Slideshow
Tags & Categories

Archive for June, 2011

Dear mas,

Dalam skema RGB colour system, memang ketiga warna (red, green, blue) merupakan warna dasar cahaya. Putih tercipta dari komposisi 255 red, 255 green, 255 blue. Ada pula skema dasar pewarna, CMY (cyan, magenta, yellow), yang menghasilkan warna lainnya. Seperti ungu, abu-abu, pink, coklat,  tosca, kuning genteng dan lainnya.

 

Katamu aku perempuan penyuka ungu dalam tanda petik. Katamu aku perempuan penyuka bukan warna dasar cahaya. Namun tulisanku berkarakter, punya pesan tersembunyi dan maksud yang indah. Katamu pula, tulisanku terlalu urban dan liberal dalam tanda petik. Semua komentarmu sangat indah mas, aku sangat menyukainya. Berkali-kali kubaca dan kumaknai sedalam-dalamnya. Tulisan-tulisanku menemukan jalannya sendiri mas. Begitu pula warnanya. Tulisan-tulisanku sibuk mengaduk-aduk warna sendiri. Tak ingin menoleh ke kiri dan ke kanan. Atau belakang ke depan.

Skema warnanya terdiri dari ketiga warna dasar cahaya, RGB dan warna dasar pewarna, CMY. Ini menurutku. Tapi aku tau sejarahnya ungu berasal dari warna merah dan biru kan mas? Aku sering menyebutnya skema warna Barthes, yang dalam semiotika, Roland Barthes, terdiri dari pemaknaan (to signify) dua tahap, denotasi dan konotasi. Atau disebut signifikasi dua tahap (two order signification).

Pada tataran pertama, denotasi, ungu dijelaskan pada tataran yang sangat nyata mas. Seperti ungkapanmu, ungu bukanlah warna dasar cahaya. Ungu hanyalah warna campuran biasa saja. Dikonstruksi dan sering dimaknai jingga. Dilekatkan pada langit sore hari, sebelum matahari kebasahan, tenggelam dalam air mas.

Pada tataran kedua, konotasi, ungu dijelaskan sebagai tanda yang ditemukan melalui mitos (myth) mas.  Ada culture didalamnya. Rasanya dulu aku pernah bertanya padamu, mengenai mitos mas. Dan kau menjelaskan dengan sangat lengkap. Aku menyukainya pada waktu itu. Memang kau, fasilitator yang hebat mas.

Ungu, sebenarnya dikontraskan dengan janda (baca perempuan kepala keluarga), nakal dan dilecehkan. Penyuka warna ungu kerapkali dibenturkan dengan perempuan kepala keluarga yang representasinya jelek sekali. Dianggap binal, kurang kasih sayang dan perayu. Namun sejatinya tak begitukan mas? Perempuan kepala keluarga bukan perempuan biasa saja. Dia mampu menjadi manusia double burdon, atau mungkin lebih baik disebut double cabin saja (untuk mengekspresikan bahwa dia seperti mesin, tidak kenal lelah dan bermuatan banyak). mau tidak mau suka tidak suka. Jadi ayah dan jadi ibu. Tak bisa memilih. Keduanya harus dilakoni bukan?

Dalam skema Barthes, tataran ini bukan saja hanya untuk mengkomunkasikan (to communicate) tapi to signify . Yah, ungu mas. Bukan merah, hijau atau biru. Tidak berhenti sampai disitu saja. Ungu juga mengungkapkan sejatinya bahwa perempuan yang sesungguhnya perempuan mas. Kuat, mandiri, kokoh, punya pendirian dan berhak atas tubuhnya sendiri. Kata ibuku, kehormatan, kemandirian dan penghargaan diri.

Waktu aku menuliskan surat ini, keadaannya hujan deras sekali mas. Aku hanya terduduk di kamarku. Menatap diary kecilku dan mulai menuliskan surat untukmu. Oh ya, aku juga lapar sekali mas. Tiap menit kulihat ponselku, mungkin saja ada mukjizat kau menanyakan sesuatu padaku. Atau meng-emailku untuk sekedar bertanya, ‘apa yang kau kerjakan di libur ini?’. Mungkin saja aku tak akan pernah membalasnya lagi mas. Karena itu terlalu singkat untukku.

Tapi menurutmu bagaimana denganmu mas. Aku ingin sekali mendengar cerita mengenai ungu versimu mas. Aku pikir, aku mampu menerima sebuah perbedaan. Namun tentu saja, aku ingin sekali kau ceritakan pada sisi sejarah mas. Aku yakin, kau hapal sekali dan mampu menceritaknnya padaku mas. Bukan hanya pada tataran denotasi tapi konotasi pula mas.

Sebenarnya aku pernah membaca literatur mengenai ungu dalam versi sejarah. Katanya ungu merupakan kombinasi kemarahan dan kesejukan (red and blue). Warna ini sangat mahal dan digunakan oleh kaisar-kaisar di Mesir. Juga disukai oleh Cleopatra. Ah, ada juga yang mengatakannya ungu adalah warna sekunder. Jika kau sempat membalas surat ini, balaslah mas. Jika tak sempat tak mengapa, pasti aku menemukan jawabannya sendiri mas.

Jika Ungu tak disebut Ungu, mungkin saja bukan biru dan merah mas. Bisa jadi RGB dan CMY.

Salam,

Angger Wiji Rahayu

Bengkulu, 29 Juni 2011

Indahnya bercinta saat muda (Nidji). Sepenggal proses bercinta dalam lirik lagu milik Nidji memang membuat kita berfikir banyak. Apakah memang sesungguhnya bercinta sangat indah dikala usia kita masih tergolong muda. Ataukah cinta hanya sepenggal kalimat yang membuat manusia lupa diri, dan menganggap dunia milik berdua. Sedangkan yang lain mnegontrak saja. Lalu bagaimana ketika kita tua?

Ada lagi yang mengatakan cinta hanyalah sebuah dongeng (Mina Susana). Begitu pula ungkapan Valentina, Negara mungkin harus banyak mengimpor cinta supaya negara tau negeri ini membutuhkan cinta.

Yah tetap saja, beribu definisi hadir mengenai cinta. Dan tak ada kalimat yang mampu menghentikannya. Tiada rasa pula yang mampu menjadikannya hilang. Tidak itu rasa sakit, rasa tercempakkan, rasa kehilangan, rasa dilecehkan. Tetap saja, bermula dari cinta. But love is not supposed to be hurt (Cahaya Perempuan WCC Bengkulu).

Aku ingat pertama kali memahami cinta, ketika aku membaca sebuah stiker di kantor Cahaya Perempuan. Lalu kutuliskan dalam status facebook ku dan kusimpan disini, di jantungku. Hari-hari berikutnya, setiap aku memasuki kantor itu, aku selalu membacanya terlebih dahulu. Kadangkala melupakan salamku. Karena aku mematri pelan-pelan saja mengenai cinta. Supaya jantungku tau, aku ada karena cinta. Supaya jantungku tau dan mengimpornya (meminjam istilah Valentina) ke seluruh tubuhku.

Yah, agar aku tau bahwa yang kulakukan semuanya demi cinta. Melihat dengan cinta, mendengar dengan cinta, merasai dengan cinta yang berada dalam jantung ini. Tanpa menyakiti siapapun. Karena cinta tidak pernah menyakiti. Dia memberi saja, dan meminta balasan. Bertujuan dan tau tempat berlabuh.

Ketika aku Jatuh Cinta

Untuk pertama kalinya aku merasakan. Ada deburan lain di hatiku beberapa tahun silam. Ada rasa ingin memilikinya. Rasa ingin mendekapnya, memegang tangannya. Lalu melewati hari-hari bersamanya. Kala itu, aku jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Kami hanya mengobrol saja. Membahas suatu buku. Dia mendengarkan celotehku, membuatkanku segelas teh hangat. Menghargai setiap kalimat nakalku. Selalu saja berulang, kuhitung mungkin hanya cukup dua minggu saja. Setelah itu, aku mengetahui bahwa dia tidak sendiri lagi. Ada seorang perempuan yang menunggunya. Ada seorang perempuan yang siap menemaninya hingga akhir hayatnya. Ada seorang perempuan yang dijanjikannya untuk diajaknya makan setiap malam. Ada seorang perempuan yang menyediakan waktunya untuk mengobrol di sore buta.

Ya, hanya dua minggu saja. Tidak cukup waktuku. Tidak sempat pula kusampaikan rasa cintaku. Tidak sempat pula kukatakan dua minggu sudah lebih dari cukup. Walau aku menangis pilu dan terluka. Terduduk di kamarku, dan dalam-dalam menghisap cigarettes-ku. Karena aku terluka dan tak pernah memulai. Aku hanya merasai saja. Tanpa mampu membawanya kembali, dengan bola mata indahku. Kukatakan jua kala itu, jangan pernah salahkan Tuhan memberiku mata dengan bola mata indah. Jangan pula berdoa tidak bertemu mata indahku kala menatapku. Karena tak kuizinkan matamu menjengkali setiap tubuhku.

Ya, cinta bukan saja karena aku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Bukan pula pemaksaan ingin memiliki.  Tapi cinta segumpal darah dan segumpal tanah (meminjam istilah Tuhannya Islam). Segumpal komitmen dan segumpal rasa. Bertujuan dan tau tempat berlabuh. Tau bagaimana akhirnya. Jika kau membaca ini wahai cinta pertamaku. Lupakanlah, karena rasa itu telah menemukan jawabannya. Menemukan tempat berlabuhnya. Tak tersisa lagi. Secuil pun. Ya, kau bukan laki-laki biasa saja.

Hingga aku tau tujuan aku pernah mencintainya.  Untuk menjadi manusia. (ge)

Bengkulu, 26 Juni 2011, 10:52 WIB

Suatu kali di bibir Pantai Panjang, ada bulan menyembul malu-malu menghadap ke depan. Aku hanya mampu membaca, tak lagi mampu merasakan. Laki-laki itu bergelayut mesra dengan buliran-buliran pasir. Juga bermandikan cahaya bintang yang gemerlap. Tak kuduga, kala itu rasa akan sampai jua. Pada persimpangan hati yang telah lelah.

Semua tak kan pernah mengerti. Apa yang kurasa. Bahkan sedikitpun tak ingin aku dimengerti. Tentang rasa manis, pahit, asin, asam bercampur baur. Biarlah aku merasakannya,begitu juga kau kau dan kau. Read the rest of this entry »

Aku hanya perempuan biasa saja. Seorang anak berusia belum genap dua belas tahun. Hidup di desa dan dengan kesederhanaan yang biasa saja pula. Ayahku tak pernah pulang. Jika toh pulang hanya meminta uang kepada ibuku. Katanya ibuku dulu waktu dinikahinya sudah tidak perawan lagi. Sehingga ayah meninggalkan ibuku dengan perempuan lain. Perempuan tersebut satu desa dengan kami, masih bisa dibilang sedarah dengan ibu.

Hidup kami berjalan seperti biasa. Kadang kurasa lebih baik ayah tak pulang saja. Tak membuat ibu menangis dan aku pilu mendengarnya. Kadangkala, jika uang yang diminta  ayah kurang, ayah akan memukul ibu tak segan-segan. Aku hanya bias mengintip dari dalam dan menangis pilu. Sakit sekali disini. Di jantung hati, tempat roh hidup berada. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Read the rest of this entry »

“Kau seperti orang pesakitan, selalu merasa disakiti dan ada yang melakukan kejahatan”

Seorang teman memberikan pesan begitu kepadaku. Aku marah awalnya. Bukankah begitu? Lalu aku baca ulang pesannya, berkali-kali hingga aku menemukan jawabannya.

Ya, begitulah katamu. Bukankah itu kenyataannya. Tak kah kau lihat, setiap tahunnya banyak anak perempuan dibunuh, anak perempuan dijual, anak perempuan di eksploitasi, diperkosa, dan disakiti. Dirampas hak-haknya dan tak dianggap keberadaannya.

Bukankah begitu? Bukankah begitu menjadi perempuan. Dianggap tidak ada, hanya sebagai pemanis dan pelengkap saja. Diperistri untuk menjadi pelayan dan pembantu. Bukankah begitu?

Bukankah begitu? Tak kau baca bagaimana anak-anak perempuan diperkosa oleh ayahnya, pamannya, kakeknya. Bukankah tak kau baca setiap hari ada perempuan menangis karena harus melacurkan dirinya?

Hanya itu jawabannya, jika kau tau. Jika disitu ada perempuan menderita, disitulah aku hidup. Disitulah aku merasa. Disitulah aku berada. Bukankah begitu?

Selasa, 14 Juni 2011

Bagaimana aku dapat mengenalnya, jika aku tak diizinkan untuk salah.

Si ungu selalu mengatakan bahwa aku biasa saja. Pemikiranku biasa saja, dan aku mungkin dapat dibilang hebat jika di luar dunia sana. Aku tersenyum saja. Bukankah itu lebih baik? Karena aku belum mampu menuliskan hal-hal yang dilakukan Kartini ataupun Gadis Arivia.

Ya, bagaimana aku bisa bilang jika aku hebat. Sedangkan aku tak mampu menulis dengan baik. Meraut di peruncing saja aku tak mampu. Bahkan aku mempelajarinya selama satu tahun. Sungguh waktu yang sangat lama. Lalu, si hitam. Dia juga mengatakan aku bodoh. Karena aku sering kali goyah.

Read the rest of this entry »

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics