Slideshow
Tags & Categories

Dear Bapak,

Akhirnya tiba juga saatnya aku ingin berpamitan padamu. Pada saatnya aku harus menjaga perasaan mama. Manusia separuh dewa yang telah membuat aku menjadi begitu kuat, yang telah membuat aku mengenal siapa aku dan membuat aky mengerti apa tujuan hidupku. Maaf, sungguh aku hanya bisa menuliskannya disini saja. Tak mampu aku mengatakannya padamu, apalagi pada dunia. Hanya tangisan pilu dalam hati terdalam yang tak mampu aku luapkan.

Hanya tulisan ini saja. Ketika aku tak mengenalmu, ataupun merasakan panggilan sayang untukmu. Atau sekedar inginku dari dulu, tanyakan apakah aku sudah makan hari ini. Cukup itu saja, dan itu sudah dari lebih inginku. Aku menulis ini dengan berderai air mata. Ingin rasanya mengubah waktu dan kembali menjadi kecil serta menghapus semua mimpi-mimpi yang membuat aku ketakutan akan gelap. Ingin segera keluar rasanya dari persembunyian ini, ketika aku hanya berkaos biru dan mama memberi pilihan kepada kami. Kala itu aku terlalu kecil, tapi semua lengkap aku ingat hingga hari ini. Aku memilih tinggal bersama manusia separuh dewa dan sejak saat itu aku menepis semua mimpi tentangmu.

Bapak, mungkin dua bulan lagi aku akan melakukan perhelatan besar dalam hidupku. Kulawan semua trauma, kulawan semuanya dengan menjadi lebih dewasa. Mungkin saja, kau tak akan sempat sekedar memarahiku karena aku diapeli terlalu malam. Ataupun kau tak akan sempat menungguiku tidur lagi. Ataupun kau tak akan sempat menelisik orang yang kupilih. Tapi sungguh, aku tetap anakmu. Tak ada maksud untuk menjadi durhaka, ataupun mengabaikanmu. Ini masalah rasa, masalah hati yang ternyata tak bisa kutangani sendiri.

Aku sudah terbiasa memutuskan sendiri, terbiasa menjadi biasa saja. Oh Tuhan, semoga aku tidak salah.

Ketika merindu dan mencinta adalah dua hal yang tak dapat dipisah. Lalu bagaimana aku bisa mengungkapkannya jika kau tak ada disini? Jika kau pergi meninggalkanku. Apakah hanya cukup dengan isyarat saja?

Aku gelisah selama perjalanan pulang, rasanya penerbangan selama satu jam lama sekali. Aku bingung sekali dengan kejadian tadi. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang melayang-layang dibenakku. Aku kebingungan. Kemana lagi aku mencari ibu. Oh, Tuhan, apakah ibu sehat? Apakah ibu sedang dalam keadaan baik? Ataukah ibu sedang kesulitan? Bagaimana hidup ibu sekarang? Apakah hidup ibu aman, nyaman?

Aku memikirkan hidup ibu terlunta-lunta, ibu kesulitan makan, ibu sakit. Ah, semua membayangi pikiranku. Kebingungan-kebingungan tiba yang ada. Ibu terbiasa aktifitasnya terjadwal dari pagi hingga malam. Lalu apakah ibu masih melakukan itu? Read the rest of this entry »

Aku menuju bandara. Bayu juga menuju bandara untuk pulang ke daerahnya. Banyak peer yang ingin aku lakukan setelah pulang ini. Tentu saja, aku merindukan ibu. Ayah juga akan cerewet jika aku tidak akan tepat waktu pulang. Kemarin ayah sudah beberapa kali menelponku, tapi aku tak menanggkatnya, karena aku takut ayah pasti berang karena aku telah telat pulang satu hari. Dari jadwal yang sudah aku janjikan sendiri. Kelahiran Alea kecil yang membuat penundaan kepulangan kemarin. Read the rest of this entry »

Aku tidur dipangkuan Bayu selama semalaman. Bayu menyelimutiku dengan jaketnya. Jujur saja, aku merasa nyaman sekali kali ini. Entah karena ada bayangan Sandi pula mulai menghampiri. Tapi ini real seoarang Bayu.

Aku terbangun kala azan subuh mulai berkumandang. Aku membangunkan Bayu pula, dan mengajaknya ke mushola. Sepertinya kakinya sedikit pegal karena semalaman harus menopang kepalaku. Kulihat Robert tidur di sofa samping Sarah. Sarah masih terlelap, speertinya Sarah diberi obat tidur oleh dokter agar dia mampu istirahat dengan total pasca tubuhnya melemah lalu. Read the rest of this entry »

Batik Indonesia is our fashion. Great, slogan itu harus kita galakkan sedari dini. Sebagai suatu warisan budaya yang tak ternilai harganya, keunikan batik bukan saja menciptakan sebuah taste tersendiri, melainkan juga memiliki nilai nasionalisme yang sangat kuat.

Menggunakan batik ke acara resmi ataupun ke kantor sudah digalakkan dan menjadi budaya sendiri. Dari anak sekolah hingga pegawai kantoran, ataupun untuk acara yang semi formal, batik telah menjadi tempat tersendiri. Motif yang beragam, garis potongan baju yang juga sudah bervariasi membuat batik menjadi pilihan alternatif yang menarik.

Saat ini pilihan batik untuk kegiatan keseharianpun sudah sangat beragam. Dari blouse, kaos, kemeja, rok hingga berbagai aksesoris cantik yang saat ini menggunakan motif batik. Benar-benar batik is our fashion.

Harga batik juga sangat bersaing dimasyarakat. Dari atasan seharga dua puluh lima ribu rupiah, hingga ratusan bahkan jutaan rupiah tersedia. Tentu dengan kualitas pula yang beragam. Batik dibuat dengan tiga macam cara. Cara tersebut menentukan pula kualitas dan harga yang bervariasi.

Batik klasik, atau yang sering disebut batik tulis menempati urutan pertama pada kualitas batik yang paling pertama. Pengerjaannya dengan pewarnaan alam dan ditulis dengan tangan menjadi keunikan yang menghasilkan kualitas yang sangat prima. Pengerjaannya yang sedikit rumit, tak akan bisa digantikan dengan hasil yang sangat memuaskan. Mengenakannya pula tentu akan sangat terlihat istimewa sekali.

Batik lukis, batik klasik yang pengerjaannya sama seperti batik-batik lainnya, menggunakan pewarnaan, canthing, kain. Namun, motif batik yang terimajinasi dalam lukisan membuat batik lukis menjadi batik yang kuat dalam motif dan design gambar.

Batik cap, batik yang pengerjaannya menggunakan cap untuk memudahkan pengerjaannya. Kualitasnya dianggap menengah dan batik ini dianggap semi modern. Walau tidak seistimewa batik tulis, batik cap menjadi favorit karena harganya mudah dijangkau dan kualitasnya yang lumayan baik.

Batik printing, batik ini saat ini banyak tersebar disemua tempat. Batik ini pengerjaannya menggunakan alat yang menggunakan motif batik. Walaupun kualitasnya dianggap minim. Namun, pencinta batik banyak yang menggunakan batik jenis ini karena harganya yang super terjangkau.

Berbagai kelebihan dan kekurangan batik yang ada, namun namanya tetap satu yaitu batik. Hal yang paling terpenting dari batik adalah bagaimana kita mempopulerkan batik menjadi batik is our fashion dengan menggunakan batik buatan masyarakat Indonesia.

Kenyataannya, barang-barang gempuran import yang lebih murah dan bervariasi membanjiri pasar di Indonesia. Menggalakkan Batik Indonesia menjadi sebuah ikon, juga harus dibarengi dengan kecintaan kita terhadap kualitas dalam negeri.

Kita harus peka dan menjunjung tinggi nilai penghargaan terhadap hasil karya masyarakat lokal. Kita harus bersungguh hati mencintai hasil karya masyarakat lokal dengan cara membeli batik dan menggunakan batik buatan masyarakat Indonesia asli.

Dengan begitu, kita akan bangga mengatakan bahwa ‘Batik is Our Fashion‘. Menunjukkan pada dunia, bahwa kita berkarakter kuat dan punya pilihan

‘Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Batik Indonesia, kerja sama Blogfam dan www.BatikIndonesia.com

‘Wanita’, VoA menggunakan pilihan kata ‘wanita’ dalam artikel ‘PBB Desak Afghanistan Tegakkan UU Perlindungan Wanita’. Duh, ada apa dengan VoA?

Saya memilihkan judul itu, karena bagi saya itu hal sepele namun berdampak sangat panjang. Sangat excited sekali melihat media sebesar VoA menuliskan isu perempuan dan berbagai keberhasilan perempuan dengan isu yang beragam. Dari isu kekerasan dalam tulisan ‘Pemerintah Diminta Serius Tangani Kasus Kekerasan terhadap Perempuan’ hingga kilasan internasional seperti dalam tulisan ‘Dunia Didesak Beri Perhatian pada Nasib Perempuan di Perdesaan’.

Nah, coba perhatikan tulisan-tulisan ini, isinya sepertinya tidak ada masalah. Namun pemilihan kata ‘wanita’ dan ‘pria’ sangat mengganggu sepertinya. Kadang ada penggunaan kata ‘wanita’, kadang digunakan pula kata ‘perempuan’ dalam satu tulisan.

Tidak ada yang salah dengan pemilihan kata, namun secara historis kata ‘wanita’ mempunyai arti yang sangat panjang. Dalam Semiotika Roland Barthes, disebutkan bahwa ada dua tahap signifikasi Barthes. Pertama pada tataran denotatif dan kedua pada tataran konotatif.

Nah, disini menariknya, pada tataran denotasi, semua orang akan sepakat bahwa manusia yang mempunyai jenis kelamin perempuan sering juga disebut wanita. Manusia jenis kelamin ini, bercirikan antara lain mempunyai vagina, punya rahim, punya payudara.

Pada tataran kedua, yaitu konotasi, kita akan bicara mengenai interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Tanda ini bekerja melalui mitos.

Seringkali kita mendengar bahwa mitos perempuan dengan beberapa hal. Pertama, mitos wanita, harta dan tahta. Kedua, wanita adalah sumur, dapur, kasur. Kata ‘wanita’, dalam kebudayaan Jawa, sering diistilahkan dengan ‘wani ditata’, yang artinya ‘bisa diatur’. Konotasi dari mitos ini membuat kata wanita menjadi kurang sedap didengar. Bukan hanya kurang sedap didengar, melainkan pula kata ‘wanita’ ini sangat dekat dengan pelabelan diskriminasi.

Kedua mitos ini sangat dekat dengan prasangka yang akhirnya menimbulkan diskriminasi dan berujung pada kekerasan terhadap perempuan. Nah, mengapa  ’perempuan’ menjadi pilihan. Kata perempuan berasal dari kata ‘empu’, yang berarti dihargai, dimulaikan. Pemilihan kata ini menjadi sangat penting, karena ini bagian dari refleksi diri dari sebuah perjuangan untuk kesetaraan.

Jika sudah begini, lantas VoA akan memilih kata yang mana?

Salam

 

‘itukan kodrat perempuan, memasak, mencuci dan melayani suami’

Glek. Kalimat ini harus kita telan mentah-mentah, dan seringkali didengar. Nasehat-nasehat dan petuah-petuah mengenai tugas perempuan juga kita dengan dari orang tua. Ini nih, anak perempuan harus menjadi penurut dan tidak bertingkah laku aneh-aneh. Kalo bertingkah laku aneh-aneh, sering disebut ‘perempuan nakal’. Hmhm, saya tergelitik menuliskan sebenarnya apa sih itu kodrat dan apa itu gender. Sepertinya, dua perbedaan yang paling dasar inilah yang harus dipahami.

Kodrat itu sebuah pemberian Tuhan, dan tidak dapat dipertukarkan. Lah, memasak mencuci bisa ditukar kan? Berarti, thats right pekerjaan domestik bukan kodrat. Kita harus sepakat dulu dilevel ini. Nah, contoh dari kodrat ini seperti, perempuan punya vagina, rahim, bisa menyusui. Kalau laki-laki, punya testosteron, sperma, jakun dll. So, masih berpikir pekerjaan domestik itu hanya urusan perempuan?

Apa sih Gender? Urusan perempuan, gender itu?

Pertanyaan dasar itu, sering muncul dan membuat orang salah kaprah. Gender adalah peran sosial yang diberikan masyarakat untuk perempuan dan laki-laki. Nah, perempuan sering dilekatkan dengan pekerjaan domestik sedangkan laki-laki seringkali dilekatkan dengan pekerja produktif. Perempuan dengan sifat feminin, laki-laki dengan sifat maskulin. Perempuan menggunakan hati sedangkan laki-laki menggunakan logika. Perempuan malu-malu, laki-laki pemberani. Nih, disini nih masalahnya timbul, terjadinya ‘bias gender’. Karena pelabelan peran tersebut, akhirnya timbullah penguasaan atas satu pihak.

Misalnya, laki-laki tidak mau bekerja di sektor domestik, perempuan dianggap sebagai kelompok kelas dua, pemberian upah lebih rendah terhadap perempuan, perkosaan, KDRT, trafficking, ketidaksetaraan pendidikan, kesempatan pendidikan dan karier, dan masih banyak lagi persoalan-persoalan yang terjadi. Serta tidak henti-hentinya, hingga persoalan rok mini di DPR.

Tujuan dari perjuangan perempuan, sederhana sekali namun memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Kesempatan yang sama, hak yang dipenuhi, rasa nyaman, bebas dari kekerasan merupakan keinginan perempuan.

Masih berfikir soal perempuan itu hanya urusan perempuan saja? Itu jelas, pemikiran yang salah. Karena itu permasalahan bersama dan harus diperjuangkan. Memperjuangkannya memang sulit sekali, tapi saya yakin perempuan-perempuan diseluruh dunia ini, akan terus menyuarakan itu.

Selamat Hari Perempuan Internasional

untuk 8 Maret 2012

Banyak sekali perempuan saat ini yang dapat menikmati kehidupan karir, pribadi, bahkan seksualnya. Walau dengung kesetaraan masih memerlukan perjuangan panjang karena lebih banyak perempuan belum dapat menikmati kehidupannya.

Bagi kebanyakan orang, menikah merupakan sebuah kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Namun, bagi banyak sebagian perempuan menikah merupakan penjara Guantanamo yang siap mengukung, menyiksa dan menyodomi orang-orang didalam penjara tersebut. Kengerian berada didalam jeruji besinya dan menjadi sebuah momok yang menakutkan untuk memulai menjalaninya.

Betapa tidak, kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), saat ini merebak. Bahkan yang lebih parahnya, seringkali bukan hanya perempuan sebagai istri yang menjadi korban, melainkan anak yang pula menjadi korban. Kasus-kasus incest, narkoba, kenakalan remaja yang merebak saat ini, seringkali banyak diawali penidasan dan ketidaksetaraan peran dalam rumah tangga.

Suka tidak suka, budaya kita mentasbihkan pernikahan sebagai sebuah kebutuhan. Pernikahan dijadikan sebuah alat untuk melegalkan sebuah relasi yang sangat manusiawi. Padahal seringkali, pernikahan malah tidak memanusiakan manusia. Bukan karena lembaga yang disebut ‘pernikahan’, melainkan karena pembagian peranan dalam lembaga tersebut yang tidak proporsional.

Peran istri, suami, anak menjadi pemain utama dalam lembaga yang disebut ‘pernikahan’. Masing-masing memiliki peranan yang signifikan dan saling mendukung. Tentunya dengan dasar kesepakatan-kesepatakan yang dibangun bersama. Kita saat ini mengenal dua peranan dalam kehidupan berumah tangga, yaitu peranan domestik dan peranan produktif. Masyarakat pada umumnya membagi peranan ini berdasarkan jenis kelaminnya. Perempuan selalu dilekatkan dengan peranan domestik. Sedangkan laki-laki dilekatkan dengan peranan produktif.

Pekerjaan-pekerjaan seperti mencuci, mengurus anak, memasak selalu dilekatkan pada kegiatan perempuan. Sedangkan pekerjaan mencari nafkah, memutuskan suatu hal dalam kehidupan berumah tangga, laki-laki diberikan andil yang cukup besar. Pembagian peran tersebut seringkali dijadikan ‘kodrat’ dan harus dilakukan oleh peranan jenis kelamin masing-masing dalam kehidupan berumah tangga.

Tidak ada yang salah dengan pembagian peran tersebut pada dasarnya. Namun, pembagian peran tersebut dalam masyarakat sangat rentan sekali menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya, tidak adanya pelibatan perempuan dalam keputusan strategis mengenai kehidupan rumah tangga. Hal ini menyebabkan hanya kepentingan sepihak saja yang menjadi dasar sebuah keputusan.

Kedua, pembagian tugas yang kurang adil dan menempatkan perempuan tidak pada posisi yang strategis. Ketiga, perempuan yang juga mengambil peranan dalam mencari nafkah akhirnya mengerjakan peranan ganda dalam rumah tangga.

Wonder Women dan Label Stereotip

Jika dibilang sebagai wonder women, sepertinya perempuan yang mempunyai peranan ganda memang seorang yang wonder women. Betapa tidak, perempuan diharuskan mencari nafkah dan mengerjakan pekerjaan domestik sekaligus. Peranan yang sangat besar itu seringkali hanya dianggap sebelah mata oleh masyarakat, dan menjadi sebuah takdir menjadi seorang perempuan.

‘mungkin istri saya tidak tidur nyenyak setiap hari karena pekerjaannya yang sangat banyak. Bekerja di kantor, memasak, mencuci, menjaga anak dan bergadang setiap malam karena harus menyusui’, (Seorang laki-laki bercerita kepada saya).

Ya, itu mungkin hanya sebagian kecil dari yang dapat laki-laki tersebut jabarkan. Belum lagi urusan-urusan domestik rutinan yang harus dikelola oleh perempuan sebagai istri. Beban ganda pasti melingkupi kehidupan perempuan. Peranan tersebut, jika tidak dapat dilakukan oleh perempuan membuat perempuan dianggap sebagai perempuan yang tidak becus mengurusi rumah tangga.

Satu lagi yang menjadi tuntutan masyarakat terhadap perempuan. Perempuan ditasbihkan menjaga laki-laki agar sang laki-laki tidak berpaling ke perempuan lain. Menjaga disini sering diartikan sebagai ‘service’, dari sumur, dapur, kasur.

‘wajar saja suaminya selingkuh, servicenya tidak memuaskan sih’

‘wajar saja suaminya melirik perempuan yang lain, dirumah disuguhkan daster terus’.

Kalimat ini mungkin saja sudah sering kita dengar sehari-hari di lingkungan masyarakat. Sangat menyakitkan bukan tentunya, mendengarnya saja, rasanya bulu kuduk ini berdiri. Apalagi menjalankan tuntutan yang terdengar gila tersebut. Kalimat ‘service’, yang berarti pelayanan, pada dasarnya merupakan sebuah penghambaan paling dasar, tanpa meminta balasan apapun.

Pertanyaan dasarnya mudah sekali, apakah dalam rumah tangga tidak ada simbiosis mutualisme? Apakah perempuan sebagai istri merupakan pelayan? Peran perempuan sebagai istri tentunya tidak dapat dituntut ini itu begitu saja, karena bangunan pernikahan bukan saja dibangun oleh satu pihak saja, melainkan kedua pihak.

Wonder women, ekspektasi para perempuan untuk hebat. Tapi tentu saja bukan hebat atas pelanggengan budaya patriarki. Melainkan bekarya dan menghasilkan sesuatu hal untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Selamat Hari Perempuan Internasional

‘daya tahan tubuh Sarah melemah Le, Alea juga gak mau minum susu formula. Dia juga menolak disusui ibu lain. Sepertinya mereka terikat batin’, ujar Robert cemas.

Bayu masih memegang tanganku hingga saat kami tiba di rumah sakit. Robert melihat pegangan tangan itu. Rasanya ingin kulepas, tapi tubuh ini letih sekali. Aku biarkan Bayu kali ini mengatur tanganku dan menjatuhkanku dalam perhatiannya.

‘sudah mencari donor? Kami sudah menghubungi teman-teman untuk mencarikan donor dan teman-teman langsung ke PMI sekarang juga’, ujar Bayu.

‘iya, kita harus berjaga-jaga. Sepertinya Sarah terlalu letih’, ujar Robert.

‘dimana Alea?’, aku ingin segera mengendong bayi itu.

‘dia masih dibox Le’

Aku bergegas ketempat box bayi. Kulihat para perawat masih mencoba memasukkan susu formula kedalam mulutnya, tapi kulihat susu itu keluar lagi dari mulut Alea.

‘bolehkah aku menggendongnya?”, ujarku.

‘dari tadi sore, dia sepertinya merajuk mbak. Tidak ada masalah dengan kesehatannya, tapi jika dia begini terus, dia akan sakit juga’, ujar perawat.

‘sepertinya dia merajuk. saya heran mbak, bayi sekecil ini kok bisa merajuk’, tambah perawat lagi.

‘sini nak sama ibu’, aku mengangkat tubuh mungil Alea.

Alea sepertinya memanja padaku, dia mencoba mengeluarkan tangganya dari bedongannya. Aku mengeluarkan tanggannya dari bedongannya. Kupegang jemarinya, dia menggenggam kuat sekali. Aku mengisyaratkan meminta susu formula dimasukkan kedalam gelas dan meminta sendok kecil pada perawat.

Kunyanyikan lagu nina bobo, seperti ibu dulu sering menyanyikan lagu itu padaku setiap kali aku mulai ingin tertidur. Kuelus jemarinya yang mungil, kubisikkan kata ‘Alea, harus kuat, biar bisa jaga ibu Sarah’. Kumasukkan pelan-pelan susu formula dengan sendok mungil. Alea mulai mau menelannya sedikit-sedikit. Alea sepertinya suka mendengarkanku menyanyi. Aku mengulang-ulang lagu nina bobo hingga susunya habis dan dia tertidur pulas.

Kuciumi kening Alea dan kutaruh dibox bayi lagi. Kutungguinya hingga terlelap, dan jemarinya lelah menggenggam tanganku.

‘nanti kalau dia lapar, sepertinya, dia sudah mau diberi susu lagi mbak. Sepertinya dia tidak menyukai bau botol dot itu mbak karena baru’, ungkapku menduga.

‘iya mbak, kita rebus sekali lagi dotnya’, ujar perawat.

‘terima kasih banyak ya mbak sudah menjaganya’, ujarku.

Perawat tersenyum dan mengangguk kepadaku. Aku keluar kamar bayi untuk mengetahui bagaimana keadaan Sarah. Kulihat Bayu didepan pintu, sepertinya sedari tadi bayu sudah ada disini melihatku menyusui Alea.

‘kau memang ibu juga baginya’, ujar Bayu.

Aku tersenyum. ‘bagaimana kabar Sarah?’

‘dia masih di ICU Le, kata dokter barusan dia akan sehat, tapi butuh istirahat total. Menurutku Sarah tertekan Le’, ujar Bayu dengan menatapku polos.

Aku mendesah panjang sekali. Aku tau Sarah tertekan karena Robert. Aku meminta izin perawat untuk masuk keruangan ICU. Aku mengajak Bayu untuk masuk keruangan ICU. Kulihat Sarah tertidur dengan infus masih ditanggannya. Wajahnya pucat dan terlihat dia letih sekali.

Aku mengambil tanggannya, dan kupegang erat sekali. Aku bergumam dalam hati, ‘kau harus sehat Sar, Alea membutuhkanmu’. Sarah terbangun mengetahui kehadiran kami berdua. Sarah tersenyum dan bertanya ‘bagaimana dengan Alea Le?’.

‘kamu tidak boleh banyak bicara dulu Sar, Alea sudah tidur dan dia bayi yang sangat cantik Sar. Perawat menjaganya, aku juga sesekali akan melihatnya. Kau harus sehat Sar’, ujarku menyakinkan Sarah mengenai Alea.

Aku sengaja tidak memberitahunya, jika Alea tadi sempat merajuk.

‘aku letih sekali Le, kau harus menjaganya dulu ya Le’, ujar Sarah.

‘pasti Sar, aku akan menjaganya’, ujarku sambil menggengam erat tanggannya. Sarah tertidur lagi dan aku bergegas keluar untuk tidak mengganggu istirahatnya. Kulihat Robert masih duduk didepan dan menelpon seseorang.

‘aku harus bicara padamu Bet’, ujarku.

‘Bay, bisa tinggalkan kami berdua’, ujarku.

Bayu sepertinya terkejut dengan keputusanku, tapi Bayu mengerti.

‘oke, aku tunggu di mushola ya Sar. Telpon aku jika ada apa-apa’, ujar Bayu mencemaskanku.

Bayu bergegas pergi. Aku mengambil tempat duduk dibangku tunggu. Bangku tersebut hanya mempunyai lima kursi berjejer, khas kursi tunggu. Aku mengambil tempat duduk di tengah, sedangkan Robert masih ditempat duduknya. Rumah sakit ini tidak terlalu ramai, karena rumah sakit bersalin ini milik swasta dan sepertinya didesign untuk kenyamanan.

‘maaf sebelumnya bet, aku harus bicara ini kepadamu’, ujarku memulai pembicaraan.

Robert hanya mengangguk dan menatapku lama sekali.

‘maafkan aku Le’, akhirnya Robert bicara.

‘aku sudah memaafkanmu jauh sebelum itu Bert. Kamu harus memulai hidup baru dengan penuh cinta Bert. Sarah butuh perhatianmu. Sekarang kau juga punya Alea, dia anakmu’, ujarku.

‘aku baru sadar Le, aku salah selama ini’, ujar Robert.

‘tidakkah kau tau, Sarah berjuang menggadaikan nyawanya untuk Alea. Alea anakmu’, ujarku sudah mulai tak karuan.

‘aku sangsi awalnya Le. Sarah sering gonta-ganti pasangan’, ujarnya lagi.

Aku mulai merasa mengamuk. ‘trus kenapa dulu kau menikah dengannya? Kau pacari Sarah dan kau tuduh dia berpacaran dengan orang lain’, ujarku penuh emosi.

‘itulah Le, aku menyesali semuanya. Aku menyakitinya juga menyakitimu Le’, kata Robert.

‘terima kenyataan. Alea adalah anakmu sekarang. Kau harus merawatnya, kau harus mencintainya. Tes DNA bukan berarti jawabannya dari semuanya Bert. Tanya pada hatimu, tanya pada perasaanmu, itu adalah jawaban Bert’, ujarku lagi.

‘iya Le. Jujur aku masih mencintaimu Le. Aku tidak bisa melupakanmu Le’, ujar Robert spontan.

‘aku tidak mencintaimu lagi Bert, yang ada sekarang rasa kasihan padamu. Ternyata kau hanya laki-laki brengsek. Tega-teganya kau mengatakan itu sedangkan istrimu didalam sekarat’, amarahku memuncak.

Perawat melihat kami berdua dan aku segera mengecilkan suaraku. Aku juga takut Sarah mendengar pembicaraan kami diluar.

‘iya aku laki-laki brengsek Le, aku memang brengsek’, ujar Robert sambil menangis.

‘tak usah kau menangis. Aku dan Bayu akan menikah’, ujarku dengan polos.

‘maksudmu Le?’

‘aku mencintai Bayu Bert setelah pisah denganmu aku bertemu Bayu. Aku memutuskan untuk menikah dengannya’, ujarku berbohong.

‘Le..’, Robert hanya mengatakan itu.

‘dengar Bert, kita harus mampu menjaga diri kita masing-masing. Jika aku mendengar Sarah ataupun Alea tidak bahagia aku akan sangat kecewa dan tidak akan memaafkanmu’, ancamku kali ini.

‘aku salah selama ini. Ternyata cintaku hanya untukmu Le. Aku takut kau masih mencintai Sandi Le. Aku takut sekali kau hanya menjadikanku pelampiasan saja. Aku membalas itu dengan mengencani Sarah. Tapi ternyata aku salah Le. Maafkan aku. Aku mohon Le, jangan tinggalkan aku’, kata Robert polos.

Aku sudah semakin dipucuk amarah. Aku masih mampu mengendalikan diriku. Ingin rasanya menangis. Memang itu pula yang kulakukan padanya. Tapi aku merasa Robert tak pantas menyakiti Sarah sejauh ini.

‘tak usah kau ingat masa lalu. Hari ini adalah hal penting. Masa depan juga hal penting. Kau sudah memilih, akupun begitu, aku ingin kita sama-sama menutup masa lalu dan untuk cintamu padaku. Aku ingin kau pula mencintai Sarah dan Alea begitu’, ujarku mengecilakn suara. Entah karena aku terlalu letih atau karena aku pula sedih mendengarnya.

‘iya Le, akan aku lakukan. Aku hanya ingin meminta maafmu saja Le. Aku lega telah mengatakannya padamu’, ujar Robert lagi.

Kudengar Alea menangis. Aku bergegas ke ruangan bayi. Sepertinya Alea pipis dan merasa risih. Kulihat dari jendela, bedong Alea diganti oleh perawat. Aku masuk dan meminta kepada perawat untuk menggantikan bedongnya. Alea masih mengantuk sepertinya, tapi matanya terbuka melihatku dan tersenyum sambil menyunggingkan lensung pipinya yang manis.

Aku menyanyikan lagu nina bobo hingga Alea terlelap lagi. Robert hanya memandangiku dari kaca. Aku keluar ruangan bayi dan mencari Bayu. Kali ini kupegang erat tanggannya. Kali ini Bayu yang pasrah kupengang tangannya.

‘aku letih sekali, temani aku di ICU’, ujarku.

Aku tak peduli lagi rasa sakit itu, ataupun memulai rasa sakit yang baru. Aku harus kuat, untuk Alea kecil. ‘tidurlah nak, ibu akan kuat dan menjagamu’. (1188)

Sarah melahirkan anak perempuan cantik, dengan bobot 3,2 kg panjang 49 cm. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam legam, sepertinya ada lesung pipit yang menempel dipipi mungilnya. Matanya terlihat bulat, walau masih terlihat sipit. Baby Sarah lahir tepat pukul 09.30 WIB, setelah transfusi darahku masuk ketubuhnya.

Aku begitu ketakutan, tapi melihat Sarah, aku menjadi begitu kuat. Aku mendampingi operasi Sarah hingga selesai. Sarah hanya dibius lokal, dia masih bisa melihat proses operasi yang dilakukannya. Sarah memegang tanganku erat sekali dan tak memperbolehkanku meninggalkannya. Seharusnya Robert disini mendampinginya, tapi nyatanya hingga saat ini ponselnya tak aktif-aktif.

Hingga kelahiran anak perempuan cantik ini, aku tak henti-hentinya bedoa kepada Tuhan, agar mereka diberi keselataman. Aku aneh sekali, biasanya aku takut sekali melihat darah dimana-mana. Sekali ini, tatapan mata Sarah benar-benar membuatku luluh. Para dokter juga tak tega Sarah yang memohon memperbolehkan aku tetap disini.

Anak perempuan cantik itu menangis dengan kencang sekali. Dokter memerikasakan kondisinya, anak perempuan ini dinyatakan sehat oleh dokter. Setelah dibersihkan perawat, anak perempuan cantik ini aku gendong dan kuciumi. Aku menyarankan Sarah untuk melakukan inisiasi dini. Para perawat juga membantu Sarah melakukannya. Kami menunggu anak perempuan cantik ini mencari puting ibunya. Setelah satu jam, akhirnya anak perempuan ini mendapatkan puting ibunya.

Sarah menangis haru, aku memeluk kepalanya dan kurasakan kebahagian yang tak terkira. Kami berpegangan tangan. Aku melupakan semua kekesalanku terhadap Robert untuk seketika. Tak mampu kubendung pula tangisku. Aku pula merasa sebagai bagian dari ibu anak perempuan cantik ini. Ketika bibir mungilnya mencari puting Sarah, rasanya ingin aku tunjukkan. Tapi aku tetap harus sabar menantinya mencari puting Sarah. Rasanya tak mungkin melihat anak perempuan cantik ini. Anak ini lahir dengan dua ibu bersamanya. Aku yakin, anak ini pula kelak akan memanggilku dengan sebutan ibu.

‘Le, aku ingin menamakannya sama dengan namamu Le’, ungkap Sarah.

Aku terkejut dengan perkataan Sarah dan bingung mengatakan apa pada Sarah.

‘nanti tunggu Robert datang, kita bicarakan nama anak ini ya’, ungkapku.

Aku kebingungan, namaku akan dicatut dalam nama anak perempuan cantik ini. Sepertinya aku memang terjerat pada anak perempuan cantik ini dan akan semakin terjerat pada anak perempuan cantik ini.

‘kau juga ibunya, darahmu mnegalir ke tubuh ibu kandungnya’, ungkap Sarah lagi.

Aku memegang tangan Sarah kencang sekali. Tak mampu berkata apapun. Aku menggendong anak perempuan cantik ini dan membawanya ke tempat box bayi, karena telah tertidur pulas dan kenyang disusui oleh Sarah. Aku melihatnya dari box bayi, dan memegang kepalanya. Aku mencintaimu nak. Bukankah menjadi ibu bukan berarti harus melahirkannya. Bukankah menjadi ibu harus mengandungnya. Saat ini aku benar-benar terjerat padanya. Pada matanya yang polos dan pada tangannya yang mengenggam erat tanganku pula.

Robert baru datang pada sorenya. Robert melihat Sarah dan menanyakan dimana anak perempuan cantiknya. Robert terkejut melihatku berada disitu. Akhirnya seharian acara ditunda, pihak panitia memberitahuku kalau acara terakhir penutupan akan dilakukan esok hari. Aku lega, seharusnya beginilah keluarga, tak terikat oleh waktu dan memaksakan keadaan hanya untuk nama profesional.

‘Le, kenapa kau disini? Dimana bayiku?’, ungkap Robert.

‘di box nomor tiga, ada nama Sarah disana. Dia perempuan.’, ungkapku.

Kulihat Robert meminta izin perawat dan mengambil Sarah dari box. Diciuminya anak perempuan cantik itu dan langsung diazaninya anak perempuan cantik itu. Aku keluar kamar, dan membiarkan Robert, Sarah dan anak perempuan cantik itu utuh menjadi sebuah keluarga. Kulihat Bayu ada diluar dan tersenyum kepadaku.

‘hai, sejak kapan kau disini?’, ungkapku.

‘baru saja Le, aku ingat kamu belum mandi dan makan lagi sejak tadi. Ayo kita kembali ke hotel. Suami Sarah sudah datangkan?’, tanya Bayu.

Aku menangguk dan teringat, sedari pagi aku sibuk dan letih sekali menjaga Sarah dan anak perempuan cantik itu. Apalagi aku tadi donor darah, tentu saja aku buth istirahat untuk mengembalikan staminaku tentunya. Aku kembali kedalam ruangan. Kulihat Robert duduk disisi Sarah bersama anak perempuan cantik itu.

‘aku pulang ke hotel dulu Sarah’, izinku.

‘ya, kau harus istirahat Le. Terima kasih sudah ada untukku hari ini Le’, Sarah mengatakannya dan Robert mendungak melihat kearahku.

‘terima kasih sudah mendonorkan darahmu untuk Sarah, dan menjaganya seharian ini’, Robert akhirnya bicara padaku.

‘iya sama-sama’, aku sangat kaku sekali menatap keduanya.

‘tidakkah kau mau mencium anakmu dulu sebelum pulang Le’, ungkap Sarah.

Aku melihat kearah anak perempuan cantik itu dan memegang kepalanya. Sarah tersenyum melihatku.

‘aku namakannya Alea, seperti nama ibu angkatnya sayang’, ungkap Sarah kepada Robert.

Jalanku terhenti, rasanya ingin berbalik dan mengatakan tidak. Tapi aku tak berdaya. Robert pula mengiyakan apa yang dikatakan Sarah. Aku bergegas keluar, kulihat Bayu sudah menungguku diluar. Kami menaiki taxi yang ada didepan rumah sakit. Aku letih sekali. Kusandarkan badanku di jok belakang mobil.  Bayu membiarkanku senyaman mungkin.  Aku tau sebenarnya banyak pertanyaan dikepala Bayu kepadaku tapi mungkin dia tak tega melihatku.

‘aku lapar sekali Bay dan tidak ingin makan di hotel’, kataku pada Bayu sekaligus meminta kepadanya.

Bayu tersenyum. ‘ayo kita makan, aku ada tempat recomended disini Le’, kata Bayu.

‘kita ke Gubuk Mas pak’, lanjut Bayu kepada sopir taxi.

Aku menangguk saja. Aku memesan banyak sekali makanan. Cumi asam manis, cah kangkung spesial, gurame bakar, tahu tempe goreng pesananku. Bayu akhirnya hanya memesan semangkuk sop iga untuk makan siangnya.

‘aku nimbrung aja deh Le’, katanya tak yakin dengan pesananku akan habis semua dan dimakan.

‘kalo lagi stres, capek butuh makan banyak Bay’, aku menggoda Bayu.

Kami tertawa terbahak-bahak.

‘Le, Sandi minggu depan pulang. Dia ingin bertemu denganmu.’, ucap Bayu.

Glek. Aku menatap mata Bayu, mencoba mencari kebenaran dari mata Bayu. Sepertinya ada hal yang memberatkan Bayu mengatakannya.

‘iya, dia sms aku beberapa waktu lalu’, ungkapku sambil mengalihkan perhatian mataku.

Tuhan, jika aku melihat mata Bayu, seperti aku melihat mata Sandi. Aku tak menyukai situasi begini. Aku takut jatuh pada mata yang salah lagi. Seperti aku jatuh pada mata Robert untuk mencari Sandi. Aku menyakiti diriku sendiri dan akhirnya menyakiti orang lain pula.

‘kau ingin bertemunya Le?’, ungkap Bayu.

Aku terpana dengan perkataan Bayu, aku tak tau apakah feellingku yang terakhir sedang berjalan atau tidak. Tapi aku mulai mencurigai Bayu mulai menjatuhkan hatinya padaku. Kadangkala, menjatuhkan hati tidak harus mempunyai waktu yang lama. Hanya membutuhkan waktu singkat dan membutuhkan mata untuk ikut campur didalamnya.

Aku mendesah panjang dan tak mau menatap mata Bayu. Bayu semakin menatapku tajam sekali. Masih kuingat, Bayu selalu membelaku dalam forum jika Sarah mulai bersinis ria kepadaku. Atau sekedar perhatian kecilnya menyorongkan kursi sebelum aku duduk. Akhirnya makanan tiba, wangi cah kangkungnya membuyarkan lamunanku dan membuatku refleks untuk menyelesaikan makan besar malam ini.

‘aku harus menyelesaikan masalahku dulu secepatnya Bay. Aku tak ingin mengambang dan menyakitinya lagi. Sehabis ini aku ingin fokus menggarap naskah’, ungkapku datar sambil menyedokkan nasi kedalam piringku.

Bayu menatapku dalam sekali, aku mengambilkan nasi untuknya. Aku makan dengan lahap, tak kuhiraukan Bayu menatapku lama sekali. Sungguh aku tak ingin terjebak pada mata Sandi lagi dan menyakiti orang lain lagi. Ponselku berbunyi.

Robert calling…..

‘ya hallo’

‘bisa kau kerumah sakit, Sarah pingsan beberapa waktu lalu’, ungkap Robery disana.

‘Sarah kenapa? Apakah bayinya baik-baik saja’, ungkapku panik.

‘bayiku juga tidak mau menerima susu formula. Le, aku butuh kau menjaga bayi kami. Aku harus mencari darah lagi’, kata Bayu.

‘aku segera kesana’, ungkapku.

‘Bay, segera habiskan makanmu. Sarah pingsan, bayi perempuan itu sepertinya merajuk, tak mau meminum susu formula. Aku panik Bay’, ungkapku pani.

‘tenang Le, kau harus makan dulu. Tadi kau donor darah, kau butuh energi lebih. Kita tidak boleh gegabah’, ungkap Bayu menenangkanku.

Aku sudah terlalu panik dan kebingungan ada apa dengan Sarah. Aku berdoa sepanjang jalan untuk kesehatan mereka berdua.

‘bisa lebih cepat pak’, ungkapku pada pak sopir, aku tak sabar segera sampai ke Rumah sakit.

Bayu memegang tanganku erat sekali. Memegang tanganku untuk pertama kalinya. Aku pasrah. (1257)

 

Sponsors
Chatt with Me
Blog Statistics