat ponselku berbunyi dan nama Robert tertera dilayarnya.

Yoga. Kupikir dahulu hanya sebuah atraksi olahraga yang melelahkan. Hanya sebuah atraksi untuk mencari keringat dan akhirnya bulir-bulir keringat membawa racun dalam tubuh keluar. Atau kesibukan untuk hanya menguruskan tubuh saja. Kesibukan untuk dapat diperhatikan lebih baik, lebih cantik dan lebih menawan dari lainnya. Kulihat lebih dari itu dan kurasa tidak hanya itu saja. Dia memberi dan aku memberinya.

Ada aroma menusuk ketika kumulai memasuki ruangannya. Bau gaharu, yah beberapa aroma terapi lain juga dialirkan di dalam ruangan. Kulihat di dua sudut ada dua tungku kecil tempat menghidupkan bau gaharu tadi. Kulirik Rara, dan aku memohon kepada Rara untuk mengatakan pada sang guhu, menjauhkannya dariku. Mual sekali rasanya. Rara tau aku tak menyukai bau-bau yang aneh. Read the rest of this entry »

Beberapa teman terbaikku telah melangkah menempuh jenjang baru dalam hidupnya. Pernikahan menjadi sebuah hal yang paling ditunggu mereka. Mereka memilih pasangan hidup dan menjalaninya dengan sepenuh hati. Begitu pula dengan Robert, sebentar lagi dia akan menjalani prosesi pernikahan yang bagi sebagian banyak orang menjadi ritual wajib dalam hidup.

Terbersit rasa bahwa pasangannya telah mengambilnya dari hidupku. Tak bisa lagi menelponnya malam-malam, ketika aku gundah. Tak bisa lagi mengajaknya jalan di sore hari. Tak bisa lagi tidur dikasurnya dengan sembarangan. Tak bisa lagi tertawa terbahak-bahak, berjalan bersama atau sekedar mendiskusikan sesuatu. Hidup mereka telah berubah. Akupun pula harus merubah hidupku.

Itu kurasakan dari sudut keegoisanku sebagai seorang sahabat. Atau untuk Robert, mantan seseorang yang sangat dekat dengannya. Karena aku begitu mencintainya sebagai seorang sahabat. Pernikahan menurut mereka menjadi sebuah momentum yang sangat ditunggu. Begitu pula aku, menunggui mereka menikah adalah hal yang paling membahagiakan. Tak dapat digantikan dengan apapun. Mereka, para sahabat adalah bagian dari jiwaku. Mengisi hari-hariku dan tempat aku mengadu.

Tapi dipesta pernikahan Robert, entah apakah aku mampu hadir, atau sekedar membuka albm prewedding mereka. Hal yang paling menggilai bagiku adalah Robert memilih salah satu teman lamaku untuk mengabadikan preweddingnya di Bali beberapa waktu lalu. Waktu itu, Daffa tak mungkin bercerita padaku mengenai hal tersebut. Mungkin Daffa merasakan kepedihan pula yang sangat mendalam terhadapku. Read the rest of this entry »

Hujan menyambut kami dipagi hari. Suaranya mengalun mesra. Rasanya tak ingin beranjak dari tempat tidur. Ini hari minggu, hari biasanya aku, ibu dan ayah menghabiskan waktu bersama. Semenjak bekerja, aku memilih menempati rumah sendiri. Ayah tetap sibuk dengan bengkelnya. Tentu saja, tak semua akhir pekanku kuhabiskan dengan Robert saja. Tapi juga kadangkala aku bermain bersama ayah. Menemani ayah di bengkelnya atau sekedar memasakkan ayah sup buntut kesukaan ayah.

Ayah memahamiku, bahwa aku telah menjelma menjadi perempuan dewasa, yang akhirnya memilih hidup sendiri mandiri. Selepas dari kuliah, hal tersebut kuutarakan kepada ayah. Awalnya ayah berkeberatan, apalagi menjelang masa tuanya ibu tak ada. Mungkin pula begitu yang dirasakan ibu, tak ada ayah. Setelah ibu pergi, ayah tak pernah mau menggantikan posisi ibu. Tak pernah kulihat ayah mendekati perempuan lain. Mungkin saja itu salah satu juga keistimewaan ayah. Hubungan mereka memang sangat rumit.

Kadangkala aku berharap mendambakan laki-laki seperti ayah, yang hanya ibu dicintainya. Walaupun aku tau, ayah begitu keras kepala dan sangat overprotektif kepada ibu. Tapi tetap saja, aku mencintai keduanya dengan sangat.

Aku memesan omelete dan secangkir susu hangat, sedangkan Robert memesan nasi goreng seafood dan teh hangat. Kami menuju teras sambil membawa penuh sarapan pagi. Aku mencomot sebuah pisang ambon yang kupesan pada OB kemarin. Aku tidak menyukai pisang sebenarnya, tapi pisang adalah buah yang mampu menahan lapar dan membuatku kenyang jika aku terlalu berlebihan mengemil coklat.

‘hari ini kita akan kemana sayang?’, tanya Robert sambil menyeruput teh hangatnya.

‘sepertinya aku nyaman sekali dikamar ini beb’, ungkapku sambil menyeruput susu hangat pula.

‘tak biasanya suka dikamar saja’, ungkap Robert lagi.

Glek. Aku merasa kesal sekali hari ini dengan Robert, ingin rasanya aku membunuhnya. Apakah Robert lupa bahwa aku sedang marah padanya, malah sibuk saja mengajakku untuk pergi. Aku kesal sekali, tapi aku harus mengambil sikap atas kejadian tadi malam. Bagiku komitmen menjadi hal yang sangat penting.

‘kenapa kau tadi malam beb’, ungkapku.

‘tak ada apa-apa sayang’, ungkap Robert datar.

‘kapan kau akan melamarku’, ungkapku sembarang.

Glek. Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Aku belum mau menikah dalam keadaan begini. Oh tidak Tuhan, aku tak ingin menikah dalam waktu sangat dekat.

‘aku belum siap sayang, pekerjaan masih menunggu’, ungkap Robert gelagapan.

Lega. Sungguh lega ungkapan Robert. Tak ada hal yang lebih melegakan selain dari mendapatkan Robert mengatakan hal tersebut.

‘maafkan aku sayang. Aku butuh waktu. Maafkan aku pula sayang soal tadi malam. Ada yang harus aku bicarakan padamu. Mungkin sekarang waktu tepatnya’, ungkap Robert serius.

Aku bingung dan langsung merasa deg-degan dengan sangat. Apa yang akan dikatakan Robert padaku. Apakah Robert tau bahwa aku belum ingin menikah. Apakah Robert tau bahwa aku masih mencintai Sandi. Apakah Robert tau bahwa aku membutuhkannya tapi tidak pernah menginginkannya.

‘apa yang akan kau bicarakan beb?’

‘tentang hubungan kita’

Glek sekali lagi. Hubungan kami, apa yang terjadi dengan hubungan kami. Apa yang akan dibicarakannya. Aku menjadi sedikit panik. Tadi malam aku merencanakan untuk bicara padanya, tapi pagi ini Robert malah menyerangku dengan ucapan seperti itu. Aku bingung sekali sebenarnya, tapi aku tak mungkin mengelak. Aku harus menghadapi pagi ini dengan persiapan tidak matang. Minimal aku mampu melupakan kepenatan tadi malam dengan lebih cepat.

‘aku bingung memulainya, tapi jujur aku minta maaf. Tak mungkin aku melukaimu’, ungkap Robert smabil memegang tanganku.

Oh Tuhan, ada apa ini. Robert belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Gelagatnya Robert baru saja melakukan hal besar dan bersalah sehingga Robert mengakuinya. Aku kebingungan, tapi tetap berusaha tegar.

‘ada apa sayang, katakanlah. Aku telah siap’, ungkapku yakin.

‘kita tak akan mungkin menikah sayang’, ungkapnya datar.

Serasa bagai disambar geledek. Aku memang tak pernah menginginkannya, tapi bukan kalimat ini yang ingin kudengar darinya. Aku merasa sangat bodoh sekali, sangat bodoh sekali karena aku selama tiga tahun ini tak pernah mencari tau mengenai Robert. Pikiranku jauh melayang kedepan. Aku kebingungan dengan sangat akan menjawab apa.

‘coba jelaskan maksudmu beb, aku gak ngerti’, aku mulai panik sebenarnya. Namun aku masih mampu mengontrolnya dengan tetap menghabiskan breakfastku.

‘aku akan menikah bulan depan’, Robert mengatakannya dengan datar.

Aku tak mampu bicara apapun kali ini. Terdiam saja. Rasanya ingin sekali tau bahwa bumi ini tidak bulat, tapi kotak saja. Rasanya aku tak ingin menerima kenyataan bahwa bumi itu bulat. Aku tetap saja melanjutkan makan pagiku. Sesekali menyeruput susu hangatku. Kulihat wajah Robert langsung kebingungan melihat sikapku.

Aku memang pandai akting, karena aku yakin saat ini itulah profesi terbaikku. Jantungku derdegap semakin kecang sekali. Tapi aku tak mengungkapkan apa-apa melalui perasaanku. Melalui isyarat mata ataupun bahasa nonverbal yang sangat ekspresif. Aku jadi teringat pelajaran mengenai komunikasi nonverbal dalam salah satu mata kuliah yang malas sekali aku ambil.

‘kau baik-baik saja sayang?’, Robert memegang tanganku dengan pelan.

‘iya aku baik-baik saja sayang. Kapan kau akan menikah?’, ungkapku datar sekali.

‘maafkan aku sayang, aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu. Tapi aku tak kuasa sayang, aku harus melakukannya’, kali ini Robert benar-benar menunjukkan rasa bersalahnya.

‘siapa perempuan itu?’, kali ini aku menjadi sedikit keras.

‘dia Irene, Le’, kali ini kulihat Robert. Untuk pertama kalinya aku melihatnya.

Entah mengapa aku tak mampu emosi. Aku tak tau, aku rasanya ingin makan saja dan melahap semua yang ada dimeja ini.

‘selamat ya, semoga kalian bahagia’, ungkapku datar sambil menatap mata Robert.

Kali ini kulihat Robert gelagapan, Robert tak mampu menahan rasanya dan meraih tubuhku. Aku membalas pelukannya. Aku merasakan semua tubuhnya. Aku merasakan aromanya. Aku merasakan belaian lembut tangannya dirambutku. Kurasakan semua, kudekat pula Robert erat-erat memberi persetujuan. Tapi bukan itu, bukan itu yang kuingin tunjukkan.

Aku diam saja dan menikmati pelukan Robert. Kurasakan kehangatan matahari dan tubuhnya melebur menjadi satu. Kurasakan bahwa aku akan sendiri lagi. Kurasakan bahwa aku tak kuasa lagi ingin menangis. Kurasakan air mata ini sudah menggenang disudut mataku dan siap tumpah.

Akhirnya aku menangis jua, aku menangis jua pada pertemuan ini. Aku bergegas melepaskan pelukanku dan menghambur ke kamar. Aku membereskan semua barang-barangku. Tak kupedulikan Robert menjelaskan banyak hal. Mengenainya dan Irene, mengenai kecelakaan pada malam itu, yang hampir pula terjadi padaku malam tadi.

Aku mendengar, tapi aku lebih fokus pada barang-barang bawaanku. Lebih memfokuskan diri, untuk aku lebih teliti dan tidak meninggalkan barangku sedikitpun dikamar ini. Supaya tak ada yang tersisa pula. Tentang tiga tahun rasa yang sulit kubangun sendiri. Ternyata aku mambangun sendiri, membangun rasa sendiri. Robert pula begitu. Tak kusadari.

Kutinggalkan Robert tanpa berkomentar sedikitpun. Aku menyisakan secarik senyuman dan seulas kecupan mesra yang mendarat dibibirnya. Entah ini ekspresi kesedihan yang mendalam atau bukan. Robert tetap saja meminta jawabanku, tapi aku tak pernah menjawab apapun. Aku hanya ingin pergi dari kamar ini secapat mungkin, walaupun aku tau, penerbanganku masih nanti malam. Aku hanya berkata pada Robert aku tak ingin dikejar. Itu saja.

Bergegas aku ke bandara. Masuk lounge, dan membuka lovely. Bahasa  komunikasi nonverbal tak pernah berbohong, salah satu teori mengenai komunikasi nonverbal. Aku yakin sebenarnya tidak pernah berbohong. Aku menangis karena aku meninggalkan pentas malam ini, hanya untuk menemuinya, untuk anniversary ketiga kami. Robert melupakannya.

Hal yang paling menyakitkan adalah, bukan aku kehilangannya. Tapi panggung, dan ochestra yang mengiringi malam ini. Sedangkan aku masih di lounge. (J50K 1162)

 

Aku terbagun saat subuh menjelang. Kulihat Robert tertidur pulas di sofa. Terlihat muka Robert terlalu lelah. Aku paham, sebagai seorang birokrat disebuah kementerian Robert harus bekerja keras untuk mendapatkan posisi yang baik. Seperti pada pertama kuungkapkan bahwa sudah hampir tiga tahun ini aku menjalani rutinitas bersamanya. Setiap minggu aku akan bertemu dengannya di Jakarta dan menghabiskan weekend bersamanya. Walau kutau, jadwal bekerjanya sangat padat.

Aku tak pernah tau, mengapa orang sesempurna Robert akhirnya memilih menjadi abdi negara. Bagiku Robert mampu menjadi seorang eksekutif muda yang bekerja disebuah perusahaan besar dan berkarier disana. Robert menceritakan padaku bahwa, dia harus melakukan suatu hal untuk negaranya, melakukan suatu hal pula untuk masyarakatnya. Katanya menjadi birokrat yang baik sedikit sekali dinegeri ini. Sehingga akhirnya Robert terpacu menjadi lebih baik lagi. Robert  bekerja lima hari dalam seminggu. Dua hari kami habiskan waktu bersama. Agiku Robert termasuk laki-laki pintar yang mampu mengatur waktunya. Antara keluarga dan pekerjaan. Benar-benar laki-laki sempurna bagiku.

Namun, akhir-akhir ini Robert terlihat aneh bagiku. Robert seringkali panik jika mendapatkan telepon dari rumah. Robert pula seringkali mengajakku berhubungan seksual. Padahal pada kali perjanjian kami berpacaran, aku mensyaratkan tidak ada aktifitas seksual diluar batas-batas kewajaran normal. Hal itu selalu ditepati oleh Robert hingga kejadian malam tadi. Robert berusaha merayuku dan membuatku melanggar komitmen. Robert berusaha melanggar komitmen yang sudah kami bangun.

Bagiku komitmen menjadi hal yang paling penting. Karena hubungan dibangun oleh banyak komitmen. Komitmen bagiku sekumpulan kesepakatan-kesepakatan yang dibangun atas dasar kesadaran bersama. Entah apa motif Robert mulai memaksaku untuk melanggar komitmen yang kami bangun. Aku rasa Robert mempunyai alasan tersendiri yang tak bisa dia ceritakan saat itu juga.

Robert dan aku mempunyai hubungan yang sangat rumit. Tiga tahun kujalani bersamanya. Walau kadangkala bayang-bayang Sandi tetap menghantui. Aku memutuskan pergi dari Sandi. Mungkin keputusan yang sangat mengejutkan bagi teman-teman terdekatku. Tapi itu harus kulakukan. Sandi sepertinya mulai jatuh cinta pada perempuan lain. Mungkin ketidakhadiranku membuat Sandi menjadi berpikiran lain. Tiga tahun silam Sandi mengajakku menikah, dan memboyongku ke Belanda sambil dia menyelesaikan gelar masternya.

Aku senang sekali waktu Sandi melamarku. Sandi memang tak diduga-duga. Tapi kala itu aku belum menyelesaikan studyku. Aku pula belum mempunyai pekerjaan, sedangkan karierku sebagai seorang aktris teater saat itu masih membutuhkan konsentrasi lebih. Aku meminta waktu pada Sandi hingga aku menyelesaikan studyku. Lagipula ibu tak ada. Aku benar-benar tak mampu mengambil keputusan tanpa ibu.

Aku meminta Sandi mencarikanku pekerjaan dan tempat study untuk lebih belajar teater di Belanda. Tapi Sandi sedikit keberatan jika aku bekerja di Belanda. Katanya lebih baik aku konsentrasi dengan teater. Seiring waktu pertengkaran-pertengkaran kecil mulai terjadi. Aku dan Sandi akhirnya merasa tidak ada kecocokan satu sama lain. Akhirnya kami berpisah. Itu tiga tahun silam. Hingga akhirnya aku bertemu Robert disebuah pertunjukan teater. Robert mengajakku berbincang dan akhirnya kami terlibat diskusi seru kala itu.

‘memang selayaknya perempuan kodratnya dirumah Le’, ungkapnya mengomentari sebuah pertunjukan teater yang kami tonton tadi.

Sungguh saat dia mengatakan itu, matanya sungguh menusukku dalam-dalam. Aku berharap padanya tidak menusuk mataku.

‘bagaimana bisa begitu?’, jawabku sengit.

‘bagaimana anak-anak bangsa ini, sebagai calon penerus bangsa ini akan menjadi anak yang baik  jika ibunya sibuk dengan dunia luar’, ungkapnya terus saja menatap mataku.

Oh Tuhan, sungguh matanya mengingatkanku pada Sandi. Pada kerinduanku yang teramat dalam. Ingin sekali aku menghindar kala itu. Ingin sekali rasanya mengatakan bahwa aku ingin cepat pulang malam itu agar terhindar dari matanya yang setajam elang. Tapi aku tak bisa kala itu. Aku malah menjeburkan diriku pada tatapannya.

‘hei, apa peran seorang ayah pula jika harus dibebankan pada perempuan semua’, timpalku sengit.

‘lho-lho kita sedang bicara peran ibu, yaitu perempuan’. Ungkapnya menatap mataku tajam.

‘hei bung, peran ayah dan ibu bagiku satu level. Sama pentingnya, tapi bukan berarti membunuh satu sama lain. Itu pembagian yang harus dibagi berdua’, ungkapku ngotot.

‘hei hei neng, jangat sewot dong. Ayo kita minum dulu deh’, ungkapnya sambil menarik tanganku ke sebuah cafe kecil.

Oh Tuhan, aku terjerat padanya malam ini. Hatiku yang sedang galau ini, terjerat pada rasa yang kubangun sendiri. Kuhindari matanya yang seperti elang ini, tapi aku tak kuasa. Matanya menusuk jantungku dan membuat jantungku berdetak kencang sekali. Robert melepaskan pegangannya dan aku rasanya tak kuasa melihat tarikan tangan Robert. Ingin sekali lagi adegan ini terulang atau semalaman ini tangannya memegang tangaku.

Robert memesan bangku disudut, dan memesan satu capucino sedangkan aku memesan kopi pekat. Robert tergelak melihat pesananku.

‘sejak kapan kau menyukai kopi pekat?’, katanya

‘hei sejak kapan kau tau aku dulu tidak menyukai kopi pekat’, ungkapku menelisik.

Robert gelagapan mendengar ucapanku dan tersenyum melihat mataku.

‘sejak pertama kali melihatmu di ruang Osis dulu’, katanya sok romantis.

Aku tergelak mendengar ucapannya. Aku tak menyangka kala itu Robert memperhatikanku dan menolak menyeruput kopi pahit yang disediakan oleh OB sekolah pada rapat Osis waktu itu. Oh, Tuhan ingin rasanya aku membunuh malam dan waktu berhenti disaat itu saja. Sehingga obrolan ini berlalu hingga aku mampu melupakan Sandi.

Semakin lama, obrolan dan diskusi sengit kami lakukan. Bergelas-gelas kopi kami pesan hingga aku terlihat kelelahan. Robert tersenyum dan mengajakku untuk pulang. Aku begitu letih kala itu, mungkin juga keletihanku dikarenakan banyak sekali energi yang kuhabiskan memikirkan hubungan dengan Sandi.

Robert akhirnya mengantarkanku ke hotel tempat aku menginap. Robert menungguiku tidur hingga pagi. Sejak saat itu, ritual bertemu, diskusi, minum bergelas-gelas kopi bersama, hingga menemaniku tidur adalah ritual yang selalu saja kami lakukan bersama. Hingga saat ini aku memang belum pernah tau diaman rumah Robert di Jakarta. Robert berjanji akan mengenalkanku pada keluarganya hingga waktunya tiba. Aku pula tidak pernah menuntut Robert untuk segera mengenalkanku pada keluarganya. Karena aku tidak ingin terlibat dalam masalah seperti dengan Sandi lagi. Mungkin aku terlalu kecewa.

Aku sebenarnya merasa berdosa pada Rara. Tapi aku yakin Rara akan mengerti. Rara akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, dalam pelukanku saat kami masih dibangku kuliah. Rara memang sahabat terbaikku. Takkan kulupa saat-saat bersamanya. Awalnya aku ingin sekali membalaskan dendam pada Robert untuk mengobati sakit hati Rara. Aku tak pernah kuasa melakukannya, karena aku akhirnya pula terjerat pada mata Robert. Pada dinginnya malam dan diskusi-diskusi seru yang kami lakukan.

Ingin sekali aku memelukknya pagi ini dan mengajakknya ketempat tidur untuk tidur dalam balutan selimut. Kejadian malam tadi masih menyisakan perih yang teramat dalam bagiku. Aku merasa bingung. Semua hal ini harus kubicarakan dengannya agar aku merasa lega. Kudekati tubuhnya jua dan kupegang rambutnya yang hitam. Robert terbangun dan tersenyum melihatku.

Dengan isyarat aku mengajaknya pindah ketempat tidur. Robert menuruti mauku dan menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur. Aku menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya yang dingin karena terpaan ac. Dia menarikku untuk tidur kembali. Aku enggan, tapi tubuhku terlalu letih pula dan tertidur pula pulas. Sbeelum tidur kembali aku berdoa, agar aku mampu berpikir jernih besok pagi dan berniat bicara pada Robert. Tentang komitmen, juga tentang hubungan kami. Tak akan ada tuntutan. Mungkin aku telah siap untuk berpisah lagi. (J50k 1121)

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics