Slideshow
Tags & Categories

Archive for December, 2011

Tak ada kata seindah bagi Ibu.

Saya mulai membayangkan 20 tahun silam saya tanpa ibu. Hak asuh jatuh ke tangan ayah dan saya terpisah dari ibu. Ibu mendapatkan hak asuh kami (saya dan adik laki-laki), karena dua hal. Pertama karena kami masih balita dan kedua karena ibu kuat secara ekonomi.

Kedua alasan tadi sejatinya dalam kacamata saya masih saja melemahkan kaum perempuan. Pertanyaannya, jika kami tidak dalam kondisi balita apakah hak asuh akan jatuh ketangan perempuan? Pertanyaan kedua, bagaimana bila ibu saat itu tidak kuat secara ekonomi? Apakah hak asuh tidak jatuh ke tangan perempuan? Dan laki-laki dianggap mampu menjadi perwalian kami.

Sebenarnya saya sangat kecewa ketika ibu menceritakan alasan hakim memutuskan alasan hak asuh jatuh ke tangan ibu. Bagi saya, hakim kala itu tidak menunjukkan keadilan yang berpihak kepada ibu. Karena, pada saat itu seharusnya alasan hak perwalian jatuh ketangan ibu bukan kedua hal tersebut. Dalam kacamata saya, seharusnya hakim menjatuhkan hak tersebut karena ayah dianggap tak mampu memenuhi peran dan tanggungjawabnya sebagai seorang ayaha. Termasuk pemenuhan tiga hak konstitusional anak (pendidikan, kesehatan dan bebas dari kekerasan).

Tidak pernah saya bayangkan jika harus tinggal bersama ayah. Walaupun saya yakin, ayah juga orang tua yang akan sangat menyangi kami (walaupun saya tau, hingga saat ini tidak ada pemenuhan tiga hak konstitusional yang dipenuhinya kepada kami). Tak ada satupun anak broken home yang tidak pernah memimpikan mempunyai orang tua lengkap satupun di dunia ini. Rasanya iri sekali, ketika kita melihat setiap pagi teman-teman diantar ayah atau ibunya ke sekolah. Sedangkan kami tidak pernah merasakan itu. Atau diambilkan raport oleh ayah. Bagi kami, itu bukan masalah.

Ibu harus bekerja ekstra lebih banyak. Bekerja di ranah produktif dan domestik. Dua pekerjaan ini harus secara penuh menjadi tanggungjawabnya dan dilakoninya dengan bersama. Tanpa ada pembagian pekerjaan secara merata. Pertama untuk memenuhi kebutuhan kami dan kedua, baginya untuk mensetarakan status sosial kami. Bahwa peran ayah dan ibu tetap menjadi hak kami sebagai seorang anak.

21 tahun ibu menjadi perempuan kepala keluarga. Status Janda (Baca : perempuan kepala keluarga) tidak pernah membuatnya goyang sedikitpun hingga saat ini. Walaupun tak luput tudingan miring sering menghampiri.

Tak bisa saya bayangkan bagaimana ibu menangis sesenggukan di kamar, hanya karena tak mampu membeli buku yang ingin kami baca kala itu. Walaupun tak ada niat melukai hati ibu, tapi tetap saja ibu selalu mengatakan bahwa pendidikan hal nomor satu dan buku adalah jendelanya. Atau hati kami yang terluka karena ibu dituding mencari uang tidak halal, karena mampu menyekolahkan kami dengan baik. Tak ada satupun orang yang boleh menjudge, karena mereka tidak pernah tau derai tetesan darah ibu untuk kami.

Sungguh tak bisa kubayangkan menjadi ibu. Seorang perempuan tangguh yang mengabdikan dirinya sebagai seorang pegawai negeri biasa tapi mempunyai integritas yang sangat tinggi. Suatu kali kami ibu pulang sangat sore, kami hanya berdua saja dirumah. Kami mengeluh kepada ibu, kenapa pulang lama sekali. Ibu hanya berkata “ini adalah bagian dari tanggungjawabnya menyelesaikan semua pekerjaan dengan tuntas”. Kala itu aku masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar.

Status perempuan kepala keluarga memang bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan. Sesekali ibu dilamar seorang laki-laki beristri, dengan tujuan membantu ibu untuk menyekolahkan kami. Tapi ibu menolak dipoligami. Ibu menolak membahayakan diriku sebagai seorang anak perempuan dari resiko pencabulan dan pemerkosaan serta melukai anak-anak lainnya. Tentu juga perempuan lainnya dan ibu menolak dikasihani karena ekonomi.

Status Janda merupakan politik seksual, yang menempatkan perempuan kepala keluarga menjadi sosok yang demikian miring untuk kepentingan garis kekuasaan laki-laki. Berbeda sekali jika kita mengasumsikan dengan seorang duda. Dikepala kita akan timbul langsung asumsi “duren” (duda keren). Praktek ini sejatinya menunjukkan bahwa posisi perempuan masih saja diidentikkan dengan ketubuhannya yang bersifat aib.

Posisi ibu sebagai perempuan kepala keluarga dekade ini masih harus bergulat dengan status miringnya sebagai perempuan single, mandiri yang mampu membesarkan kami dengan penuh ‘integritas’ sebagai seorang ibu dan seorang manusia. Perdebatan mengenai status perempuan kepala keluarga masih menjadi rumor yang hingga saat ini belum mampu membebaskan ibu dari ketidakadilan atas perjuanggannya. Serta mensterilkan dirinya dari tudingan miring dari politik kekuasaan laki-laki atas nama seksual.

Dalam status sosial, perempuan kepala keluarga memang belum mempunyai ruang yang signifikan untuk setara dan steril dari tudingan miring. Tetapi sesungguhnya, pilihan ibu menjadi perempuan kepala keluarga sama hebatnya dengan perjuangan melawan imperialisme.

Selamat Hari Ibu

Bengkulu, 22 Desember 2011

 

Berbicara mengenai tubuh perempuan memang sangat mencuri hati untuk membicarakannya. Dimulai dari keindahannya yang selalu dipuji-puji hingga berbagai persoalan yang diduga muncul karena tubuh perempuan. Secara fisik, tubuh perempuan mempesona karena selalu saja diletakkan sebagai objek  yang disejajarkan dengan kontasi aib dan komersil.

Selalu saja angka statistik menunjukkan tingginya angka kasus-kasus kekerasan terhadap ketubuhan perempuan. Mulai dari pelecehan seksual, perkosaan hingga penjualan tubuh secara komersil yang tak kunjung mereda. Perlakuan seperti ini menandakan bahwa tubuh perempuan selalu diletakkan pada tataran objek dengan konotasi aib dan komersil.

Konotasi aib menjelaskan kepada kita bahwa tubuh perempuan merupakan hal tabu yang tidak dapat dibicarakan dan akan menimbulkan akibat buruk. Ini jelas terkait organ reproduksi dan seksualitas perempuan. Ketabuan ini menimbulkan banyak sekali persepsi, mitos  yang muncul dimasyarakat, hingga kadang kala membuat perempuan takut sendiri akan ketubuhannya.

Pemahaman akan ketubuhan perempuan yang menempatkannya sebagai posisi aib dan komersil sangat mendorong tumbuh suburnya bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan. Menyimak dari catatan Komnas Perempuan bahwa hampir seperempat kasus yang terjadi terhadap perempuan adalah kekerasan seksual, dengan kasus perkosaan, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, pelecehan seksual, penyiksaan seksual dan eksploitasi seksual.

Maraknya fenomena kekerasan seksual yang terjadi dimana-mana menjadi sebuah fenomena yang harus disikapi dengan serius. Juga ditangani dan diadili secara serius. Penyalahan tubuh perempuan, jugdement terhadap perempuan membuat maraknya kekerasan terhadap perempuan semakin marak terjadi.

Tentu masih segar dalam ingatan kita akan kasus perkosaan yang terjadi di dalam angkot beberapa bulan yang lalu. Statement penyalahan akan penggunaan pakaian korban oleh pejabat publik sungguh sangat menyakitkan hati. Hal ini membuat kita miris dan terbelak bahwa permasalahan kekerasan seksual hanya dianggap sesederhana itu oleh pejabat publik.

Padahal merujuk kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi, bahwa tak ada korelasi antara pakaian yang digunakan oleh korban dengan kasus kekerasan yang terjadi. Kita tilik catatan Cahaya Perempuan WCC Bengkulu, Sejak tahun 2000-2010, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan ditangani Cahaya Perempuan WCC tercatat 1.761 kasus, sekitar 56.67% (998 kasus) adalah kasus Kekerasan Seksual. Kelompok yang paling rentan mengalami kekerasan seksual adalah anak usia di bawah 18 tahun.

Jika kita menilik catatan Cahaya Perempuan WCC Bengkulu, permasalahan kekerasan seksual bukanlah permasalahan yang sangat sederhana. Angka statistik menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun kasus-kasus pelanggaran hak asasi perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin urgensinya masalah kekerasan seksual, yang melibatkan ketubuhan perempuan.

Penyalahan atas ketubuhan perempuan sebagai biang terjadi kasusnya kekerasan seksual bukanlah sebuah cara dan upaya untuk menyelesaikan masalah. Kekerasan seksual merupakan sebuah pelanggaran hak asasi, yang membutuhkan penanganan konkret dan sistemik, juga membutuhkan banyak pihak untuk peduli.

Sehingga bentuk-bentuk mitos penyalahan tubuh perempuan merupakan sebuah cara yang taktis dan pragmatis saja. Untuk melakukan pembenaran sikap represif dan penyangkalan atas sikap ketidakmampuan menciptakan keamanan bagi perempuan.

Meracik Mimpi, Otonomi Tubuh Perempuan

Sebuah mimpi perempuan memiliki tubuh secara utuh. Namun, hal tersebut tentu saja bukan hanya sebatas asa semata. Perjuangan bagi ketubuhan perempuan merupakan sebuah perjuangan yang akan membebaskan perempuan dari kekerasan seksual. Otonomi tubuh perempuan mutlak harus terjadi. Karena tubuh perempuan hanyalah milik perempuan, yang tidak dapat dipolitisir maupun dikomersialisasikan semata.

Membebaskan perempuan dari kekerasan seksual, tentu saja harus dimulai dari membebaskan tubuh perempuan secara terbuka. Membebaskan dari mitos yang mengekang, judgement penyalahan tubuh perempuan, membebaskan definisi dari perspektif laki-laki serta memberikan keluasan tubuh perempuan untuk memilih.

Kekerasan seksual selalu saja identik dengan alat kelamin dan tubuh perempuan yang hingga saat ini diyakini secara massal sebagai bentuk aib. Gerah sekali rasanya, ketika kita harus mendengar tudingan-tudingan miring terhadap tubuh perempuan ketika kasus kekerasan seksual terjadi.

‘wajar diperkosa, pakaiannya aja rok mini’

‘wajar ingin dipegang, montok  sekali sih’

‘wajar dipoligami, mandul sih’

‘wajar suaminya selingkuh, service istrinya gak memuaskan sih’

Tudingan-tudingan seperti ini kerapkali muncul di masyarakat dan  jelas sekali hanya mengarah pada ketubuhan perempuan. Penyalahan tubuh perempuan yang akhirnya melegalkan prilaku menyakiti tubuh perempuan dengan melakukan tindakan kekerasan. Belum lagi perempuan harus menghadapi berbagai mitos mengenai tubuhnya yang lain. Seperti virginitas, ukuran ideal tubuh, kesehatan reproduksi serta segudang permasalahan lain mengenai tubuh perempuan.

Sehingga dibutuhkan pemahaman yang serius untuk membebaskan tubuh perempuan dan memberikan otonomi ketubuhan perempuan secara mutlak. Agar perempuan bebas dari kekerasan secara seksual. Mimpi itu tak akan pernah bisa terwujud bila tidak dibarengi dengan kebijakan mengenai kekerasan terhadap kekerasan seksual secaga tegas, penanganan kasus-kasus kekersan seksual secara serius, serta melakukan pendobrakan massa mengenai tubuh perempuan dengan pendidikan yang setara dan berperspektif.

Bengkulu, 8 Desember 2011

 

 

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics