Slideshow
Tags & Categories

Archive for October, 2011

Filosofi Padi (Semakin berat, semakin merunduk).

Seharian tadi aku mengalami pengalaman pertama melakukan survei ubinan padi. Survei ubinan digunakan untuk memperkirakan potensi hasil padi dan palawija dalam luasan 1 hamparan ( 1 ha ). Untuk melakukan ubinan ini beberapa tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menghitung potensi hasil tanamannya. Survei ubinan menggunakan alat ukur yang telah dirancang dengan luas 2,5 m2 x 2,5 m2, yang dilengkapi pula dengan alat timbangan. Angka random juga berfungsi untuk menentukan sampel mana yang harus dihitung. Padi dan palawija dipanen dan ditimbang hasil produksinya, untuk menghasilkan data estimasi jumlah produksi padi dan palawija. Survei ubinan juga dilengkapi dengan beberapa pertanyaan mengenai produktivitas tanaman padi dan palawijya.

Dari Survei ubinan, estimasi hasil produksi padi dan palawija dapat diketahui. Termasuk faktor-faktor penghambat perkembangan tanaman serta keberhasilan tanaman, serta penggunaan pupuk serta kualitas bibit yang digunakan. Sebenarnya, dalam pikiran sederhana saya, survei ubinan ini bisa dilakukan oleh petani sendiri. Survei ubinan ini, dilakukan untuk menghitung hasil padi dan palawijanya. Sehingga petani dapat memperhitungkan sendiri hasil produksinya. Jika hal ini dilakukan, hasil survei ubinan dapat digunakan oleh petani untuk mengukur berapa besar investasi yang dapat dilakukan oleh petani dalam tanamana padi dan palawija.

Hasil panen padi dan palawija seluas 2,5m2 dan 2,5 m2, dikalikan dengan pengali 1600. Misalnya, jika hasil gabah kering panen (GKP) dari survei ubinan yang dilakukan 4kg. Maka 4kg  dikalikan 1600, hasilnya adalah 6400 kg atau 6,4 ton GKP dalam setiap 1 ha. Jika sudah memperkirakan hasil panen tersebut, maka saya berfikir bahwa petani juga membutuhkan belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah dilakukannya.

Survei ubinan ini merupakan salah satu metode sederhana agar petani dapat menghitung keuntungan secara ekonomis dan tidak cepat beralih fungsi lahan serta menjual sawah dan ladangnya ke tengkulak.

Namun, masalah-masalah yang terdapat dalam pertanian bukan melulu perhitungan saja. Pemasalahan distribusi pupuk yang tidak pernah merata selalu saja dikeluhkan oleh petani. Subsidi yang diberikan oleh pemerintah, jarang sekali mengena ke sasaran. Dalam wawancara bulanan yang dilakukan kepada penjual pupuk. Pupuk selalu mengalami kenaikan harga jika musim tanam tiba dan kelangkaan pupuk juga sering terjadi. Jika harga subsidi yang diberikan pemerintah untuk urea Pusri di rate Rp 2000/kg, pada musim tanam harga pupuk urea bisa mencapai hingga Rp 5000/kg. Kenaikan yang sangat drastis ini dijelaskan penjual pupuk karena proses distribusi yang sangat rawan. Misalnya di Kab B, mendapat jatah 16 ton untuk satu bulan. 12 ton yang ada biasanya sudah dibeli oleh toke. Tentunya dengan metode ‘main mata’. Sehingga jatah yang diterima oleh petani tinggal 4 ton saja perbulannya. Dari harga yang sudah main mata tadi, toke menjual ke petani dengan harga yang lumayan fantasitis.

Keberadaan koperasi dan kelompok tani sebenarnya belum sangat membantu dalam siklus produksi petani. Seperti yang dituturkan seorang petani, “kami ini orang pesak (miskin), untuk membeli pupuk saja tidak bisa, cakmano (bagaimana) hasil panen mau bagus”, ungkapnya. Petani tersebut pada subround kali ini hanya menghasilkan 2 ton GKP dalam 1 ha nya.  Belum lagi ketersediaan air dan kebutuhan irigasi yang sangat dibutuhkan petani. Serta permasalahan hama, global warming, kebijakan impor beras serta menariknya perhitungan ekonomis alih fungsi lahan.

Jika sudah begitu, sulit sekali ya menanamkan filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk. Yang ada, semakin berisi dan banyak duit semakin menindas. Semakin sulit rakyat, semakin dibiarkan saja.

Catatan Hari Ini

Bengkulu, 19 Oktober 2011

Stand Up Comedy Metro Tv, edisi 13 Oktober 2011, sangat menjadi inspirasi. Formula komedi sebagai bagian kritik baru seakan menjadi alat yang mujarab di tanah yang sedang gelisah ini. Saya sangat tertarik stand up comedy yang dibawakan para aktornya sungguh menggelitik. Menggugah kenyamanan kita, yang sebenarnya pada masa kegelisahan yang sangat berlebih.

Ditengah maraknya kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan (KTP), Miund menampilkan kegelisahannya mengenai realita ini dengan sangat baik sekali. Penggambaran kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dibalut dengan nyanyian dangdut yang sangat apik dihadirkan oleh Miund. Pengkonotasian perempuan dan pemarginalan kaum perempuan pada level seni menjadi gambaran yang sangat nyata akhir-akhir ini. Seni menjadi kehilangan rohnya ketika menaburkan aib dan membawa pada paradigma baru yang tidak sesuai dengan roh masyarakatnya.

Dangdut sebagai musik yang didefinisikan sebagai musik rakyat digambarkan telah kehilangan rasa yang terdalam terhadap perempuan. Perempuan dititikberatkan hanya sebagai objek yang cenderung lemah dan didefinisikan sebagai kodrat baru. Lagu dangdut yang berjudul sms, bang toyib, hamil tiga bulan dan alamat palsu, didefinisikan Miund sebagai konstruksi rendah perempuan dalam seni. Sehingga kecenderungan ini mengakibatkan efek-efek yang tak terkira. Peningkatan kasus KTP, seperti KDRT, perkosaan, traficking, pelecehan seksual menjadi gambaran yang sangat biasa sekali.

Belum lagi Temon, menyinggung infrastuktur yang sangat minim dan ketidakpedulian pemerintah terhadap kenyamanan masyarakat dalam menggunakan alat transportasi, juga menambah sederet masalah penyebab peningkatan kasus KTP. Baru-baru ini, perkosaan dalam angkot yang menyeret empat pemuda meringkuk dalam hotel prodeo menjadi salah satu bukti bahwa rendahnya kualitas infrastruktur yang dibagun pemerintah untuk masyarakatnya.

Parodi komedi ini seakan membawa angin segar baru dalam demokrasi. Masyarakat yang telah jenuh menangis, mengemis di negerinya sendiri seakan menemukan wahana baru bahwa sunggu negeri ini membutuhkan seorang dokter. Mungkin saja seorang psikiatris, agar rakyat tidak menjadi gila.

Bengkulu 13 Oktober 2011

Tiga belas kali.

Surat ini surat ketigabelas, surat ini menjadi kisah lain. Kutanyakan pada seseorang mengenai cinta pertama. Kutanyankan pula bagaimana rasanya. Membiru katanya. Memerah katanya. Menghijau katanya.

Katanya sejarah. Titik. Itu saja. Dalam malam aku menangis pilu, ingin membiru, ingin memerah dan ingin menghijau. Pada sejarah membiru, memerah dan menghijau. Kutanyakan lagi, inginkah sejarah itu terwujud. Katanya itu bukan pemilik hati. Itu hanya hak saja.

Bagaimanakah dengan kewajiban? Jika itu hak saja? Kutanyakan pula. Pernahkah kau merasai? tanyamu lugas. Aku terdiam. Merasai, merasai dari hati di sudut semenanjung senja.

Ini surat ketigabelas. Pada momentum ulang tahunku. Pada masa aku menjadi perempuan dewasa. Di usia 24 tahun. Aku tak akan menyia-nyiakan, ungkapku. Tak akan kulepas. Tapi jika waktunya, akan kulepas jua.

Jika rasa tak mampu lagi kubendung. Tak mampu lagi kutunggu jawabnya. Tak mampu lagi kubuktikan. Tak mampu lagi kutangisi. Pada saat Mati rasa. Ketika Tuhan jua tak mampu membendung.

Ini surat ketigabelas. Pada saat aku jatuh cinta pertama kalinya. Entah mengapa akhirnya aku membicarakannya, pada hal yang kulupakan. Tak ingin kuingat lagi. Tak ingin kurasa lagi. Namun akhirnya kutuliskan. Tinggalkan aku, jangan sekali-kali kau datang. Jangan pula menyapaku. Aku baik-baik saja.

Jangan berdoa untukku. Jangan kau meminta maafku. Karena aku telah memaafkan. Jangan meminta restuku. Karena aku selalu merestui. Hanya sejarah saja.

Aku tak ingin menyakiti. Tak ingin pula disakiti. Pergilah. Jangan menoleh kebelakang. Karena ketika kau menoleh sekali saja, kau akan sakit melihatku bahagia.

Bengkulu, 8 Oktober 2011

Meragu..

Hingga akhirnya aku meragu.

Akan kuceritakan mengenai laut tumpah. Laut itu dikelilingi bukit, berbukit-bukit dan gemuruh rimbunnya rasa. Dari sebuah sudut aku memandangnya, dari sebuah titik lain ketika aku berdiri dan menjatuhkan cintaku padanya. Sedikit saja kuceritakan, aku masih mencintainya. Pada laut tumpah. Tak pernah kuungkapkan, pada laut yang lepas bergemuruh, pada tarian semilir yang menghadirkan rasa.

Pernahkah kau ingat saat itu, balutan rok batik dan kaos hitam lebar, saat aku menaikkan kakiku dan akhirnya aku menceritakan mengenai laut tumpah ini kepadamu. Kukatakan itu rahasia kita. Tak ada yang boleh tau, karena tempat itu hanya milik kita. Pada saat itu aku jatuh cinta kepadamu. Pada rasa yang tak ingin kubagi. Pada cinta yang membuatku jatuh cinta dan hancur pula seketika. Apakah kau meragu? Dan aku pula meragu?

Pada satu titik dimana hati tak ingin lagi tercurah. Ya.. hanya meragu saja pada Tuhan. Meragu saja pada cinta yang diturunkan untukku. Meragu saja, benarkan Tuhan memberiku alamat yang benar. Hingga malam menjelang, aku tak tau apakah pagi diberikan Tuhan pula untuk meragu menghadapi siang. Meragu saja dan ingin berserah pada Tuhan. Tapi kuyakin pula Tuhan meragu pada tangisanku dan kusimpan dalam rasa. Hingga tiada yang tau dan aku menangis sesenggukan.

Kali ini Tuhan, beri aku rasa dan jawaban yang ada. Aku tak ingin lagi berjalan seorang diri dalam kegelapan ini. Pada kemarahan yang kadang timbul, hingga menyeretku pada rasa membenci tubuh dan pikiranku sendiri. Meragu Tuhan, pada jawaban-jawaban yang tak pernah jujur. Pada kalimat yang tak pernah murka dan akhirnya menimbulkan rasa lain. Meragu.

Rasa ini membiru dan memerah pada malam pekat, menghadirkan ungu dalam jingga sore. Disudut itu, di laut tumpah, ingin kuungkapkan rasa kepadamu. Ingin kukatakan bahwa meragu ada pula. Meragu pada rasa yang kau rasa saat itu. Hingga tercipta angan-angan meragu membiru. Di laut tumpah ingin pula kukatakan dan kuhempaskan, biar hanya ada aku saja. Seorang diri. Tak ingin membagi ragu. Biar aku saja. Hingga malam menjelang. Apakah aku meragu? Pada laut tumpah atau Tuhan?

Bengkulu, 7 Oktober 2011

Genap sudah umurku di 24 tahun kemarin. Tepat pada Minggu, 4 Oktober 1987, pukul 03.15 WIB, aku lahir ke dunia. Tepat pula kemarin aku sudah tidak berada dalam masa remaja lagi. Sudah satu hari aku menjalani umur dalam tahap perempuan dewasa. Perempuan yang mulai matang secara reproduksi dan mandiri secara keseluruhan.

Aku merasa, aku baru memulai hidup lagi. Belum banyak yang sudah kulakukan untuk dunia ini di usiaku yang ke 24 tahun ini. Merasa bahwa secuilpun waktu tak akan kulewati untuk hal sia-sia. Saat ini masih banyak yang belum dapat kulakukan. Hal terbesar yang mulai dapat kulakukan pada masa remaja adalah, aku tidak takut lagi dengan kegelapan pada saat tidur dan mampu makan sayur-mayur. Namun pencapaian tersebut belum dapat dikatakan sempurna, karena aku belum mampu berenang dan melakukan kegiatan dalam air.

Kemarin, hari yang sangat bahagia, berbagai ucapan datang dari semua media komunikasi. Baik dari teman, sahabat, adik, kakak, relasi, keluarga dan pacar. Semua memberikan doa-doa yang berlimpah dan harapan-harapan yang tak pernah pupus, agar aku mampu menjadi yang terbaik. Tercurah pula ucapan-ucapan bahagia datang bertubi-tubi dengan cara yang berbeda-beda.

Momentum 24 tahun ini, menjadi sangat berharga karena pada titik ini aku akan memulai hal baru dengan kesiapan-kesiapan yang sungguh berbeda. Tahun ini harus lebih baik lagi. Menyongsong harapan-harapan yang tak pernah mati bersemanyam dalam jiwa raga ini. Terima kasih untuk mama, yang tak pernah letih memberikan semangat-semangat dan harapan untuk kehidupan dan dunia pada umumnya hingga titik ini.

Selamat ulang tahun jiwa dan ragaku. Satu titik momentum untuk menjadi terbaik.

untuk 4 Oktober..

 

 

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics