Slideshow
Tags & Categories

Archive for August, 2011

Banyak yang punya telinga tapi tak bisa mendengar. Banyak yang punya mata, tapi tak mau melihat. Banyak yang punya rasa tapi tak mampu merasai.

Dear Rasa,

Ada terbersit rasa lain. Ada tercurah sebuah senjata, ada pula tercurah sebuah bom atom yang meledak-ledak. Tak ada yang dapat merasai, tak ada yang mampu mencurahkan semuanya. Cukup sudah, tak ada pula gunanya meluncurkan roket dan akhirnya serbuknya melukai mataku sendiri.

Ya, tak akan kulukai sendiri lagi tubuhku ini. Tak akan kurasakan lagi sebuah ilusi yang memenggal rasa. Tak kurasakan lagi sudut malam yang dingin dan menyentuh urat-uratku. Kulupakan semua, semua, semua.

Inginku, kuledakkan saja bumi ini. Inginku kuracuni saja semua air yang mengalir. Inginku hembus saja, kepanasan yang meledak di udara. Inginku, kubumihanguskan saja semua yang ingin hidup didalam tanah ini.

Aku merasakan sebuah emosi yang tersublimasi, serta akhirnya menciptakan sebuah prototype baru. Emosi dalam bumi mencurahkan sebentuk partikel atom yang menggerombol menjadi lautan merah. Seperti sang surya, terlihat kemerahan di ufuk senja.

Kurasakan pula, mata ini tak pernah mampu menantang sang surya tepat diatas saja. Mata ini terlalu ketakutan untuk melakukan kata hati. Mata ini terlalu takut untuk mengambil sikap, dan akhirnya terjerumus sendiri dalam liang yang pekat. Menjadi seoonggok makanan cacing yang berkeliaran.

Kulihat pula Telinga ini selalu memerintahkan tangan untuk menutup lubangnya. Membuatnya hanya menjadi seonggok daging yang menyembul keluar dari bulatan bola saja.

Oh tidak. Ingin kuledakkan saja bumi ini. Agar aku merasa, dan mampu merasai. Sebuah rasa yang tak ingin tertinggal disini saja. Sebuah rasa yang ingin mendayuh sendiri saja. Ingin terus bermimpi. Ingin terus saja kukejar. Ingin terus saja kuledakkan bumi ini.

Ingin terus saja kubumihanguskan. Ingin saja semakin kumelukai. Kucaci maki pula. Inginku saja. Inginku juga. Ingiku rasa. Ingnku teriak. Inginku katakan saja. Tak ada yang merasai ketika seorang putri mengatakan “deaf no problem”.

@Trees side with love

Bengkulu, 21 Agustus 2011

 

Tuhan izinkan aku membenci seseorang. Izinkan pula aku tak ingin bertemu seseorang, izinkan sekali ini saja aku tidak memaafkan.

Tuhan, suatu kali aku belajar memaafkan. Suatu kali aku belajar meminta maaf. Suatu kali pula aku belajar menerima dan belajar dari hal-hal yang membuatku sesenggukan menangis.

Tuhan jika kau izinkan, kali ini aku ingin menjadi begitu kuat, percaya pada hati dan tubuhku. Menggerakkan rasa dalam otakku. Menggerakkan mataku untuk memaknai dan menggunakan hatiku lebih dari yang aku rasa. Tuhan jika kau izinkan, aku ingin sekali saja membenci dan tak memaafkan.

Biar saja membenci, dianggap salah dan terksesan egois. Biar saja tak memaafkan, dan dianggap tak mempunyai hati. Agar aku benar-benar terlepas dari rasa empati yang berlebih. Serta mencintai tubuh ini dengan utuh.

Biar saja Tuhan, biar tak ada satupun pula koruptor yang kumaafkan. Begitu pula hari ini. Tak ada yang kumaafkan. Hanya Kau yang berhak mengampuni. Kukembalikan kepadaMu. Kepadamu yang seadil-adilnya.

Terasa galau, tapi ini rasa Tuhan.

Kupanjatkan dalam doa malam ini (9 Agustus 2011)

Tiba-tiba saja ada yang aneh, ada pula yang tak menentu.

Siang tadi rasa aneh tiba-tiba saja muncul. Kepenatan, kerentanan dan keletihan kadang memicu hati tak ingin bersinergi dengan otak. Panas sedikit terik, menyisakan rasa yang letih tak terperi saja. Baru kali ini aku merasa keletihan selama delapan hari ini.

Kuungkapkan pada matahari tapi dia diam saja. Kuungkapkan pada bulan tapi begitu pula. Kuadukan pada bintang dia malah tertawa saja. Kutanyakan pula pada hatiku yang sedang galau ini. Dia tak ingin pula bersuara.

Akhirnya kurebahkan diriku dan kuadukan pada seseorang. Tapi nyatanya, tak kudapat apa-apa pula. Tak kurasa apa-apa pula. Tetap saja mengganjal dan tak ingin pergi. Kukatakan aku sedang benci pada ayahku karena tak menelponku. Kukatakan pula aku tak ingin dia menikahkanku kelak. Kukatakan pula, kapan dia membelikanku sebuah baju baru untuk kukenakan dihari lebaran.

Kapan dia menungguiku berobat di lorong rumah sakit. Atau tertidur pulas menungguiku tidur pula. Kapan itu pernah kurasakan?

Sepertinya ungkapan itu terlalu kekanak-kanakan sekali. Aku merasakan hal lain saja. Mungkin saja aku merindukan sesuatu. Tapi entah, aku tak pernah tau.

Bengkulu, 8 Agustus 2011

 

Dear Mom,

Ini sudah tahun keenam aku lewati Ramadhan sebagai anak kos. Tak terasa sudah tahun keenam aku meninggalkanmu sendirian dirumah. Menikmati masa tuamu dan melewati hari-harimu tak bersamaku. Waktu pertama kali kuinjakkan kakiku di bumi Fatmawati ini (aku suka menyebutnya begitu), rasanya aku ingin pulang saja. Pantai dan adaptasi adalah dua hal yang paling memberatkanku kala itu.

Mengenal orang-orang baru yang berbeda latar belakang berbeda membuatku sedikit frustasi waktu itu. Tapi katamu aku akan baik-baik saja. Akhirnya semuanya sudah kulakukan sendiri. Termasuk mimpi-mimpimu melihatku menjadi sarjana, yang bukan hanya gelar saja, tapi pula prestasi hidup yang cukup baik.

Dulu aku selalu dibangunkan menjelang sahur, dan tinggal memakan makanan yang kau sediakan. Begitu pula meminum susu yang sudah tersedia diatas meja. Sekarang aku sudah dapat melakukannya sendiri. Dulu aku selalu diingatkan untuk menyiapkan segala sesuatunya sebelum pergi. Sekarang aku sudah mampu menyiapkan sendiri segala sesuatunya. Oh ya mom, aku juga jadi begitu detail, walau masih sering teledor tidak menutup pintu ketika aku tidur.

Dulu aku tidak bisa tidur sendiri, dan alhasil aku tidak punya kamar di istana kecil kita. Sekarang aku sudah bisa mom tidur sendiri, tanpa kusuk-kusuk tanganmu dan selipan tanganku dibawah dadamu. Tentu saja aku juga sudah berani ke kamar kecil sendiri pada malam hari. Serta mulai mempercayai orang disekelilingku.

Seringkali terngiang-ngiang ditelingaku mom, tiap pagi kau akan membangunkanku dan selalu dengan kalimat yang sama, “mau sekolah gak mbak? kalo mau sekolah bangun. Jika gak, tidur aja lagi” atau “puasa gak mbak. kalo puasa ayo sahur, kalau gak tidur aja lagi”. Lucu sekali kalimat-kalimat itu mom. Kadang kau sambil sedikti marah, kadang kau sambil tersenyum membangunkanku dari tidur lelapmu. Ternyata itu sangat penting sekali mom.

Dua bulan lagi aku berulang tahun yan ke-24 mom. Tentu saja, berarti sudah banyak pula yang kau ajarkan padaku. Hingga tak dapat kusebutkan satu persatu. Banyak sekali, dan kita harus melewati masa-masa genting ditempat yang bebeda pula.

Tahun keenam Ramadhan ini, adalah ramadhan terakhir aku diusia remaja mom. Dua bulan lagi aku akan masuk dalam klaster dewasa mom. Setidaknya itu definisi remaja menurut WHO mom. Setidaknya aku telah belajar banyak hal dimasa remaja ini mom.

Bukan hanya mengenai kemandirian, tapi aku telah belajar menjadi seorang perencana, seorang yang pula bertanggungjawab atas hidupnya dan pilihan-pilihannya. Serta memberi pilihan pula pada tubuh dan pikiranku untuk menginginkan apa. Aku pula telah belajar untuk melawan ketakutanku sendiri, serta mempercayai keyakinanku yang aku pilih pula sendiri.

Baru satu periuk mom puasaku kali ini. Hari ini satu periuk lagi. Dan kita akan menghitung periuk-periuk lainnya hingga kita terlupa. Selamat puasa mom, aku berjanji akan menjadi lebih baik lagi. Termasuk keyakinanku akan puasa kali ini.

Hari kedua Ramadhan 1432 (2 agustus 2011)

Salam

 

 

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics