Slideshow
Tags & Categories

Archive for May, 2011

Kepada : diriku sendiri

Aku tau ketika pertama kali membaca tulisanmu itu hanya untukku, tak pernah kau bagi. Ya, hanya untukku saja. Kau jauh mengenal diriku daripada aku. Aku ingin kembali ke sudut kayu itu, menemanimu menyeruput kopi hitam pekat. Dan kau membuatkanku secangkir susu hangat.

Aku sudah sunggguh tak peduli lagi, ini salah atau benar. Benar atau salah, menjadi masalah atau tidak. Ya, aku tau itu hanya untukku saja. Sungguh, sudah kutahan saja. Kupendam saja, bertahun-tahun silam. Tak pernah kubagi pada siapapun kecuali kepadamu. Waktu yang membicarakan kita saja. Mengapa kau timbulkan saja. Itu benar-benar untukku seperti dalam kiasanmu beberapa waktu lalu. Read the rest of this entry »

Sudah hampir satu tahun aku bekerja sebuah lembaga yang aku tidak pernah bermimpi bekerja di dunia itu. Mengurusi orang-orang yang bermasalah, tentunya dengan image yang juga belum terbangun.

Aku pernah belajar mengenai perempuan dan beberapa teori feminisme di bangku kuliah. Tentu saja bukan diajarkan oleh dosenku. Aku menemukannya di sebuah ruang perpustakaan. Aku langsung bertemu dengan Foucoult, Mary dan Gadis Arivia dalam satu buku. Aku lupa nama bukunya, salah satu kejelekanku yang sedikit-sedikit mulai kutinggalkan.

Waktu itu aku belum berkenalan dengan Kartini ataupun Cut Nyak Dien serta Dewi Sartika. Aku juga belum berkenalan dengan si ungu yang kuanggap sedikit keras kepala, seenaknya sendiri dan egois sekali sepertinya. Aku hanya mempelajari sedikit demi sedikit, menyakini yang ada dan melihatnya pada masa kini. Apakah memang itu betul. Seketika aku berkenalan dengan si ungu. Dan aku mulai menyukainya. Dia terlihat smart, modis dan tangguh. Dengan sebatang cigarettes ditangannya, diskusi yang kulancarkan tidak hanya sampai disitu saja. Read the rest of this entry »

Dua hari aku ditinggal ibu. Ibu akhir-akhir ini sering pergi. Aku tak tau kemana ibu pergi. Persediaan makanan di kulkas memang cukup untuk seminggu. Aku hanya anak tunggal dirumah ini. Ayahku sudah lebih 4 tahun meninggal dunia. Aku juga tak tau bagaimana ayah sebenarnya. Karena sedari kecil aku sering ditinggal ayah. Kadang ayah tak pulang selama tiga tahun. Jika sedang beruntung ayah akan pulang setiap tahun pada waktu lebaran.

Ayah seorang pekerja di sebuah kapal pesiar. Aku tak tau apa jabatannya, yang jelas ketika pulang ayah selalu membawakanku oleh-oleh yang banyak. Juga memberi ibu uang yang banyak. Secara ekonomi kami tidak kekurangan. Belum genap satu tahun kami juga pindah ke rumah yang baru. Sebuah rumah yang dapat dibilang cukup besar. Tiga kamar utama dan dua kamar di belakang yang diperuntukkan untuk Mbak Tina dan Mas Budi. Rumah yang sedari kecil aku tunggu, sekarang dikontrakan kepada saudara dekat ibu.

Kamarku lumayan luas, dengan fasilitas kamar mandi di dalamnya. Ber-AC, TV, computer hingga tempat tidur double dan bed cover yang selalu wangi tiap hari. Kamarku juga didekorasi dengan nuansa hijau, warna kesukaanku. Di sudut kiri dihias dengan warna kuning sedikit dan sebuah cermin besar. Juga lemari yang cukup besar untuk koleksi pakaianku. Ibu selalu marah jika aku menggunakan pakaian yang lusuh. Sedangkan walaupun aku sedikit modis tapi aku sangat menyukai pakaian yang sederhana saja. Read the rest of this entry »

Aku hanya perempuan biasa saja ibu.

Ibu, bukankah tadi siang kau bertanya mengapa aku mau memegang tanganmu yang kotor? Ibu, bukankah kulihat kau mengganti pakaianmu ketika aku datang. Lalu menyediakanku sebuah kursi plastik untuk alasku duduk. Ibu, bukankah kau bertanya dengan tatapan mata polos untuk apa semua pertanyaanku tadi?

Ibu, bagaimana aku menjawabnya tadi. Bagaimana aku mampu mengungkapkan dengan lugas. Itu biasa saja ibu. Bukankah tanganku juga berpeluh kuman dan berpeluh keringat. Aku hanya perempuan biasa saja.

Ibu, bukankah tak usah kau ganti pakaianmu. Karena pakaianku juga berpeluh keringat. Ibu, bagaimana aku menyampaikan padamu bahwa ini semua untuk kita. Walaupun sedikitpun belum mengubah dan derajat kita, sang empu.

Ibu tak usah kau pikirkan bagaimana aku duduk. Aku juga berasal dari tanah. Aku juga berasal dari segumpal darah. Dan akan kembali pula ke tanah. Aku bukan dari tulang rusuk siapapun.

Ibu bagaimana aku menjelaskan bahwa aku menyukai mata polosmu hari ini. Bagaimana aku mengatakan tentang hari-hari yang begitu berat hari ini. Sedang aku tau, kau berpeluh keringat menjala matahari dan mengekor pada hujan di tanah. Pada tanah yang tak pernah kau miliki, pada tanah yang tak pernah kau rasakan. Karena tanah hanya memberi untuk hari itu saja.

Ibu bagaimana aku ingin bicara padamu, sedang aku tau rasamu berkecamuk saja. Letih, peluh, harapan menjadi satu dan tumpah ruah di matamu. Bagaimana aku mampu berkata jujur dan berbohong jika saat ini aku ingin di dengarkan.

Ibu, tak usah kau sediakan aku makan atau apapun. Hari ini, setatap mata polosmu telah membuat aku kokoh lebih tinggi. Membuat aku mampu melupakan peluh dan rasa kalut menyergap. Walau tetap saja kau begitu. Tanpa ada perubahan dalam hidupmu Ibu.

Untuk perempuan-perempuan responden Sakernas. Sedikit meluangkan waktu untuk Negara. Tentu saja untukku juga. Namun, belum jua kita rasakan sedikit kebebasan di tanah kita.

Catatan : Rabu, 18 Mei 2011

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics