Slideshow
Tags & Categories

Archive for March, 2011

Disampingku berderet anak-anak laki-laki yang kerajingan dengan game online. Rata-rata berusia 10 – 12 tahun. Mereka sudah duduk berjam-jam. Mungkin saja ada yang duduk sejak 3 atau 4 jam yang lalu. Sambil menggunakan headset dan memandangi layar komputer serta berteriak keras dan mengganggu pengguna internet lainnya mereka juga tak segan-segan meneriakkan kalimat yang sering dianggap kotor dan tak layak. Seperti anjing, babi dan beberapa nama penghuni kebun binatang lainnya. Tidak terkecuali hewan yang imut, seperti kura-kura, kucing, panda, pinguin ataupun si ikan baik, lumba-lumba. Mereka saling bersautan berteriak semua pengguni binatang tadi, dan ingin bekerjasama mememangkan permainan. Kulihat juga tak sedikit anak yang menghisap rokok putih berfilter. Tak segan-segan mereka menghisap dari satu putung rokok ke putung lainnya.

Fenomena ini saat ini memang bukan sekedar fenomena yang terjadi datu atau dua saja. Ataupun menjadi fenomena luar biasa. Karena pada kenyataannya anak-anak saat ini berteman akrab dengan tekhnologi dan tembakau. Entah secara sembunyi-bunyi ataupun secara terang-terangan, yang jelas mereka di bawah 17 tahun. Ketika berbicara mengenai anak, kita akan berbecara mengenai manusia yang berusia 18 tahun kebawah. Baik laki-laki ataupun perempuan dan androgyn.

Fenomena tekhnologi bukanlah sesuatu yangd apat disembunyikan kepada anak. Karena pada dasarnya anak mempunyai keingintahuan yang sangat tinggi. Tidak mengenalkan anak pada tekhnologi juga bukanlah sebuah solusi. Namun, keterkaitan orang dewasa, tempat usaha dan anak-anak menjadi situasi yang membutuhkan kait-mengait yang sangat penting. Sehingga dibutuhkan pemahaman yang sama mengenai anak.

Dulu saya ingat sekali, sewaktu kecil permainan tradisonal menjadi permainan yang sangat favorit. Tiada hari tanpa bermain. Mulai dari petak umpet, kelereng, yeye, palak babi, kericik, cak ingkling, baju-bajuan, benteng, hingga main masak-masakan, dan berbagai jenis permainan lainnya. Sungguh tak terlupa hari-hari tersebut. Ketika tergelak bersama, menangis karena jatuh ataupun kena marah oranh tua karena pulang kerumah dengan kostum kudal dan bau matahari yang menyengat.

Fenomena ini mengingatkan saya, bahwa anak-anak bukanlah fasilitas untuk kita membalas ketidakmampuan yang dahulu tidak pernah kita dapatkan. Anak-anak juga bukan fasilitas pencarijatian diri kita untuk mengatakan bahwa kita canggih ataupun mampu membahagiakan mereka. Tetap butuh pengawasan dan keberanian untuk berkata kita kolot dan menanamkan nilai-nilai mengghargai yang sangat kuat. Bukan hanya dapat ditemukan dalam outbond yang direncanakan. Tetapi dapat tercermin dari permainan-permainan tradisional yang mulai punah. Serasa anak-anak, saya ingin merengek dibelikan alat menggambar. Saya ingin menggambar lagi, walau hanya seuntai benang kusut.

Kita ini masyarakat dulu, sampai sekarang masyarakat tetap masyarakat dulu.

Ketika aku memasuki pekan aku berjalan dengan sumingrah. Sengaja kugunakan pakaian yang sedikit nyaman, dan menyerap keringat. Bersepatu hitam kesayangan, dan menenteng tas ransel berisi beberapa dokumen aku melenggang bahagia. Kubiarkan rambut ikal blondeku tergurai dan menjuntai mengganggu sedikit mukaku yang memerah. Kubiarkan rambut ikal blondeku ikut merasakan teriknya sang surya serta dibajiri keringat asam yang melumuri hari ini, Kamis, ketika pekan datang. Ketika masyarakat Kecamatan Pino mulai berbondong-bondong meluangkan waktu dan meliburkan diri dari semua aktifitasnya. Yah, Kamis, semanis namanya. Read the rest of this entry »

Janda. Menjadi momok yang sangat menakutkan untuk perempuan dan lingkungannya. Janda (baca : perempuan kepala rumah tangga, (pekka)) sering diidentikan dengan asumsi-asumsi yang tidak realistis dan miring. Mulai dari istilah janda kembang, penggoda hingga perusak rumah tangga. Asumsi-asumsi ini timbul dan berkembang di masyarakat hingga melekat di benak masyarakat.

Pekka seolah-olah menjadi ancaman serius bagi rumah tangga dan lingkungan. Permasalahan ini seringkali dianggap sebagai suatu realitas yang biasa saja di masyarakat. Hingga seringkali mengukuhkan citra serta menyamaratakan status pekka dalam kehidupan masyarakat.

Asumsi ini seringkali berbalik dengan fakta yang ada di lapangan. Pekka seringkali menjadi lebih kokoh dan kuat dibandingkan dengan laki-laki duda.
Banyak pekka yang mampu menghidupi keluarganya dengan sejahtera. Namun juga tidak sedikit pekka yang harus kewalahan jika pencari nafkah telah tiada. Seperti juga yang kutemui di desa Batu Bandung, Kecamatan Pino Kabupaten Bengkulu Selatan.

Beberapa pekka yang kutemui mengaku sangat tidak siap ketika harus kehilangan sumber pencari nafkah. Namun perjuangan hidup yang begitu hebat menjadikan mereka tetap berjuang di tengah hujatan dan sinisan mitos yang harus melingkupinya.

Asumsi penggoda dan perusak rumah tangga seringkali menjadi momok yang menakutkan. Sehingga akhirnya dapat meruntuhkan indepedensinya sebagai seorang perempuan serta sebagai pribadi yang seutuhnya.

Asumsi-asumsi ini semakin melafalkan bahwa pekka tidak berhak atas kewajaran hidup yang disandangnya. Misalnya, ketika pekka mapan secara ekonomi, masyarakat akan menduga bahwa pekka bekerja yang dianggap tidak baik oleh masyarakat. Hal ini mengakibatkan kehidupan pribadi pekka dapat diobrak abrik oleh masyarakat dengan seenaknya saja.

Bangunan yang kokoh ini, seharusnya semakin lama semakin runtuh dari tahta nya. Karena pada dasarnya pekka juga manusia biasa yang sewajarnya. Beberapa pemikiran :

  1. Konsep laki-laki pencari nafkah merupakan konsep yang cenderung rentan mendiskriminasi. Karena pada dasarnya, perempuan dan laki-laki mempunyai tugas yang sama dalam kehidupan secara ekonomi. Sehingga ketika perempuan harus kehilangan laki-laki ataupun sebaliknya, tidak ada stigma yang mendeskriditkan suatu kelompok tertentu
  2. Pekka  merupakan individu lajang yang juga berhak menentukan jalan hidupnya atas dasar kebebasan hak pribadi. Sehingga, mitos-mitos miring seharusnya tidak melekat didirinya, karena pada dasarnya pekka bukanlah ancaman.
  3. Jika ada asumsi pekka penggoda, perlu kita telisik lebih lanjut lagi. apakah pekka yang menggoda ataukah mainset yang membuat kita berasumsi negatif?

Asumsi-asumsi yang berada di masayarakat tanpa menelisik lebih lanjut, bukan hanya merugikan satu pihak. Namun banyak pihak, bahkan secara turun temurun. Tidak ada yang ingin menjadi Pekka, tapi setiap kemungkinan selalu hadir. Merubah pola pikir dari yang terkecil, sebenarnya kita sudah membantu merubah mainset yang salah. Dimulai dari kita, menghargai pekka dengan lebih dalam. Mereka mampu hidup dan memberdayakan diri juga.

Konflik agama akhir-akhir ini marak menjadi sorotan publik. Aksi-aksi anarkis menjadi akhir penyelesaian konflik agama. Tidak sedikit menimbulkan korban jiwa, harta benda hingga rusaknya tatanan nilai yang telah terbangun kokoh. Semangat kebenaran harus diwarnai dengan aksi pemusnahan suatu kaum dengan aksi pembakaran, pembantaian dan pengucilan dari masyarakat. Naifnya, aksi anarkis tersebut menjadi pemicu lahirnya aksi-aksi serupa di daerah lain. Seolah-olah menjadi semangat nasionalisme untuk menyeragamkan suatu kaum.

Penyelesaian kasus Ahmadiyah hingga saat ini masih menimbulkan tanda tanya besar. Pemerintah pusat belum mengambil keputusan final, namun beberapa provinsi telah mengeluarkan kebijakan yang menyudutkan Ahmadiyah. Sehingga stigma hadir ke pengikutnya. Bukan hanya Ahmadiyah, beberapa tahun yang lalu, agama Lia Eden juga bernasib serupa, hingga dibubarkan oleh pemerintah.

Ini kasus nyata yang terlihat. Belum lagi agama-agama asli Indonesia yang harus kehilangan eksistensinya di negeri sendiri. Kita sebut saja, kejawen, karawitan dan berbagai agama budaya lainnya. Agama tersebut harus kehilangan jati dirinya di rumah sendiri. Hingga pengikutnya harus dengan sembunyi-sembunyi mengamalkan ajaran agamanya bahkan tidak sedikit mencampuradukkan ajarannya. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan jaminan pengakuan oleh pemerintah, agar agama budaya yang diyakininya tidak dianggap sesat.

Pengaturan pengakuan atas agama menjadi turun temurun dan dianggap sebagai aliran sesat atau tidak sesat. Hanya lima agama yang diakui oleh Negara, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha. Ditambah lagi satu agama Konghucu yang diakui baru 6 tahun belakangan ini. Pengakuan atas agama tersebut dilegalkan oleh pemerintah. Sehingga agama lainnya, diluar keenam agama yang diakui oleh pemerintah dianggap sesat.

Ada beberapa hal yang menjadi pemikiran :

  • Sistem penyeragaman agama tersebut membuat pemaksaan secara latent oleh pemerintah kepada masyarakatnya. Sehingga Pemerintah baru akan mengakui penduduknya jika pilihan agama disebutkan oleh penduduknya. Ini terlihat dari pembuatan KTP (kartu tanda penduduk), yang tidak dapat menuliskan agama asli dari sang empunya KTP. Sehingga muncullah beberapa istilah “Islam KTP”.
  • Pengakuan atas agama sesat atau tidak sesat menjadi polemic yang sangat latent. Agama sebagai keyakinan masing-masing individu seharusnya tidak menjadi polemic di masyarakat. Karena agama menyangkut kebebasan individu untuk memilih keyakinan mana yang diyakini. Sebagai pelindung masyarakat, pemerintah tidak mempunyai kewenangan untuk mengintervensi kebebasan hak individu. Pemerintah hanya berkewajiban untuk menghargai pilihan-pilihan individu atas kebebasan keyakinannya.
  • Indonesia, sebagai Negara pluralisme, pemerintah sejatinya harus memahami bahwa keberagaman agama yang ada merupakan bagian dari keberagaman itu sendiri, yang berarti konflik SARA bukan diselesaikan dengan pembubaran suatu agama tertentu. Jika itu dilakukan, maka Negara telah menentang konsep pluralisme.
  • Pemusnahan suatu golongan dengan aksi anarkis merupakan tindakan kriminal. Hingga dapat menuju ke tindakan luas lainnya seperti genosida. Sehingga aksi anarkis-lah yang seharusnya dihentikan oleh pemerintah dengan segera.

Jika pemerintah memutuskan Ahmadiyah dibubarkan. Berarti Negara telah benar-benar mencampuri ranah privat. Konflik-konflik latent anarkis juga akan cenderung muncul. Negara ini sudah cenderung aneh.

Fertilitas dan Semua Permasalahannya

Dalam dokumen Susenas 2011, aku mulai shock melihat kolom V.E  dalam dokumen KOR. Kulihat tulisan “Fertilitas dan KB untuk Wanita Berumur 10 Tahun Keatas, Berstatus Cerai Hidup, atau Cerai Mati”. Sungguh aneh sekali dokumen ini. Beberapa hal yang membuatnya aneh : Read the rest of this entry »

Sponsors
ad amenroom
Chatt with Me
Blog Statistics